You and I on You and I

by mikael johani and ratri ninditya

you: eh nyin, gue liat di plurk lo bilang cedih abitch abis nonton you and i. macacih? kok gue rada berasa risetnya dangkal, footagenya kurang, (how many times kita harus liat atap mereka bolong?), jadinya karena konteks politiknya juga kayaknya sengaja dibikin minim ceritanya jadi kayak penyintas porn? apalagi pas di scene-scene terakhir mereka di rs, camera work-nya rada creepy-voyeuristic ga sih? i don’t know, gue jadi berasa film ini gak menawarkan sesuatu yang baru aja dalam discourse di rumah aja tentang 65 di sini. penyintas hidupnya menderita, ya iyalah!

i: revisi, gua gak cedih abitch tapi cediih. gua rasa maksud filmnya emang menyajikan sebwah narasi penyintas perempuan yang tentu menawarkan potret-potret kehydupan yang mikro di luar narasi besar-grande-kokoh 65 itu? it was obviously intentional menyorot rutinitas domestik dari Kusdalini dan Kaminah sebagai dua sobi di usia senja yang dilupakan sama negara. walopun menurutku (dan ketika aku nonton film itu pertama kali) film ini aku baca sebagai cerita persahabatan-kinship, di mana Kaminah sedang membalas budi Kusdalini selama ini yang nampung dia ketika Kaminah diusir sama keluarganya sendiri, instead of film korban 65? terus kalo kita bicara strategi advokasi 65 lewat film (seperti narasi yang digadang di promonya dan sosmed) bukankah film ini jadi nawarin angle yang specifically feminine (dan feminist)? mereka bukan keluarga heteronormatif ibu-ayah-2 anak, melainkan hanya hidup berdua dan kadang-kadang dibantu sama tetangga lewat barter dan kindness, tapi di luar itu mereka menopang hidupnya sendiri. jadi bikin orang ngobrolin implikasi 65 tanpa mengancam pake konten-konten “berbahaya”? bukankah itu bagian dari siasat feminis? gua rasa aspek itu menarik. 


kalo soal powerful scenes yang bikin gua jleb mungkin ketika mereka baringan di kasur dan Kusdalini mulai menyanyi. trus ada detil-detil yang menarik, kayak makanan pas di rumah sakit yang keliatan super gak napsuin, ngebayang kalo lg sakit suruh makan gituan? mendingan kasi gua obat tidur aja yang banyak biar gua kunjungin itu teman2 lain yang sudah berpulang duluan! sementara itu scene jasmerah, pandangan politik Kaminah, dan pertemuan dengan penyintas lain memang rasanya jadi sempalan saja dalam bangunan cerita. ngomongin scene jasmerah sebetulnya menarik juga, karena seperti sengaja mau dibenturkan Kusdalini yang mulai pikun vs. Kusdalini yang strong-willed (scene ngeyel gak mau narik tangan ke dalem pas di angkot, minta jemur keset, dan gak mau makan). karakter Kusdalini yang digambarin di sini mengingatkan gua sama eyang gue pas udah sakit (cediiih). gimmick2 propaganda ala penguasa mungkin bisa terlupa tapi semangat mah gak akan padam and that’s what matters.

 
beberapa angle scene rumah sakit bikin gua agak bertanya juga, ketika Kusdalini yang berbaring disorot dari sisi kakinya memang agak creepy. 


oiya talking about menderita, are they really? yang pasti mereka menderita karena usia dan (hampir) absennya jaminan sosial negara, tapi di luar itu kayaknya film ini gak secara asal ngeliatin mereka sebagai orang yang perlu dikasianin, lebih sebagai sosok yang perlu di-look up to. 


menurut lo risetnya harus diperdalam di mana? what are your expectations?

you: menarique dan di banyak hal i setubuh. kalau film ini berdiri sendiri dan belum ada diskografi film/literatur tentang 65 yang sudah cukup panjang gue mungkin lebih gampang menerima bahwa mungkin juga film ini bisa membawa diskursus tentang 65 ke tataran yang lebih mainstream tanpa dicancel oleh oknum. tapi masalahnya film/literatur tentang 65 di sini, terutama yang diproduksi oleh manikebuis atau protege-protege mereka, udah banyak banget yang mengedepankan sisi kemanusiaan (dengan sengaja) daripada sisi politiknya—yang bukan bagian dari kekerasan budaya ala yang dijelaskan wijaya herlambang i imagine dengan harapan yang sama untuk memainstreamkan isu ini tanpa ditakis orang-orang yang masih pki-phobic—tapi kok sejauh ini isunya ga mainstream-mainstream yak? yang ada malah konteks sejarah itu lama-lama hilang tak berbekas. jangan-jangan ini tujuan sebenernya! tiap tahun apalagi dekat-dekat september/oktober pasti harus jelasin lagi eh korban tragedi 65 itu orang-orang seperti kusdalini dan kaminah ini loh, bukan jenderal-jenderal ituh. so i guess what i’m looking for is balance? antara cerita tentang kemanusiaan dan analisa tentang politik anti-komunis yang tidak pernah manusiawi? the two don’t have to be mutually exclusive.


ke-queer-an mereka menarik sih emang, apakah itu sebuah metafora yang halus tentang survival sebagai penyintas 65? kalau mau survive ya kudu berada di luar sistem (seperti queer kids di dalam sexuality yang heteronormatif (atau non-homonormative queers di dalam queerdom yang just so?)). also bahwa kequeeran ini juga ga dibikin terang benderang menurut gue juga menarik, jadi antidote bagi kequeeran ala barat yang lebih mendominasi (di twatter!). tapi memang, walaupun gue jawir sendiri, ada juga momen di mana gue ragu, apakah si filmmaker membuat ini jadi super subtle dengan sengaja, atau dia justru tidak sadar dengan kemungkinan ini? (walaupun itu tentu bukan halangan buat sebuah queer reading tentangnya)


i also agree bahwa kusdalini dan kaminah, despite their (buat gue) obvious suffering, memang digambarkan sebagai superwomen buat dikagumi bukan karakter dalam poverty porn buat dikasihani. tapi gue jadi teringat sebuah kasus yang gue baca di twatter, tentang temen gue yang kena covid trus dia ga bilang siapa-siapa bahkan ke teman-teman terdekatnya, cuman isoman di kosan, beli makanan pakai paylater karena lagi tiris dan ga mau ngutang, sampai teman-temannya pada setengah marah pas dia spill penderitaan dia di twatter sehabis pulih. kebanyakan netijen membaca kisahnya sebagai kisah heroik tentang kekuatan individual buat survive di dalam sistem yang tidak mendukungnya samsek, memberikan bantuan seitil pun tidak. tapi buat gue di dalam kisah tedxable ini keabsenan negara/pemerintah jadi pretty much terlupakan, they didn’t get the roasting they deserved. gue sih juga pengen nyembah sungkem sama kusdalini dan kaminah, tapi gue ga akan lupa kalau yang membuat mereka harus tinggal di rumah beratap bolong (the state is unwilling to put roof over their heads!) adalah negara. 


ekspektasi gue mungkin jadi lumayan tinggi karena gue udah nonton film dialitanya udin yang sayangnya sampai sekarang belum bisa rilis (if you must know salah satunya karena beberapa kontennya dianggap terlalu berbahaya!). film itu juga tentang persahabatan, bahkan di antara beberapa perempuan penyintas sekaligus (a full community, not just an isolated couple!), dan menurutku di situ udin bisa tuh menggali lebih jauh ingatan kolektif tentang 65 sekaligus emosi-emosi pribadi perempuan-perempuan penyintas ini dan mengkombokannya menjadi sebuah cerita yang hiks banget bikin mewek tapi juga tidak memalingkan muka terhadap fakta-fakta sejarah yang membuat cerita mereka jadi hikz bingitz. sori gue ngomong tentang film yang lo belum nonton, i’ll try to keep it short, tapi mungkin keunggulan film udin, yang kemudian jadi gue harapkan ada di you and i juga, salah satunya adalah struktur narasi filmnya. di situ perempuan-perempuan penyintasnya sejak awal juga super fierce, tapi ke-fierce-an ini sedikit demi sedikit digerogoti seiring makin jauh mereka bercerita dan mengalami kembali personal/political herstories mereka sampai akhirnya, di sebuah scene tak terlupakan di antara dua mbah-mbah yang pernah dipenjara di plantungan, ke-fierce-an tadi runtuh, saat mereka menyadari yang mereka punyai tinggal satu sama lain. jika yang satu mati, ga ada lagi you and i, yang ada cuman this fucking state and i. how unfair to both of them. nah di situ pinter banget sih menurutku si udin “memainkan” emosi kita, membuat kita sempat percaya bahwa human will shall triumph over all adversities, tapi kemudian meretakkan kepercayaan itu sedikit demi sedikit sampai akhirnya hancur berantakan. bukan sesuatu yang manipulative in a bad way menurutku, why be adverse to emotional manipulation in a doco?, justru menurutku itu deskripsi yang akurat tentang delusi yang kita semua butuhkan agar dunia berasa gak taik-taik amat dan kita gak cabs aja dari situ bukan?


sementara buat gue you and i cukup puas dengan menonton saja. the film is just there to document, not to make a comment, let alone manipulate the story to present an argument about state crime. valid-valid aja i suppose, baiknya dia jadi menangkap momen-momen kecil yang memberi film ini tekstur (ngeyel ga mau masukin tangan di jendela angkot itu juga kaporit gue), jeleknya buat gue film ini mungkin akan selalu perlu advokator kayak lo buat menjelaskan tempatnya dalam konteks historiografi tentang 65 agar gak diadopsi sama manikebuis jadi bagian dari pki-erasure mereka. 

i: di sini kayaknya jadi ada sebwah kesimpulan yang gua tarik secara sotoy yang ada kaitannya sama swasensor dan akses kebanyakan orang sama film 65 (gue si sebenernya, warga endonesa dengan akses secukupnya tapi tidak ekstra). banyaknya film tema 65 yang ngedepanin sisi humanis dan sulitnya film-film yang dianggep “berbahaya” disebarluaskan secara masif itu hubungannya akibat-sebab yang jadi lingkaran setan yah. selama akses sama film berbahaya dibatesin, eksplorasi pembuat film dan literasi penontonnya sama topik-topik 65 ya muter di situ-situ aja. the fact that i haven’t seen film Udin tentang Dialita dan elo udah itu aja udah jadi contoh. diskusi soal film udin ini cuman jadi teaser buat gua doang jadinya, hiks. buat pembuat film, jadi pinter-pinteran bersiasat di ruang yang terbatas, karena apa gunanya bikin film kalo sulit ditonton orang. jadi ada swasensor yang gua curigain bahkan terjadi di proses ngide. kayaknya kalo mau menunjuk state lebih tegas, keseluruhan ekosistemnya juga harus dibongkar dengan menyediakan lebih banyak ruang-ruang aman buat film “berbahaya”. gimana kita mau ngarep punya estetik dan narasi subversif kalo pemutaran film 65 yang paling subtil aja dilarang-larang? (ini belom ngomongin global funding yang nganggep 65 seksi yah, itu kayaknya lebi rumit lagi masalahnya).


disadari atau pun nggak, pembacaan non-normative kinship (terminologi apa pula ini? ngarang gua) tetep penting karena artinya ada tekstur lain yah yang bisa dieksplorasi di tema besar 65 ini dan tekstur itu ternyata ada di pengalaman sehari-hari perempuan di luar sistem serta seluruh affect dan habitus yang menyertainya. ide bahwa we only have each other menurut gua juga tersirat di narasi akhir you and i ini, di caption in memoriam terhadap Kaminah. pas kelar itu gua pikir daym, Kaminah nyusul Kusdalini karena mungkin selama ini Kaminah bertahan hidup buat sahabatnya itu juga. 


let’s hope advokator kiri masi lebi banyak dibanding yang humanis universalis manikebuis itu dan aku bisa segera nongton pilemnya udin so we can have a further discussion x)))

*You and I disutradarai oleh Fanny Chotimah. bisa ditonton di bioskop online. foto dicopyleft dari cineverse.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s