Silo x Silo x Sastra x Indo

Publik puisi di Indonesia tersegregasi di silo-silo yang berbeda. Ada pembaca yang senang dengan kalimat-kalimat menye-menye ala Rupi Kaur di akun Instagram NKCTHI dan menganggapnya puisi. PO 500 eksemplar sold out dalam 1 menit, 53 ribu eksemplar ludes dalam sebulan. Sebelum sempat cerita tentang hari ini udah dialihwahanakan jadi film, tayang di Netflix. Pembaca yang merasa lebih dalam padahal nggak, memilih membaca Aan Mansyur dan Adimas Immanuel, tanpa terlalu mempedulikan hutang-hutang mereka dalam soal gaya dan isi pada Sapardi, GM, Jokpin, tiga penyair ultrakanon dalam sejarah puisi Indonesia kontemporer. Walaupun monopoli mereka sebagai supplier kutipan-kutipan yang bikin “awww” buat kartu undangan kawinan mulai digembosi oleh… Aan dan Adimas! dan copycat-copycatnya (Fiersa Besari, Boy Candra anyone?). Mungkin salah satu jasa terbesar ketiga penyair kanon tadi adalah melahirkan generasi terkini penyair Indonesia—Angkatan Hallmark?

Seorang teman penyair yang menolak mengirim puisi-puisinya ke koran (lebih memilih mempublikasikannya di Facebook), Malkan Junaidi, beberapa waktu lalu mengeluh di sebuah webinar festival sastra tentang kekurangkreatifan penyair-penyair Indonesia. Tahun lalu saya diundang ke Jogja International Literary Festival, di situ saya berjumpa banyak penyair yang belum saya kenal. Banyak dari mereka yang membawa buku puisi mereka ke mana-mana, dan kebanyakan dicetak sendiri. Saya jadi malu karena nggak membawa satu eksemplar pun buku saya, jadi setiap kali diajak tukeran buku akhirnya mereka cuma menghibahkan buku mereka ke saya dan saya mengeloyor pergi cari soto gratisan. Kebanyakan penyair-penyair ini kenal satu sama lain, dan ternyata mereka aktif sekali di Facebook, baik di berbagai group puisi maupun saling berkomunikasi (termasuk saling mengomentari puisi masing-masing) dari akun-akun pribadi mereka. Tapi kok aku nggak kenal mereka ya? Padahal setiap hari aku juga nongkrongin Facebook menunggu postingan puisi Malkan atau komentar Saut tentang kebobrokan apa lagi yang terjadi dalam politrik sastra Indonesia. Silo-silo yang asing satu sama lain tadi. Becoz algoritme. Memang setelah aku baca-baca buku-buku puisi hibahan tadi dan menyaksikan penampilan-penampilan penyairnya di panggung festival, aku berpikir ya bisa dimengerti kalau Malkan frustrasi. Puisi-puisinya banyak yang terasa kuno baik dari segi gaya maupun isi. Puisi cinta dan puisi tentang tuhan dengan bahasa yang mendayu-dayu. Ready made buat dideklamasikan, ready made juga buat dilupakan.

Tapi masalahnya di siloku sendiri aku tidak merasakan kefrustrasian dalam kadar yang sama, atau paling tidak walaupun siloku dan silo Malkan bersinggungan, aku sering menjumpai penyair-penyair muda yang rajin mengulik gaya dan tema yang berbeda dari kecenderungan penyair-penyair mainstream, dan atau sebenarnya marginal dalam status (yang jelas ga ada yang kanonikal) tapi bergaya mainstream di atas tadi. Mungkin karena aku, seperti sering dituduhkan orang padaku selama ini, “privileged”—cekidot thread checking my own privilegesku di Twitter: besar di Australia dan sekolah sastra (Yunani Kuno) kemudian sejarah di sana sampai PhD walaupun drop out, sehingga aku terbiasa membaca puisi dalam bahasa Inggris selain bahasa Indonesia, sehingga bisa selalu mengupdate diriku sendiri dengan tren-tren terakhir dalam perpuisian (Barat) modern. Tapi itu teorinya, prakteknya aku malah sering terlalu malas baca jurnal-jurnal sastra/puisi seperti Cordite, Asymptote, apalagi Poetry Foundation (suka kuno juga, stuck in Modernism!), dan lebih sering nonton video random di YouTube (chiropractor! Most Emotional AGT auditions! Kuliah terbuka Hito Steyerl) atau film dan TV series di Netflix/HBO Go/Amazon Prime. Tapi ya, kadang aku masih suka ketemu juga penyair-penyair avant gardu ronda seperti Chris Mann (RIP), atau Jos Charles, atau Geraldine Kim, sehingga desire untuk menikmati kekreatifan berpuisi yang relate dengan kehidupan sehari-hariku sekarang—ini mungkin bagian dari kekreativitasan yang didambakan Malkan—masih bisa terpuaskan.

Selain itu, tiga tahun terakhir aku juga bikin Paviliun Puisi, spoken word night yang mulai dari satu-satunya acara jenis ini yang reguler di Jakarta, sekali setiap bulan tiap Sabtu terakhir, sebelum akhirnya menjadi acara spoken word yang terbesar di ibukota yang sekarang lagi sering diolok-olok sebagai Jawakarta oleh raja-raja kecil silo-silo sastra daerah ini. Lokasinya di Jawakarta Selatan lagi, wah, easy target banget buat dicela sebagai too privileged, too borju, too keminggris, too edgy, etc etc etc. Tapi mungkin ada alasannya juga kenapa begitu banyak orang datang ke Paviliun Puisi, padahal “hiburan” utamanya puisi (bukannya puisi garing ya?) di malam Minggu, tanggal muda lagi (in terms of gajian), wouldn’t they wanna be somewhere else yang lebih fun? Kecurigaanku, ini karena kami tidak menerapkan sensor apapun. Bebas sebebas-bebasnya. Mau baca puisi pakai bahasa apa aja—Bahasa Indonesia Yang Tidak Baik dan Tidak Benar, prokem Jakarta, Inggris, codeswitch, Rusia (pernah), Catalan (pernah), Prancis (sering), Pashto (pernah), bahasa daerah (sering)—dan bertema apa aja (protes tentang RUU ga jelas (kita pernah print seluruh KUHP dan membacanya semalaman, selain kita oret-oret jadi puisi blackout), curhat, mental health/illness, kehidupan sehari-hari anak ahensi, being a mum, the woman body, the queer body, queer life, third culturism (mostly me)), semuanya boleh, pokoknya bebas. It’s art, so there should be no censorship. Self-expression is kween. Atau seperti kami bilang di bio Insta: “Absolute freedom to spill your guts.” Paling kalau lo ngomong hal-hal yang gak diterima audience, lo bakal dicallout, dan lo selalu bisa memberikan pembelaan. Conflict should never be elevated into abuse. Dan sepertinya yang bikin nagih adalah ini: kebebasan menjadi diri sendiri.

Kebebasan ini menghasilkan banyak sekali puisi yang asyik-asyik, yang kebanyakan hanya eksis dalam bentuk performance pada saat itu juga, mungkin textnya sempat ditulis di Google Keep di hp, atau direkam dalam bentuk audio, atau video, yang hanya didistribusikan di antara teman, di silo-silo kecil yang tidak menuntut, seperti yang banyak dituntut di Twitter sekarang, visibility. Mungkin beberapa akan share puisi/rekaman audio/video mereka di Instagram. Di situlah mungkin, dan di platform-platform socmed lain yang aku udah terlalu boomer untuk tahu, silo-silo ini bersinggungan sekarang. Di siloku, yang sekarang aku saksikan, puisi Indonesia kontemporer yang kreativitasnya memuaskan—kalau kita terus mempertimbangkan unsur yang didambakan Malkan—atau relate dengan kehidupanku sehari-hari, sehingga menjadi cocok dengan apa yang kuanggap sebagai puisi (puisi adalah kenyataan? Dalam ekspresinya yang paling intens?), lebih banyak dipengaruhi oleh musik, dari hip-hop sampai Björk sampai Sia, spoken word, internet memes, Netflix series dari Black Mirror sampai Better Than Us (di HBO, salah satu penulis skenario Lovecraft Country ternyata seorang penyair dan suka masukin puisinya ke situ), Twitter rant, anime, Webtoon manga (cekidot Metaphorical Her), etc etc etc.

Masalahnya (atau bukan masalah), yang kreatif dan yang tidak kreatif, becoz algoritme, tidak saling bersinggungan dalam universe puisi Indonesia dan mungkin tidak akan pernah, apalagi saling mempengaruhi. Semua sibuk dan puas di dalam silonya sendiri-sendiri. Akibatnya, puisi yang dihasilkan di silo A bisa jadi tidak bisa dimengerti oleh penikmat puisi di silo B, mungkin setengah dimengerti di silo C, dan cuma jadi bahan hujatan di silo X. Puisi-puisi Saut Situmorang misalnya, mengherankan gak sih bahwa walaupun Bang Saut sangat dihormati oleh publik puisi Indonesia, disegani bahkan oleh musuh-musuhnya, sedikit sekali ada tulisan analitis tentang puisinya? Paling belum lama lalu ada tesis master Kahar Dwi Prihantono yang membahas tentang estetika postmodern puisi Bang Saut, dan saya juga sudah pernah menulis “ABC of Saut Situmorang” di popteori, yang berusaha menelusuri genealogi puisi-puisinya dalam tradisi Modernisme dan caranya write back against tradisi itu. Selain itu mungkin cuma ada review Otobiografi yang ditulis almarhum Asep Sambodja buat acara Meja Budaya Martin Aleida. Cuma tiga tulisan untuk penyair sebesar Saut? Bandingkan dengan entah berapa ratus tesis dan berapa puluh artikel (walau yang dalem nggak banyak juga) yang pernah ditulis tentang puisi-puisi Sapardi, GM, Jokpin!

Kok bisa? Silo-silo tadi. Silo, universe, dan ya, otobiografi kepuisian Saut tidak nyambung dengan silo publik puisi Indonesia. Mungkin pembaca-pembaca ini tetap bisa menikmati misalnya puisi “Love Song of Saut Speedy Gonzales” sebagai sebuah parodi puisi cinta, mungkin sebagian kecil juga sadar judulnya plesetan dari “The Love Song of J. Alfred Prufrock” T.S. Eliot, tapi berapa banyak yang tahu Speedy Gonzales di situ bukan cuma tokoh Looney Tunes, arriba arriba… andale, andale! (yippa, yippa… andre, andre!), tapi juga alusi ke puisi “Daffy Duck in Hollywood” John Ashbery? Berapa pembaca Saut yang kenal John Ashbery?

Sekarang kita lihat puisi, misalnya, “Saya Dan Dia” karya Ratri Ninditya (Ninin), apakah fans Aan Mansyur akrab dengan Oulipo? (Sebaliknya, pembaca Ninin mungkin banget akrab dengan kartu Hallmark, tapi apakah mereka necessarily bakal membandingkan puisi Aan dengan ucapan-ucapan template di kartu itu?) Kemudian buku puisi queer LGBTIQBMX Hendri Yulius Wijaya, apakah groupies Ahmad Yulden Erwin bisa langsung tahu genealogi buku Hendri ini? Apakah mereka akan kepikiran menelusuri cikal bakal puisi queer Indonenong sampai ke puisi-puisi curhat/lamentation di zine Lambda Indonesia dan GAYa Nusantara di tahun ’80-an?

Mungkin puisi Farhanah, “Istirahatlah Kakak-Kakak”, masih lebih accessible buat publik mainstream puisi Indonesia, bahkan fans Lala Bohang pun saya rasa bisa menebak judulnya adalah plesetan dari judul puisi “Istirahatlah Kata-Kata” penyair besar kita, Rest In Power, Wiji Thukul. Tapi, apakah semua pengagum Wiji Thukul akan serta merta terima judul ini diplesetkan dalam sebuah puisi yang mengkritik kebelaguan kakak-kakak aktiveiz “renaissance” (perhatikan sarkasme renaissance di sini! Lucu ya. Ke mana aja humor dalam puisi Indonesia pasca-Remy Sylado?) yang sok-sok mencerahkan “dedek-dedek yang butuh dicerahkan” (sarkasme ini lagi! Farhanah mungkin pengguna ironi terkuat dalam puisi Indonesia sejak Toeti Heraty?) padahal sebenernya sedang cari gebetan?

Sengotot-ngototnya seorang kritikus sastra mencoba mendefinisikan puisi Indonesia, ciri-ciri kontemporernya, genealoginya, ragam bentuknya, dia akan selalu ketinggalan dengan publik “umum” puisi itu sendiri, di silo mereka masing-masing, yang asik-asik bikin definisi dan dunia puisinya sendiri. Bukan cuma cukong seperti Denny JA yang bisa seenaknya klaim/pamer telah melahirkan genre “Puisi Esai”, bandingkan dengan Teater Utan Kayu yang dulu mengklaim Saman dilahirkan di luar sejarah, penyair minor seperti Soni Farid Maulana pun bisa dengan random mengutak-atik formula jumlah suku kata haiku kemudian mendeklarasikan sebuah genre baru, Sonian! Sonian ini bukannya dikritik rasionalisasinya, atau dipertanyakan manfaatnya apa buat kepuisian Indonesia, malah group Facebooknya sempat rame banget!

Intinya, jangan mudah percaya dengan orang yang mengklaim puisi Indonesia itu (harus) begini, (harus) begitu, biasanya dia hanya katak dalam silo yang tidak sadar definisinya hanya satu dari berbagai cara pembaca dan penyair memaknai kepuisian, dan bukannya mengembangkan puisi Indonesia, dia malah membikinnya jadi makin kuper.

setan jawir

setan jawa, java as white people have always imagined it to be.

mengutip garin sendiri di pidato pembuka pemutaran tanggal 4 september 2016: selalu mistis, indah, sensual.

sepanjang film jadi keinget polah, film pendek arie surastio. juga melibatkan pesugihan sebagai simbol mistisisme jawa. namun polah dengan subversif mempertanyakan apakah mungkin imaji jawa mistis itu sebenernya sesuatu yang dihadiahkan secara paksa kepada jawa. dan imaji jawa mistis itu pun kemudian didekonstruksi dalam sebuah cerita reverse pesugihan multi-genre/anti-genre – sekaligus horor, sekaligus komedi, sekaligus arthouse – dan diperlakukan dengan semena-mena, tidak dengan penuh hormat, sebagai konsekuensi logis pertanyaan tadi, sebagai usaha serius untuk mempertanyakan benar tidak jawa itu mistis?

sementara setan jawa menerima imaji jawa mistis begitu saja, seakan-akan jawa memang selalu dan selamanya akan mistis, indah, sensual. seperti bayangan jutaan orientalis sebelum dan sesudah said lahir. konsekuensi logisnya imaji jawa klise dan corny seperti ini pun diperlakukan dengan penuh hormat sebagai sesuatu yang über-adiluhung. scene secorny asmara abigail diratus dan dilulur++ oleh seorang abdi dalem dengan background lukisan kolosal seorang sunan di atas kuda ngangkang pun dikoreografi dengan penuh kesakralan seolah olah sebuah bedoyo. yang menegaskan sekali lagi, jawa pasti selalu mistis, indah, sensual, never corny, never less than adiluhung.

beberapa waktu yang lalu aku menonton tv series inventing southeast asia yang dipandu farish a. noor, sejarawan malaysia. di situ dia berargumen bahwa imaji jawa mistis, indah, sensual, adiluhung yang selalu diulang ulang ad nauseam itu mungkin sebenarnya adalah imaji yang dibentuk penjajahan singkat inggris lewat perhatian mereka yang berlebihan kepada jawa – salah satu contohnya buku babon the history of java raffles, dan sengaja dilestarikan. jawa adiluhung yang penguasa penguasa kolaborasionisnya perlu diabadikan agar penjajahan pun abadi. penguasa penguasa licik glorified preman gila kuasa yang kemudian berabad abad mempromosikan jawa adiluhung sebagai jawa yang sebenarnya, jawa satu satunya yang patut disembah, sebuah pr exercise yang berhasil melanggengkan kekuasaan absolut mereka sampai sekarang.

forget about jawa pesisir, wong cilik, wong cino, wong arab, wong wong lain yang gak tahu beda tembang mana dhandhanggula mana dolanan.

kata buruh film Wisnu Kucing, orang banyuwangi, pas ngobrol, eh thengak thenguk, abis nonton film ini, setiap kali setan jawa muncul gamelan berubah jadi kebanyuwangian dengan menggunakan rebana rebana berisik. menarik juga, setan dalam setan jawa diiringi musik dari jawa timur yang paling timur. cocok dengan tuduhan said bahwa yang timur akan selalu diidentikkan dengan yang mistis, jahat, setan jahanam.

self-orientalism dalam setan jawa jadinya berlangsung dengan sangat kesetanan, di satu sisi mengorientaliskan diri sendiri, jawa, dalam hubungannya dengan dunia, menjualnya sebagai sesuatu yang mistis, indah, sensual, dan lemah – epilog film ini bilang dengan inlandernya “orang jawa masih percaya hal-hal mistik” (kessian deh cyin, eh, gusti), namun di sisi sebaliknya juga mengorientaliskan dengan agresif dan penuh adidaya budaya budaya yang non adiluhung dalam dirinya sendiri, seperti seorang orientalis peduli setan.

*image pilfered from indonesiakaya.com

foxy iris bold underline italic strikethrough justify

review of Mikael Johani’s new chapbook Catch Tiggers, Bette Midler by Jessica Ginting. download a copy for free here.

“so tell me, what are you?  

so am i robot, not a human, too?” 

  • [In Which No Pun]

There’s an urgent sense of unraveling in the poems within Mikael Johani’s Catch Tiggers, Bette Midler. Like forgetting what you’ve packed in your bag and watching the contents spill out as you’re walking down the street. These poems are part-continental mystery, part-introspective conversations (with who? you’ll find out, or perhaps not)  that carries the reader through cities, stories, conversations. 

There is no stable ground. There are revelations and non-revelations. In ‘In Which No Pun’, the speaker demands answers out of everything: gum trees, for answers on a missing acquaintance, shoes, for the perfect escape, levis, for answers on women, finally asking:

“so tell me, crisp, perfect biscotti why in the dawn  of someone’s life, dreams of faulchion and perfect  shields of gold, of ambrosia and foxy iris bold, still  

can’t convince me that life will be any thing but  just so 

so?”

The code-switching employed makes for a very avant-garde, almost maximalist experience of language in these poems. The fact that there are so many references one would be bound to miss—including myself—creates the feeling that you’re being thrust on a rollercoaster of sensory experiences all at once. But even for a collection so focused on precise imagery, the characters inside wave it off, acknowledging that things always one letter away from becoming something else:

“the last time mike d. saw rob g. was at an indian  restaurant called passage to india. it was missing  the ‘the’ or the ‘a’, he cannot quite remember.  words are just dead neons anyway, ha.”

  • [In Which The End]

Still on the subject of the scattered references; I think, similarly to the way language is employed, there’s an earnest message in there somewhere about the obfuscation of idealized capitalistic travel aesthetics, even through the romanticization of food via-cultural-historical-travel routes:

“rob g. explained everything to mike d. he knew so  much about the world, he looked into everything  lovingly. 

they ordered a thali, a dosa, and a dessert called  jamun, or gulab, or jamun gulab, whichever way  they called it the only thing they remember was  the sauce that the chef said came from a special  

breed of honey”

  • [In Which The End]

This could be me projecting, but growing up in Jakarta, it took me a long time to realize how strange our jumbled collage of cultural touchpoints can often be. Often using things or images as shorthand to bigger ideas or socioeconomic values (like, say, the origins of a specialist desert) without fully diving into what they mean, you start building an identity around various forms of shorthand. Eventually, the shorthand becomes the building blocks of a language of your own.

Against some of the more intimate poems, this obfuscation of imagery starts to make a little bit more sense, often as barriers between intimacy, “when I asked you to please, pay attention to my  whining / like wearing Swear London in a sea of Trippens” or even as moments most grounded in reality, “a stale baguette poking out of your Céline calfskin  make a dress out of your shower curtains  i can now see your pubic hair / my favourite red pubic hair / the colour of rotten tangerines” [In Which (Your) Cheatin’ Art]. 

The bare aesthetics and the references used hit differently here. They feel shallow, empty. Comitragic, even. I was impressed by the flexibility at which Mikael manages to manipulate and contort these layered and conflicting emotions in a burst of words:

“okay then, i should be off, searching for my  imaginary lighter in the coin slots of your car. there  was awkwardness, but we were chatting again on  the dyke a couple of weeks later. all’s well that  ends. swell.” 

  • [In Which Tee-vas]

The use of lenses in poetry is something that I like paying attention to, and I love the lens that Mikael has chosen to look through in Catch Tiggers, Bette Midler. It’s happy/sad. It’s colourful in the way washed out paint dropped on the streets are. You don’t quite know what happened back there, but you want to keep following the trail to see it through to the end. Again, the use of language is certainly the highlight in this collection. I think poetry is the most interesting when you can tell that the author has built a language of their own, and Mikael certainly has.

It’s the type of book that’s going to make me think twice the next time I look at something to try to play a game of identification with it. It makes me want to ask: who are you, why are you like this, do you have the answers to the most specific questions in my interior? (I will pass judgement, either way.)

Jessica Jemalem Ginting’s chapbook Voyages available from Bottlecap Press.

You and I on You and I

by mikael johani and ratri ninditya

you: eh nyin, gue liat di plurk lo bilang cedih abitch abis nonton you and i. macacih? kok gue rada berasa risetnya dangkal, footagenya kurang, (how many times kita harus liat atap mereka bolong?), jadinya karena konteks politiknya juga kayaknya sengaja dibikin minim ceritanya jadi kayak penyintas porn? apalagi pas di scene-scene terakhir mereka di rs, camera work-nya rada creepy-voyeuristic ga sih? i don’t know, gue jadi berasa film ini gak menawarkan sesuatu yang baru aja dalam discourse di rumah aja tentang 65 di sini. penyintas hidupnya menderita, ya iyalah!

i: revisi, gua gak cedih abitch tapi cediih. gua rasa maksud filmnya emang menyajikan sebwah narasi penyintas perempuan yang tentu menawarkan potret-potret kehydupan yang mikro di luar narasi besar-grande-kokoh 65 itu? it was obviously intentional menyorot rutinitas domestik dari Kusdalini dan Kaminah sebagai dua sobi di usia senja yang dilupakan sama negara. walopun menurutku (dan ketika aku nonton film itu pertama kali) film ini aku baca sebagai cerita persahabatan-kinship, di mana Kaminah sedang membalas budi Kusdalini selama ini yang nampung dia ketika Kaminah diusir sama keluarganya sendiri, instead of film korban 65? terus kalo kita bicara strategi advokasi 65 lewat film (seperti narasi yang digadang di promonya dan sosmed) bukankah film ini jadi nawarin angle yang specifically feminine (dan feminist)? mereka bukan keluarga heteronormatif ibu-ayah-2 anak, melainkan hanya hidup berdua dan kadang-kadang dibantu sama tetangga lewat barter dan kindness, tapi di luar itu mereka menopang hidupnya sendiri. jadi bikin orang ngobrolin implikasi 65 tanpa mengancam pake konten-konten “berbahaya”? bukankah itu bagian dari siasat feminis? gua rasa aspek itu menarik. 


kalo soal powerful scenes yang bikin gua jleb mungkin ketika mereka baringan di kasur dan Kusdalini mulai menyanyi. trus ada detil-detil yang menarik, kayak makanan pas di rumah sakit yang keliatan super gak napsuin, ngebayang kalo lg sakit suruh makan gituan? mendingan kasi gua obat tidur aja yang banyak biar gua kunjungin itu teman2 lain yang sudah berpulang duluan! sementara itu scene jasmerah, pandangan politik Kaminah, dan pertemuan dengan penyintas lain memang rasanya jadi sempalan saja dalam bangunan cerita. ngomongin scene jasmerah sebetulnya menarik juga, karena seperti sengaja mau dibenturkan Kusdalini yang mulai pikun vs. Kusdalini yang strong-willed (scene ngeyel gak mau narik tangan ke dalem pas di angkot, minta jemur keset, dan gak mau makan). karakter Kusdalini yang digambarin di sini mengingatkan gua sama eyang gue pas udah sakit (cediiih). gimmick2 propaganda ala penguasa mungkin bisa terlupa tapi semangat mah gak akan padam and that’s what matters.

 
beberapa angle scene rumah sakit bikin gua agak bertanya juga, ketika Kusdalini yang berbaring disorot dari sisi kakinya memang agak creepy. 


oiya talking about menderita, are they really? yang pasti mereka menderita karena usia dan (hampir) absennya jaminan sosial negara, tapi di luar itu kayaknya film ini gak secara asal ngeliatin mereka sebagai orang yang perlu dikasianin, lebih sebagai sosok yang perlu di-look up to. 


menurut lo risetnya harus diperdalam di mana? what are your expectations?

you: menarique dan di banyak hal i setubuh. kalau film ini berdiri sendiri dan belum ada diskografi film/literatur tentang 65 yang sudah cukup panjang gue mungkin lebih gampang menerima bahwa mungkin juga film ini bisa membawa diskursus tentang 65 ke tataran yang lebih mainstream tanpa dicancel oleh oknum. tapi masalahnya film/literatur tentang 65 di sini, terutama yang diproduksi oleh manikebuis atau protege-protege mereka, udah banyak banget yang mengedepankan sisi kemanusiaan (dengan sengaja) daripada sisi politiknya—yang bukan bagian dari kekerasan budaya ala yang dijelaskan wijaya herlambang i imagine dengan harapan yang sama untuk memainstreamkan isu ini tanpa ditakis orang-orang yang masih pki-phobic—tapi kok sejauh ini isunya ga mainstream-mainstream yak? yang ada malah konteks sejarah itu lama-lama hilang tak berbekas. jangan-jangan ini tujuan sebenernya! tiap tahun apalagi dekat-dekat september/oktober pasti harus jelasin lagi eh korban tragedi 65 itu orang-orang seperti kusdalini dan kaminah ini loh, bukan jenderal-jenderal ituh. so i guess what i’m looking for is balance? antara cerita tentang kemanusiaan dan analisa tentang politik anti-komunis yang tidak pernah manusiawi? the two don’t have to be mutually exclusive.


ke-queer-an mereka menarik sih emang, apakah itu sebuah metafora yang halus tentang survival sebagai penyintas 65? kalau mau survive ya kudu berada di luar sistem (seperti queer kids di dalam sexuality yang heteronormatif (atau non-homonormative queers di dalam queerdom yang just so?)). also bahwa kequeeran ini juga ga dibikin terang benderang menurut gue juga menarik, jadi antidote bagi kequeeran ala barat yang lebih mendominasi (di twatter!). tapi memang, walaupun gue jawir sendiri, ada juga momen di mana gue ragu, apakah si filmmaker membuat ini jadi super subtle dengan sengaja, atau dia justru tidak sadar dengan kemungkinan ini? (walaupun itu tentu bukan halangan buat sebuah queer reading tentangnya)


i also agree bahwa kusdalini dan kaminah, despite their (buat gue) obvious suffering, memang digambarkan sebagai superwomen buat dikagumi bukan karakter dalam poverty porn buat dikasihani. tapi gue jadi teringat sebuah kasus yang gue baca di twatter, tentang temen gue yang kena covid trus dia ga bilang siapa-siapa bahkan ke teman-teman terdekatnya, cuman isoman di kosan, beli makanan pakai paylater karena lagi tiris dan ga mau ngutang, sampai teman-temannya pada setengah marah pas dia spill penderitaan dia di twatter sehabis pulih. kebanyakan netijen membaca kisahnya sebagai kisah heroik tentang kekuatan individual buat survive di dalam sistem yang tidak mendukungnya samsek, memberikan bantuan seitil pun tidak. tapi buat gue di dalam kisah tedxable ini keabsenan negara/pemerintah jadi pretty much terlupakan, they didn’t get the roasting they deserved. gue sih juga pengen nyembah sungkem sama kusdalini dan kaminah, tapi gue ga akan lupa kalau yang membuat mereka harus tinggal di rumah beratap bolong (the state is unwilling to put roof over their heads!) adalah negara. 


ekspektasi gue mungkin jadi lumayan tinggi karena gue udah nonton film dialitanya udin yang sayangnya sampai sekarang belum bisa rilis (if you must know salah satunya karena beberapa kontennya dianggap terlalu berbahaya!). film itu juga tentang persahabatan, bahkan di antara beberapa perempuan penyintas sekaligus (a full community, not just an isolated couple!), dan menurutku di situ udin bisa tuh menggali lebih jauh ingatan kolektif tentang 65 sekaligus emosi-emosi pribadi perempuan-perempuan penyintas ini dan mengkombokannya menjadi sebuah cerita yang hiks banget bikin mewek tapi juga tidak memalingkan muka terhadap fakta-fakta sejarah yang membuat cerita mereka jadi hikz bingitz. sori gue ngomong tentang film yang lo belum nonton, i’ll try to keep it short, tapi mungkin keunggulan film udin, yang kemudian jadi gue harapkan ada di you and i juga, salah satunya adalah struktur narasi filmnya. di situ perempuan-perempuan penyintasnya sejak awal juga super fierce, tapi ke-fierce-an ini sedikit demi sedikit digerogoti seiring makin jauh mereka bercerita dan mengalami kembali personal/political herstories mereka sampai akhirnya, di sebuah scene tak terlupakan di antara dua mbah-mbah yang pernah dipenjara di plantungan, ke-fierce-an tadi runtuh, saat mereka menyadari yang mereka punyai tinggal satu sama lain. jika yang satu mati, ga ada lagi you and i, yang ada cuman this fucking state and i. how unfair to both of them. nah di situ pinter banget sih menurutku si udin “memainkan” emosi kita, membuat kita sempat percaya bahwa human will shall triumph over all adversities, tapi kemudian meretakkan kepercayaan itu sedikit demi sedikit sampai akhirnya hancur berantakan. bukan sesuatu yang manipulative in a bad way menurutku, why be adverse to emotional manipulation in a doco?, justru menurutku itu deskripsi yang akurat tentang delusi yang kita semua butuhkan agar dunia berasa gak taik-taik amat dan kita gak cabs aja dari situ bukan?


sementara buat gue you and i cukup puas dengan menonton saja. the film is just there to document, not to make a comment, let alone manipulate the story to present an argument about state crime. valid-valid aja i suppose, baiknya dia jadi menangkap momen-momen kecil yang memberi film ini tekstur (ngeyel ga mau masukin tangan di jendela angkot itu juga kaporit gue), jeleknya buat gue film ini mungkin akan selalu perlu advokator kayak lo buat menjelaskan tempatnya dalam konteks historiografi tentang 65 agar gak diadopsi sama manikebuis jadi bagian dari pki-erasure mereka. 

i: di sini kayaknya jadi ada sebwah kesimpulan yang gua tarik secara sotoy yang ada kaitannya sama swasensor dan akses kebanyakan orang sama film 65 (gue si sebenernya, warga endonesa dengan akses secukupnya tapi tidak ekstra). banyaknya film tema 65 yang ngedepanin sisi humanis dan sulitnya film-film yang dianggep “berbahaya” disebarluaskan secara masif itu hubungannya akibat-sebab yang jadi lingkaran setan yah. selama akses sama film berbahaya dibatesin, eksplorasi pembuat film dan literasi penontonnya sama topik-topik 65 ya muter di situ-situ aja. the fact that i haven’t seen film Udin tentang Dialita dan elo udah itu aja udah jadi contoh. diskusi soal film udin ini cuman jadi teaser buat gua doang jadinya, hiks. buat pembuat film, jadi pinter-pinteran bersiasat di ruang yang terbatas, karena apa gunanya bikin film kalo sulit ditonton orang. jadi ada swasensor yang gua curigain bahkan terjadi di proses ngide. kayaknya kalo mau menunjuk state lebih tegas, keseluruhan ekosistemnya juga harus dibongkar dengan menyediakan lebih banyak ruang-ruang aman buat film “berbahaya”. gimana kita mau ngarep punya estetik dan narasi subversif kalo pemutaran film 65 yang paling subtil aja dilarang-larang? (ini belom ngomongin global funding yang nganggep 65 seksi yah, itu kayaknya lebi rumit lagi masalahnya).


disadari atau pun nggak, pembacaan non-normative kinship (terminologi apa pula ini? ngarang gua) tetep penting karena artinya ada tekstur lain yah yang bisa dieksplorasi di tema besar 65 ini dan tekstur itu ternyata ada di pengalaman sehari-hari perempuan di luar sistem serta seluruh affect dan habitus yang menyertainya. ide bahwa we only have each other menurut gua juga tersirat di narasi akhir you and i ini, di caption in memoriam terhadap Kaminah. pas kelar itu gua pikir daym, Kaminah nyusul Kusdalini karena mungkin selama ini Kaminah bertahan hidup buat sahabatnya itu juga. 


let’s hope advokator kiri masi lebi banyak dibanding yang humanis universalis manikebuis itu dan aku bisa segera nongton pilemnya udin so we can have a further discussion x)))

*You and I disutradarai oleh Fanny Chotimah. bisa ditonton di bioskop online. foto dicopyleft dari cineverse.id

top 10 pertanyaan buat 50 album musik terbaik indonesia 1955-2015

setiap kali ada usaha untuk mengkanonisasi anything, pertanyaan pertama yang harusnya dipikirkan adalah, siapa sih ini yang mau kanon2an? di kasus kali ini, buku “this album could be your life: 50 album musik terbaik indonesia 1955-2015” terbitan elevation books, penulis2nya bisa dideskripsikan sebagai gang jakartabeat, situs musik/pop culture yang udah metong di pertengahan 2010-an. tulisan2 musik di jakartabeat sering punya ambisi jadi semacam senyawa antara chuck klosterman dan jacques derrida, pengennya kitschy sekaligus—memakai istilah yang lagi heitz setelah perdebatan tentang film tilik—ndakik2. hasilnya ndakik2nya sering kerasa dipaksain ditempel2in aja sehingga senyawanya gak jadi kayak mark fisher malah jadi… nuran wibisono chuck klosterman. more kerplunk than k-punk.

elevation books dimiliki oleh taufiq rahman, yang juga cukong—memakai istilah buat label owner yang dipakai di buku ini—elevation records. terbitan elevation books yang paling menarik buat saya adalah “setelah boombox usai menyalak”, kumpulan esai ucok homicide (edisi terakhirnya memuat esai asoy tentang portishead yang mereferensi mark fisher). rilisan elevation records yang saya paling suka belum ada, tapi dua masuk di buku ini: semakbelukar dan bandempo. apakah posisi taufiq sebagai salah satu penulis di buku ini jadi bermasalah karena selain harus menjadi kritikus/kurator/juri/gatekeeper dia juga seorang cukong label aka produsen? mungkin sebenernya nggak juga, toh mendirikan sebuah label dan merilis rekaman juga sebuah usaha untuk menyusun kanon. paling nggak sekarang kita malah bisa melihat bisa nggak dia menjustifikasikan pilihannya pada semakbelukar dan bandempo (both sebagai cukong label dan sebagai kurator daftar ini)?

dari awal mendengar berita tentang buku ini sebenarnya saya udah rada zzz dengan judulnya. bukankah buku klasik azerrad mengangkat band2 indie underground yang dihapus dari sejarah rock, sementara daftar ini—yang dari komposisi penulisnya bisa dikira2 pasti akan memasukan koes plus, dara puspita, badai pasti berlalu, iwan fals, dan favorit2 oom2 boomer lain (dan emang bener)—bakal mengangkat band2/arteiz2/album2 yang udah legendaris hence mainstream semainstream2nya? judul ini false advertising atau nafsu mendakik2 ala jakartabeat tadi? “waaa keren ni bor kalau judulnya plesetan dari our band could be your life! ya nggak ya nggak,” jerit si nafsu mendakik2.

sambil menunggu buku ini nyampe ke rumah, saya mendengarkan rekaman virtual launch buku ini, yang diberi tajuk “esoteris atau laris?” selain penggunaan kata “esoteris/k” oleh taufiq yang rada aneh (“kita kan selalu memperhitungkan bahwa ini album bagus secara esoterik…”—1:35:24 di link di atas—sejak kapan esoteris jadi penanda kualitas?), satu hal lagi yang mengusik di diskusi ini adalah lho kok sepertinya penulis2nya masih bingung parameter “terbaik” di buku ini apa sih sebenernya? kok kayaknya mereka masih ragu-ragu icuk antara “terbaik” dan “paling berpengaruh”? gimana nih, kan bukunya udah rilis!

setelah itu saya juga mendengarkan interview taufiq dengan felix dass di rururadio. kebingungan kembali melanda. selama interview saya layangkan tiga pesan waslap ke felix yang baru terbaca setelah acara selesai.

ternyata setelah mulai membaca bukunya, pertanyaan2 saya makin banyak. daripada hilang ditelan pandemic amnesia, mending saya daftar di sini. inilah, 10 pertanyaan terbaik tentang 50 album musik terbaik indonesia (dikurasi oleh dewan juri manel saya sendiri):

  1. what’s with the inlanderism? intro buku ini (yang ditulis taufiq) diawali dengan generalisasi “orang indonesia memang banyak bicara”. such self-hatred. asersi yang lebih pantas masuk kanon stereotypes mochtar lubis “manusia indonesia” daripada sebuah daftar album best of. contoh lain lagi: “jauh sebelum media sosial membombardir penggunanya dengan lanskap kota-kota besar dunia, fariz sudah menulis kisah-kisah romansa dari lawatan ke barcelona, negeri sakura, dan los angeles. bayangkan imajinasi yang timbul di benak pendengar di kupang atau manado ketika mendengarkan lagu-lagu dari album yang bertajuk ‘living in the western world’.” (hlm. 185) this one basically borders on racism. minta ditimpuk cap tikus ga sih. jakarta gaze yang membayangkan orang kupang dan manado sebagai orang2 primitif tanpa imajinasi kosmopolitan (gaze yang juga berasumsi bahwa imajinasi kosmopolitan = kemajuan), wow, not ok boomer. ada juga ini: “tidak berlebihan jika mengatakan bangsa indonesia adalah salah satu yang paling khusyuk berdoa, paling dalam tenggelam di alam maya dan paling sibuk mencari surga…” (hlm. 226) hmmm no, emang berlebihan. file under: mochtar lubis, manusia indonesia, stereotyping, essentialism, native orientalist, latent inlanderism.
  2. ternyata tidak ada penjelasan perdebatan antara parameter “terbaik” vs. “paling berpengaruh” yang beberapa kali disebut di dua diskusi tadi di bukunya sendiri. atau penjelasan tentang parameter apapun. yang ada hanya klaim2 bombastis yang nggak menjelaskan atas dasar apa ke-50 album ini dipilih: “kami berdiskusi panjang dan sengit”, “pertemuan informal dengan minum kopi”, “membongkar bersama koleksi2 lama yang telah berdebu” (terbaik kok ga pernah didengerin?), “kami melakukan semuanya dengan kesadaran penuh bahwa apa yang dirilis pada tahun 2015 harus bisa diukur dengan standar yang juga akan diterapkan kepada musik dari dekade emas 1960-an dan 1970-an”—ya tapi standarnya apaaa bambang? eh taufiq, bin, idhar, samack, acum? satu2nya tanda kebingungan soal parameter ini ada di pembukaan artikel tentang igor tamerlan: “tiap era memiliki visioner-nya masing2. dekade 1970-an menghasilkan harry roesli, 1990-an punya sujiwo tejo sedangkan 2000-an memiliki zeke khaseli.” (hlm. 201) sepertinya ini satu2nya hint di buku ini bahwa para kuratornya ternyata mungkin mempertimbangkan juga faktor keberpengaruhan album/artisnya di daftar ini selain faktor terbaik/bukannya (secara estetika). but then again, if zeke was a visionary, kenapa albumnya zalacca salacca di nomor paling tidak terbaik/tidak berpengaruh, 50?
  3. di intro ada cerita (get yer violins out) “banyak ego yang terluka dan hati yang tersakiti ketika harus… menghadapi keputusan bahwa “badai pasti berlalu” tidak seharusnya ada di posisi sepuluh besar”. (hlm. 4) tapi lihat halaman 153: badai pasti berlalu ada di posisi… 5. buku ini diedit nggak ya? di intro ini juga ada klaim “daftar yang kami susun secara sadar mempertimbangkan representasi geografis dan gender yang lebih adil”. kenyataannya, hanya ada 2 (dua) album oleh artis perempuan di daftar ini, “melayang” january christy dan “jang pertama” dara puspita. doesn’t sound very adil to me. [edit: 28 agustus 2020, 22:58 WIB, as pointed out by ratri ninditya aka lolipopsuper, salah satu penulis popteori, representasi perempuan yang nyaris nihil ini tidak mengherankan karena kurator dan penulisnya semua cowok] saya menyadari titimangsa intro ini, “11 september 2019”. sementara buku ini baru terbit agustus 2020. karena ada juga ketidaksesuaian soal badai pasti berlalu, saya jadi bertanya2 apakah intro ini mungkin ditulis sebelum daftarnya selesai? tapi lagi2, jikapun itu benar, diedit gak sih buku ini?
  4. kenapa riri riza, seorang filmmaker, yang menulis sekapur sirih? and it’s not like he said anything interesting? beli kaset di jalan sabang, ikut pensi, mulai suka thrash di awal 90-an—ini ceritanya bahkan lebih klise daripada aadc!
  5. dalam entri tentang “ports of lima” sore (nomor 2) idhar resmadi memparalelkan kelahiran pop kreatif setelah pop kuacian dengan kelahiran “paloh pop” setelah pop melayu revival. in terms of timing bisa aja, tapi insinuasi bahwa sebagai genre paloh pop sebesar dan sepenting pop kreatif dalam sejarah musik indonesia? tolong dong dikasih justifikasi yang lebih kreatif (pun intended) daripada timing doang? kesimpulan2 mentah seperti ini lumayan sering dijumpai di buku ini, kadang diperparah dengan statement yang vague (atau vague karena kesimpulannya emang masih gak jelas?). misalnya: “kisah tentang perlawanan dara puspita menjadi semakin mempesona dengan persinggungan antara hiruk-pikuk masyarakat post-kolonial dan gerakan feminisme dunia ketiga dari era gerwani.” (hlm. 168) “mempesona”-nya itu gimana sih? dara puspita dimentori koes plus, so supposedly soekarno juga ga suka mereka? tapi gerwani pro-soekarno. so, were dara puspita feminists but not the gerwani kind? atau gimana? ada juga: “benny merekam ulang situasi mencekam gestapu pki dan menyimpulkannya sebagai sebuah perang jahat…. ‘in 1965’… menceritakan ulang ketakutan anti-komunis dari tahun gestapu.” (hlm. 177-178) jadi sebenernya si benny soebardja ini anti- atau pro-pki sih? selain statement yang vague, banyak juga statement2 bombastis yang segera diikuti dengan argumen yang nggak nyambung, misalnya: “keajaiban terbesar album ini tentu saja adalah olah vokal david, yang menyelam begitu dalam ke tradisi melayu lama dan bahkan bisa membuat p. ramlee dan oslan husein berbangga. ‘kok saya tidak pernah tahu siapa itu oslan husein,” david menjawab ketika ditanya seberapa jauh dia mengerti musik melayu lama.” (hlm. 223, tentang semakbelukar) *facepalm
  6. di halaman 323, samack mengeluhkan tentang “‘kecerobohan’ khas indonesia” (inlanderisme ini emang menular ya) yang termasuk “selalu saja ada typo yang tidak perlu”. di halaman yang sama dia langsung typo sendiri narsisistik jadi narsistik. perlu gak nih typonya? more ironic still, tentu banyak banget typo di buku ini (eg, puisi jadi puasa di entri tentang “orexas” remy silado). dan itu bukan masalah terbesar buku ini dalam hal ketidakakuratan. ada yang lebih gawat lagi, misalnya malapropism (eg—masih di entri tentang orexas, ditulis oleh acum, “apa yang dikatakan remy di lagu ini adalah sesuatu yang bahkan tidak sanggup dilakukan oleh musisi kita hari ini, bahkan yang paling underrated sekalipun.” (hlm. 274) sama masalahnya dengan pemakaian kata esoteris yang nggak pas/salah-makna tadi, sejak kapan “underrated” jadi sinonim “bagus”?) di artikel yang sama acum juga menulis “album ini bisa menjadi kompas dan pedoman bagi mereka yang ingin membuat lirik yang kritis tanpa tedeng aling-aling namun dengan gaya bahasa sastra mbeling yang tetap membuatnya berkelas.” walaupun ciri khas puisi mbeling ala remy sylado memang kritis dan tanpa tedeng aling-aling, tujuannya justru untuk menghancurkan puisi2 yang sok berkelas dan mahaadiluhung. mosok di sini malah dikontraskan dengan being critical and direct? habis malapropism, yang juga gawat adalah historical inaccuracies yang bertebaran di mana2, eg, idhar menulis “pemerintah orde baru lewat menteri penerangan sempat melarang musik pop kuacian berkembang”. sepertinya maksud dia sebenarnya adalah pop cengeng macam betharia sonata “hati yang luka”—yang dilarang menpen legendaris harmoko (saya masih ingat nonton laporan khususnya di tv. ok, boomer). pop cengeng adalah near-contemporary pop kreatif yang mulai muncul awal 80-an. sebagai seseorang yang di biografi di situs pribadinya mengaku sebagai penulis dan peneliti musik, howler macam ini rasanya inexcusable. (ya, some of these pertanyaan are actually pernyataan) ada juga ini: “yang paling sering terjadi adalah musik rock dan pop dipakai sebagai soundtrack bagi film-film yang kemudian menjadi warisan budaya; seperti ‘the blue danube’ yang menjadi abadi ketika menjadi latar bagi ‘2001: a space odyssey'” (hlm. 153). the blue danube memang lagu pop… di tahun 1866. di tahun 1968 pas space odyssey keluar the blue danube udah jadi abadi lebih dari 100 tahun. dan ini: “di tahun 1980-an, hanya ada dua pilihan untuk penyanyi perempuan indonesia: jarum neraka atau hati yang luka. nicky astria atau dian piesesha.” (hlm. 235) yessy robot kaliii. *roll eyes
  7. spekulasi2 lebay juga sangat mengganggu, straight from the nirwan dewanto school of criticism, “saya membayangkan…”, eg, “jika saja kemudian [benyamin] tidak terlalu sibuk di layar lebar, musik indonesia di awal 1980-an mungkin sudah memiliki album penuh seruwet ‘trout mask replica’ dari pahlawan betawi ini. mungkin.” (hlm. 151) yes, mungkin. in the absence of trout mask meleduk, can we stick to what actually happened?
  8. buku ini memasukkan banyak detil2 yang sepertinya diambil dari primary atau secondary sources (suara kereta api bocor ke studio pas rekaman “oi, kampuang” orkes gumarang, detil2 “recording boom” tahun 1920-an), tapi sering tidak disebutkan sourcesnya atau sering penyebutan sourcenya terlalu selektif. di halaman2 yang menyebutkan recording boom tadi, nama michael denning disebut, tapi cuma sebagai pendefinisi istilah “vernacularization of music”. detil2 yang sepertinya juga diambil dari bukunya “noise uprising” (juga tidak disebut) tidak diberi catatan kaki yang sebenarnya perlu. cobbling seperti ini juga inexcusable, especially buat buku yang suka menyindir2 hobi menyontek band2 seperti god bless di daftarnya sendiri.
  9. ketidaknyambungan dalam buku ini juga dijumpai dalam banyak usaha membuat oneliners yang supermaksa, eg, “woody allen pernah mengatakan bahwa ‘showing up is 80 percent of life’. untuk khasanah musik pop, adagium itu bisa dimodifikasi menjadi 80 persen mitos dan 20 persen keterampilan (skill) dalam bermain musik.” (p. 184) kayaknya non-sequitur stephen malkmus pun lebih make sense deh daripada ini. and can you get more ndakik2 than adagium? banyak juga kalimat2 berbunga2 sok puitis yang jadinya gak make sense maupun puitis, eg, “masih ada bunga jatuh ke kuping walau didengar sering. keringat perlawanannya pun, ke luar dan ke dalam, belum kering.” (hlm. 257, bin dan taufiq tentang kantata takwa) ??? ke luar? ke dalam? keluar di dalam ajaaaaa.
  10. and what’s with the hyperbolae? ini yang bikin saya jadi berpikir sebenernya entri2 di buku ini lebih pantas jadi liner notes daripada sebuah critical assessment sebuah album. “karya eksperimental yang monumental”, “ditopang semangat anti-mainstream yang paling jauh di garda depan”, “loncatan yang terlalu jauh”, “melampaui semua musik pada zamannya”, “visi avant-garde canggih yang terlalu maju pada masanya”. (hlm. 205, itu baru tentang satu album, “langkah pertama” igor tamerlan, no. 17) udah garda depan masih avant-garde lagi, kurang hiperbolik nih penulisnya!

inlanderisme penulis2 buku ini mungkin alasannya kenapa ada cukup banyak artis/album yang mereka pilih adalah artis/album yang pernah direissue oleh label2 luar negeri, seperti benny soebardja, aka, dan kelompok kampungan yang dirilis label reissue kanada strawberry rain, dara puspita dan koes bersaudara yang direissue label seattle sublime frequencies, dan shark move dan guruh gypsy yang direissue shadoks music dari jerman.

menarik bahwa di about page mereka, sublime frequencies mendeskripsikan diri sebagai “a collective of explorers dedicated to acquiring and exposing obscure sights and sounds from modern and traditional urban and rural frontiers”. saya langsung kepikiran tentang alfred russel wallace, van der tuuk, rumphius, dan eksplorer2 kulit putih lain yang menjadi tenar dari mengeruk curiosities from the east. remember rumphius’ “amboina curiosity cabinet”? atau (at the risk of sounding ndakik2 kayak penulis2 buku ini) tren mengoleksi cabinets of curiosities di antara aristokrat2 eropa abad 16-an?

tapi ini memang issue yang menarik. jadi nyambung (semoga) dengan apa yang sering saya pikirkan sedang terjadi dengan dunia film dan sastra indonesia. inlanderisme (aka, fetishism of the west) bisa menjadi alasan kenapa beberapa orang baru mau menyukai karya lokal setelah karya tersebut mendapatkan pengakuan di luar negeri, hence the wregas bhanuteja/cecep anggi noen effect di skena film indonesia dan eka kurniawan effect di skena sastra.

apakah buku ini hasil dari sebuah strawberry rain effect? atau, karena taufiq sendiri adalah seorang cukong label yang sudah mengeluarkan reissues dari dua album yang ada di daftar ini, sebenarnya ia menyimpan ambisi menjadi strawberry rain/sublime frequencies/shadoks/explorer of esoteric sounds sendiri? apakah sebenarnya buku ini memang koleksi liner notes buat rilisan2 masa depan elevation records? ha! this book could be his life!

apa yang berharga dari

menarik membandingkan interpretasi malkan junaidi tentang arti metaforik “istirahatlah” dalam puisi wiji vs. artinya setelah dijadikan judul film biopik itu.

dalam film itu, ada mixed messages soal “istirahatlah”, di satu sisi wiji digambarkan mengeluh soal nggak bisa tidur, di lain sisi dia digambarkan tidur melulu, bahkan waktu ketemu anaknya lagi (yang begitu dia rindukan menurut film ini dengan petunjuk2 audio klise seperti tangisan bayi dan kepedulian wiji pada bayi tetangga di pengasingan yang menangis tiap kali lampu mati (listrik gagal masuk desa?)) instead of main2 sama anaknya melampiaskan kekangenan dia juga malah tidur nyenyak (lagi).

memang puisi “istirahatlah kata-kata” dalam film itu termasuk yang dihidangkan (dalam voice over yang lumayan kena, pelonya gunawan maryanto keren) secara hampir penuh, kalau tidak salah sampai baris “kita bangkit nanti” kalau nggak sampai habis (lupa). jadi kalau mau generous, ada celah untuk menginterpretasi film ini sebagai waktu tidur, siesta, buat kata-kata, untuk bangkit nanti (di sequelnya, hanya ada satu kata: lawan!? 😛).

tapi kemudian kita harus mempertimbangkan dua hal lagi (paling tidak) menurut saya sebelum memutuskan kira2 sutradara ini pakek judul itu kenapa: film2 sutradaranya yang lain dan aspek2 lain dalam film yang ini selain pemanfaatan judul puisi tadi.

kalau kita lihat di film2nya yang lain dari vakansi yang janggal, lady caddy who never saw a hole in one, sampai kisah cinta yang asu, sutradaranya si cecep ini memang lihay memberi kesan seolah2 film2nya mengandung social commentary padahal konsentrasinya lebih ke kisah romancenya, yang seringnya juga difokuskan kepada ketegangan seksualitas yang direpresi (instead of perjuangan rakyat yang direpresi).

seperti saya tulis di review saya, this guy is like the gm of indon indie filmmaking. kemudian salah satu bagian lain dari film ini yang sangat merepresentasikan pov sutradaranya adalah keputusannya mengubah scene di puisi baju loak sobek pundaknya wiji jadi beberapa scene yang menampilkan rok mini merah menyala.

itu penting banget menurut saya.

seperti ditunjukkan mumu aloha di tulisan ini, salah satu senjata wiji dalam menulis puisi adalah kritik intertextualnya terhadap influencesnya yang terlalu borjuis seperti subagio dan rendra.

puisi2 wiji kalau pake bahasa afrizal di esai ini mengganti mata kedua dan ketiga penyair2 macam rendra dan subagio tentang kehidupan wong cilik dengan laporan pandangan mata pertama langsung dari dunia kemiskinannya.

dia saksi sejarah kehidupan rakyat miskin di indonesia. baju loak sobek pundaknya dalam puisi wiji adalah simbol yang sangat kuat buat penderitaan rakyat miskin yang diopresi orba waktu itu, dan lebih spesifik lagi, penderitaannya sebagai buron yang diburu penguasa karena berorganisasi.

“karena aku berorganisasi bojoku.”

(perhatikan baju itu sobek di pundaknya, tempat epaulet tanda pangkat dipasang di seragam tentara).

“baju” ini diganti menjadi rok mini merah, yang walaupun loakan juga, dengan drastis mengganti isi puisi wiji itu menjadi apa ya? hasrat bercinta yang istirahat selama pengasingan? “merah”-nya perjuangan wiji? darahnya yang tak lama setelah itu ditumpahkan kopassus?

sepertinya interpretasi pertama yang lebih mungkin, mempertimbangkan kecenderungan filmmakernya dalam film2 sebelumnya dan juga scene selanjutnya di mana si wiji meminta sipon memakai rok mini itu waktu mereka check in di hotel di solo pas dia akhirnya pulang.

(ingat juga di puisinya, wiji menunda kepulangan itu, “kalau aku pulang bojoku”.)

dalam dunia perwacanaan puisi ini, baju loak yang jadi simbol rindu wiji pada sipon (udah powerful) yang diiringi penjelasan kenapa rindu itu mungkin tak akan kesampaian (karena wiji adalah buronan penguasa, jadi makin powerful dan mengharukan), diganti dengan simbol lain yang klise (rok mini merah, kira2 simbol seksualitas nggak yaaa) dan menyempitkan puisi aslinya (kalau kita menganggap versi film ini sebagai “puisi” alternatif (more on that later).

penggantian simbol ini, dalam film yang katanya puitik, mementahkan kritik puisi2 wiji terhadap puisi2 salon pendahulunya seperti yang dijelaskan mumu tadi.

puisi wiji yang dengan jeli menyinyiri problem kelas menengah subagio (pantalon sobek etc) dengan menggelarkan problem real rakyat miskin (becak rusak, baju loak, etc) dibalikkan lagi menjadi puisi salon tentang seksualitas (bukan perjuangan berorganisasi!) yang terrepresi.

menimbang2 semua hal ini, sepertinya lebih banyak bukti tekstual dan kontekstual yang menganjurkan bahwa si sutradara film ini sebenarnya mungkin gak sedalam2 itu amat mempertimbangkan konsekuensi peminjaman judul istirahatlah kata-kata untuk judul filmnya.

mungkin kita malah perlu lebih banyak melihat pewacanaan arti film ini oleh pihak2 yang mendukungnya, yang sejauh ini selalu menekankan betapa berartinya kesunyian dalam pengasingan wiji, bahwa inilah penderitaan yang sebenarnya, bukan dimasukkan ke dalam tong hidup2 kemudian dilarung di kepulauan seribu!

untuk soal ini sepertinya masalahnya simpel aja, sutradaranya predictably masih terhegemoni oleh kanonisasi puisi indonesia oleh kaum manikebuis salaharahis, yang selalu mengagungkan kesunyian, kesepian, penantian blablabla di atas chaosnya perjuangan yang kayaknya gimana ya kayaknya kok norak bener kalau dijadiin subyek film art house! jadi con air nanti!

*foto dari antitankproject.wordpress.com

unbucket list

seorang apparatchik akan mengcopas post ini, kemudian mengeprintnya di printer kantor, kemudian mencetaknya jadi chapbook di sebuah tempat fotocopy di benhil (naik grab dengan diskon ovo) untuk dibagikan ke pengunjung sebuah acara open mic yang sedang sibuk melawan mabora amer dengan scroll scroll scroll feed swipe swipe swipe story.

di indonesia bagian liyan, seorang pakde sedang copas “kisah rasulullah bagian 130: rasulullah melarang hidup meminta-minta” dari whatsapp group keluarga siswosardjito buat diprint dan difotocopy rangkap 50 untuk dibagikan ke anak-anak paud yang dikelola bude.

di jakarta keminggrisia bagian selatan beberapa pixel yang lalu, seorang musisi ditangkap polisi subuh-subuh karena mengorganisasi crowdfunding untuk membayari konsumsi mahasiswa yang demonstrasi dan menyewa ambulans untuk mengangkut mahasiswa yang cedera digasak polisi.

hito steyerl: “​police come knocking on your door for a download—to arrest you after “identifying” you on YouTube or CCTV” – atau kitabisa.com!

masih steyerl: “the internet persists offline as a mode of life, surveillance, production, and organization—a form of intense voyeurism coupled with maximum nontransparency.”

di subuh yang sama seorang javanese salaryman kesulitan memesan gocar karena customer ratingnya terjun bebas sejak dia dilayoff dari sebuah digital agency dan berhenti memberi tip untuk driver, apalagi top up gopay, “sori mas lagi nggak ada cash nih.”

di suburbia jakarta coret, seorang pembicara seminar berusaha mencari e-book gratis byung-chul han (ayo dong “in the swarm: digital prospects’) bukan karena dia percaya #copyleft tapi karena membayar langganan first media sudah memakan 1/20 gaji bulananannya.

swarm (ingat foursquare?): “gathering without assembly—crowd without interiority… isolated, scattered hikikomori sitting alone in front of a screen” – byung-chul han. tapi bagaimana mahasiswa2 berkoordinasi, anak2 stm sejabodetabek bersatu? bukannya lewat whatsapp swarm group?

hikikomori (wiki): people who withdraw from ​society​ and spend extreme amounts of time on their own.

bisa saja, menurut byung-chul. kadang “digital individuals come together… in smart mobs. [namun] their collective patterns of movements are like the swarms that animals form—fleeting and unstable. Their hallmark is VOLATILITY.” (my caps)

kapankah #gejayanmemanggil3 #reformasidikorupsi3? #stmmelawanselamanya?

di papua orang papua menuntut merdeka. di media luar negeri mereka dideskripsikan sebagai “pro-independence activists”. di jakarta mereka dicap sebagai separatis, dan sekarang menurut polisi dan tentara mereka ditunggangi isis.

#gejayanmemanggil, #reformasidikorupsi, #stmmelawan dilawan dengan hoaks whatsapp group anak stm bayaran, ocehan denny siregar (tentang anak stm: “Biar dilatih jd lelaki oleh TNI dan ga tumbuh jd banci”), dan #ngapainjugademo.

apakah #reformasidikorupsi adalah era yang disebut thomas elsaesser sebagai “military-industrial-entertainment complex”?

menurut byung-chul han sekarang setiap orang 4.0 adalah “sender and receiver–consumer and producer–in one”.

manungsapiens 4.0 tidak tahan untuk tidak komen di setiap post Instagram (post dan stories), YouTube, Facebook, Twitter, Tumblr, Medium; mereka paling tidak harus Share, Reshare, Retweet, Retweet with comment; lebih asoy lagi kalau bikin Twitter thread sendiri.

manungsapiens 4.0 tidak lagi hidup dalam masyarakat gotong-royong, apalagi dalam masyarakat #orangbaik, tapi dalam sebuah Leistungsgesellschaft – “achievement society” (byung-chul han).

setiap manungsapien 4.0 adalah sebuah start-up bagi dirinya sendiri.

steyerl: “​reality itself is postproduced and scripted, affect rendered as after-effect. far from being opposites across an unbridgeable chasm, image and world are in many cases just versions of each other.”

postproduction bukan cuma filter instagram, faceapp, hagiografi tinder, tapi juga hoaks yang diproduksi ph paling berkuasa di negeri ini: pemerintah.

bagaimana bisa hashtag #menolaklupa dipakai pejuang hak asasi manusia yang memperjuangkan kembalinya aktivis2 yang dihilangkan tapi pada saat yang sama juga diapropriasi oleh orang2 yang masih percaya pada film propaganda orba “penumpasan pengkhianatan #g30spki”?

tentu bisa, seperti kata leni reifenstahl, bff hitler, yang juga punya pengalaman membuat film propaganda yang dianggap terbaik sepanjang masa, triumph of the will, “when people no longer ask serious questions, they are submissive and malleable. anything can happen.”

“people” yang dimaksud reifenstahl adalah “especially the intellegentsia”.

menurutnya, propaganda dalam filmnya tergantung bukan cuma dari order dari atas(an) tapi dari apa yang dia sebut sebagai “submissive void” di masyarakat.

kaum borjuis terdidik liberal termasuk dalam “submissive void” ini, menurut reifenstahl. mereka yang sekarang dilumpuhkan oleh ​Leistungsgesellschaft!

lingkaran postproduction di atas postproduction ini disebut steyerl sebagai “circulationism”.

circulationism:“n​ otabouttheartofmakinganimage,butofpostproducing, launching, and accelerating it. it is about the public relations of images across

social networks, about advertisement and alienation, and about being as suavely vacuous as possible.”

video #jokowi dan #janethes berdebat tentang ayam (goreng) sukoharjo di tengah2 hijaunya halaman istana yang dirilis saat kebakaran hutan membara di sumatra dan kalimantan adalah contoh paripurna dari circulationism yang suavely vacuous ini.

pedro neves marques: “tech futurism is nothing but a perpetuation of a globalized modern belief in machinic and information-driven progress, which, in the end, is what led us into our current catastrophic cul-de-sac.”

pernah nggak, ngikutin garis biru di waze atau google maps, tapi malah macet? you’re not alone.

“rerouting apps are all out for themselves. They take a selfish view in which each vehicle is competing for the fastest route to its destination. This can lead to the router creating new traffic congestion in unexpected places.”

“apps are typically optimized to keep an individual driver’s travel time as short as possible; they don’t care whether the residential streets can absorb the traffic or whether motorists who show up in unexpected places may compromise safety.” – new-aesthetic.tumblr.com

AWAS JALAN UBUNTU!

menurut franco “bifo” berardi, dalam dunia 4.0 #irl apa yang ia sebut sebagai “mental sphere” telah mengemansipasi dirinya sendiri dari “dimension of perishability”. abstraksi menyelamatkan kita dari kematian.

namun: “p​aradoxically, however, the insertion of abstraction into social life and the cycles of the natural environment is leading to the extinction of concreteness, and of life itself.”

memaksimalkan kesempatan dalam kesempitan di saat hidup itu sendiri makin lama makin nggak asyik dan malah sedang ngebut menuju kepunahan bukan lagi

sesuatu yang bisa diatur atau pokoknya beres. maju kena postpro mundur kena postpro.

bahkan post pendek yang berusaha membuka borok circulationism #irl yang ditunggangi postproduction-everything ini pun juga adalah sebuah postproduction.

pic from artsy.net

E(xtreme Cinema)=m(asteng)c(etek)²

“One small step for Siman, one giant leap for mas-maskind…”

Siman peeping tom yang mengintip hoax terbesar dalam sejarah manungsapiens: Padoeka Jang Moelia Stanley “Soekarno” Kubrick membuat film propaganda CIA “Pendaratan di Bulan”… di Parangtritis. Siman ketauan dan Siti belum lahir untuk menyelamatkannya sehingga ia dihukum potong lidah, sekarang ia bisu dan PTSD. Selanjutnya di film terakhir Cecep Anggi Noen yang lagi heitz ini, ia bergerak bagai Buzz Aldrin alon-alon ra kelakon yo rapopo no biar selow kayak Bela Tarr. Seperti menonton film-film Cecep sebelumnya, menonton “The Science of Fictions” kita seperti ditantang untuk memecahkan teka-teki (rumus?) simbol-simbol visual/aural yang dikandung di dalamnya. Namun kabar baik bagi sejuta umat manusia yang ada di dunia, simbol-simbol Cecep selalu gamblang dan heavy-handed banget sehingga tenang aja, ga perlu baca A Barthes Reader untuk mengertinya. Judulnya pun sudah kasih clue yang begitu murah hati: mulai saja dengan membedah apa “fictions” di film ini, dan bagaimanakah “science”-nya?

Dalam dunia palelofuturis Siman, waktu bergoyang maju-mundur sleb-sleb, peristiwa-peristiwa sejarah-politik (yes, 65) berjalin berkelindan siap ndan! dengan laju Leistungsgesellschaft budaya pop (odong-odong, Instagram, la vie vérité, jathilan – Extreme Cinema alert!), critique aras-arasan terhadap kapitalisma (kaleng-kaleng Khong Guan of the Lost Ark), exposisi masteng Jawir cishet values yang asu (PTSD Siman sembuh sementara pertama kali dengan cara, yak, mengenthu Asmara Abigail!), etc etc, yang efek akhirnya adalah film ini pada saat yang bersamaan membicarakan begitu banyak hal tapi juga nggak ngomong apa-apa yang begitu berarti. Sejarah Indonesia adalah fiksi? Really? Alerta alerta!

Dalam sebuah komen ablist yang diucapkan salah satu karakter di film ini untuk mengomentari kebisuan Siman (yasss, he’s our fucked up history’s silent witness! Semacam Forrest Gump yang belum diendorse Nike), ia digambarkan sebagai “Iso krungu ning ra iso nyatakke” = “Mampu mendengar tapi tidak mampu berbicara”. Frase Jawir “ra iso nyatakke” di sini menarik juga, karena secara literal bisa juga diterjemahkan sebagai “namun tak mampu put his thoughts into words” atau dalam versi less keminggrisia dan lebih radikal lagi, “tidak mampu membuat [pikirannya] jadi nyata.” Sehingga Siman menjadi satu-satunya karakter dalam film ini yang direnggut agency-nya dan waduh gimana ya tar dia ga bisa menciptakan fictions-nya sendiri dong sementara semua orang di sekitarnya asik-asik ajib nggambleh ngabodor menciptakan fictions mereka sendiri untuk memarginalkan Siman??? Tapi tenang, enter Permak Lepis dan akal-akalan kere:

“So here am I sitting in a Khong Guan can…”

Fictions dalam The Science of Fictions juga bisa merujuk kepada sugesti klise dalam film ini bahwa bukankah dunia ini hanya panggung sandiwara? Job Less! Atau bahwa film ini sendiri – dan consequently all films – hanyalah sebuah fiksi (dapat salam dari 8 1/2!). Di scene terakhir yang menyindir latahisme Instagrammers dan antusiasme mereka pada taman bunga plastik di tengah hutan, sekelompok post-alay naik odong-odong menyerbu rumah Apollo-chic DIY Siman di tengah hutan bambu dan ceklak-ceklik, post, liked by gabbermodusoperandi and 696969 others. What is Cecep saying? Bahwa dunia fiksi Siman yang direproduksi dalam ribuan post Instagram² menjadi terfiksikan sekali lagi (terfiksikan kuadrat!), and that‘s the Science of fictions ––> repro atas repro atas repro dan seterusnya atas kenyataan dalam dunia fantasi yang mengelabui kita semua? Bahwa sebenernya di dunia (fantasi) ini, ora ono sik iso nyatakke opo-opo? Maybe. Tapi kok I feel some/most of the times like overreading this stuff? This ain’t exactly Hito Steyerl!

“Mantap Boschque…”

Masalahnya juga, seperti dalam film-film Cecep sebelumnya, poin-poin yang sepertinya serius ini dinyatakan (dinyatakke!) dengan sekaligus setengah-setengah, sok ironis sehingga kayak menuntut pemirsa untuk menyatakan setengahnya lagi, tapi juga sekaligus dengan so obvious menggunakan simbol-simbol yang klise (Siman yang bisu as silent witness of the official history of NKRI, Siman yang gagal lepas landas sebagai simbol Repelita Orba yang gagal lepas landas, Siman yang dikomodifikasi sebagai pemain jathilan sebagai simbol pengkomodifikasian lumpen prole, kaleng Khong Guan sebagai simbol gurita kapitalisma dan tin can ambition NASA, etc etc.) tapi di(re)presentasikan seakan-akan no one else has ever used them in a work of fiction. Efeknya justru nggak jauh-jauh mata juga dari dipaksa menikmati parade pamer fictionalized kekerenan di Instagram!

Selain itu, kenapa juga film ini masih harus mine the same ole same ole themes and tropes dari Kamus Besar Extreme Cinema, Auto-Erasure dan Self-Orientalism Indonesia: 65 (is he saying anything new or merely reproducing counter-narratives yang itu-itu aja?), jathilan, seragam diktator chic, fantasi (fiction!) TKI (“Benar tidak duit di Arab dibuat dari emas?” Hampir aja aku salah denger jadi “Bener nggak sih Palme d’Or terbuat dari emas?” Phew.), sexual obsession of Javanese men, etc etc.? Apakah ini post-Wregas/Senyawa effect yang ditempelkan di film ini agar fiksi ala mas-mas Jogjosss ini bisa langsung bikin programer-programer festival film luar negeri ngaceng (old argument I know, sudah berdiri sejak Philip Cheah)? Ataukah sebenernya Cecep tidak se-Machiavellian itu (to mention someone who’s really into fiction!) tapi memang masih belum mampu aja keluar dari belenggu inlanderisme seniman-seniman Indonesia yang ingin go internesyenel? Now we all know that’s no fiction.

Images from kino-zeit.de, sennhausersfilmblog.ch, infoscreening.co

rok mini loak merah menyala sobek entah di mana

Foto dari brilio.net

foto dari brilio.net

 

#menolaklupa, tapi apa yang kamu ingat?

kenapa baju loak sobek pundaknya kamu ganti jadi rok mini merah menyala sobek entah di mana?

apa supaya kamu nanti bisa punya scene check-in di hotel jam-jaman di solo antara wiji dan sipon?

membiarkan kami membayangkan sipon menari-nari dengan rok mini merah menyala sobek entah di mana

kemudian mereka bercinta

bukan di tikar plastik tikar pandan tapi di atas ranjang yang kata jokpin rawan kekuasaan

di bawahnya rok mini merah menyala sobek entah di mana (surprise surprise) tergeletak berantakan seperti di scene-scene ewita film hollywood (aren’t you supposed to be art house?)

disaksikan dua botol coca-cola yang saling berdekatan manja (simbol kapitalisme, terima kasih, mr obvious)

dan dua bungkus kacang rebus yang mulai berembun (simbol kaum proletar, terima kasih, mr obvious)

wiji bilang coca-colanya jangan dibawa, kacangnya saja

kenapa, apa karena buruh tidak boleh punya kawasaki ninja?

tapi dia membiarkan sipon mengambil dua butir sabun (yang juga berdampingan mesranya di tatakan kopi)

apakah unilever lebih suci daripada coca-cola amatil?

atau itu sabun artisan yang disuling dari keringat pekerja?

ini biopic wiji thukul atau vakansi yang janggal dan penyakit limaenam films?

(aku ingat furnitur-furnitur yang makin lama makin mendekat di gula-gula usia)

atau kisah cinta yang asu?

kan yang asu rezim militer harto, bukan nasib malang manusia

wiji bukan manusia borjuis penakut macam aku, dia orang berani, yang begitu ditakuti orba sehingga dia diamankan untuk selama-lamanya, dan salah satu penyair terbaik yang pernah kita punyai

btw, kenapa orang malah sering bilang “wiji bukan penyair terhebat indonesia, tapi…”

why? kalau ngobrol soal wiji sebagai penyair semua orang langsung jadi harold bloom/nirwan dewanto

zonder bukti dan argumen seperti biasa

apa relevansinya dalam mengingat memorinya?

#menolaklupa wiji thukul bukan penyair terhebat indonesia? istirahatlah kanonisasi sastra. dong

bisa kamu sebutkan satu saja lagi nama penyair protes indonesia?

susah ya, soalnya mereka semua sudah ditendang keluar dari dunia puisi indonesia yang penuh episode sunyi dan membosankan

baca dong politik sastra saut situmorang atau kekerasan budaya pasca 1965 wijaya herlambang

sori ya, auteur, tapi “hanya satu kata: lawan!” bukan kata-kata yang tercipta sambil duduk-duduk di beranda di mana angin tak kedengaran lagi sambil seka-sekaan nama dan mencemaskan sepotong lumpur

hanya satu kata: lawan adalah kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan tak mati-mati

kamu pasti tahu, kan itu ada di booklet premiere filmmu

tapi kamu tahu juga gak, wiji pernah membaca 100 halaman collected works lenin setiap hari selama berbulan-bulan?

wiji orang yang selalu gelisah dengan apa yang terjadi di republik ini, yang selalu mengacungkan tangan di setiap diskusi ndhakik-ndhakik, yang tak tergetar oleh mulut-mulut orang pintar

kenapa kamu memilih menampilkan dia tidur terus di pengasingan?

nggak bisa baca, nggak bisa menulis puisi

apa tidak mungkin dia juga akan selalu gelisah ingin tahu situasi di jakarta di palur di sukoharjo selama dalam pengasingan di pontianak?

apa tidak mungkin dia juga akan diskusi serius tentang bagaimana bertahan di bawah tanah dan bukan cuma ketakutan, kebosanan, kemudian plesir naik boat di kapuas trus minum tuak di kedai mamak?

ini biopic wiji thukul atau vakansi yang janggal dari kisah cinta yang asu?

ya ya, tentu kamu punya poetic license untuk memodifikasi isi puisi-puisinya, malah ubah aja kisah hidupnya sekalian, gapapa kok, go nutz

tapi jangan khawatir, caramu memakai poetic licensemu juga akan menunjukkan ke(tidak)pedulianmu sebenarnya pada apa

aku pernah menanyakan kepadamu apakah sofa mewah yang digotong kemana-mana di vakansi sebenarnya adalah simbol invasi kapitalisme ke sendi-sendi masyarakat indonesia

tidak, katamu, sofa itu, seperti ranjang, adalah simbol ketegangan seksualitas

o, begitu doang ternyata, kamu ternyata lebih one dimensional daripada kukira

aku terlalu lebay dong menginterpretasi vakansi?

mungkin benar juga dong aku suka onani

kalau kamu terus begini, lama-lama kamu akan seperti goenawan mohamad yang maunya melihat kenyataan dari atas ranjang saja

atau sudah?

you want to turn it on its head by staying in bed

but you’re not john lennon

oya aku punya satu lagi judul alternatif buat filmmu:

misalkan kita di pontianak, di kota itu, katamu lho ya, kata-kata telah jadi padam

Save

Save

Save

#salahfokus: wregas bhanuteja

A nondescript primitive mask with Wregas Bhanuteja

A nondescript primitive mask with Wregas Bhanuteja*

setelah empat kali mencoba menonton film prenjak wregas bhanuteja dan selalu kehabisan tiket, akhirnya berhasil juga di suatu siang yang panas di kineforum di belakang 21 tim. menurut seorang teman yang tidak mau disebutkan namanya for fear of banci budaya reprisal, menonton prenjak yang menang discovery prize yang disponsori leica di semaine de la critique udah jadi status simbol baru buat hipster budaya (banci budaya’s new nom de guerre) jakarta, bagaikan pakai tas kånken buat menenteng koleksi moleskine yang didampingi buku glorified self-help lala bohang (dengan potongan tiket prenjak sebagai ersatz bookmark).

siang itu yang diputar selain prenjak juga empat film pendek wregas yang lain sebelum itu dalam sebuah program yang dinamai “fokus: wregas bhanuteja”, semacam retrospective keauteran dia selama ini dari senyawa (2012) sampai prenjak (2016) yang diputar secara kronologis. di antara kedua itu ada lembusura (2014), lemantun (2014), dan floating chopin (2015) yang sudah saya tonton semua sebelumnya. menonton maraton karya seorang sutradara selalu asoi, membuat semua benang merah karyanya terlihat, kecenderungan-kecenderungannya, obsesinya, kekuatannya, kelemahannya, kegenitannya, ideologinya (kalau ada), etc. begitu juga yang terjadi kali ini.

jadi?

senyawa

senyawa di sini bisa berarti satu nyawa atau alkemi antara seorang anak perempuan katolik dan bapaknya yang islam dan khotib mesjid. keduanya berkongsi mempersembahkan sebuah memento buat ulang tahun pertama kematian ibu/istri mereka (yang juga katolik), dalam sebuah kerjasama lo-fi yang melibatkan dumbphone murahan dan tapedeck kadaluwarsa untuk merekam lagu ave maria versi kesayangan nyokap di sebuah kampung di manggarai yang menjadi metafor yang agak terlalu cute dan dipaksakan buat kemeltingpotan indonesia harga nego no afgan. film diakhiri dengan bapak dan anak makan nasi kuning di atap rumah sambil memperdengarkan ave maria rekaman si anak kepada foto nyokap dalam pigura sambil memandang vista kampung melayu yang oh indahnya jika tanpa konflik sektarian/tawuran tarkam. seandainya SARA bisa beralkemi menjadi bhinneka tunggal ika samawa!

lembusura

my personal fave on second viewing. kandungan metanya cukup untuk menetralisir gojek fisik masteng jogja (“susune gedhi lo”) yang so klise dan tiring. bisa saja film ini diinterpretasi sebagai usaha wregas mendekonstruksi mitos penunggu dalam budaya jawa (lembusura si penunggu gunung kelud yang sedang meletus waktu film ini dibuat — hujan abunya jadi salah satu elemen paling mistis dan indah dalam film ini) menjadi, ya, gojekan ala masteng jawa yang kita membuatnya abadi. tapi siapa/apa kita itu? superstition — solo show grotesque lembusura sempat dipertimbangkan apa distop saja waktu adzan soljum berkumandang — kah?  alam — diwakili gunung berapi hiperaktif seperti kelud — kah? tidak begitu jelas. wregas cukup lihay bercerita dan melucu, namun sepertinya dia cenderung membiarkan pertanyaan-pertanyaan lebih filosofis yang muncul dalam filmnya tidak terjawab (ataukah dia tidak sadar pertanyaan-pertanyaan itu ada?)

lemantun

terasa sebagai film terlemah dalam retrospektif ini karena kesentimentilannya yang mereduksi sebuah dramakomedi keluarga berbagi warisan menjadi kisah tentang indahnya kesetiaan seorang anak kepada ibunya. lemari-lemari (lemantun) yang tadinya siap menjadi metafor sarat makna untuk rahasia-rahasia keluarga yang mengerikan (think festen) akhirnya terbengkalai jadi sekedar red herring dari kecenderungan sentimentalisme wregas (ada juga di senyawa, dan nanti ada lagi di prenjak).

floating chopin

dalam esai yang saya link di atas, eric sasono memandang floating chopin sebagai le petit tour wregas untuk menafsirkan kembali oposisi biner eropa vs. non-eropa dalam kerja budaya (contohnya bikin film).

maybe.

interpretasi lain bisa juga film ini ternyata sebuah extended instagram video tentang “pakansi” (meminjam istilah eric) non-janggal sepasang hipster jogja. #sky #clouds #beach #food #nature #sunset #night

ending film ini menunjukkan satu lagi kecenderungan wregas, kelihaiannya membuat kesimpulan dalam filmnya terasa suspended (in this film, literally), stuck in the middle, a work in progress.

kecenderungan ini seperti saya katakan tadi ada juga di lembusura. apakah wregas masih mencari jawaban-jawabannya, atau lagi cari aman? (enak juga membiarkan pertanyaan ini juga menggantung seperti ini.)

prenjak

tidak seperti yang diiklankan sendiri oleh wregas (“it’s all about seduction“) ternyata meki dan kenti dalam prenjak ternyata red herring juga buat sebuah kisah derita single mum dalam sebuah negara dunia ketiga yang patriarkal di mana kuasa meki ternyata menjadi musnah di hadapan hegemoni kenti-kenti yang mendominasinya.

dua key scenes dalam film ini adalah waktu si cewek di detik keduapuluhenam di bawah meja dengan korek gas menyala akhirnya memutuskan untuk membuka mata dan melihat kenti si cowo yang sedang mulai ngaceng. matanya terpaku dan dia lupa korek gas harus mati dan dia harus memalingkan muka lagi di detik ketigapuluh. sampai di sini adegan ini terasa klise sekali, bahkan misoginistis, bagaimana mungkin seorang single mum yang katanya mbuh ra ruh tentang suaminya yang awol dan hanya setuju untuk masuk ke bawah meja untuk gantian melihat kenti si cowok demi mendapatkan ekstra Rp 60 ribu buat bayar kos begitu melihatnya jadi langsung tersepona dan mungkin basah juga sehingga later that day dia mau-mau aja dianterin pulang sama cowok gatel oportunistis ini?

namun kemudian ada semacam redemption buat scene ini di akhir film waktu single mum memandikan anaknya dan menyabuni kenti kecil anaknya — juga diliatin (o begitu total dominasi kenti dalam hidupmu, single mum!), sehingga timbullah kemungkinan interpretasi bahwa single mum tadi waktu di bawah meja mungkin bukan terpana karena terangsang tapi terpana dalam sebuah epiphany bahwa, ya, hidupnya sejauh ini masih berakhir menjongkok di bawah kenti (posisi yang sama waktu dia menyabuni kenti anaknya).

problem terbesar prenjak: apakah relasi kuasa dunia ketiga sekali lagi harus diceritakan dalam kisah tentang deviant sexuality (bandingkan misalnya dengan the fox exploits the tiger’s might lucky kuswandi)? buat konsumsi domestik mungkin ini strategi yang masih bikin ngaceng, tapi dalam konteks jualan ke festival film luar negeri? makin crot! 😛 8=======D~~~

walaupun berita-berita lokal soal prenjak sering berusaha menjelaskan tentang kehiperlokalan tradisi mrenjak ini, wregas sendiri bilang, “i’m glad the story is not too local, too javanese for the foreign audience to understand.”

but is being “not too local” necessarily a good thing?

prenjak’s transgressive rhetoric and why festivals are loving it

dalam bukunya “extreme cinema: the transgressive rhetoric of today’s art film culture”, mattias frey mengeluhkan tentang filmmaker-filmmaker dari negara kecil termasuk negara dunia ketiga yang melakukan “auto-erasure” dan “auto-ethnography/self-orientalism” untuk menarik perhatian festival-festival film bergengsi di negara dunia pertama. auto-erasure terjadi saat seorang filmmaker mengurangi atau menghilangkan ciri-ciri lokal film mereka dan menekankan elemen-elemen yang lebih universal dan gampang dimengerti. sementara auto-ethnography/self-orientalism terjadi saat produk kultur sebuah negara (film misalnya) mempertahankan atau bahkan melebih-lebihkan “identitas lokal” mereka buat jualan. contoh identitas lokal itu misalnya loch ness monster, geisha, atau ya, tradisi prenjak di jogja tahun 80an.

wregas sepertinya sudah lumayan lihay memainkan dua strategi di atas, yang di atas kertas sepertinya bertentangan satu sama lain. semua filmnya di atas mengandung auto-ethnography/self-orientalism (negara kesatuan republik manggarai di senyawa, lembusura di lembusura, jawirisme di lemantun, hashtag #SEAneoralism di awal floating chopin, tradisi mrenjak di prenjak, bahasa jawa) tapi juga auto-erasure (manggarai sebagai anykampung, nkri; topeng lembusura yang seperti amalgamasi segala macam topeng primitif yang biasa dinikmati publik barat di museum-museum mereka (try lantai dasar centre pompidou); setting dan cerita prenjak yang despite bahasa jawanya bisa anytown, asean — inikah juga kenapa ada hashtag #SEAneorealism itu, bukan #gunungkidulneorealism?).

sejauh manakah kedua strategi pemasaran film-film wregas di atas mempengaruhi suara filmnya sendiri? apakah high-irony dalam lembusura (“sekalian mukul gendang aja, biar makin primitif”) bagian dari ideologinya, atau bagian dari pemasaran lagi (karena high-irony seperti itu laku di festival-festival luar negeri)? apakah prenjak akan jadi film yang lebih bagus jika menganalisa lebih dalam konteks lokal tradisi mrenjak daripada menguniversalkannya? apakah imaji sutradara naive-genius di interview wregas dengan semaine de la critique di sini — yang menghindari pembicaraan yang lebih filosofis tentang filmnya sendiri seperti dia lakukan di media lokal di sini dan lebih berfokus pada obrolan-obrolan teknis ala kru — bagian dari pemasaran atau the real wregas?

di poin inilah keinlanderan hispter budaya nusantara yang berbondong-bondong menghadiri screening prenjak setelah menang penghargaan di cannes, sebuah isu kuno, bisa menjadi berbahaya. how many of them would’ve gone seandainya prenjak menangnya di vladivostok film fest? seberapa banyak dari mereka yang datang demi novelty value ngeliat jembut (mekinya ga keliatan kok) dan kenti di layar bioskop indonesia, dan berapa banyak yang datang karena berpikir sebuah film yang menang sesuatu di cannes pasti bagus? fokus: wregas, atau #salahfokus?

 

 

 

 

*foto dari sindang