Love Alarm: Alarm Pengingat Ekses Teknologi Pada Interaksi Sosial Manusia

Kalau dunia barat punya Black Mirror sebagai rambu-rambu ekses teknologi pada kehidupan sosial manusia ‘in the near future’, asia juga kini meresponnya dengan cara-cara yang lebih subtle namun juga tetap mengerikan. Salah satunya dalah sebuah serial drama korea Love Alarm yang tayang di Netflix.

Cerita ini ditandai dengan ditemukannya sebuah aplikasi Love Alarm. Aplikasi yang menghubungkan perasaan manusia dengan smartphone hingga bia seseorang yang dia taksir berada dalam radius 10 meter dan orang itu juga terdaftar dalam aplikasi Love Alarm, maka alarm di smartphone-nya akan berbunyi.

Love-Alarm-Season-1-Netflix-Title-Poster

Karakter tokoh utama di drama ini adalah Kim Jo-jo yang diperankan Kim So-hyun. Seorang gadis ceria yang menyimpan sejarah kelam dan diwarisi hutang keluarga, yang menyalakan Love Alarm milik model ganteng kaya raya dengan keluarga yang tidak harmonis; Hwang Sun-Oh. Jo-jo juga menyalakan Love Alarm milik seorang SJW, Lee Hye-yeong sahabat Sun-Oh.

Segala konflik dalam drama ini mengikuti pakem drama Korea yang sudah ada, tapi menariknya justru ekses aplikasi Love Alarm ini, karena lambat laun menyalanya alarm cinta itu menjadi sebuah afirmasi dari perasaan lawan jenis atau pasangan. Bahkan lebih jauh lagi menjadi sebuah currency, karena bila seseorang alarmnya dinyalakan ribuan orang karena saking charmingnya dia akan memiliki badge dan diberi fasilitas-fasilitas khusus, seperti membership klab dan diundang ke event-event heits -mengingatkan kita pada episode Nosedive di serial Black Mirror-.

Ini menyebabkan keuntungan akan selalu dimiliki oleh orang yang populer juga menarik sedangkan orang yang tidak populer akan semakin terpinggirkan seperti menggambarkan orang yang punya privilese akan semakin beruntung kebalikannya orang serba kekurangan akan semakin terpinggirkan, bahkan puncaknya banyak orang yang bergabung dengan komunitas Zero Ring dan memutuskan bunuh diri masal. Zero Ring adalah orang-orang yang Love Alarmnya tidak pernah berdering alias gak ada yang naksir. Ini  menyebabkan protes besar-besaran oleh sebagian orang pada aplikasi Love Alarm.

Ada sebagian orang lagi seperti Lee Hye-yeong yang memutuskan untuk mengabaikan ketergantungannya pada Love Alarm dengan meng-uninstall karena ingin merasakan bagaimana hidup tanpa aplikasi tersebut. Ide seperti nostalgia pada masa lalu ini juga pernah disajikan sebuah film rom-com Filipina, Ang Babaeng Allergic Sa WiFi (2018) yang menceritakan ketika seorang perempuan menderita alergi pada sinyal wifi dan akhirnya bernostalgia hidup di daerah terpencil tanpa sinyal wifi dan embracing hidup tanpa teknologi, ini untuk sebagian orang Indonesia mungkin tidak sulit dibayangkan karena masih banyak orang yang tidak menikmati hidup dengan sosmed, teknologi, dan atribut-atribut kehidupan modern. Atau barangkali justru mereka menikmati hidup tanpa perasaan FOMO bila tidak melihat timeline?

Black Mirror: Bandersnatch, pilih sendiri reviewmu

black-mirror-bandersnatch-endings-explained

Desember adalah saatnya berbagi kado akhir tahun. Seperti tidak mau ketinggalan, Netflix juga memberikan kado buat pelanggannya dengan meluncurkan satu produk baru dari antologi sci-fi Black Mirror. Seperti halnya episode khusus “White Chrismas”, kali ini Black Mirror juga hadir dengan episode khusus yang bentuknya adalah satu film panjang. Bahkan bisa jadi panjaaaaaaang sekali. “Bandersnatch” demikian judul dari film Black Mirror rilis pada tanggal 28 Desember 2018, adalah satu kado akhir tahun dari Netflix yang istimewa. Karena film ini menawarkan pengalaman  menikmati tontonan yang berbeda. Berbeda karena dengan bantuan teknologi, kini kita bisa menikmati  tontonan dengan cara yang berbeda, yaitu tontonan dengan genre ‘pilih sendiri ceritamu’. Cara menikmati cerita dengan gaya pilih sendiri sebenarnya sudah dilakukan seperti pada buku “Choose Your Adventure”. Begitu juga menikmati semua hal yang ada sekarang ini. Dimana sekarang kita bisa lebih lentur memilih tontonan, musik, bahkan berita dengan layanan streaming di internet.

Nah sekarang, saatnya kamu yang memilih. Review siapa yang ingin kamu baca?

Ratri Ninditya

Edo Wallad

Malam Jumat bersama para Laki Kebelet Macho

Poster-film-Sabtu-Bersama-Bapak-1

Di satu malam Jumat yang ceria, beberapa penulis Pop Teori nonton Sabtu bersama Bapak. Karena banyak kesamaan pendapat, kami kumpulkan dalam satu postingan ini, dengan 3 angle dari 3 orang yang beda.

rinduayah sekedar tagar (Edo Wallad) 

Bapak saya meninggal di bulan Ramadhan. Ada banyak penyesalan yang saya simpan pada beliau sampai-sampai ketika beliau koma saya tidak mau pergi dari rumah sakit dan akhirnya bisa menemani dia di saat terakhir. Meski begitu penyesalan masih tersimpan karena ada banyak yang belum saya sampaikan pada dia. Saat itu saya harus berusaha mengikhlaskan hati saya supaya beliau bisa pergi dengan tenang ketimbang harus menanggung sakit yang luar biasa. Tapi bertahun kemudian, jika saya bisa mengulang waktu, saya merasa satu hari lagi bersamanya adalah hari yang berarti. Saya tidak punya privilege untuk punya rekaman video bapak yang bisa saya putar di tiap hari sabtu makanya saya berharap film ‘Sabtu Bersama Bapak’ akan jadi film pengobat #rinduayah. Apalagi film ini adalah film yang dapat panggung di waktu lebaran.

Monty Tiwa sebelumnya pernah menjadi sutradara ‘Test Pack’ yang adalah satu film sangat bagus menurut kami dan sangat bisa relate ke orang-orang yang #rindujadiayah namun lagi-lagi tidak punya privilege, untuk jadi ayah. Berbeda dengan Satya dan Cakra. Mereka berdua punya privilege untuk menunggu hari sabtu agar bisa menonton rekaman video almarhum si bapak dan khusus untuk Satya dia punya privilege lain, jadi orang yang punya segudang prestasi dan akhirnya tinggal di Paris bersama istri dan dua orang anak laki-lakinya. Sayang sekali #rinduayah yang digadang-gadang menurut saya cuma jadi sekadar tagar dan judul ‘Sabtu Bersama Bapak’ jadi sekadar judul janji palsu.

Premis meninggalkan pesan untuk dibaca/ditonton setelah orang tersebut mati bukan hal yang baru dalam sastra dan film populer. P.S. I Love You melakukannya dalam bentuk surat. Il Mare dan adaptasi Hollywoodnya, The Lake House, adalah variasi lebih advance dari komunikasi lintas jaman karena dua pihak bisa bales-balesan walaupun dari dua timeline yang beda. Anjali di ‘Kuch Kuch Hota Hai’ menunggu setiap hari ulang tahunnya agar dia bisa baca surat dari almarhum ibunya yang membawa dia akhirnya menjodohkan sang ayah dengan cinta lamanya. Ibu Anjali tidak hanya sekadar memberi nasehat template yang bisa didapat dari guru bela diri (sang bapak di film sabtu bersama bapak seorang taekwondoin) tapi ibu dari Anjali bisa bercerita panjang lebar tentang persahabatan ayahnya dengan seorang istimewa yang jadi inspirasi nama Anjali. Pesan yang disampaikan ibu tidak normatif dan harfiah tapi bisa membuat Anjali nekad untuk mencarikan bapaknya jodoh. Tekad yang ditanamkan secara subtle itu tidak bisa dilakukan di pesan-pesan moralis dan normatif Mario Teguh bertampang Abimana. Pengulangan premis nggak pernah masalah, tapi apa Sabtu bersama Bapak bisa membuat ini lebih menyentuh? Padahal menurut saya ada banyak hal yang bisa menyentuh dari kenangan anak laki-laki pada almarhum bapaknya yang bisa jadi tearjerker. Seperti saya yang selalu minta tidur dengan baju ayah ketika ayah sedang tugas keluar kota.

Ketika media yang menjadi alat pesan itu adalah sebuah video, seharusnya dia bisa lebih lincah bukan sekadar rekaman bapak duduk seperti seorang ketua parpol mengucapkan selamat idul fitri di stasiun TV. Bro… kenapa si bapak gak merekam tips-tips hidup yang lebih praktis dan dalam angle yang tidak statis seperti cara memaku dengan palu yang benar, cara mengikat dasi, cara menulis surat untuk cewek  gebetan atau bahkan mengajarkan sang anak bagaimana mengganti ban mobil yang kempes. Mungkin pesan yang disampaikan jadi sangat maskulin namun kesannya subtle dan tidak formal. Bahkan adegan sang ayah mengajarkan taekwondo pada Satya ada baiknya ada di rekaman video, bukan rekaman ingatan. Tapi akan lebih bagus lagi pesan yang disampaikan ayah bukanlah pesan yang melulu maskulin. Seperti bagaimana mengganti popok bayi, mencari kutu di rambut anak, menanam bunga di taman atau teknik memasak cepat dan mudah -ini dibutuhkan Satya ketika ditinggal istri di luar negri-.
krisis maskulinitas (Ratri Ninditya)

Nampaknya Adhitya Mulya punya krisis maskulinitas dan Monty Tiwa mengamini konsep-konsep kelakilakian dia. Sabtu bersama Bapak jadi film yang dijejali dengan prinsip “lelaki sejati” ala iklan rokok dan minuman energi, ceramah-ceramah nggak jejek, dan karakter yang nggak bikin simpatik, karena mungkin penulisnya terlalu malas untuk memahami karakter yang ia tulis sendiri.

Sebelum diluncurkan film ini terlihat sangat menjagokan premisnya. Sehingga kami otomatis menonton karena ingin mencari pesan apa sih yang bapak itu sampein? Pasti ada sesuatu yang sangat spesial. Ternyata, pesan bapak adalah kalimat-kalimat klise yang berulang kali bisa kita baca di buku pelajaran agama Islam dan buku-buku self-help yang semarak menghiasi toko buku Gramedia.

Sabtu bersama Bapak hanya mengulang prinsip prinsip kuno yang menganggap suami itu adalah imam, adalah breadwinner keluarga, adalah satu-satunya orang yang menentukan keluarga ini mau dibawa ke mana. Laki-laki harus selalu berprestasi (adegan sejembreng piala di rumah lengkap dengan ijazah-ijazah universitas terkemuka di Bandung itu seperti sebuah deskripsi malas yang dilakukan banyak sinetron untuk menunjukkan pencapaian). Laki-laki harus kuat, harus ada banget tuh adegan latihan taekwondo. Bapak punya dua anak lelaki. Anaknya si Satya punya dua anak lelaki juga. Kenapa nggak cewek? Yang paling penting, laki-laki harus bisa melengkapi dirinya sendiri. Pesan terakhir itu dikemas dalam film ini seperti sebuah filosofi kehidupan pamungkas yang dinyatakan sambil ada background vokal seriosa dan angin sepoi-sepoi pantai ancol. Tapi buat kami, gitu aja nih?

Hal ini menguatkan keyakinan kita, bahwa penulis dan sutradara punya krisis maskulinitas akut yang mereka tidak sadari. Kenapa? Kalo sadar, ya bikin dong karakternya lebih nelongso, lebih gagal, lebih penuh beban pada pundak brototnya. Sayangnya, semua karakter cowok di sini serba flat (apalagi karakter ceweknya). Mana penderitaannya? Mana strugglenya? Nampaknya jomblo 30 tahun dan ditinggal kabur beberapa hari oleh istri udah jadi ultimate cobaannya mereka. What’s the big deal?

Krisis maskulinitas akut juga sangat literal keluar dalam dialog-dialog di film ini: “istri adalah perhiasan”, “kamu telah gagal jadi istri”, “saya mau kamu jadi pacar saya” (bukannya nanya, mau gak kita pacaran), “benerin dulu masakan kamu”, “saya udah kasih rumah buat kamu itu sia-sia?”. Nggak ada kalimat/aksi balasan di cerita ini yang setara buat nimpalin makian seksis itu. Bahkan, Satya nyadar dosanya maki-maki istrinya saat liat istrinya nanya resep sama ibunya sambil sit up. Tuhan, tolonglah hambaMu, sampai kapan endonesa mau nganggep kalo istri yang baik adalah yang masaknya nyamain masakan ibu si suami, yang di rumah ngurus anak, jaga bodi tetep singset, dan nurut rencana yang disusun suami?

Lalu, yang lebih parah lagi, film ini tidak memberi ruang buat kami untuk mengenal sosok sang bapak. Siapa dia selain tukang ceramah dalam televisi yang mukanya kebetulan ganteng? Film ini, yang niatnya mau memuliakan figur bapak justru menempatkan dia sebagai orang yang control freak, diktator dengan segudang ego yang berkedok sayang istri anak, mirip para lelaki Corleone di film The Godfather, yang (kami yakin ini bukan kebetulan) dijadikan pajangan di kantor Cakra. Kode lain sepertinya lebih tidak sengaja muncul di saat Satya tangannya patah ketiban “pipa” yang jatuh dan dia nggak mau kasih tau istrinya (phallus yang jatuh, kelaki-lakian yang gagal), saat yang bikin Cakra jatuh cinta adalah sepatu hak tinggi seorang perempuan (simbol seksual berkedok religi yang super obvious. lagian bukannya kalo di kantor mau sholat lo ganti sendal jepit yeh).

Dari segi casting, dua hal yang sangat mengganggu. Kenapa Ira Wibowo harus jadi versi muda si ibu juga? Kedua, semua talent anak kaku dan ngeselin. Ada lagi, semua bakat potensial aktor dan aktrisnya sama sekali nggak digali, atau lebih tepatnya, nggak tergali karena karakterisasi cetek kurang riset. Mustinya kita bikin tagar baru lah, #rinduriset #rindubacabuku #rindunonton biar penulis ama sutradaranya bisa lebih menghargai profesi mereka sendiri.

sabtu bersama bapak = tuesdays with morrie? (Festi Noverini)

Pertama kali denger judul film ini tentunya kami nggak bisa melepaskan kecurigaan bahwa bukunya si Adhitya Mulya amat sangat ‘terinspirasi’ oleh “Tuesdays With Morrie”-nya Mitch Albom. Antara ya dan tidak. Saya sampai harus membaca ulang buku tersebut, which turned out to be a waste of my precious time (we’ll get to there in another review).

Adhitya mengikuti pola yang sama dengan Albom. Anak muda cemen yang berpikir bahwa prestasi adalah segala-galanya kemudian tercerahkan setelah belajar dari yang lebih tua, lebih bijaksana. Satya dan Albom sama-sama terjebak materialisme karena ketakutan kehilangan waktu yang berharga. Dua-duanya in demand, dua-duanya hotshot, dua-duanya clueless dan kurang wawasan. Adhitya dan Albom justru semakin meneguhkan stereotip bahwa mereka yang hidupnya penuh prestasi ya pada akhirnya akan jadi cetek aja karena #kurangbelajar #kurangpikir #kurangwawasan. Yang mereka tau ya cuma itu-itu aja. Walaupun gak se-patriarkal Adhitya, Albom juga sama konservatifnya (“This is okay with you, isn’t it? Men crying?”) Klisenya sih sama. In the end “Love wins. Love always wins.” Pret. Semacam chick lit versi laki-laki. Can we please come up with a term for this? Biar seksisnya adil.

Setelah hampir 20 tahun lalu berlalu, gak ada perubahan yang berarti dari buku-buku genre ini. ‘Tuesdays’ diterbitkan tahun 1997, ‘Sabtu’ tahun 2014. Dua-duanya sama-sama berbagi kisah inspiratif dari self-absorbed privileged people. Nyaris nggak ada tuh hubungan mereka dengan atau bagaimana mereka melihat dunia luar (kalaupun ada di ‘Tuesdays’, ya rasanya cuma sebagai alasan nggak esensial), yang ada cuma “self, self, self”. Hasilnya ya dua anak yang clueless bin teoritis karena yang dipelajarin cuma kuliah satu arah dari video si Bapak.

Lucu bahwa kami melihat Bapak sebagai seorang control freak karena Albom pun juga seorang control freak.
“Instead I buried myself in accomplishments, because with accomplishments I could control things, I could squeeze in every last piece of happiness before I got sick and died, like my uncle before me, which I figured was my natural fate.”

Dimana ‘Tuesdays’ (dan ‘PS I Love You’, ‘Il Mare’, ‘The Lake House’, Kuch Kuch Hota Hai’ dll) menghadirkan pengulangan kehadiran si orang lain sebagai tokoh utama lainnya, di Sabtu si Bapak cuma jadi perhiasan aja, sama seperti gimana dua anak si Bapak memandang perempuan-perempuan di kehidupan mereka seperti perhiasan. Menyedihkan. Si Bapak nggak pernah benar-benar ‘hadir’ dalam hidup mereka. Cuma jadi legenda, mitos dan silabus yang ditunggu setiap Sabtu tapi muncul cuma secuil di film ini. Satu-satunya adegan yang sedikit membuat saya tersentuh ya cuma saat Satya bermimpi ketemu Bapaknya dan melapiaskan kemarahan ke Bapaknya karena pesan-pesannya “misleading” (lha lu aja yang gableg mikir kok literal amat). Ada sedikit ketulusan walau itupun juga diragukan apakah karena bagian itu ditulis lebih baik atau memang karena Abimana aktor yang ok aja (karena Arifin, yang emang punya tendensi lebay, agak lebay di sini).

Satya, Saka dan ibunya lebih terlihat sebagai 3 manusia yang hidup sendiri-sendiri yang dihubungkan oleh ilusi “the Great Bapak”. Entah apakah novelnya juga sepatah-patah ini atau memang penyutradaraan filmnya saja yang patah-patah. Dari Satya, loncat ke Saka, loncat ke Ibu, semua dengan isunya masing. Sure, setiap orang punya isunya masing-masing dan idealnya memang setiap tokoh dihadirkan utuh tanpa ada yang jadi lebih utama dan selebihnya jadi figuran. Tapi ini cemplang banget lho, kayak mata lo tiba-tiba disenterin di ruang gelap pekat, gak ada transisinya. KZL kan? Ditambah akting semua pemain di luar Abimana yang kayak shooting FTV kejar setoran, kayak si dua anak buah gengges yang jadi bikin kami mikir, ini kantor atau playgroup? Lengkap sudah garingnya.

Cover Version, yes or no?

cover-version

Kalau saya nyetir didampingi istri saya sepanjang jalan yang ‘unpredictable’ dari gandul-gandul sampai Gedung Victoria Blok M kami ditemani oleh radio Delta yang dulu pernah jadi tempat saya kerja. Sepanjang jalan itu kami akan sing along pada lagu yang diputar. Bukannya kami berdua super perhatian sama musisi-musisi yang dapat heavy rotation di radio. Tapi justru karena mayoritas lagunya memang sudah tidak asing di kuping.

Oh iya, balik lagi ke Delta, sekarang radio ini bukan radio lagu oldies kok. Jadi kenapa yang diputar mereka masih akrab di telinga? Ternyata lagu-lagu yang heavy rotation di radio itu semua lagu pop lokal lama dengan suara dan musik yang baru.

Titi DJ bawain ‘Bila Kuingat’ dari Lingua, Andien bawai lagu ‘Rindu’ dari Warna, Mike Mohede nyanyi ‘Sahabat Jadi Cinta’ milik Zigas, Marcell bawain lagu ‘Mau dibawa Kemana’ dari Armada. Yes you right! Mau dibawa kemana musik pop jaman sekarang? Mayoritas lagu yang mengudara adalah lagu daur ulang alias cover version.

Racikan cover version dari dulu memang sering ada di satu album seorang atau kelompok musisi. Tapi itu sejatinya adalah sebuah trik untuk musisi baru biar cepat T.O.P. Nah kalau diva macam Titi DJ nyanyiin lagu Lingua, itu tentu saja masalahnya bukan trik supaya dia terkenal. Bukan juga trik untuk membuat Titi DJ bersahabat dengan telinga anak muda sekarang, bok… Lingua aja top di dekade 90-an. Terus kenapa?

Mungkin jawabannya ada di toko-toko kaset yang sekarang tutup. Karena pencipta lagu itu kan hidupnya dari hak cipta yang nempel di produk fisik. Kalau penjualan RBT, kaset, CD, atau yang lebih baheula PH sudah gak ada, apa yang mereka hasilkan?

Dunia digital memang menawarkan digital store, tapi tetap itu rentan dibajak. Sekali online pasti menjalar ke kuping-kuping commuters yang dengar musik dari HP. Sekarang ada lagi layanan musik langganan seperti Spotify, tapi kalau sharenya dikit mending si pencipta lagu bikin jingle iklan aja deh ketauan.

Musisi tetap hidup dari manggung di inbox, tapi pencipta lagu terpaksa kencangkan ikat pinggang. Sedih memang, tapi sebenarnya walau si pencipta lagu berhak untuk ngeluh karena share mereka ledes, kita bisa balikan lagi, apakabar si NN pencipta Kampuang Nan Jauah di Mato?

Teks: Edo Wallad

Kegagalan generasi menurut Noah Baumbach

Oleh: Ratri Ninditya

Saya menonton While We’re Young dan merasa sangat bersimpati pada kegatalan Noah Baumbach untuk mengkritik generasi Millenials yang acakadut: memuja gaya hidup organik (bukan cuma sayur, tapi semua yang analog dan DIY), nggak takut nikah muda menghambat karir, tapi di sisi lain haus popularitas dan merasa semua bisa dicapai dengan instan. Walaupun ini adalah cerita orang-orang kulit putih dan sangat priveleged di New York, tapi aspirasi dan kegelisahannya kejadian juga sama orang-orang yang sering saya dengar dan temui di Jakarta, yang biasa diberi judul kelas menengah ngehek. Ketakutan Ben Stiller (sebagai Josh) saat melihat Adam Driver (sebagai Jamie) dengan mudah mencuri panggungnya sebagai seorang pembuat film “dokumenter” dengan idenya yang pop, straighforward, dan gampang dicerna, adalah ketakutan kita sama anak-anak baru lulus kuliah luar negeri yang cerdas dan bergelimang piala. Ada sesuatu yang begitu nyata dan menyakitkan dalam ambisi bang Adam untuk mendapatkan titel seniman sukses yang terhormat. Sangat menyedihkan melihat om Ben memandang Adam dan berpikir ia akhirnya jadi panutan juga, jadi orang dewasa terpandang juga, dan di bagian akhir film ketauan ternyata tujuan dedek Adam nggak lebih karena duit istrinya (Naomi Watts, sebagai Cornelia) aja. Yang menarik juga adalah bagaimana pasangan hipster muda ini tau bagaimana harus menampilkan diri di hadapan pasangan uzur dari generasi X (no google, i dont have facebook, we built the table ourselves, he’s always on the move). Seolah mereka tahu apa harapan generasi tuwir waktu mudanya dulu yang nggak pernah kesampaian. Seolah, seperti yang sudah banyak dibahas di artikel-artikel hipsterdom, menjadi hipster adalah tau mana yang keren dan menyelimuti diri dengan aneka atribut kekerenan itu. Menjadi hipster adalah soal menjaga citra dan siapa lo sebenarnya jadi nggak terlalu penting. Dan sebagai sebuah generasi yang muncul dengan menolak nilai dan moralitas generasi sebelumnya, mas Noah merasa generasi hipster-millenials gagal mencapai itu karena semua hanya aksesori tambal sulam. Kita gak jadi masyarakat madani (uhuk) yang lebih baik, kita malah jadi makin buruk.

Tapiiii… masnya kan dateng dari generasi tua. Di sepertiga terakhir film argumennya kerasa seperti keluhan khas orang uzur saat ia menyimpulkan, “Ah dia kan nggak jahat, cuman muda aja.” Lah dia kata anak muda semua oportunis? Wacananya soal parenthood juga ajaib. Menunjukkan orang tua baru yang narsis terasa agak basi dan lebay, karena lo nggak akan punya temen yang nyuruh lo tetep punya anak walaupun tahu lo udah berkali-kali coba dan keguguran, abis itu masih ditemenin pula. Lalu kenapa semua masalah selesai saat pasangan ini memutuskan untuk adopsi anak? Apa kita balik lagi ke anggapan klise kalau kehadiran seorang anak jadi obat krisis rumah tangga? Atau apakah, adegan itu justru sebuah ledekan Baumbach terhadap generasinya sendiri, bahwa pada akhirnya mereka akan kembali ke konformitas: berkeluarga sakinah mawadah warohmah, beranak, dan nikmatin privelege kelasnya sendiri? Buat saya, om Baumbach lebih nyaman mengamini aspirasi populis itu.

 

*Gambar diambil dari sini

Cinta Brutal di Crimson Peak

Oleh: Ratri Ninditya

 

Fiksi gothic menjawab era pencerahan yang kerasa basi karena semuanya pasti-pasti aja. Cerita-cerita bertema gothic selalu merayakan misteri, keajaiban, dan ketakutan. Adanya karya-karya gothic menandakan bahwa di tengah kemajuan ilmu pengetahuan sebetulnya masih banyak yang nggak bisa dijelaskan dengan logika, masa lalu yang menghantui (literally and figuratively), dan brutalismeee (ahay).

Film terbaru yang disutradarai Guillermo del Toro dibilangnya masuk kategori gothic romance, artinya ada cinta-cintaan tapi ada gaib dan darah-darahan. Ramuan cucok untuk nendang pasar mainstream. Oom del Toro ini dilihat-lihat cukup produktif juga ya. Nggak hanya jadi sutradara tapi juga produser, nulis buku, dan nggadunin brondong*. Dengan portofolio sebanyak itu serta cukup mainstream sejak The Devil’s Backbone dan Pan’s Labyrinth, mungkin kritikus-kritikus udah pada gak nganggep karyanya serius lagi. Dan secara box office gue kurang merhatiin sih sukses atau nggaknya.

Cuman karena saya bukan kritikus, tapi komentator (yang doyan drama korea), film dia mah why not bangget. Saya selalu suka romance yang racikannya pas, yang brutal kayak gini, yang badass kaya Edge of Tomorrow, atau yang agak platonis slash badass jugak kayak Pacific Rim. Loh rupanya film yang saya sebutin ada hubungannya sama dia semua yah. Mungkin cucok seleranya ama Oom.

Kenapa racikannya pas, karena di film ini ada Tom Hiddleton. Haha. Nggak ding. Karena film ini ngomongin satu kenyataan yang penting banget yang mendasari cerita cinta itu sendiri: kalo modernitas itu kosong.

((mulai dari sini spoiler)) Di film ini ada cewek anak bisnismen sukses amerikiyin (Mia Wasikowska) yang rela meninggalkan semuanya karena kepincut misteri keinggrisan — sesuatu yang gak rasional, tapi yah, dengan kata lain kepincut pesona licik nan syahdu Tom Hiddleton.

Tom Hiddleton sendiri berperan sebagai tuan tanah Inggris yang darahnya biru tapi dompetnya transparan, alias kere. Dia terpikat dengan segalanya yang kekinian, alias modern, yaitu duit, mesin-mesin, bisnis lah pokoknya. Itu sebabnya dia pura-pura minat sama si Mia supaya bisa morotin bapaknya. Eh ternyata oh ternyata dia punya dosa gede banget di masa lalu yang menghantui dia ampe sekarang. Dosanya itu segede mansionnya yang mau ambruk ketelen tanah liat. Tom Hiddleton punya kakak cewek yang kayak nenek sihir (Jessica Chastain) yang lebih nyeremin daripada hantu-hantu di mansionnya dan demen banget ngatur dedek Tom harus ngapain. Dia juga cemburu banget sama si Mia. Abis mereka ngewi malam pertama pernikahan, eh dia ngamuk. Dah tau dong sebenernya dia itu apa… Yak benar! Incest doi ama adeknya ndiri. Yah seperti banyak cerita gothic lainnya, incest dan kekerasan muncul sebagai sumber teror yang lebih menakutkan daripada hantu.

Cerita punya cerita, si Tom jatuh cinta beneran sama Mia. Sementara Mia udah diingetin terus ama setan-setan dari kecil kalo ati-ati tuh sama Crimson Peak, nama daerahnya si duo incest ini. Namanya juga orang dimabok cinta ya, mana denger doi. Tapi pas ketauan adeknya cinta beneran, ngamuk si Jessica bunuh-bunuhin semuanya, ampe adeknya sendiri kena sasaran, ditusuk matanya!! Ternyata juga mereka selalu memperistri orang kaya, lalu bunuhin setelah dapet uangnya. Emaknya sendiri aja dibunuh. Mungkin karena ketauan incest. Jessica yang selama ini bunuh. Dedek Tom obral pesona ajah. Ciyan dia.

Jadi, balik lagi soal kekosongan modernitas, ihiy. Yang dikejar duo incest ini nggak ada artinya. Itu cuman supaya mereka bisa nerusin kedoknya sebagai kakak-adek normal pewaris mansion itu. Tiap abis dapet duit, gagal benerin mesin, duitnya abis. Hal ini bikin si Tom setres sejadi-jadinya (cini cini nyender di dada aku), dan tobat berbalik ngelawan kakaknya sendiri. The best thing that ever happened to Tom was actually si Mia, yang mewakili semua hal yang anti modern, dengan percaya hantu, gut feeling, dan percaya kekuatan CINTA hahaha. Tom baru bisa jadi hero setelah dia jadi serpihan masa lalu (hantu maksutnya. Tapi beneran bentuk hantunya dia kayak serpihan gitu).

Dengan alurnya yang cukup ketebak dan visualnya yang sangat emejing, film ini tetep memuat pesan gotika yang kuat yang membungkus cerita cintanya, bahwa kadang the only way to move forward is to step back.

 

*im just saying, eh just kidding.

**Gambar diambil dari https://stitchmediamix.files.wordpress.com/2015/09/crimson-peak1-bloody-disgusting.jpg

IKEA Craze & Inlanderisme*

Ikea Craze & Inlanderisme

 

Oleh popteori

 

Setelah membaca kritik penulis kami jadi tergelitik untuk bertanya, apa sih yang ada di kepala penulis ketika dia mengaitkan kebiasaan setelah makan atau buang sampah sembarangan dengan Revolusi Mental? Menurut dia Revolusi itu apa? Semacam mukjizat yang datang dari langit gitu ya?

Mungkin penulis perlu mengintip pendapat Wijaya Herlambang dalam koranopini.com. Mengutip jawaban wawancaranya, ”Pertama, istilah Revolusi Mental ala Jokowi tidak ada hubungannya dengan arti revolusi itu sendiri. Kenapa? Karena setiap revolusi adalah sebuah perubahan drastis dari satu sistem ke sistem lain. Artinya, revolusi selalu dan melulu berhubungan langsung dengan reformasi kondisi sosial dalam waktu yang singkat.”

Berangkat dari konsep bahwa revolusi adalah perubahan drastis dari satu sistem ke sistem lain, jika penulis punya landasan pemahaman ini, tentunya dia akan dengan lebih mudah memahami bahwa selama sistem-sistem yang berjalan di masyarakat masih sama dengan kondisi sebelum pencanangan misi ambisius Revolusi Mental, ya jangan ngarep mentalnya juga otomatis berubah, malih!

Dengan tulisannya yang holier-than-thou, penulis menggebu-gebu sekali mengajukan argumen-argumen menggelikannya.  Salah satunya misalnya penulis menyatakan bahwa IKEA mengusung “semangat global.” Bah, apa pula itu semangat global? Sepahaman kami, global memiliki makna berlaku umum (di seluruh dunia kalau mengacu pada konteks tulisan penulis). Apa yang penulis definisikan dalam “semangat global”-nya tentu tidak terjadi di seluruh dunia melainkan sebuah gambaran akan kebiasaan negara-negara yang umumnya tingkat pendapatan masyarakat tidak jauh berbeda antara satu jenis pekerjaan dengan pekerjaan jenis lainnya sehingga masyarakat dipaksa untuk “self-reliant” karena mereka tidak akan sanggup membayar untuk bantuan, misalnya bantuan rumah tangga. Sekali lagi, sistemnya yang memaksa mereka untuk “self-reliant”, bukan mentalnya yang memaksa.

Alih-alih terdengar global dan modern (apa pula maknanya sifat-sifat tersebut?) seperti keinginannya mengidentifikasikan diri dengan IKEA, si penulis malah terlihat super-Inlander!

Inlander atau Pribumi-Nusantara (“anak dari tanah/bumi Nusantara“) atau Pribumi-Indonesia adalah istilah yang mengacu pada kelompok penduduk di Indonesia yang berbagi warisan sosial budaya yang sama dan dianggap sebagai penduduk asli Indonesia.

Istilah “Pribumi” sendiri muncul di era kolonial Hindia Belanda setelah diterjemahkan dari Inlander (bahasa Belanda untuk “Pribumi”), istilah ini pertama kali dicetuskan dalam undang-undang kolonial Belanda tahun 1854 oleh pemerintahan kolonial Belanda untuk menyamakan beragam kelompok penduduk asli di Nusantara kala itu, terutama untuk tujuan diskriminasi sosial. Selama masa kolonial, Belanda menanamkan sebuah rezim segregasi (pemisahan) rasial tiga tingkat; ras kelas pertama adalah “Europeanen” (“Eropa” kulit putih); ras kelas kedua adalah “Vreemde Oosterlingen” (“Timur Asing”) yang meliputi orang Tionghoa, Arab, India maupun non-Eropa lain; dan ras kelas ketiga adalah “Inlander“, yang kemudian diterjemahkan menjadi “Pribumi”. Sistem ini sangat mirip dengan sistem politik di Afrika Selatan di bawah apartheid, yang melarang lingkungan antar-ras (“wet van wijkenstelsel“) dan interaksi antar-ras yang dibatasi oleh hukum “passenstelsel“. Pada akhir abad ke-19 Pribumi-Nusantara seringkali disebut dengan istilah Indonesiërs (“Orang Indonesia”). [1]

Di masa kolonial, Inlander adalah ejekan orang Belanda buat penduduk asli di Indonesia. Secara etimologis, “Inlander” adalah kata Belanda untuk “Islanders” atau bahasa Indonesianya, “Pribumi”. Sekarang, ejekan “Inlander” ini sudah mengalami perluasan arti, bukan cuma digunakan untuk menjelek-jelekkan orang pribumi oleh overlord kolonialnya, tapi juga oleh sesama orang pribumi sendiri untuk mencela orang-orang katro yang mem-fetish-kan (memuja-muja tanpa alasan) segala macam hal yang berbau “Barat”.

Mungkin tulisan Eko Armunanto, Indonesia dalam Fenomena Jokowi-Ahok: Egaliter VS Inlander, dapat menjelaskan kepada si penulis sedikit banyak aspek poleksosbudhankam mentalitas Inlander-nya.

Mari kita baca lagi artikel di atas: judulnya saja sudah super-Inlander! “Mereknya Sih IKEA, Tapi Kelakuan Kita Masih Indonesia”—kenapa “Indonesia” diantitesiskan dengan “IKEA”, seakan-akan IKEA mewakili peradaban yang lebih maju dan Indonesia mewakili segerombolan monyet cari kutu di hutan rimba? Apa yang salah dengan “Indonesia”?

Penggunaan kata “tapi” dan “masih” dalam paragraf ini jelas menunjukkan si penulis merasa subyek pertama (IKEA) melambangkan sesuatu yang sifatnya lebih baik, lebih superior, sedangkan subyek kedua (Indonesia) adalah representasi dari sesuatu yang sifatnya lebih katro, lebih inferior.

Dengan kompleks inferioritasnya (inlanderismenya!), penulis membandingkan budaya IKEA yang (klaimya) serba teratur, mandiri dan disiplin dengan budaya orang Indonesia yang di tulisannya digambarkan jorok, seenak udelnya dan manja ala-ala pejabat dan putra keraton.

“Namun mungkin memang dasarnya kita bangsa Indonesia, terlalu sering dilayani oleh orang lain.” Sejak kapan kita, bangsa Indonesia (kalau mau menggunakan penyamarataan sifat yang dipakai penulis) terlalu sering dilayani oleh orang lain?

Kalau penulis melek sejarah, mungkin penulis bisa memahami bahwa “pelayanan” (dari yang dianggap subordinat kepada superiornya) adalah salah satu hasil dari praktek politik feodalisme dimana masyarakat dipecah-pecah menjadi kelas-kelas sosial yang kemudian melahirkan pembagian kerja dan derajat (buatan) berdasarkan kelas-kelas tersebut.

Apakah kemudian masyarakat yang dilanggengkan kelas-kelas sosialnya sampai sekarang ini semuanya “terlalu sering dilayani orang lain”? Bagaimana dengan mereka yang karena kelas sosialnya justru selalu menjadi subordinat dan melayani?

Katakanlah memang benar bangsa Indonesia jadi manja karena terlalu sering dilayani orang lain, bagaimana kalau kita bereskan saja mental cemen yang katanya suka keenakan dilayani orang lain ini? Dari hal sederhana aja, hapuskan jenis pekerjaan ART. Secara sistematis dan konstitusional. Toh ART sendiri juga merupakan suatu bentuk feodalisme kan? Kalau bisa, nah itu baru namanya revolusioner.

Di argumen ini, dengan stereotip dangkalnya, si penulis sudah gagal memahami kompleksitas masyarakat yang dia sendiri pun adalah bagian di dalamnya.

Penulis mungkin lupa bahwa kita hidup dalam sebuah ekosistem yang sangat tidak sehat dimana rakyat dikondisikan untuk “manja”. Negara tidak pernah hadir untuk rakyat. Jangankan bicara kenyamanan, kebutuhan dasar aja tidak dipenuhi karena dalam negara yang ultra-kapitalistik ini, pemenuhan kebutuhan dasar tanpa mencekik kantong rakyat gak bawa untung buat negara dan mengancam keberlangsungan hidup negara. Bagaimana kita merasa aman menyandarkan diri (senderan doang lho, belum sampai gantungan) pada negara saat negara tidak dapat menjalankan fungsi idealnya sebagai orang tua. Ingat gak dulu saat kita sekolah kita dicekoki dengan jampi-jampi untuk mencintai Ibu Pertiwi? Yah mungkin buat orang-orang macam si penulis ini gak penting untuk memahami makna dan konsekuensi dari istilah Ibu Pertiwi, yang penting “I’m Proud To Be Indonesian” aja, cyin!

Selain kelakuan pengunjung yang dianggap jorok dan seenak udelnya itu, juga banyak reaksi atas tulisan ini yang kemudian menunjuk pengunjung-pengunjung yang ogah antri. Apa bedanya dengan kondisi berkendara (dan urusan antri-antri lainnya) di Indonesia? Sama aja. Tentu saja kelakuan main serobot, main selak, gak mau tau peraturan dsb dsb selalu bikin panas. Tapi apakah yang memaki-maki juga mau melihat bahwa kondisi tersebut adalah gambaran gunung es carut marutnya negara ini?

Peraturan basa-basi, hukum dari yang karet sampai yang mandul, penegak hukum yang gak ada gunanya. Apakah keteraturan bisa terwujud hanya dari usaha sepihak tanpa memaksa pihak lain untuk turut berpartisipasi? Jalanan, terutama jalanan Jakarta, acakadut dan terasa seperti neraka juga tercipta terutama karena sumbangan polisi dan hukum lalu lintas yang gak pernah adil dan mencla-mencle. Kusut!

Melihat jalanan di kota-kota besar di Indonesia, atau minimal Jakarta deh, bak melihat kondisi kelas sosial di Indonesia. Kelas-kelas sosial di Indonesia merupakan produk dari ratusan tahun ketidakadilan. Mereka yang ada di atas rata-rata mendapatkan posisinya dengan berada dekat dengan kekuasaan. Oportunis lah. Bukan hal aneh bukan lihat pengendara kendaraan mahal, manusia-manusia bertas mahal bergadget terkini main serobot, main selak?

Mereka yang ada di kelas yang dianggap kelas bawah pun juga awur-awuran. Tentu bukan atas dasar alasan yang sama dengan si kaya. Ketika hidup dalam kesempitan, yang bisa dilakukan ya “survival of the fittest aja”. Udah begitu aja masih aja sering dianggap tidak bersyukur. Ck ck ck. Buruh masukin klausul meminta jatah susu merk tertentu dan biaya nonton bioskop per bulan banyak yang ngetawain. Bahkan ada yang komentar “beberapa orang emang ada yang gak tau bersyukur yah”. Karena (ternyata) kesenangan itu hanya boleh dimiliki oleh orang-orang yang punya uang. Karena mimpi akan hal-hal yang lebih baik hanya inspiratif selama tidak mengganggu kenyamanan batas kelas sosial. #bahagiaitukatanyasederhana.

Yang kejepit di tengah ya ada aja yang jadi kayak si penulis ini. Walaupun sama-sama keder tapi ya udah, belagak holier-than-thou aja.

Jadi kalau di kehidupan sehari-hari yang berlaku hukum rimba, bagaimana mungkin si penulis mengharapkan keajaiban hanya dalam hitungan selangkah kaki saja?

Begitu juga dengan IKEA. Bagaimana mau mengharapkan orang-orang tertib dan disiplin kalau stafnya sendiri pun masih blang bentong menjalankan kedisplinan tersebut. Kami mengalami juga diselak pengunjung lain di customer station. Tapi staf tidak menghiraukan hal tersebut sampai kami ajukan keberatan dan berkelit dengan alasa tidak melihat keberadaan kami. Bagi penulis yang pastinya sudah pernah mengunjungi IKEA tentu menyadari bahwa customer station di area gudang itu lowongnya kayak apaan tau. How can you miss a person standing in front of you?

 

wpid-imag2216.jpg

 

Demi terciptanya sebuah lingkungan yang super ideal teratur nyaman seperti sedang menikmati kemakmuran negeri-negeri Skandinavia sana, staf juga bertanggungjawab mengatur antrian. Staf juga bertanggungjawab menjawab pertanyaan pelanggan sesuai urutan kedatangan, bukan berdasarkan panjang pendeknya pertanyaan atau lama atau sepintas lalu pertanyaan itu diajukan. Tanggung jawab itu sifatnya 2 arah. Kalau staf alpa melakukan ini, apakah ini artinya manajemen juga ternyata alpa ? Well, in that case they are as uncivilised as the people they or the writer accused to be.

Penulis menganggap seakan-akan IKEA adalah sebuah realitas yang terpisah dari realitas lainnya di luar sana. Sebuah utopia di mana setiap manusia pribumi yang menginjakkan kakinya di sana diharapkan merevolusi mental primitif mereka dan meng-upgrade-nya dengan trolley kuning-biru, meteran kertas, dan sopan santun ala Skandinavia.

Sejujurnya kami pun lupa bahwa di utopia bernama IKEA ini kami diharapkan mengembalikan peralatan makan kotor di tempat yang telah disediakan, kebiasaan yang jauh lebih inggil daripada kebiasaan di luar sana. Ini kemudian kembali memunculkan pertanyaan, apakah si penulis dengan naif berpikir bahwa semua orang yang melangkahkan kaki ke dalam IKEA Indonesia pasti sudah pernah ke IKEA di luar Indonesia sebelumnya dan pasti paham dengan keberadaban IKEA? Bukankah ini berarti si penulis sama ignorant-nya, jika tidak lebih buruk, dari orang-orang yang dia kritik tersebut?

Betapa arogannya. IKEA bukan sebuah agen perubahan sosial budaya. It’s just another mega company trying to gain more profit in another country. Kalau si penulis menganggapnya sebagai another Thomas Stanford Raffles yang menyunggi white man’s burden untuk menularkan modernitas kepada kacung-kacung pribumi, maka justru ialah yang jelas perlu segera merevolusi mental inlandernya!

IKEA hadir di Indonesia? Santai aja. Sekali lagi, IKEA kan bukan sebuah agen perubahan sosial budaya.

Eh, ngomong-ngomong penulis sudah baca belum gimana cara IKEA ngadalin negara (dalam kasus ini Australia) supaya bisa meminimalisir pembayaran pajak? Katanya sih… ini merk global yang bersih dan beretika.

 

 

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi-Nusantara#cite_note-Pribumi-1

 

 

  *artikel ini adalah hasil bahasan bersama Edo Wallad, Festi Noverini, Gratiagusti Chananya Rompas, Mikael Johani dan Ratri Ninditya

INDONESIA MENGKRITIK SENYAP*

the-look-of-silence

senyap adalah film yang ramai metafora: adi sang optometris sebagai tiresias the seer yang membuka mata free man-free man yang dikelabui propaganda orba selama ini, adi sang yogi tercerahkan yang piawai headstand (bandingkan dengan free man-free man berkupluk dan bertasbih yang buta sejarah), papa adi yang buta ngesot sia-sia mencari sajadah dan akhirnya teriak-teriak ketakutan digebuk wong karena merasa dirinya tersesat ke dalam “kelambu” (kelambu sejarah? :p) orang lain.

 

metafora-metafora yang dikerahkan bersama alur cerita dan editing melodramatis ala sinetron serta door-stop interview eksploitatif ala syurnalisme tabloid untuk menunjukkan bahwa kita, bangsa indonnesia, adalah bangsa yang buta sejarah dan harus dibuka paksa matanya.

 

meneruskan argumen jagal, senyap juga mereduksi tragedi kemanusiaan dan politik 65 jadi sekedar tragedi antar manusia baik dan manusia jahat saja. apa perlunya ngomong tentang konteks perang dingin, dekolonisasi, anti-nonblokisasi, jika lebih seru bercerita tentang kombo kekejaman dan ketololon monster-monster dunia ketiga yang dijamin mengundang tawa sekaligus air mata (dan semoga nominasi oscar)?

 

senyap tidak beranjak jauh dari dikotomi caliban-caliban subhuman (herman koto dan groupie-groupie anwar congo yang lain) vs caliban setelah direedukasi pengalaman membuat “film” arsan & aminah (anwar congo sendiri) dalam jagal. walaupun adi sang optometris keliling dan tokoh utama senyap kali ini adalah keluarga korban dan bukan tukang jagal seperti anwar congo, dalam semesta kedua film ini mereka berdua memainkan peran yang sama: budak dan talking head prospero cinéma vérité yang menyandang white man’s burden untuk mencerahkan seluruh rakyat indonesia tentang apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1965–si masbro joshua oppenheimer sendiri.

 

prospero punya set-up/con ala cinéma vérité yang menarik dan efektif dalam jagal (mengundang anwar congo untuk membuat film “arsan & aminah” yang kemudian difilmkan dalam “jagal” karya joshua oppenheimer)–sebuah psychoanalytic con yang berhasil membuka isi kepala anwar congo dan membuat kita hampir mengerti pergulatan id, ego, dan superego di balik topi koboinya. dalam senyap, tidak ada con canggih seperti ini. yang kita dapat hanya door-stop interview ala michael moore yang menghasilkan lebih banyak momen krik krik daripada kesenyapan yang penuh arti.

 

coba pikir, mungkinkah free man-free man yang matanya tertutup selama berpuluh tahun oleh propaganda orba tiba-tiba mengaku salah hanya karena sekali diinterogasi oleh seorang keluarga korbannya? seperti pungguk merindukan deus ex machina…

 

jadi bisa dimengerti jika ada yang pernah bilang jagal lebih mirip mockumentary daripada documentary.

 

beberapa scene dalam senyap jadi sangat problematis buat sebuah film dokumenter. scene truk-truk tua melaju dalam gelap di awal film yang diulang di beberapa momen lagi itu misalnya. apakah ada fungsi lain scene ini selain menyetir imajinasi penonton untuk membayangkan kira-kira bagaimana abang adi dulu di-“amankan” pakai truk dalam gelap untuk dibantai? tapi kan katanya senyap bukan sebuah fictionalized biopic? masak ada scene reka-ulang TKP ala buser?

 

kemudian jukstaposisi antara adi si optometris suka yoga dengan free man-free man berkupluk dan bertasbih suka do’a tadi (beberapa dari mereka ditunjukkan ingin menghindar dari interogasi adi dengan alasan sudah waktunya sholat). apakah modernitas selalu berbanding terbalik dengan nilai-nilai agama? apakah islam selalu identik dengan keprimitifan, sementara yoga dan optometri dengan aufklärung? apakah ada islamofobia terselubung dalam senyap?

 

kemudian lagi scene bapak adi ngesot tersesat mencari sajadah di tempat jemuran tadi. apakah ini metafora bahwa jawaban untuk persoalan pelik macam tragedi 1965 di indonesia tidak akan pernah bisa dicari dalam ibadah, dalam agama, tapi hanya tersedia dalam orakel-orakel modern macam film documenter karya joshua oppenheimer? islamofobia lagikah ini? atau blind faith kepada modernitas yang always already sekuler?

 

tanpa memberikan konteks sejarah dan politik yang kuat, maupun menjelaskan betapa totalnya propaganda orde baru mencuci otak orang indonesia, potret “indonesia” dalam senyap terlihat begitu simplistis, bagaikan heart of darkness yang hanya dihuni dua macam makhluk yang selalu berperang: monyet-monyet sadistis, beasts from the east seperti inong (salah satu penjagal yang, surprise surprise, ditunjukkan punya monyet peliharaan) dan/atau malaikat-malaikat tercerahkan yang selamanya hidup dalam ketakutan macam adi.

 

senyap seperti menafikan kemungkinan bahwa kedua kubu bisa juga dilihat sebagai pelanduk yang kehilangan free will mereka di tengah-tengah keriaan gajah-gajah imperialis kapitalis neolib berbagi-bagi kue dekolonisasi setelah perang dunia 2!

 

nanti tanggal 10 desember waktu “indonesia menonton senyap”, jangan terkejut jika bakal banyak cermin dibelah, karena penonton kecewa kok the look of silence ternyata begitu black and white!

 

*artikel ini adalah hasil bahasan bersama Mikael Johani, Anya Rompas, Edo Wallad, Ratri Ninditya, Festi Noverini, dan Doni Agustan.

2001: A Space Odyssey

– Ferry Andoni Agustan

 

https://i1.wp.com/www.kinomania.ru/images/posters/156973.jpg

 

Nolan’s Interstellar sudah premier di LA sana tgl 26 kemarin. Belasan review udah gue baca dari web/blog film Amerika selama dua hari ini. Sebuah review yang gue baca di Indiewire nulis “Dapat dipastikan film favoritnya Nolan adalah 2001: A Space Odyssey”

Interstellar tampaknya adalah this year’s Gravity. Tahun lalu Gravity disanding-sandingkan dengan film terbaiknya Kubrick ini. Padahal jauuuhh sih kalo kata gue. Untuk Interstellar gue tarok ekspektasi gue pada “Ini film pretensius” persis seperti yang gue lakuin untuk Inception dan memang setelah menonton, Inception super pretensius.

So sebelum Interstellar rilis Indo 6 November ntar, perlu tampaknya gue refresh otak melihat ulang apa yang dulu bikin gue terkagum-kagum sama sci-fi buatan tahun 1968 ini.

Mari menonton.

2001: A Space Odyssey produksi 1968. Tapi futuristik Production Designnya luar biasa dengan ide-ide cemerlang teknologi yang kemudian muncul saat ini, otentik, detail dan bahkan mengungguli set-set film sci-fi buatan era kita (baca 90s-2000an).

Teknologi era sekarang yang muncul di 2001: A Space Odyssey; video call, iPad, voice command.

Kubrick visioner sejati!!

Rasanya ingin jadi generasi late 60s, jadi bisa menikmati film ini di bioskop. Terutama 30 menit menjelang endingnya. Entahlah apa yang ingin disampaikan Kubrick melalui rentetan semburat display puluhan gelombang warna-warni indah menuju akhir filmnya. Begitu juga dengan nyaris 30 menit pada opening filmnya yang tanpa dialog, menampilkan adegan-adegan ala dokumenter dunia binatang.

Terlepas dari filosofi kehidupan yang terasa berat yang disematkan Kubrick dalam filmnya ini, bahwa 2001: A Space Odyssey adalah sebuah pencapaian sinematik terbaik yang pernah dibuat. Bahkan tahun film ini dirilis manusia belum menyentuhkan kakinya ke bulan.

Kenapa terbaik?

Pertama, tahun 1968, Kubrick mampu merefleksikan apa yang akan terjadi 33 tahun berikutnya dari sudut pandang teknologi. Bahkan tahun 2001 yang sebenarnya tidaklah semaju apa yang ditampilkan Kubrick dalam film ini.

Kedua, buat sinefil yang peduli pada history of film making, pencapaian luar biasa Kubrick dalam mengeksekusi ide-ide cemerlang tentang perkembangan teknologi, dan merefleksikannya pada karya film dengan segala keterbatasan dari teknologi itu sendiri, mengingat tahun 1968, hampir semua yang ditampilkan Kubrick dalam karyanya belumlah ada.

2001 juga mengisi ruang ceritanya dengan sisi psikologis manusia di dalamnya. Ini yang tidak dimiliki oleh Gravity, entah bagaimana dengan Interstellar (kita tunggu 6 November). Melihat 2001 seperti dibawa pada wahana rollercoaster + spaceship dimana kita bisa menikmati pemandangan indah luar angkasa plus disuguhkan filosofi-filosofi hidup yang butuh waktu lama untuk bisa kita pahami.

Jika Terrence Malick untuk The Tree of Life, butuh waktu ke dunia masa lampau dan mikroskopis untuk menjelaskan pemahamannya tentang kehidupan, maka Stanley Kubrick membawa kita ke angkasa. Ya menurut gue The Tree of Life sangat similar dengan 2001: A Space Odyssey. Sebuah pencapaian poetic pada history of film makings.

 

Mengapa Wiji Thukul Menolak Disebut Penyair Protes?

*oleh guest blogger Mumu Aloha
 
wiji thukul
 

Setahun lalu, ketika pulang ke Solo, saya menyempatkan diri jalan-jalan ke kios buku/majalah bekas di alun-alun. Ada pemandangan yang bagi saya menarik. Di antara buku-buku bekas yang dijual, terdapat setumpukan buku fotokopian. Umumnya adalah buku-buku lama Serat Wirid Hidayat Jati, Darmogandul dan Gatoloco dan sejumlah novel berbahasa Jawa. Tapi, ada juga buku sejarah seputar komunisme, seperti ‘ Aidit Menggugat Peristiwa Madiun’. Walaupun menarik, tapi semua itu tak cukup mengejutkan bagi saya. Yang mengejutkan adalah ketika saya menemukan puisi Wiji Tukul!

Saya sedikit terhenyak; fenomena apa ini? Dengan terheran-heran saya timang-timang dan buka-buka buku Wiji Tukul itu. Itu adalah kumpulan puisi pertamanya, Mencari Tanah Lapang, dengan pengantar dari sosiolog Arief Budiman. Mengapa buku ini sampai ada fotokopiannya?  Sejak kapan buku kumpulan puisi menjadi ‘primadona’ lapak buku bekas, sampai harus difotokopi segala? Apa hanya karena sang penyair yang hilang dalam huru-hara reformasi 98 itu orang Solo? Atau, apakah memang ada permintaan yang begitu tinggi?

Apapun kemungkinannya, fotokopian kumpulan puisi Wiji Thukul itu membuat saya berpikir, bahwa dalam dunia benda, dunia komoditas, puisi Wiji Thukul setara dengan kitab-kitab Jawa kuno dan buku-buku kiri yang kini tengah menjadi buruan para kolektor.

Membicarakan Wiji Thukul memang terlalu banyak dimensi. Godaan untuk menimbang aktivitas politiknya (dengan akhir yang dramatis: hilang) begitu sulit diabaikan sehingga menenggelamkan diskusi tentang estetika puisi-puisinya. Faktanya, hingga kini belum pernah ada kritikus sastra yang membahas puisi Wiji Thukul dengan serius. Salah satu penghalangnya adalah mitos yang telanjur jadi label (yang barangkali juga melekat pada Rendra) bahwa Thukul adalah penyair aktivis, sehingga puisi-puisinya (otomatis) dianggap sebagai puisi perlawanan, puisi protes, puisi pamlet.

Pelabelan semacam itu menjadi penyakit dalam kebudayaan kita, sebab sekali seorang seniman ditempeli dengan label tertentu (Rendra si Burung Merak, Rendra si penyair pamlet), maka hal itu mereduksi setiap upaya untuk memahami karya-karyanya.

Ketika Majalah Tempo menerbitkan edisi khusus Tragedi Mei 2008-2013 dengan cerita sampul Teka-teki Wiji Thukul, Goenawan Mohamad (GM) mendedikasikan halaman Catatan Pinggir-nya yang keramat dan konon selalu ditunggu-tunggu itu untuk membahas Wiji Thukul. Menurut GM, Wiji Thukul adalah sebuah catatan kaki. Dalam kitab besar sejarah Indonesia, politik dan sastra, ia bukan sebuah judul atau tokoh di tengah halaman. Ia ada di bawah lembar halaman, atau bahkan mungkin di akhir bab. Tidak ada penjelasan yang memadai tentang pernyataan itu. Namun, dari pernyataan itu bisa disimpulkan, bahwa puisi-puisi Wiji Thukul dianggap bukan “karya utama” dalam sastra Indonesia. Ia hanya pelengkap; dipandang sebelah mata.

Seandainya Wiji Thukul membaca esei itu, pasti ia tak akan peduli sedikit pun. Dalam menulis puisi, Wiji Thukul memang cenderung tak peduli apapun. Dalam segi bentuk, puisinya menabrak “aturan” tentang susunan bait, rima, metafora, pemilihan kosa kata dan sebagainya. Dalam segi “aliran”, ia tak peduli apakah puisinya “surealis atau naturalis”.

Ketika banyak pembaca puisi-puisinya menjuluki Wiji Thukul sebagai penyair kerakyatan, dengan polos ia justru “meluruskan” bahwa dirinya menulis puisi sama sekali bukan untuk membela rakyat. Ia menulis puisi karena percaya bahwa puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan orang kecil. Dan, orang kecil itu bukanlah siapa-siapa melainkan dirinya sendiri, atau dalam bahasa Wiji Thukul sendiri, “Orang tertindas semacam saya.” Dengan demikian, lewat puisi-puisi yang ditulisnya, Wiji Thukul bicara tentang dirinya sendiri; seorang buruh pelitur, yang beristri tukang jahit, bapaknya tukang becak, mertuanya pedagang barang rongsokan, dan lingkungannya orang-orang melarat. Mereka semua masuk dalam “dunia” puisi Wiji Thukul, sehingga dengan membela diri sendiri ternyata puisi-puisinya juga menyuarakan hak-hak orang lain.

Itulah sebabnya, Wiji Thukul menolak disebut penyair protes. Wiji Thukul adalah penyair yang menyadari proses. Bagi Wiji Thukul, menulis puisi persoalannya adalah selalu kembali ke persoalan diri sendiri. Tapi, yang disebut sebagai “persoalan diri sendiri” itu pada kenyataannya tidak pernah bisa lepas dari lingkungan. Maka, seiring dengan perkembangan biografi dan kesadaran jiwa Wiji Thukul, puisi-puisinya pun terus berkembang. Dari isu-isu kehidupan orang kampung ke masalah-masalah urban perkotaan, dari urusan ‘domestik’ keluarga ke persoalan-persoalan politik dan bangsa.

Namun, apapun yang hendak disampaikan Wiji Thukul lewat puisinya, pada dasarnya potret yang dihadirkan adalah kemiskinan, kekalahan dan ketertindasan, dan pada titik tertentu kadang muncul keputusasaan, yang disebabkan oleh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penguasa (dalam hal ini Orde Baru). Puisi ‘Apa yang Berharga dari Puisiku’ dengan gamblang menggambarkan seluruh sumber kegelisahan Wiji Thukul.

apa yang berharga dari puisiku
kalau adikku tak berangkat sekolah
karena belum membayar uang spp

apa yang berharga dari puisiku
kalau becak bapakku tiba-tiba
rusak jika nasi harus dibeli dengan uang
jika kami harus makan
dan jika yang dimakan tidak ada?

apa yang berharga dari puisiku
kalau bapak bertengkar dengan ibu
ibu menyalahkan bapak
padahal becak-becak terdesak oleh bis kota
kalau bis kota lebih murah siapa yang salah

apa yang berharga dari puisiku
kalau ibu dijeret utang
kalau tetangga dijiret uang?

apa yang berharga dari puisiku
kalau kami terdesak mendirikan rumah
di tanah pinggir-pinggir selokan
sementara harga tanah semakin mahal
kami tak mampu membeli
salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah

apa yang berharga dari puisiku
kalau orang sakit mati di rumah
karena rumah sakit yang mahal?

Puisi ini menjadi contoh yang terang tentang bagaimana sebuah perspektif atau bahkan mungkin ideologi, menjadi jiwa sebuah puisi. Untuk memperjelas perspektif dan ideologi dalam puisi-puisi Wiji Thukul, mari kita bandingkan puisi tadi dengan karya Subagio Sastrowardoyo berjudul ‘Sajak’:

Apakah arti sajak ini
kalau anak semalam batuk-batuk
bau vicks dan kayuputih
melekat di kelambu
kalau istri terus mengeluh
tentang kurang tidur, tentang
gajiku yang tekor buat
bayar dokter, bujang dan makan sehari
kalau terbayang pantalon
sudah sebulan sobek tak terjahit
apakah arti sajak ini
kalau saban malam aku lama terbangun
hidup ini makin mengikat dan mengurung

apakah arti sajak ini:
piaraan anggrek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke akhir hari?

‘Sajak’ karya Subagio Sastrowardoyo tersebut tampaknya memang merupakan sumber inspirasi Wiji Thukul ketika menulis ‘Apa yang Berharga dari Puisiku’. Namun, kita bisa lihat, bagaimana problem “kelas menengah” yang menjadi “keluhan” Subagio (gaji tekor untuk bayar dokter dan bujang, pantalon sobek, anggrek tricolor), di tangan Wiji Thukul berubah menjadi uang SPP adik yang tak terbayar, becak bapak yang rusak, ibu dan tetangga yang dijiret utang, dan problem-problem kemiskinan lainnya.

Dan, kalau kita sambung dengan menyimak puisi ‘Aku Menuntut Perubahan’, maka puisi tadi seolah menjadi puncak gambaran yang mewakili kekalahan dan keputusasaan orang-orang miskin, yang telah sampai pada kebosanan tanpa harapan.

Seratus lobang kakus
Lebih berarti bagiku
Ketimbang mulut besarmu
Tak penting
Siapa yang menang nanti
Sudah bosen kami
Dengan model urip kayak gini
Ngising bingung, hujan bocor
Kami tidak butuh mantra
Jampi-jampi
Atau janji
Atau sekarung beras
Dari gudang makanan kaum majikan
Tak bisa menghapus kemlaratan
Belas kasihan dan derma baju bekas
Tak bisa menolong kami
Kami tak percaya lagi pada itu
Partai politik
Omongan kerja mereka
Tak bisa bikin perut kenyang
Mengawang jauh dari kami
Punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal
Kami ingin tidur pulas
Utang lunas
Betul-betul merdeka
Tidak tertekan
Kami sudah bosan
Dengan model urip kayak gini
Tegasnya=
Aku menuntut perubahan

Begitulah, potret-potret kekalahan orang kecil terus membayangi puisi-puisi Wiji Thukul, bahkan ketika ia sedang bercerita tentang, mungkin semacam, liburan keluarga, seperti tampak pada puisi ‘Pasar Malam Sriwedari’. Beli karcis di loket/ pengemis tua muda anak-anak/ mengulurkan tangan/ masuk arena corong-corong berteriak/ udara terang benderang tapi sesak/ di stand perusahaan rokok besar/ perempuan montok menawarkan dagangannya/ di stand jamu tradisionil/ kere-kere di depan video berjongkok/ nonton silat mandarin.

Kembali ke soal perspektif dan ideologi tadi, maka kiranya akan semakin jelas membaca “dunia” dan “isi kepala” Wiji Thukul dengan membandingkan puisi tadi dengan puisi berobjek sama karya Rendra (dari kumpulan ‘Sajak-sajak Sepatu Tua’, 1972)

Pasa Malam Sriwedari Solo

Di tengah lampu aneka warna
balon mainan bundar-bundar
rok-rok pesta warna
dan wajah-wajah tanpa jiwa
kita jagal sendiri hati kita
setelah telinga jadi pekak
dan mulut terlalu banyak tertawa
dalam dusta yang murah
dan bujukan yang hampa

Mencubiti pantat wanita
tidak membuat kita tambah dewasa
dilindingi banyangan tenda-tenda
kita menutup malu kita
dengan kenakalan tanpa guna
tempat ini sangat bising dan bising sekali
gong, gendang, gitar dan biola
terkacau dalam sebuah luka
ayolah
anda sedang menertawakan dunia
ataukan dunia sedang menertawakan anda?

Pada Rendra, ‘Sriwedari’ menjadi ajang kontemplasi tentang gaya hidup “hedon” perkotaan, sedangkan pada Wiji Tukul, lagi-lagi yang muncul adalan bayangan kemiskinan dan orang-orang yang kalah (pengemis, SPG dan kere).

Saya akan membandingkan karya Wiji Thukul dengan satu puisi lagi, kali ini dari sesama penyair Solo yang menulis puisi-puisinya pada tahun-tahun yang sama dengan masa awal kepenyairan Wiji Thukul, yakni puisi Kriapur:

Solo

gerimis menyeret bulan
menghamburkan cahaya
dekat pohon-pohon bengawan
tengah malam dingin
gairah kehidupan tak undur
manusia seperti patung-patung
kantuk di kedalaman bunyi gamelan

Solo yang mistis dan eksotis tidak muncul dalam puisi-puisi Wiji Thukul. Pada Thukul, Solo adalah “pedagang kaki lima berderet-deret” (Monumen Bambu Runcing), atau “kampung…riuh dan berjubel/ seperti kutu kere kumal” di belakang “toko-toko baru dan macam-macam bangunan” (Gumam Sehari-hari), “kampung orang-orang kecil” (Sajak kepada Bung Dadi). Dan, dengan lantang Wiji Thukul bertanya, atau lebih tepatnya menggugat:

kota macam apa yang kita bangun/siapa yang merencanakan (Sajak Kota).

Itu baru satu dimensi dari puisi-puisi Wiji Thukul yang kaya. Kembali ke pertanyaan awal, mengapa Wiji Thukul menolak disebut penyair protes, karena memang ia berangkat dari keyakinan bahwa puisi itu alat perlawanan.

Dengan ekstrem, Wiji Thukul bahkan menyebut puisinya “bukan puisi”: tapi kata-kata gelap/ yang berkeringat dan berdesakan/ mencari jalan/ ia tak mati-mati/meski bola mataku diganti/ meski bercerai dengan rumah

Ada keyakinan, ada kekuatan dalam puisi-puisi Wiji Thukul. Keputusasaan yang muncul di karya-karya awal kepenyairannya –“sudah bosen kami dengan model urip kayak begini” (Aku Menuntut Perubahan)– menemukan titik baliknya pada puisi berjudul ‘Puisi untuk Adik’:

apakah nasib kita terus akan seperti/ sepeda rongsokan karatan itu?/ o, tidak, dik!/ kita akan terus melawan.

Seperti Subagio Sastrowardoyo yang percaya bahwa “sajak ini melupakan aku pada pisau dan tali/ sajak ini melupakan kepada bunuh diri“, dengan nada yang mungkin tak terlalu heroik, Wiji Thukul akhirnya kembali pada keyakinan yang sama. Jika tadi di awal sudah disebutkan bahwa Wiji Thukul berpuisi dengan kesadaran pada proses, maka di ‘Puisi untuk Adik’ dia menegaskan kesadaran itu:

kita harus membaca lagi/ agar bisa menuliskan isi kepala/ dan memahami dunia.

Dengan puisi, Wiji Thukul menghancurkan kebisuannya sendiri “sehingga…engkau mendengarkan“.