war of heroes

x-men-apocalypse-trailer-egypt

film superhero bikin kita makin impoten. dunia ini semrawut penuh teror dan dalam keputusasaannya membutuhkan figur penyelamat sehingga kita berbondong-bondong ke bioskop menyaksikan sebuah dunia paralel yang sama hancurnya diselamatkan aneka ria pahlawan super selama dua setengah jam. pahlawan supernya makin lama makin banyak, makin seksi, makin keker, musuh makin kuat tak terkalahkan (bahkan kalo bisa temen sendiri), ego makin gede, dialog-dialog makin preachy, teatrikal, nggak manusiawi, dan alur cerita, yah, pas-pasin aja yang penting sound dan special effects spektakuler 9 speker depan-belakang-samping-atas-bawah.

saya nggak menyalahkan napsu bawah sadar kita untuk saling membunuh dan menghancurkan yang harus segera dilampiaskan dengan menonton film exxxsyen supaya kita tetap jadi orang yang normal di tengah masyarakat. saya juga nggak menyalahkan studio komik/film raksasa yang kejar setoran memastikan sekuel hari ini lebih laku dari yang tahun lalu dan yang tahun depan lebih heits dari yang hari ini. saya cuman.. capek aja cyin.

sepertinya film kayak gini makin bikin kita kebas. mata kita terlalu dimanja sama visual jadi nggak menyisakan ruang di otak untuk berimajinasi, atau minimal, berpikir. mau secanggih apa efeknya, akan selalu ada yang lebih canggih taun depan. background music kini udah jadi foreground music. bentar lagi kita udah lupa kalo film itu isinya bukan gambar sama suara doang tapi cerita juga.

dari 3 film superhero borongan terakhir (batman vs. superman, captain america civil war, dan x-men apocalypse), cuma ada satu hal yang menarik, yakni di film x-men apocalypse, saat Mystique bantah Xavier di mansionnya itu. Xavier bilang dengan bangga dan naifnya, bahwa mutan bisa hidup damai aman tentram bahkan tidak menutup kemungkinan di masa depan bisa berdampingan dengan manusia. Mystique mentahin dengan bilang (kira-kira), plis deh Xavier, kalo di belahan dunia lain, mutan masih jadi budak tanpa punya mansion untuk berlindung, boro-boro rumah. Di situ, Xavier jadi embodiment warga kulit putih priviledged mayoritas negara dunia pertama yang penuh dengan ilusi grandeurnya untuk mengubah dunia, tapi nggak pernah tau situasi sebetulnya di dunia nyata, karena nganggep di mana aja itu sama kayak yang dia tinggalin. Aneh, sebetulnya, mengingat Xavier ini serba tau seluk beluk terdalam palung hati semua manusia di muka bumi. Ternyata priviledge bisa membutakan orang semelek dia. Dan adegan ini yang bikin Xavier jadi yang paling manusiawi di antara semua superheroes/mutan itu.

di tengah semua keriwehan ini, saya cuman bisa ngarep film-film superhero berikutnya bisa lebih deadpool.

 

*gambar diambil dari sini

Beban Captain America

capt

oleh: Edo Wallad

“Captain America’s been torn apart. Now he’s a court jester with a broken heart”

Beban Sekuel 

Menurut saya, sulit untuk menyamai okenya Captain America pertama dari segi cerita. Tapi premis betapa depresinya jadi seorang pahlawan yang sekadar simbol itu hacep banget. Dan itu jadi sesuai konteks jaman karena Captain America hidup di jaman Perang Dunia. Tapi bagaimana kalau dia harus bangun di jaman modern ketika internet dan teknologi sudah merajalela? Apalagi Perang Dunia dan Perang Dingin sudah gak jaman. Oke kita skip tragedi New York yang ada di film The Avengers ketika sang Kapten harus join-join kopi dengan para superhero lain yang egonya segede tugu liberti semua. Kita langsung ke film Captain America: Winter Soldier.

Satu hal yang konsisten dijalani Steve Rogers di film ini adalah naif. Mungkin dia lebih naif dari David Naif karena menyangka dunia ini cuma ada hitam dan putih dan dia akan selalu berada di sisi putih. Akhirnya karena membabi buta membela yang benar dia jadi sering buta melihat dunia yang penuh kepalsuan.

Beban Politik 

Sayang kalau kegagapan Captain America aka Steve Rogers ke era modern tidak diekspos lebih banyak, alasannya kalau menurut saya sih, karena beban politiknya sudah hilang. Captain America seperti superhero lainnya di komik adalah alat propaganda Amerika untuk menghadapai lawan politik mereka. Nah karena film ini terlanjur dibuat dia bangun ketika perang dunia berakhir, jadi susah deh untuk setia pada plot kalau Winter Soldier adalah super villain patriot komunis. Ya memang beban politik Captain America sangat berat, karena untuk sidekick aja dia harus punya Falcon. Seorang superhero bersayap yang ngambil nama dari lambang coat of arms America, berkulit hitam, biar dibilang mewakili Africa American seperti halnya War Machine di Iron Man 2. Sekalian aja Natasha Romanoff ganti nama jadi Lady Liberty ketimbang Black Widow.

Beban Judul 

Planting tokoh Bucky yang di kemudian hari jadi Winter Soldier di First Avenger cukup subtle, sayangnya, porsinya kurang besar untuk karakternya dijadikan judul film. Film ini lebih seperti film action tentang dunia ahensi, bukan ahensi iklan tapi ahensi intelejen. Jadi kadang-kadang menurut saya kenapa ini gak dijadiin Agent of Shield OVA aja ya, karena porsi SHIELD yang sangat besar.