Kegagalan generasi menurut Noah Baumbach

Oleh: Ratri Ninditya

Saya menonton While We’re Young dan merasa sangat bersimpati pada kegatalan Noah Baumbach untuk mengkritik generasi Millenials yang acakadut: memuja gaya hidup organik (bukan cuma sayur, tapi semua yang analog dan DIY), nggak takut nikah muda menghambat karir, tapi di sisi lain haus popularitas dan merasa semua bisa dicapai dengan instan. Walaupun ini adalah cerita orang-orang kulit putih dan sangat priveleged di New York, tapi aspirasi dan kegelisahannya kejadian juga sama orang-orang yang sering saya dengar dan temui di Jakarta, yang biasa diberi judul kelas menengah ngehek. Ketakutan Ben Stiller (sebagai Josh) saat melihat Adam Driver (sebagai Jamie) dengan mudah mencuri panggungnya sebagai seorang pembuat film “dokumenter” dengan idenya yang pop, straighforward, dan gampang dicerna, adalah ketakutan kita sama anak-anak baru lulus kuliah luar negeri yang cerdas dan bergelimang piala. Ada sesuatu yang begitu nyata dan menyakitkan dalam ambisi bang Adam untuk mendapatkan titel seniman sukses yang terhormat. Sangat menyedihkan melihat om Ben memandang Adam dan berpikir ia akhirnya jadi panutan juga, jadi orang dewasa terpandang juga, dan di bagian akhir film ketauan ternyata tujuan dedek Adam nggak lebih karena duit istrinya (Naomi Watts, sebagai Cornelia) aja. Yang menarik juga adalah bagaimana pasangan hipster muda ini tau bagaimana harus menampilkan diri di hadapan pasangan uzur dari generasi X (no google, i dont have facebook, we built the table ourselves, he’s always on the move). Seolah mereka tahu apa harapan generasi tuwir waktu mudanya dulu yang nggak pernah kesampaian. Seolah, seperti yang sudah banyak dibahas di artikel-artikel hipsterdom, menjadi hipster adalah tau mana yang keren dan menyelimuti diri dengan aneka atribut kekerenan itu. Menjadi hipster adalah soal menjaga citra dan siapa lo sebenarnya jadi nggak terlalu penting. Dan sebagai sebuah generasi yang muncul dengan menolak nilai dan moralitas generasi sebelumnya, mas Noah merasa generasi hipster-millenials gagal mencapai itu karena semua hanya aksesori tambal sulam. Kita gak jadi masyarakat madani (uhuk) yang lebih baik, kita malah jadi makin buruk.

Tapiiii… masnya kan dateng dari generasi tua. Di sepertiga terakhir film argumennya kerasa seperti keluhan khas orang uzur saat ia menyimpulkan, “Ah dia kan nggak jahat, cuman muda aja.” Lah dia kata anak muda semua oportunis? Wacananya soal parenthood juga ajaib. Menunjukkan orang tua baru yang narsis terasa agak basi dan lebay, karena lo nggak akan punya temen yang nyuruh lo tetep punya anak walaupun tahu lo udah berkali-kali coba dan keguguran, abis itu masih ditemenin pula. Lalu kenapa semua masalah selesai saat pasangan ini memutuskan untuk adopsi anak? Apa kita balik lagi ke anggapan klise kalau kehadiran seorang anak jadi obat krisis rumah tangga? Atau apakah, adegan itu justru sebuah ledekan Baumbach terhadap generasinya sendiri, bahwa pada akhirnya mereka akan kembali ke konformitas: berkeluarga sakinah mawadah warohmah, beranak, dan nikmatin privelege kelasnya sendiri? Buat saya, om Baumbach lebih nyaman mengamini aspirasi populis itu.

 

*Gambar diambil dari sini