Solomon’s Perjury – Coming of Age yang Kolektif

“It takes a village to raise a child”

Saking beratnya tugas ini, sampai-sampai (katanya) sebuah suku bangsa di benua Afrika sana merasa perlu orang sekampung untuk sama-sama memikul tanggung jawab menjaga proses pertumbuhan calon manusia dewasa. Bisa jadi Miyuko Miyabe juga terinspirasi pepatah ini, sampai kemudian melahirkan trilogi “Solomon no Gisho” yang terasa hampir seperti sebuah terjemahan harfiah pepatah tersebut. Setelah Solomon’s Perjury 1: Suspicion dan Solomon’s Perjury 2: Judgment, film 2 bagian produksi Jepang yang dirilis tahun 2015, di tahun 2016 Korea juga ikut mengadaptasi novel ini ke dalam drama seri televisi.

Cerita Solomon’s Perjury diawali dengan penemuan jasad Lee Seo Woo (Seo Young Joo) yang tertutup salju di halaman SMA Jeong Guk. Tanpa kehadiran petunjuk-petunjuk lain, pihak sekolah dan kepolisian memutuskan penyebab kematian Seo Woo adalah bunuh diri dengan melompat dari atap gedung sekolah. Namun, Go Seo Yeon (Kim Hyun Soo) menerima surat rahasia dari seseorang yang mengaku sebagai saksi pembunuhan Lee Seo Woo. Tidak puas dengan keputusan sepihak orang-orang dewasa yang dianggap menghiraukan kemungkinan lain yang mereka ajukan, atas inisiatif Go Seo Yeon, beberapa orang murid mengajukan usulan untuk melakukan investigasi dan mock trial mereka sendiri. Bukan untuk menghukum pelakunya kalau tertangkap, tetapi lebih untuk mengungkapkan penyebab sebenarnya di balik kematian Seo Woo.

Singkat dan efektif, Solomon’s Perjury hanya perlu 12 episode untuk mengupas tuntas semua aspek yang mungkin berkontribusi pada kematian Seo Woo, mulai dari sistem pendidikan yang korup (harfiah dan kiasan), school bullying (oleh siswa dan juga guru), hingga kesehatan mental. Miyuki Miyabe sepertinya selalu tertarik dengan hubungan antara perubahan kondisi sosioekonomi dan sosiopolitik masyarakat dan pengaruhnya terhadap pembentukan diri anggota-anggotanya. Misalnya, dalam novel “All She Was Worth” alias Kasha (火車) yang ditulisnya tahun 1992, Miyabe menggambarkan efek korosif konsumerisme di masyarakat Jepang.

Penulis naskah Kim Ho Soo cukup cermat menerjemahkan novel ini menjadi sebuah serial drama yang bersahaja tanpa intonasi bombastis dan narasi bertele-tele demi memenuhi detil triloginya maupun tuntutan rating. Dengan melakukan sedikit penyesuaian pada detil cerita, Solomon’s Perjury versi drama terasa lebih solid dan utuh, bahkan juga lebih tenang dan teratur dibandingkan versi filmnya yang frantic dan lompat-lompat. Salah satu contoh penyesuaiannya adalah jika dalam versi film Joto No. 3 merupakan sebuah SMP, di versi drama Jeong Guk adalah sebuah SMA. Dengan usia dan kematangan psikologis yang lebih dewasa, penggunaan medium mock trial pada versi drama terasa lebih masuk akal dibandingkan dengan versi filmnya.

Dalam budaya populer, bicara mengenai dunia remaja seringkali artinya bicara mengenai proses pencarian jati diri atau coming of age. Namun, coming of age versi Solomon’s Perjury jauh dari stereotip film-film dunia pertama yang seringkali bicara self melulu, seakan-akan self sungguh jumawa bisa berdiri lepas dari society. Ide proses menuju dewasa dalam Solomon’s Perjury tidak sesempit pencerahan pribadi, namun juga merupakan pencerahan kolektif yang dicapai melalui proses bersama semua anggota masyarakat. Di ujung proses ini, remaja sampai pada sebuah kesadaran bahwa mereka punya suara yang sama penting dan sama-sama merasakan kecemasan akan hal-hal yang terjadi di luar diri mereka seperti yang dialami orang-orang lebih tua dari mereka. Seperti kecemasan Seo Woo menyaksikan korosi moral yang terjadi di depan matanya. Sebuah proses menuju kedewasaan dimana para remaja ini melibatkan diri langsung dalam proses demokrasi atas dasar keadilan sosial.

Kritik Seo Woo yang terus menerus atas lingkungan sekolahnya yang carut marut tidak dimaknai sebagai negativitas (hadeuh cukup sudah positivity cult ini), namun sebagai kekecewaan dan kemarahan yang di dalamnya tetap tersimpan sedikit harapan akan dunia yang lebih baik. Paradoks sederhana yang nampaknya sulit dipahami oleh kaum kebelet bahagia yang kemudian dipuk-puk Hollywood.

vlcsnap-01417vlcsnap-01418vlcsnap-01419vlcsnap-01420vlcsnap-01421

Dalam konteks tatanan masyarakat yang hierarkis, Solomon’s Perjury adalah utopia, dimana anggota masyarakat yang lebih lemah didengarkan suaranya dan berdiri sejajar anggota yang lebih kuat. Lee Seo Woo mengguncang tatanan kaku ini dan kekuasaan tidak menyukainya. Dalam kesaksiannya, Han Kyung Mun (Jo Jae Hyun), Ketua Yayasan Jeong Guk Foundation mengatakan, “Sekolah juga merupakan masyarakat dan masyarakat hanya menyediakan tempat bagi mereka yang berusaha untuk berasimilasi. Namun masyarakat tidak memiliki tanggung jawab untuk merangkul mereka yang menyerah berusaha. Itulah Lee Seo Woo. Dia bahkan tidak berusaha untuk beradaptasi dengan masyarakat.”

Kekuasaan memang tidak mau Seo Woo beradaptasi, mereka hanya mau Seo Woo mematuhi. Sebuah potret buram kemapanan yang menua dan telah malas menerima perubahan, apalagi berjuang.

Solomon's Perjury 8

Lee Seo Woo (Seo Young Joo)

 

Solomon’s Perjury (솔로몬의 위증) tayang di JTBC (16 Desember 16, 2016 – 28 Januari, 2017). Ulasan aslinya ada di sini.

Menguliti Pretensi Basi Kaum Borjuasi: Heard It Through The Grapevine (풍문으로 들었소) (2015)

Sebenarnya Go Ah Sung adalah alasan utama saya mengikuti Heard It Through The Grapevine (HITTG) alias Poongmooneuro Deoreotso. Hanya karena saya begitu terkesan dengan filmnya sebelum drama ini, Elegant Lies (Wooahan Geojitmal). Namun ternyata kemudian semua elemen HITTG mengajak saya menikmati roller-coaster emosi sepanjang 30 episode.

“Semakin urban/modern/borjuis (saya lupa pastinya apa) suatu kaum, justru semakin puritan mereka.” Saya lupa pernah dengar pendapat ini di mana, mungkin dari Dave Lumenta saat peluncuran perdana Jurnal Selatan. Mungkin juga gak tepat seperti itu, tapi kira-kiranya begitulah.

HITTG menunjukkan kepuritanan kaum borjuis dengan cara yang paling mereka sukai, elegan. Sepanjang 30 episode, penulis Jung Sung Joo dan sutradara Ahn Pan Seok pol-polan muntah kritik dan orgasme pemikiran mengolok-olok kaum borjuis dan #negaragagal Korea Selatan.

vlcsnap-00070

Sesuai dengan judulnya, HITTG yang juga dikenal dengan judul “I Heard It As A Rumour” dengan cerdas mengadaptasi hobi “bisik-bisik tetangga” ini sebagai benang merah bercerita untuk mengupas #bebanborjuasi si kelas 1% masyarakat. Di Indonesia sendiri beberapa tahun lalu sempet heboh di media sosial tentang mailing list yang berisi gosip-gosip sosialita Jakarta.

HITTG menghadirkan drama komedi gelap dan satir yang menguliti pretensi-pretensi basi borjuasi dan perjuangan kelas yang tak pernah henti. Kisah percintaan abege Han In Sang (Lee Joon) dan Seo Bom (Go Ah Sung) yang tadinya saya pikir akan menjadi fokus HITTG sekaligus memainkan peranan drama romantis tradisional di drama ini, ternyata “hanya” digunakan sebagai epilog dari pertunjukan sesungguhnya, yaitu pertarungan pemikiran dan kegelisahan manusia-manusia dalam sebaran tatanan kelas sosial masyarakat yang berjenjang. Mungkin ini juga sebabnya HITTG nyaris diberi judul War Of Brilliant Minds”.

vlcsnap-00018

Manusia-manusia dalam kepala Jung Sung Joo sepertinya adalah manusia-manusia yang selalu berpikir dan dalam kegelisahannya mempertanyakan ketidakadilan yang dihasilkan oleh tatanan masyarakat yang kacau balau dan negara yang gagal hadir bagi warganya serta menolak pasif dengan menerima kondisi sosial sebagai sesuatu yang sudah sebagaimana mestinya.

Dengan kalimat-kalimat sederhana, Jung Sung Joo menembakkan berbagai kritik tajam yang seringkali disempilkan sekilas lalu dalam sebuah percakapan, padahal sentilan-sentilan seiprit tersebut mewakili kekhawatiran yang jauh lebih besar. Jung Sung Joo menghadirkan berbagai problematika sosial politik akibat dari ketidaksetaraaan masyarakat Korea Selatan dengan kecermatan detil yang, well as much as I hate to use this term, tapi, luar biasa.

Isu kesetaraan gender dimunculkan bukan melalui retorika, jargon dan gugatan, namun digambarkan dengan suatu kondisi yang memang sudah seharusnya seperti itu. Sebuah kondisi yang (sepertinya) sangat jauh dari kenyataan. Korea Selatan, seperti juga halnya dengan Jepang, memiliki budaya patriarki yang begitu kuat, bahkan cenderung misoginis. Kesetaraan gender sepertinya masih merupakan mimpi yang belum akan terwujud dalam jangka waktu dekat.

Dua drama Jung Sung Joo yang pernah saya tonton, HITTG dan “Secret Love Affair” nyaris tidak pernah, atau bahkan tidak sama sekali, menghadirkan dialog dan situasi yang seksis, yang kalaupun ada lebih pada menampilkan kenyataan daripada melestarikan diskriminasi itu sendiri.

HITTG juga menyindir ketakutan masyarakat Korea Selatan, terutama kaum borjuisnya yang dalam drama ini diwakili oleh sosok Han Jeong Ho, akan ide-ide sosialisme seperti yang dicetuskan Seo Bom melalui kritiknya terhadap ide dasar ekonomi pasar dan kapitalisme. Korea Selatan, seperti halnya Indonesia, merupakan negara boneka Amerika Serikat untuk mencapai ambisinya menjadi imperialis baru. Segala hal yang “berbau” kesetaraan dan “kiri” sukses dipropangandakan Amerika Serikat sebagai komunisme, yang artinya adalah kejahatan yang harus diperangi. Selama puluhan tahun, rakyat Indonesia juga ditanamkan propaganda ini oleh monster bernama Soeharto dan Orde Baru. Jika banyak negara boneka mulai menyadari keganasan Amerika Serikat, Korea Selatan sepertinya masih merupakan salah satu pendukung terbesarnya secara politik, ekonomi, bahkan budaya populer.

Carut marutnya sistem pendidikan pun tak lepas dari sorotan HITTG. Merupakan pengetahuan umum kalau dunia pendidikan Korea Selatan terobsesi dengan segala yang berbau “ter”. Tingkat dan peringkat pendidikan merupakan tiket untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi dan kesuksesan material. Seo Bom memiliki mimpi akan datang suatu masa dimana semua orang bisa mendapatkan pendidikan yang setara dan setinggi mereka mau tanpa harus menjadi anak cucu chaebol (konglomerat) yang bisa membayar biaya pendidikan privat maupun swasta serta menggaji tinggi guru-guru pribadi.

Di mata kaum borjuasi yang keribetan dengan pretensi-pretensi basinya, kita juga tidak perlu mengagung-agungkan pendidikan luar negeri. Kalau pun sekolah di luar negeri, kita ambil yang baik-baiknya saja dan tetap memegang nilai-nilai luhur warisan bangsa. Berbanggalah dengan apa yang kita miliki. Preeet! Terdengar akrab sekali gak sih di kuping? Kaum borjuasi Indonesia juga nampaknya keribetan dengan dilema dualisme inlanderisme dan chauvinisme kepriyayian mereka ini, hahak! (Saya lupa ini ada di episode berapa. I’ll be back with the screenshot when I find it)

Alih-alih menampilkan keluarga chaebol, Jung Sung Soo menampilkan keluarga kaya pemilik firma hukum yang memegang teguh “Bibit, Bebet, Bobot”. Dengan strategi ini, HITTG sekaligus menyasar hukum yang mandul dan keadilan yang sayangnya berpihak pada uang dan koneksi. Di permukaan semuanya terlihat manis, adil dan menjunjung tinggi HAM, padahal di dalamnya disesaki praktek licin, kotor dan menjijikkan.

Komedi gelap sepertinya merupakan pendekatan paling pas untuk menyampaikan materi dan naskah Jung Sung Joo yang sarat kritik. Dengan banyaknya pesan yang ingin disampaikan, Ahn Pan Seok ketat menjaga alur dan emosi sehingga nyaris tidak ada adegan yang sia-sia. Ditambah dengan editing yang jeli, 30 episode HITTG terasa bagaikan menonton “Homeland” versi drama. Tegang bok!

Tegang, menggelikan dan menyentuh. HITTG juga menghadirkan kehangatan hubungan antar manusia yang tulus dan seringkali terdapat dalam hal-hal kecil yang sederhana atau bahkan dalam keputusasaan. Walaupun seringkali didera kebimbangan, manusia-manusia di dalam HITTG mungkin merupakan simbolisme harapan akan manusia dengan hati nurani yang sehat. Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya bersih dan melepaskan diri dari lingkaran setan sistem yang busuk, tapi penting untuk selalu menyadari apa yang salah dari masyarakat dan sistem tersebut.

vlcsnap-00071 vlcsnap-00073

Secara sinematografis, HITTG lebih banyak menggunakan gambar dengan variasi teknik medium shots, dibandingkan dengan kebanyakan drama Korea yang gemar menggunakan close up shots. Mungkin, ini hanya sekedar analisa dangkal sih, HITTG ingin mengajak penontonnya untuk melihat gambaran dunia yang lebih luas, dimana keberadaan kita selalu terkait dengan sistem yang lebih besar. Kebalikan dari umumnya penggunaan close up shots di dalam dunia drama yang jika sekarang disandingkan dengan HITTG terasa lebih “egois” atau self-centered. Mungkin lho…

Seimbang dengan naskah; set, kostum bahkan musik pun dihadirkan dengan kecermatan detil yang nyaris sempurna. HITTG menghindari menggunakan lagu pop (OST adalah bagian penting dari drama Korea) sebagai latar belakang adegan, tapi menggunakan musik yang memang digubah khusus untuk drama ini. Mungkin ini trademark-nya Ahn Pan Seok ya, di “Secret Love Affair” dia juga tidak menggunakan lagu-lagu populer, tapi mungkin juga karena “Secret Love Affair” berlatar belakang dunia musik klasik.

Dan yang paling utama tentunya kecermatan detil ini sangat terlihat dalam penulisan karakter-karakternya. Dengan Han Jeong Ho (bapak Han In Sang) di satu kutub dan Kim Jin Ae (ibu Seo Bom) di kutub lainnya, Jung Sung Joo menampilkan karakter-karakter utuh lainnya dalam spektrum tersebut. Han Jeong Ho (yang diperankan super ciamik oleh Yu Jun Sang) adalah perwujudan “Monster Menyedihkan” (pendapat Seo Bom tentang ayah mertuanya) sedangkan Kim Jin Ae (Yoon Bok In) adalah perwujudan harapan akan manusia ideal yang “baik dan sehat”. Sedangkan semua karakter lainnya terombang-ambing di dalam spektrum kebimbangan tersebut.

vlcsnap-00065 vlcsnap-00049

Menggunakan istilah yang sangat borjuis, HITTG terasa seperti sebuah Mahakarya. Mungkin juga merupakan salah satu pencapaian terbaik sinema Korea Selatan, melampaui batasan formatnya. Bagi saya, tidak lagi menjadi penting apakah karya ini dihadirkan melalui layar kaca atau layar lebar.

Di luar Han Jeong Ho dan kaum borjuis lainnya, semua manusia ini berjuang untuk menemukan diri mereka kembali. Han In Sang (Lee Joon, noona padamu!) bagaikan mimpi revolusi munculnya pemberontak dari dalam lingkaran kaum borjuis itu sendiri yang menusuk tepat di jantungnya.

HITTG mungkin tidak akan sekonyong-konyong menimbulkan kesadaran kolektif akan rusaknya sistem sosial masyarakat, namun mengutip ucapan Yoon Je Hoon (Kim Kwon), “Aku cuma berharap dapat membuat lubang kecil.”

Yang lemah mungkin akan menyerah karena lelah dan kekuasaan bisa saja selamanya bercokol di atas. Namun HITTG sepertinya ingin memberikan harapan akan semangat perjuangan yang tak pernah henti, sekecil apapun itu.

vlcsnap-00074vlcsnap-00075

 

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di sini.

Push Your Limit. See The Bigger Picture

oleh: Festi Noverini

 

Sedih dan patah hati. Itu yang saya rasakan belakangan ini. Dari mengikuti kasus pemerkosaan, pemisahan gerbong perempuan di kereta api sampai kemarin yang paling baru, meninggalnya pekerja iklan karena lembur 3 hari. Tweet terakhirnya berisi, “30 hours of working and still going strooong.”

Kasusnya mungkin beda-beda, tapi ada benang merah yang saya tarik dari komentar, pendapat serta reaksi orang-orang di media sosial dari tiga kasus tersebut, yaitu korbanlah yang harusnya berhati-hati, bukan sistem dan hukumnya yang dibenahi. Di kasus perkosaan banyak yang berkomentar, “Kenapa mau disuruh datang ke kos? Kenapa baru setelah hamil 7 bulan melapor ke polisi? Kenapa bisa terjadi berkali-kali?” Logika macam apa itu?

Di pemisahan gerbong perempuan banyak yang berpendapat itu sebagai sebuah tindakan perlindungan. Perlindungan terhadap apa? Terhadap nilai-nilai patriarki? Kalau perlindungan terhadap kejahatan seksual maupun kejahatan lainnya, bukan semestinya pelakunya yang dihukum? Kenapa justru melanggengkan diskriminasi dan melebarkan jurang kecurigaan atas nama perlindungan?

Mengubah pola pikir emang gak bisa ditempuh dalam jangka waktu pendek. Butuh waktu yang panjang, amat panjang bahkan, yang belum tentu dapat kita lihat atau rasakan hasilnya saat kita masih hidup. Tapi selalu terjebak dalam kebijakan-kebijakan darurat ya juga bukan solusi dan makin memperparah masa depan karena kita justru mencederai pemikiran, logika dan hati nurani.

Masing-masing kasus memang gak mungkin dibahas secara sempit dan disamaratakan. Perlu penelaahan, penjabaran, pemahaman bahkan penelitian yang lebih luas dan dalam lagi. Itu juga salah satu alasan tulisan saya ini.

Kejadian yang paling baru adalah meninggalnya seorang pekerja iklan karena lembur 3 hari ditambah mengkonsumsi terlalu banyak minuman penambah energi. Gak lama sesudah berita tersebut keluar lalu bermunculanlah di berbagai media sosial postingan menanggapi hal ini. Sebagian besar yang saya baca intinya bilang, “Perusahaan tuh memang serakah. Mereka cuma mau memeras pekerjanya. Makanya kita sebagai orkerja harus “Know Our Limit””. Duh kok kayaknya sederhana amat ya solusinya?

Apa iya semua orang di awal masa bekerjanya udah tau bahwa korporat-korporat besar itu jahatnya amit-amit? Saya rasa hampir semua orang juga belum tentu tahu hal tersebut saat mereka baru mulai masuk dunia pekerjaan. Yang mereka tau mungkin hanya abis sekolah/kuliah lalu kerja, entah untuk alasan eksistensi diri, cari makan atau bahkan hanya sekedar mengikuti standar tahap kehidupan manusia.

Yang bisa bilang “Know Your Limit” saya asumsikan sudah pernah melalui kegilaan tersebut atau cukup nyaman dengan hidupnya saat ini makanya bisa bilang cabut aja kalau rasanya udah gak nyaman. Tapi apakah semua orang punya privilege kenyamanan itu? Kalau nggak suka, cabut aja. Sama seperti saya sering banget dikomentarin, dari pada “marah-marah” melulu, mending pindah aja dari Indonesia. Ampun deh, kelas menengah Indonesia.

Belum lagi di dalam masyarakat selalu ada banyak hubungan kekuasaan, dari yang sehat sampai yang super sakit, seperti kasus perkosaan yang saya singgung sebelumnya. Ini disadari gak sih? Apakah solusinya hanya sesederhana “mawas diri”?

Apa iya ketika sudah tidak nyaman dengan sistem kerja perusahan, hanya dengan mengungkapkan keberatan pada atasan akan membawa perubahan? Kalau iya mungkin budaya sistem kerja, dalam hal ini dunia periklanan, sudah membaik dari kapan tau. Tapi nampaknya gak sesederhana itu. Dalam budaya kerja yang sangat kapitalistik manusia nampaknya hanya dilihat sebagai alat produksi, replaceable. Lo gak suka, silahkan cabut atau gue gantiin. Mengerikan bukan? Dan ini terjadi di banyak sektor pekerjaan lainnya.

Lalu bagaimana mungkin orang-orang yang tercekoki atau mencekoki orang lain dengan jargon-jargon macam “Push Your Boundaries” sekarang bicara “Know Your Limit”? Apalagi kalau ada yang merasa “been there done that”. Justru kalau sudah pernah melalui harusnya sadar bukan bahwa ada sistem lebih besar yang menggerakkan kehidupan kita sehari-hari? Atau selama ini gak pernah sadar? Ini kan menyedihkan.

“Push Your Boundaries” untuk apa? Untuk memenuhi pundi-pundi korporasi yang tamak? Untuk jadi yang “terbaik”? Untuk pencapaian prestasi yang abstrak? Sebuah ilusi yang dibentuk oleh propaganda korporasi kapitalis melalui ayat-ayat motivasinya.

Kita tentu saja tidak pernah seutuhnya independent karena kita selamanya interdependent, apalagi kalau kita hidup dalam sebuah sistem masyarakat dan negara. Bukankah kasus terakhir juga  terjadi dalam institusi yang mengagungkan team work? Lalu apa pertanggungjawaban mereka ketika ada kejadian ini? Saling mengingatkan untuk jaga diri sendiri karena resiko akhirnya ditanggung masing-masing?

Sayangnya, bukan hanya dalam hal kasus ini tapi juga dalam kasus-kasus lainnya, banyak orang cuma mau melihat yang ada di depannya aja. Overworked, salahkan perusahaan yang jahat dan diri yang gak tau batasan. Pelecehan seksual, pisahkan manusia berdasarkan gendernya. Perkosaan, baik-baik jaga diri. Padahal jauh sebelum hal-hal tersebut terjadi sudah ada proses panjang dan kompleks yang mendahului dan menjadi penyebabnya. Bahkan seringkali menciptakan lingkaran setan.

Entahlah. Mungkin banyak orang yang masih berpikir bahwa hal-hal ini terjadi akibat pilihan sendiri, maka berhati-hatilah karena akibatnya juga akan ditanggung sendiri. Terjadi di luar kekuasaan korporasi yang buas, negara yang lalai, hukum yang tiarap, gempuran nilai-nilai “positif” (kerja tim, prestasi, passion, dll dll) yang dimanipulasi perusahaan-perusahan besar dan raksasa untuk menggerakkan alat produksinya demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, dll.

Mawas diri ya tentunya penting, tapi mawas diri bukan cuma sekedar “Know Your Limit”, lebih dari itu juga menyadari bahwa kita adalah bagian dari sebuah sistem yang lebih besar. Ada hal-hal yang bisa kita
kendalikan dari dalam diri kita sendiri, tapi lebih banyak lagi hal-hal yang butuh kekuatan besar untuk dapat mencapai sebuah perubahan. Butuh “penyadaran” kolektif.

Banyak hal yang mungkin akan terlalu sulit diubah, bahkan mungkin selamanya kita bisa terjebak dalam lingkaran setan tersebut. Tapi selalu penting untuk memiliki kesadaran akan hal-hal lain di luar diri kita
sendiri dan dunia kecil kita.

 

*Catatan ini merupakan sedikit rangkuman dari diskusi dengan teman-teman lainnya (Anya, Mike, Ninin, Edo, Iskandar, Eko, Yoshi, Acha, Fanny, Ney). Setengah lebihnya meminjam istilah dan pemikiran mereka. Pertama kali dimuat di festinoverini.wordpress.com pada tanggal 16 Desember 2013*