E(xtreme Cinema)=m(asteng)c(etek)²

“One small step for Siman, one giant leap for mas-maskind…”

Siman peeping tom yang mengintip hoax terbesar dalam sejarah manungsapiens: Padoeka Jang Moelia Stanley “Soekarno” Kubrick membuat film propaganda CIA “Pendaratan di Bulan”… di Parangtritis. Siman ketauan dan Siti belum lahir untuk menyelamatkannya sehingga ia dihukum potong lidah, sekarang ia bisu dan PTSD. Selanjutnya di film terakhir Cecep Anggi Noen yang lagi heitz ini, ia bergerak bagai Buzz Aldrin alon-alon ra kelakon yo rapopo no biar selow kayak Bela Tarr. Seperti menonton film-film Cecep sebelumnya, menonton “The Science of Fictions” kita seperti ditantang untuk memecahkan teka-teki (rumus?) simbol-simbol visual/aural yang dikandung di dalamnya. Namun kabar baik bagi sejuta umat manusia yang ada di dunia, simbol-simbol Cecep selalu gamblang dan heavy-handed banget sehingga tenang aja, ga perlu baca A Barthes Reader untuk mengertinya. Judulnya pun sudah kasih clue yang begitu murah hati: mulai saja dengan membedah apa “fictions” di film ini, dan bagaimanakah “science”-nya?

Dalam dunia palelofuturis Siman, waktu bergoyang maju-mundur sleb-sleb, peristiwa-peristiwa sejarah-politik (yes, 65) berjalin berkelindan siap ndan! dengan laju Leistungsgesellschaft budaya pop (odong-odong, Instagram, la vie vérité, jathilan – Extreme Cinema alert!), critique aras-arasan terhadap kapitalisma (kaleng-kaleng Khong Guan of the Lost Ark), exposisi masteng Jawir chishet values yang asu (PTSD Siman sembuh sementara pertama kali dengan cara, yak, mengenthu Asmara Abigail!), etc etc, yang efek akhirnya adalah film ini pada saat yang bersamaan membicarakan begitu banyak hal tapi juga nggak ngomong apa-apa yang begitu berarti. Sejarah Indonesia adalah fiksi? Really? Alerta alerta!

Dalam sebuah komen ablist yang diucapkan salah satu karakter di film ini untuk mengomentari kebisuan Siman (yasss, he’s our fucked up history’s silent witness! Semacam Forrest Gump yang belum diendorse Nike), ia digambarkan sebagai “Iso krungu ning ra iso nyatakke” = “Mampu mendengar tapi tidak mampu berbicara”. Frase Jawir “ra iso nyatakke” di sini menarik juga, karena secara literal bisa juga diterjemahkan sebagai “namun tak mampu put his thoughts into words” atau dalam versi less keminggrisia dan lebih radikal lagi, “tidak mampu membuat [pikirannya] jadi nyata.” Sehingga Siman menjadi satu-satunya karakter dalam film ini yang direnggut agency-nya dan waduh gimana ya tar dia ga bisa menciptakan fictions-nya sendiri dong sementara semua orang di sekitarnya asik-asik ajib nggambleh ngabodor menciptakan fictions mereka sendiri untuk memarginalkan Siman??? Tapi tenang, enter Permak Lepis dan akal-akalan kere:

“So here am I sitting in a Khong Guan can…”

Fictions dalam The Science of Fictions juga bisa merujuk kepada sugesti klise dalam film ini bahwa bukankah dunia ini hanya panggung sandiwara? Job Less! Atau bahwa film ini sendiri – dan consequently all films – hanyalah sebuah fiksi (dapat salam dari 8 1/2!). Di scene terakhir yang menyindir latahisme Instagrammers dan antusiasme mereka pada taman bunga plastik di tengah hutan, sekelompok post-alay naik odong-odong menyerbu rumah Apollo-chic DIY Siman di tengah hutan bambu dan ceklak-ceklik, post, liked by gabbermodusoperandi and 696969 others. What is Cecep saying? Bahwa dunia fiksi Siman yang direproduksi dalam ribuan post Instagram² menjadi terfiksikan sekali lagi (terfiksikan kuadrat!), and that‘s the Science of fictions ––> repro atas repro atas repro dan seterusnya atas kenyataan dalam dunia fantasi yang mengelabui kita semua? Bahwa sebenernya di dunia (fantasi) ini, ora ono sik iso nyatakke opo-opo? Maybe. Tapi kok I feel some/most of the times like overreading this stuff? This ain’t exactly Hito Steyerl!

“Mantap Boschque…”

Masalahnya juga, seperti dalam film-film Cecep sebelumnya, poin-poin yang sepertinya serius ini dinyatakan (dinyatakke!) dengan sekaligus setengah-setengah, sok ironis sehingga kayak menuntut pemirsa untuk menyatakan setengahnya lagi, tapi juga sekaligus dengan so obvious menggunakan simbol-simbol yang klise (Siman yang bisu as silent witness of the official history of NKRI, Siman yang gagal lepas landas sebagai simbol Repelita Orba yang gagal lepas landas, Siman yang dikomodifikasi sebagai pemain jathilan sebagai simbol pengkomodifikasian lumpen prole, kaleng Khong Guan sebagai simbol gurita kapitalisma dan tin can ambition NASA, etc etc.) tapi di(re)presentasikan seakan-akan no one else has ever used them in a work of fiction. Efeknya justru nggak jauh-jauh mata juga dari dipaksa menikmati parade pamer fictionalized kekerenan di Instagram!

Selain itu, kenapa juga film ini masih harus mine the same ole same ole themes and tropes dari Kamus Besar Extreme Cinema, Auto-Erasure dan Self-Orientalism Indonesia: 65 (is he saying anything new or merely reproducing counter-narratives yang itu-itu aja?), jathilan, seragam diktator chic, fantasi (fiction!) TKI (“Benar tidak duit di Arab dibuat dari emas?” Hampir aja aku salah denger jadi “Bener nggak sih Palme d’Or terbuat dari emas?” Phew.), sexual obsession of Javanese men, etc etc.? Apakah ini post-Wregas/Senyawa effect yang ditempelkan di film ini agar fiksi ala mas-mas Jogjosss ini bisa langsung bikin programer-programer festival film luar negeri ngaceng (old argument I know, sudah berdiri sejak Philip Cheah)? Ataukah sebenernya Cecep tidak se-Machiavellian itu (to mention someone who’s really into fiction!) tapi memang masih belum mampu aja keluar dari belenggu inlanderisme seniman-seniman Indonesia yang ingin go internesyenel? Now we all know that’s no fiction.

Images from kino-zeit.de, sennhausersfilmblog.ch, infoscreening.co

INDONESIA MENGKRITIK SENYAP*

the-look-of-silence

senyap adalah film yang ramai metafora: adi sang optometris sebagai tiresias the seer yang membuka mata free man-free man yang dikelabui propaganda orba selama ini, adi sang yogi tercerahkan yang piawai headstand (bandingkan dengan free man-free man berkupluk dan bertasbih yang buta sejarah), papa adi yang buta ngesot sia-sia mencari sajadah dan akhirnya teriak-teriak ketakutan digebuk wong karena merasa dirinya tersesat ke dalam “kelambu” (kelambu sejarah? :p) orang lain.

 

metafora-metafora yang dikerahkan bersama alur cerita dan editing melodramatis ala sinetron serta door-stop interview eksploitatif ala syurnalisme tabloid untuk menunjukkan bahwa kita, bangsa indonnesia, adalah bangsa yang buta sejarah dan harus dibuka paksa matanya.

 

meneruskan argumen jagal, senyap juga mereduksi tragedi kemanusiaan dan politik 65 jadi sekedar tragedi antar manusia baik dan manusia jahat saja. apa perlunya ngomong tentang konteks perang dingin, dekolonisasi, anti-nonblokisasi, jika lebih seru bercerita tentang kombo kekejaman dan ketololon monster-monster dunia ketiga yang dijamin mengundang tawa sekaligus air mata (dan semoga nominasi oscar)?

 

senyap tidak beranjak jauh dari dikotomi caliban-caliban subhuman (herman koto dan groupie-groupie anwar congo yang lain) vs caliban setelah direedukasi pengalaman membuat “film” arsan & aminah (anwar congo sendiri) dalam jagal. walaupun adi sang optometris keliling dan tokoh utama senyap kali ini adalah keluarga korban dan bukan tukang jagal seperti anwar congo, dalam semesta kedua film ini mereka berdua memainkan peran yang sama: budak dan talking head prospero cinéma vérité yang menyandang white man’s burden untuk mencerahkan seluruh rakyat indonesia tentang apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1965–si masbro joshua oppenheimer sendiri.

 

prospero punya set-up/con ala cinéma vérité yang menarik dan efektif dalam jagal (mengundang anwar congo untuk membuat film “arsan & aminah” yang kemudian difilmkan dalam “jagal” karya joshua oppenheimer)–sebuah psychoanalytic con yang berhasil membuka isi kepala anwar congo dan membuat kita hampir mengerti pergulatan id, ego, dan superego di balik topi koboinya. dalam senyap, tidak ada con canggih seperti ini. yang kita dapat hanya door-stop interview ala michael moore yang menghasilkan lebih banyak momen krik krik daripada kesenyapan yang penuh arti.

 

coba pikir, mungkinkah free man-free man yang matanya tertutup selama berpuluh tahun oleh propaganda orba tiba-tiba mengaku salah hanya karena sekali diinterogasi oleh seorang keluarga korbannya? seperti pungguk merindukan deus ex machina…

 

jadi bisa dimengerti jika ada yang pernah bilang jagal lebih mirip mockumentary daripada documentary.

 

beberapa scene dalam senyap jadi sangat problematis buat sebuah film dokumenter. scene truk-truk tua melaju dalam gelap di awal film yang diulang di beberapa momen lagi itu misalnya. apakah ada fungsi lain scene ini selain menyetir imajinasi penonton untuk membayangkan kira-kira bagaimana abang adi dulu di-“amankan” pakai truk dalam gelap untuk dibantai? tapi kan katanya senyap bukan sebuah fictionalized biopic? masak ada scene reka-ulang TKP ala buser?

 

kemudian jukstaposisi antara adi si optometris suka yoga dengan free man-free man berkupluk dan bertasbih suka do’a tadi (beberapa dari mereka ditunjukkan ingin menghindar dari interogasi adi dengan alasan sudah waktunya sholat). apakah modernitas selalu berbanding terbalik dengan nilai-nilai agama? apakah islam selalu identik dengan keprimitifan, sementara yoga dan optometri dengan aufklärung? apakah ada islamofobia terselubung dalam senyap?

 

kemudian lagi scene bapak adi ngesot tersesat mencari sajadah di tempat jemuran tadi. apakah ini metafora bahwa jawaban untuk persoalan pelik macam tragedi 1965 di indonesia tidak akan pernah bisa dicari dalam ibadah, dalam agama, tapi hanya tersedia dalam orakel-orakel modern macam film documenter karya joshua oppenheimer? islamofobia lagikah ini? atau blind faith kepada modernitas yang always already sekuler?

 

tanpa memberikan konteks sejarah dan politik yang kuat, maupun menjelaskan betapa totalnya propaganda orde baru mencuci otak orang indonesia, potret “indonesia” dalam senyap terlihat begitu simplistis, bagaikan heart of darkness yang hanya dihuni dua macam makhluk yang selalu berperang: monyet-monyet sadistis, beasts from the east seperti inong (salah satu penjagal yang, surprise surprise, ditunjukkan punya monyet peliharaan) dan/atau malaikat-malaikat tercerahkan yang selamanya hidup dalam ketakutan macam adi.

 

senyap seperti menafikan kemungkinan bahwa kedua kubu bisa juga dilihat sebagai pelanduk yang kehilangan free will mereka di tengah-tengah keriaan gajah-gajah imperialis kapitalis neolib berbagi-bagi kue dekolonisasi setelah perang dunia 2!

 

nanti tanggal 10 desember waktu “indonesia menonton senyap”, jangan terkejut jika bakal banyak cermin dibelah, karena penonton kecewa kok the look of silence ternyata begitu black and white!

 

*artikel ini adalah hasil bahasan bersama Mikael Johani, Anya Rompas, Edo Wallad, Ratri Ninditya, Festi Noverini, dan Doni Agustan.