KETIDAKSETARAAN 4.0 ATAU KETIDAKSETARAAN AJA?*

Jangan pegang piringnya, mau gue insta duluuu! Ih di pojok situ lightingnya cakeeeep–fotoin gue di situ dong mak! Bebep gamer akuh di YouTube baru aplot video baru–naisuu! Stranger Things season 3 dah mau keluar di Netflix! Bikin potkes yok!

Kita bisa mendengar komentar-komentar demikian dalam percakapan keseharian kita. Mereka mengalir dari lidah kita dan meluncur dari mulut kita dengan sangat natural. Atau, sebaliknya, kita bisa jadi adalah salah satu dari orang-orang dari rentang usia tertentu yang masih mencoba mengikuti kosa kata masa kini—leksikon 4.0, yang, suka atau tidak, harus kita terima dan kuasai. 

Internet hanyalah sebuah aspek lain dari hidup kita, tentang bagaimana kita berkomunikasi, sebagai sebuah medium dan sekaligus sebagai sebuah sarana bagi kita untuk mengekspresikan diri sendiri. Jadi, jika kita prihatin bahwa internet “masih” sebuah lahan yang tidak setara di 2019 ini, kita harus mulai menyadari bahwa hal ini hanya merefleksikan segala hal yang terjadi dalam kehidupan “luar jaringan” (sebagai lawan dari istilah “dalam jaringan” alias daring) kita. 

Bagi saya, ketidaksetaraan adalah ketidaksetaraan titik. 

Di awal tahun 2000, saya menemukan sebuah komunitas puisi daring di Yahoo! Groups (sebuah sarana media sosial 2.0!). Saya terinspirasi untuk melakukannya karena saya sendiri merupakan salah seorang anggota dari sebuah perkumpulan puisi daring yang berbasis di AS bernama pathetic.org (ya, namanya memang disengaja). Setiap anggota mendapatkan situs-mini masing-masing untuk memajang karya-karya mereka dan setiap orang bebas untuk saling mengunjungi situs anggota lainnya. Yang terasa spesial adalah bahwa format itu memungkinkan setiap orang untuk menuliskan pendapat mereka tentang puisi-puisi yang mereka baca dengan cara-cara yang jujur, tanpa kepura-puraan, terperinci, dan juga menyenangkan, yang membuat saya merasa disambut baik dan memungkinkan saya bertumbuh sebagai seorang penulis. 

Suatu kali, saya menggunakan frase “seorang gadis hitam” di salah satu puisi karya saya. Maksud saya adalah untuk menggambarkan diri saya sendiri sebagai makhluk yang tercipta dari bayangan di tembok, tapi jelas saya gagal menghantarkan citra itu sehingga karya itu malah jadi terlihat rasis. Cukup banyak teman saya yang mengomentari puisi itu dan menunjukkan—beberapa di antara mereka dengan cara yang baik—bermasalahnya hal itu. Percakapan-percakapan tersebut mencerahkan saya. 

Saya ingin meniru dinamika-dinamika yang terbuka, saling mendukung, tapi juga otokritis di Komunitas BungaMatahari (BuMa). Saya bahagia karena kami cukup berhasil dalam mencapai hal itu secara alami. Kami telah mengalami bagaimana rasanya saling memberdayakan sebagai bagian dari sebuah komunitas para penulis—dari berbagai gaya—selain juga memiliki kebebasan untuk bereksperimen dan mengeksplorasi seni puisi sebagai  individu. 

Moto kami, semua bisa berpuisi, adalah kunci tentang bagaimana kami berkomunikasi dan menghadirkan diri kami sendiri dalam berbagai proyek berbeda yang kami kerjakan daring atau IRL. Kami membuka pintu kami untuk siapapun yang bercita-cita untuk mengejar karir penulisan, menulis untuk kesenangan mereka sendiri, atau bahkan menikmati tulisan dan hanya sesekali menulis di antara pekerjaan harian mereka yang membosankan. Sangat menarik untuk mempelajari bahwa para anggota BuMa adalah sebuah kumpulan yang sangat beragam: para pemilik warung internet, pegawai bank, seorang pramuniaga untuk perusahaan distributor udang, seorang staf perusahaan asuransi, selain juga para copywriter, para desainer grafis, dan para pekerja lain dari industri kreatif yang sudah bisa diduga. 

Saya ingat bahwa sejak tahun-tahun awal, kami memiliki keingintahuan alami untuk mengenal orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama dalam puisi dan sastra pada umumnya. Kami juga meluaskan jaringan kami, bergabung dengan berbagai milis sastra dan menghadiri ajang-ajang dan diskusi sastra. Kami bertemu dan berbincang dengan para penulis yang menarik, para aktivis sastra, dan para penggemar buku, yang termasuk Wien Muldian, Olin Monteiro, Richard Oh, Joko Pinurbo, Saut Situmorang, dan Katrin Bandel. Rumah Dunia (diorganisir oleh Gola Gong di Serang), dan para tokoh termasyhur seperti Teater Utan Kayu (TUK) Goenawan Mohamad/Salihara dan Yayasan Lontar milik John McGlynn. 

Setelah beberapa waktu, kami semakin akrab dengan pemetaan yang ada dan, tentunya, politik sastra negara kami. Salah satu yang paling memilukan adalah mengetahui bahwa di awal 90an, salah satu yang harus dilakukan oleh seorang penulis pemula yang ingin maju dalam karirnya atau menerima kesempatan pendanaan atau meraih visibilitas, adalah dengan berada dekat sekali dengan sebuah kelompok kecil tertentu, khususnya TUK dan jaringannya. 

Tentu saja ada kritikan dan protes yang dilontarkan pada perkumpulan kuat ini. Tapi, karena mereka juga secara praktis “mengkurasi” halaman-halaman sastra di koran-koran nasional terbesar (pada saat itu adalah saluran paling bergengsi bagi para penulis Indonesia), mereka lebih dari mampu untuk membatasi oposisi mereka di internet; sebuah alam dan medium yang mereka anggap sebagai “tong sampah”, lokus diskusi tidak penting, untuk menjaga otoritas mereka selain membungkam suara-suara pengkritik mereka—di mana pada saat yang sama duduk di kursi pengemudi untuk mengendalikan “selera” sastra bangsa, memutuskan sastra jenis apa yang bisa dianggap berharga akan pengakuan nasional dan/atau internasional. 

Para penjaga gerbang sastra ini memiliki kekuatan untuk “menghapus” para penulis yang mereka anggap tidak cocok ke dalam narasi politis dan imajinasi mereka tentang wujud sastra Indonesia yang seharusnya. Salah satu penjaga gerbang sastra ini adalah Goenawan Mohamad, seorang operator (sastra)-politik cerdik yang menjalankan TUK, kini Salihara. Internet adalah situs di mana kelompok oposisi atas Goenawan pertama berkembang. Dua dari para kritikus yang vokal akan kelompok TUK adalah penyair Saut Situmorang dan kritikus Katrin Bandel, yang pada suatu masa merupakan tokoh polisi baik-polisi jahat dalam sastra Indonesia. 

IRL, buku penting almarhum Wijaya Herlambang berjudul “Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film”—mengikuti jejak buku “Who Paid the Piper?: the CIA and the Cultural Cold War” karya Frances Stonor Saunders—menunjukkan bagaimana Goenawan bisa jadi telah menerima bantuan dari Kongres Kebebasan Budaya (Congress for Cultural Freedom/CCF), sebuah organisasi filantropis yang dibentuk oleh Central Intelligence Agency (CIA) pada 1950, dalam upaya-upayanya untuk menyetir arah sastra Indonesia setelah 1965, saat banyak penulis kiri Indonesia—termasuk Pramoedya Ananta Toer—dibui, diasingkan, atau dibunuh. 

Dalam sebuah artikel di IndoProgress, filsuf dan novelis Martin Suryajaya menggali arsip-arsip di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin dan menemukan berbagai korespondensi antara Goenawan dan Ivan Katz, perwakilan Program Asia. Martin menyebut Katz sebagai “manajer politis” Goenawan dan menunjukkan surat-surat di mana Katz menginstruksikan Goenawan untuk menulis pamflet-pamflet mengkritisi kegiatan-kegiatan kebudayaan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Saya tidak menyalahkan para penulis yang telah memutuskan untuk bersekutu dengan TUK/Salihara karena saya menyadari bahwa akses pada sumber-sumber finansial, atau sumber daya apapun di Indonesia, dibatasi untuk sekumpulan kecil kalangan istimewa. Hal ini membuat saya frustrasi karena melihat orang-orang di kekuasaan ini mengeksploitasi kemiskinan banyak penulis Indonesia untuk menopang pandangan sempit mereka tentang bagaimana wujud sastra Indonesia seharusnya. 

Kini yang semakin membuat frustrasi adalah bahwa pemerintah akhirnya menyediakan pendanaan publik untuk program-program sastra, tapi akses ke pendanaan itu masih sedikit banyak dikendalikan oleh para penjaga gerbang ini. 

Dalam salah satu malam open mic BuMa (sebelum istilah open mic masuk dalam leksikon kita sehari-hari), kami terkejut mendapati sebuah artikel di Republika, salah satu koran terkemuka Indonesia, berjudul “Puisi Cyber, Genre atau Tong Sampah?” pada terbitan 29 April 2001. Artikel itu ditulis oleh Ahmadun Yosi Herfanda, editor koran itu, dan salah satu argumennya adalah bahwa puisi-puisi dari internet adalah puisi-puisi yang ditolak oleh koran-koran. 

Saya merasa terhina secara personal. Pemikiran muda saya berkata bahwa media internet dan cetak adalah tidak lebih dari sebuah medium. Karya-karya yang tampil di kedua media layak untuk dipuji atau dikritisi dengan adil. Tapi Ahmadun memilih untuk menjadi salah satu penjaga gerbang itu; yang menghentikan kemungkinan-kemungkinan para penulis mengeksplorasi internet sebagai sebuah panggung dan teknologi, sebagai sebuah medium untuk menciptakan tulisan-tulisan yang menguji batas-batas dari teknologi dan sastra itu sendiri.

Cara berpikir bahwa mereka memiliki hak untuk menaruh para penulis dalam kotak-kotak: sastra koran vs sastra maya, adalah manifestasi sesungguhnya dari ketidaksetaraan 2.0!

***

Sastra adalah salah satu dari banyak bentuk seni yang bisa kita gunakan untuk menyampaikan cerita-cerita akan kesedihan kita, harapan, sukacita, dan penderitaan. Ada banyak cara bagi kita untuk menyampaikan cerita-cerita. Sastra seharusnya memungkinkan para penulis dan pembaca untuk melihat berbagai kemungkinan kehidupan sebagai seorang individu dan sebagai bagian dari sebuah keluarga atau komunitas, di kancah nasional dan global. Sastra seharusnya memberdayakan kita untuk mengenali penderitaan kita dan ketidaksetaraan yang berdasarkan keyakinan, norma-norma, kelas, ras, orientasi seksual, dsb. Sastra seharusnya memampukan kita untuk melihat dinding-dinding di antara kita yang telah diciptakan oleh ketidaksetaraan, dan memberikan kita kekuasaan untuk meruntuhkannya. 

Tapi jika sastra tidak membuat kita mampu untuk melakukan salah satu dari hal tersebut di atas, menurut saya, kita sebagai para penulis dan pembaca sama-sama bersalah melestarikan dinding-dinding tersebut.

Menulis, di antara berbagai hal lainnya, adalah sebuah tindakan mengakui/mendokumentasikan/merefleksikan/mempertanyakan kenyataan seseorang. Itulah mengapa sangat penting bagi para penulis untuk menggali lebih dalam ke diri mereka sendiri dan tempat atau situasi di mana mereka berada, sehingga mereka bisa mengerti diri sendiri dengan lebih baik dan memiliki kemampuan untuk menemukan suara mereka dan mengetahui cara menggunakan suara mereka. Saya percaya saat mereka mengenali dirinya sendiri, karya-karya mereka akan mewakili pandangan unik mereka tentang dunia. 

Seperti ukuran negara kita, kontur tanahnya, dan beragam etnis yang menyusun populasi kita, lanskap sastra Indonesia selalu luas, bervariasi, dan beragam. Untuk mencapai dan merawat kesetaraan, keberagaman, dan kebebasan berpendapat bagi seluruh penulis Indonesia, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, tanpa mengesampingkan ras mereka, agama, kelas sosial, gaya dan bentuk penulisan, daerah asal, bahasa ibu, bahasa dan dialek, dan tentu saja, pandangan politik; kita perlu mengakui mereka seluruhnya sebagai bagian-bagian yang terlihat dari sejarah sastra bangsa kita. Hanya mempromosikan sekumpulan penulis di berbagai festival nasional dan internasional atau residensi, adalah tindakan penghapusan yang kejam. 

Representasi internasional akan sastra Indonesia telah didominasi oleh Yayasan Lontar milik John McGlynn. Menurut sebuah artikel berjudul “John McGlynn: The uphill climb for Indonesian literature” (Jakarta Post, 11 September 2017), yayasan tersebut “didirikan pada 1987 oleh McGlynn, yang awalnya datang ke Indonesia untuk mempelajari seni wayang pada 1977, selain mempelajari para penulis terkemuka Indonesia seperti Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan Umar Kayam.”

Artikel tersebut menyebutkan bahwa “yayasan tersebut didirikan sebagai sebuah cara untuk menerjemahkan sastra Indonesia bagi pasar-pasar luar negeri” tapi “yayasan itu… kini menerapkan proses seleksi yang lebih ketat untuk memilih karya-karya sastra yang mereka terjemahkan.”

Seperti apa itu “seleksi lebih ketat”? Kriteria apa yang digunakan Lontar untuk menyeleksi karya-karya yang mereka pilih untuk diterjemahkan? Seperti apa proses kuratorialnya? Apakah seluruh proses tersebut pernah diumumkan pada publik?

McGlynn dan Goenawan keduanya tergabung dalam Komite Buku Nasional yang mengatur partisipasi Indonesia dalam festival-festival buku internasional seperti Frankfurt Book Fair dan London Book Fair; seberapa banyak hak yang mereka miliki dalam memutuskan penulis mana dan karya mana yang akan “dijual” di pameran-pameran? Apakah mereka memiliki kesetaraan dalam pikirannya saat membuat keputusan-keputusan ini?

Namun, hal yang menarik setelah eksistensinya selama 32 tahun, tidak satupun penulis yang telah diterjemahkan oleh Lontar berhasil meraih tawaran besar untuk menulis buku di luar negeri. Penulis Indonesia yang paling terkenal di panggung internasional saat ini, Eka Kurniawan, mendapat tawaran-tawaran awal untuk menerbitkan buku (lewat New Directions dan Verso) melalui upayanya sendiri yang persisten untuk menerjemahkan karyanya dan membawanya dalam forum-forum diskusi di luar negeri. 

Dengan mempertimbangkan rekam jejak ini, lalu mengapa McGlynn masih dipercaya untuk menjadi kepala kontingen Indonesia de facto di berbagai pameran buku internasional tersebut? Jika para penulis Indonesia masih kesulitan untuk menembus pasar internasional, apakah itu salah internet, atau salah dari para perantara sastra seperti McGlynn?

Semakin saya membaca artikel itu, semakin saya merasa tidak nyaman. McGlynn mengklain bahwa “banyak hal yang ditulis oleh orang Indonesia dalam bahasa Inggris cenderung terasa datar.” Sebenarnya, banyak penulis Indonesia yang telah menulis puisi-puisi yang luar biasa dan sukses dalam bahasa Inggris. Banyak orang Indonesia yang telah meraih gelar sarjana di negara-negara berbahasa Inggris, atau merupakan keturunan kedua orangtua penutur bahasa Inggris, dan telah terpapar pada buku-buku, lagu-lagu, berbagai film dan konten media sosial di internet (!) nyaris setiap hari dalam bahasa Inggris. 

Beberapa penulis, termasuk saya sendiri, membagikan pemikiran-pemikiran kami tentang pernyataan McGlynn dalam “Is Indonesian Literature Written in English Still Indonesian Literature?” (Jakarta Globe, 12 April 2018). Kami semua setuju bahwa, walaupun kami menulis dalam bahasa Inggris, karya-karya kami masih menjadi bagian dari sastra Indonesia. 

Dari sudut cara pandang pascakolonial, codeswitching atau alternasi bahasa bukanlah sebuah halangan, namun sebuah keistimewaan yang dapat digunakan untuk keuntungan kita: hal ini memberikan kita sebuah strategi lain untuk menulis perlawanan pada Empire. 

***

Bagi penulis seperti saya, anak-anak internet, sangatlah membingungkan jika sebuah mimbar bergengsi seperti Jakarta International Literary Festival, yang digagas oleh salah satu institusi seni paling prestisius di Indonesia, masih saja (di tahun 2019!) mengkritisi internet dengan berspekulasi bahwa “internet masih belum mampu menyamakan lapangan permainan dalam hal mendapatkan karya-karya para penulis dari negara-negara asing maupun berkembang untuk menembus pasar internasional.”

Saya masih bingung melihat bagaimana para elite kini menuntut agar internet, yang belum lama lalu mereka kecam sebagai sebuah tong sampah—saya tidak akan bosan mengingatkan mereka tentang fakta ini berulang kali—harus bertindak sebagai penyelamat mereka, sebagai satu-satunya panggung yang dapat meluncurkan karier internasional mereka! Saat hal ini belum juga terjadi, mereka menuduhkan kecurangan dan menyalahkan internet karena gagal memenuhi janji-janjinya (yang tidak pernah dijanjikan). 

Jadi apakah internet, wahai arus utama sastra Indonesia, tong sampah atau penyelamatmu? Pilih salah satu.

Namun, biarkan saya sampaikan, bahwa apapun yang terjadi bukanlah dan tidaklah akan pernah menjadi kesalahan internet. 

Negara-negara Selatan seperti Indonesia, dalam dunia neokolonialis yang kita hidupi sekarang, menghadapi ketidaksetaraan dalam berbagai bentuk, termasuk ketidaksetaraan dari pasar buku global. Tapi, alih-alih memanipulasi mereka untuk menjadi keuntungan kita—seperti yang telah dilakukan Hallyu—kadang kita hanya tersangkut pada debat tanpa akhir tentang siapa atau bagaimana kita ingin sastra kita direpresentasikan di panggung internasional. 

Percakapan-percakapan yang perlu tentang identitaas, ideologi, keterwakilan, pemosisian, dan kaitan-kaitan kuasa antara Barat dan Timur (dan Selatan) telah terjadi, tapi kita masih rentan tersandung ke dalam jebakan-jebakan untuk mengeksotiskan diri kita guna menarik sebuah pasar yang boleh dibilang masih dikendalikan oleh Barat.

Karena itu, adalah sangat mengkhawatirkan saat John McGlynn, dalam artikel Jakarta Post yang telah sebelumnya saya diskusikan, mengatakan: “Para penerbit tidak mencari Anda, mereka mencari Indonesia.” Apakah ia menyiratkan bahwa para penulis Indonesia harus mengabaikan ekspresi diri kami sendiri, tentang seni dan keterampilan menulis yang telah diasah bertahun-tahun oleh sebagian dari kita, tentang kisah-kisah dan kekhawatiran-kekhawatiran kita sendiri, dan sebaliknya mencukupkan diri kita sendiri dengan menjadi informan-informan setempat bagi pasar buku internasional? 

Kita perlu mengingatkan diri kita sendiri bahwa lapangan permainan sastra Indonesia belum pernah setara. Jika kita ingin melawan ketidaksetaraan, kita harus memulai di halaman belakang kita sendiri. Sebuah representasi adil dari sastra Indonesia tidak akan pernah hadir selama para elite yang mengklaim diri mereka sendiri sebagai para penjaga gerbang sastra negara ini terus mengkotak-kotakkan para penulis dan karya-karyanya menjadi yang sesuai dengan selera mereka—yang telah dengan strategis mereka propagandakan melalui media nasional dan internasional, berbagai festival dan penghargaan—dan yang tidak sesuai. 

Tepat sebelum London Book Fair 2019, di mana Indonesia menjadi market focus, sebuah percakapan di Twitter—dimulai oleh Tiffany Tsao, Norman Erikson Pasaribu, Madina Malahayati Chumaera, Theodora Sarah Abigail, Intan Paramaditha, dan Mikael Johani—tentang cara-cara problematik di mana sastra Indonesia digambarkan oleh para penjaga gerbang di atas menjadi agak viral. 

Tidak lama, Theodora menerbitkan sebuah esei tentang isu tersebut di Jakarta Globe. Eka juga menyampaikan pemikirannya tentang hal ini di laman Facebook miliknya. 

Kritik ini bukanlah hal baru. Banyak dari pada pendahulu dan rekan sezaman mereka telah meneriakkan kekhawatiran-kekhawatiran yang sama, tapi mereka tidak berhasil memenuhi KPI yang dibutuhkan untuk terus menggulirkan bola tentang topik ini. 

Saya juga berpendapat bahwa aksi-aksi mereka dan reaksi audiens mereka adalah bukti bahwa, dalam dunia di mana semakin banyak orang diberdayakan untuk melawan balik para penindas mereka, maka semakin banyak pula penulis Indonesia yang juga mengklaim (kembali) hak-hak mereka, menggunakan media sosial (internet) bukan hanya sebagai sebuah panggung untuk mempromosikan tulisan dan pengaruh mereka, tapi juga sebagai sebuah alat perlawanan. 

Walaupun saat ini riak (Twitter) yang mereka ciptakan telah surut, ini tidak berarti perlawanan telah berakhir. Saya telah melihat para penulis dan karya-karya kolektif dan kolaborasi di luar skena sastra arus utama untuk menciptakan ruang dan ide-ide mereka sendiri tentang bagaimana wujud sastra Indonesia seharusnya. 

Estetika BuMa, mengutip pengalaman saya sendiri, banyak dipengaruhi oleh skena indie tahun 90an dan budaya bawah tanah. Beberapa anggota awal kami mengidentifikasi diri mereka dengan gaya hidup dan semangat punk/DIY (Do It Yourself), baik dalam busana maupun cara berpikir. Setelah menolak tawaran Salihara untuk menggelar ajang open mic kami sendiri di tempat mereka, kami menyadari bahwa kami akan melakukan pekerjaan kami sendiri, dalam hal pendanaan dan visibilitas. Mengingat ini lagi, saya lega bahwa kami tetap setia pada ungkapan, “Jika kamu tidak bisa menemukan apa yang kamu sukai, lakukanlah sendiri.”

BuMa kemudian mengadakan banyak kolaborasi dengan kelompok-kelompok lain, LSM, UNICEF, dan pusat kebudayaan Prancis untuk membawa puisi ke publik yang lebih luas. Kami mengadakan ajang open mic di stasiun kereta Gambir, mengadakan flash mob di sebuah bioskop (termasuk menempelkan puisi-puisi di kubikel toilet tempat itu—secara literer sebagai tempat di mana orang membuang sampah mereka), sebuah kompetisi menulis puisi untuk anak-anak (para pemenang membawakan puisi-puisi mereka bersama seorang pantomim Prancis di Taman Menteng), sebuah workshop puisi bersama Jurnal Perempuan, dan sebuah pergerakan kecil untuk meninggalkan sebuah puisi yang tertulis di secarik kertas di transportasi publik dan tempat-tempat publik, sehingga penumpang taksi berikutnya atau orang yang duduk berikutnya di sebuah kafe setelah Anda akan membacanya. 

Saya terberkati karena dikelilingi oleh orang-orang yang percaya bahwa puisi adalah milik kita semua. Dua tahun lalu, kami menciptakan sebuah pentas baru untuk para penulis dari latar belakang berbeda dan dari berbagai tahapan karir untuk menampilkan karya-karya mereka, dan sejak itu saya merasakan kebahagiaan saat melihat berlimpahnya talenta-talenta muda setiap bulan di Paviliun Puisi, satu-satunya malam open mic bulanan di Jakarta. 

Para penulis urban muda ini—yang rutin mendatangi tempat kami dan menulis tentang kenyataan menyedihkan bekerja untuk perusahaan-perusahaan multinasional, yang mewajibkan mereka untuk tampil sempurna, namun masih hidup dengan gaji pas-pasan; perjuangan mereka untuk menyembunyikan dan memamerkan identitas seksual mereka; stigma seputar kesehatan dan kesakitan fisik dan mental mereka; perjuangan mereka melawan nilai-nilai patriarki dalam keluarga mereka, tempat kerja, lingkungan teman-teman; beban-beban untuk meraih sukses saat mereka tidak memiliki akses akan pendidikan yang layak; dan seterusnya. 

Mereka sangat cerdas menggunakan internet, sangat terpengaruh oleh apa yang mereka sukai atau tidak sukai di Instagram, Twitter, Netflix, Spotify, dan mampu untuk dengan cerdik mengikutsertakannya dalam karya-karya mereka. Banyak dari mereka yang juga menggunakan kosa kata sehari-hari, idiom-idiom populer, campuran bahasa Inggris dan Indonesia—suatu hal yang masih dianggap tidak puitis oleh para penghuni bangunan sastra Indonesia yang lebih konservatif. Mereka juga telah berkolaborasi dengan para musisi, para seniman visual, kelompok teater, penari, dan DJ. Setelah mengamati satu demi satu penampilan mereka, saya merasa justru para penguasa sastra itulah yang rugi tidak bisa menyaksikan dan mengapresiasi variasi-variasi dari gaya dan tema yang diciptakan para penulis muda ini. 

Para penulis yang saya sukai sekarang ini termasuk tapi tidak terbatas pada Ratri Ninditya, Kezia Alaia, Mikhael Ray, Syarafina Vidyadhana, Rara Rizal, Farhanah, Edo Wallad, Waraney Herald Rawung, Yoshi Fe, Catharina Dwiyandani, Kafiel Alawy, Puri Dewayani, Malkan Junaidi, Y. Thendra BP, dan Arie Saptaji. 

Beberapa di antara mereka telah mendapatkan tawaran penerbitan dari para penerbit besar, beberapa lainnya memutuskan bergabung dengan penerbit independen, sebagian lagi masih mengerjakan manuskrip-manuskrip mereka, dan saya bahkan menduga bahwa beberapa dari mereka tidak merasa penting untuk dipublikasikan. Tapi mereka memiliki karya penulisan penting yang tidak bisa dihiraukan oleh siapapun yang mau belajar lebih tentang puisi Indonesia.

Pertukaran-pertukaran puitis yang terjadi setiap bulan di Paviliun Puisi juga menunjukkan pada saya bahwa dialog antargenerasi, baik daring dan IRL, harus dirawat. Sebagai seseorang yang merasa telah berinvestasi dalam sastra Indonesia dan telah mencoba menggunakan keistimewaan yang telah saya raih untuk menyamakan lapangan permainan—tidak hanya membuatnya semakin mudah diakses untuk para pembaca buku domestik tapi juga, terutama, untuk mengamplifikasi suara-suara para penulis, baik yang berisik maupun yang lemah lembut—selama 19 tahun terakhir, saya telah mencoba untuk bicara pada, dan terlibat dengan, sebanyak mungkin orang dalam industri sastra dan buku. 

Saya menyadari bahwa kini ada beberapa generasi yang memenuhi lapangan: 60an hingga 70an, 80an hingga 90an, dan tahun 2000an hingga 2010an. Saya mengerti bahwa mereka semua pasti memiliki opini dan kekhawatiran berbeda.

Namun, dalam pengamatan saya, situasi saat ini masih memperkenankan budaya usang patronisasi untuk kembali unjuk muka. Adalah sebuah hal alami untuk belajar dari seseorang yang kita anggap lebih berpengalaman. Tapi hal ini terbukti sangat problematik karena skena yang ada telah semakin terfragmentasi dan, dengan demikian, berisiko untuk dikendalikan oleh kelompok penulis elitis, yang, sebaliknya, mempromosikan penyebaran kesempatan-kesempatan dan pendanaan yang tidak setara. 

Selama beberapa tahun terakhir, sejak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia mulai menyediakan dana-dana hibah untuk menerjemahkan karya-karya Indonesia melalui sebuah program bernama LitRI yang dikelola oleh Komite Buku Nasional, yang para anggotanya termasuk Goenawan Mohamad dari Salihara, John McGlynn dari Lontar dan juga para perwakilan dari penerbit-penerbit besar Indonesia, jadi sangat jelas bahwa mereka telah mempromosikan para penulis yang itu-itu lagi di berbagai pasar buku internasional dan bahkan dengan bebas memberikan pendanaan pada proyek-proyek mereka sendiri. 

Menurut saya, “konflik kepentingan” adalah cara yang baik dan sederhana untuk menggambarkan situasi ini. 

Kolusi dan patronisasi seperti itu harus berakhir. Sebagaimana dikatakan Pramoedya Ananta Toer: “Seseorang yang berpendidikan akan adil dalam pemikirannya, apalagi dalam perbuatan-perbuatannya.” Semua penulis, selain juga seniman dari beragam disiplin, harus dipertimbangkan menurut kecakapan mereka dan bukan dari bagaimana terkait(atau tidak)nya mereka dengan kekuasaan. 

Saat ini, saya tidak bisa mengatakan bahwa saya optimistis. Namun begitu, pergerakan-pergerakan akar rumput dan arus samping terus berkembang. Banyak penulis muda Indonesia semakin sadar politik, pandai bicara, banyak akal, dan ingin tahu akan sejarah bangsa dan sastra mereka. Mereka yang memiliki kemewahan-kemewahan pendidikan, jaringan, pengikut di media sosial, dan/atau uang sehingga bisa meluangkan waktu untuk berpikir tentang seni dan pergerakan mereka kebanyakan mampu menggunakan kemewahan-kemewahan ini tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk teman-teman sebaya mereka yang tidak mendapatkan kemewahan-kemewahan tersebut. 

Karena hal ini, kadang-kadang di suatu malam saya berani bermimpi bahwa akan datang masanya di mana sastra Indonesia, baik itu dilahirkan di sebuah kota besar, desa terpencil, dalam buku harian seseorang, dalam sebuah aplikasi di ponsel cerdas, dan lalu diterbitkan atau didistribusikan melalui media sosial atau oleh sebuah penerbit besar maupun independen, akan merefleksikan kekayaan bangsa selain juga mencatat dan menebus dosa-dosa para penjaga gerbang sastranya. 

Dalam sebuah dunia yang ideal, saya ingin melihat sastra arus utama, para penerbit besar, dan himpunan-himpunan kebudayaan dapat hidup dengan berbagai kolektif indie, bawah tanah, dan arus samping untuk menciptakan, memenuhi, dan berkembang bersama di ekosistem sastra Indonesia. Bukan dengan mengkooptasi atau “menghadiahi” penulis dan/atau komunitas yang “lebih kecil”, atau dengan mengikutkan mereka dalam sebuah, misalnya, festival sastra yang “bergengsi” dan “mewah” (sayangnya, JILF adalah salah satu contohnya) sebagai penghibur-penghibur pinggiran, tapi dengan bekerja bersama mereka sebagai pembuat keputusan yang setara dan sebagai perwakilan dari masing-masing estetika dan ideologi mereka. 

Ketidaksetaraan di internet hanyalah ekses dari ketidaksetaraan di semua aspek kehidupan dalam sebuah masyarakat yang memang tidak adil. Masyarakat yang selalu tidak adil secara sistemik, baik kita hidup dalam era 2.0 atau 4.0. Mari kita tidak menutup-nutupi kenyataan dan mulai membuka mata kita akan ketidakadilan yang mencolok yang telah menodai bangsa kita selama berabad-abad. Selama skena sastra kita masih bergantung pada patronisasi dan kolusi, mari bersiap untuk fajar Ketidaksetaraan 5.0. 

*diterjemahkan dari versi asli berbahasa Inggris “Inequality 4.0 or Simply Inequality” oleh salah satu atau banyak dari Dean Benitez, Felicca Patricia Madiadipura, Isyana Artharini, Yoga Prasetyo Lordason, atau Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie untuk panel berjudul Inequality 4.0 di Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019; ditambah dengan revisi minor yang berhubungan dengan tata bahasa, dan kesalahan tulis di teks sumber

RADEN MANDASIA: DONGENG CAMPURSARI RASA MAJAPAHIT

Pesan Pembuka:

Saya prihatin, sedih, dan tentunya terganggu mendengar kisruh paling mutakhir di antara penulis dan penyair Indonesia. Ketidaksetaraan gender dan seksisme adalah hal-hal yang masih saja menjadi masalah dalam struktur kesusastraan Indonesia. Saya berterima kasih kepada kawan-kawan yang sudah menyuarakan pendapat. Opini saya sendiri sudah terwakilkan oleh beberapa dari kalian.

Ini mengingatkan saya kalau saya berutang untuk membagikan unedited version dari review “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi” karya Yusi Avianto Pareanom yang pernah terbit di Majalah Tempo Edisi 4 Juli 2016. Versi online-nya bisa diakses di sini.

Kebetulan saya memang sudah cukup lama mengenal Mas Yusi. Sejak awal 2000an, ketika saya masih aktif di Komunitas BungaMatahari (BuMa). Kalau tidak bertemu di acara-acara sastra, ya saat nongkrong di Coffeewar. Di acara yang lebih formal, ia mengundang saya jadi pembicara di sesi Inequality 4.0 JILF 2019. Oya, Mas Yusi juga ada di grup WhatsApp Residensi Penulis Indonesia (sebuah proyek bermasalah yang kapan-kapan akan saya bicarakan) Angkatan 2019 (((angkataaan))). Ya, karena ia termasuk sastrawan yang lolos seleksi. Intinya, sih, kami saling tahu posisi masing-masing di dunia persilatan sastra Indonesia. Dengan kata lain, bisa ngopi bareng tapi sering tidak sejalanterutama ketika Mas Yusi makin dekat dengan kekuasaan dan bahkan menjadi bagian dari kekuasaan tersebut. 

Jadi, ketika diminta membahas “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi”, saya cukup kaget karena dari konten promosi dan kutipan-kutipan yang diangkat, dugaan saya adalah buku itu bukan secangkir teh yang cocok untuk saya (berusaha mengikuti gaya Mas Yusi mengadaptasi idiom luar negeri). Lalu, kok saya terima permintaan tersebut?

Kita semua tahu khalayak pembaca Mas Yusi sudah sangat luas, dan ia pun berpengaruh dalam mengorbitkan karir sejumlah penulis muda. Saya mengiyakan karena saya merasa perlu menawarkan pembacaan berbeda terhadap novel tersebut sekaligus mencoba menyampaikan langsung kepada penulisnya (saya kan bacanya setelah novelnya selesai ditulis, bukan sebelumnya) kalau karyanya sungguh bermasalah. Lucunya, setelah saya mengatakan kalau saya merasa tidak nyaman dengan isi novel Mas Yusi, Yandri sebagai moderator, malah bertanya, kurang lebih begini: “Tapi, Mbak Anya gak terganggu kan bacanya?” *facepalm*

Lalu, saya berpikir, masalah ini tidak cukup diperbincangkan dalam acara 1-2 jam atau ulasan yang terikat jumlah karakter. Apalagi tak lama kemudian novel ini memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, yang menunjukkan bagaimana para penentu selera di dalam kesusastraan Indonesia lebih banyak berpihak pada karya laki-laki yang seringkali melanggengkan nilai-nilai patriarkal dan heteronormatif. Soalnya, kalau menurut saya, seksisme sistemik dan manifestasi ketidakadilan lainnya tak hanya berlaku di dalam “daftar-daftar” dan “penghargaan-penghargaan” yang ada di skena sastra Indonesia, tetapi juga punya potensi merembes ke dalam karya-karya yang dihasilkan di dalamnya, bahkan karya-karya yang paling digadang-gadang sekalipun.

Makanya, saya ingin membayar utang tersebut sekarang. 

~~~

RADEN MANDASIA: DONGENG CAMPURSARI RASA MAJAPAHIT

Novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom, pemenang penghargaan Kusala Satra Khatulistiwa 2016 yang di sampul depannya berlabel “sebuah dongeng” ini, mencampur aduk beragam unsur kultur pop mulai dari tahun 1960an sampai sekarang. Cerita silat Kho Ping Hoo dan Jaka Sembung; karakter Tintin, Kapten Haddock, bahkan si anjing Snowy (Milo di terjemahan versi terkini); referensi dari Asterix dan Obelix; kisah Nabi Isa dan Nabi Yunus yang dicampursari/mash-up dengan Pinokio dan Moby Dick; film laga 300 dan masih banyak lagi. 

Dengan ketangkasan dan kecerdikan Yusi bersilat kata, pamer wawasan jadi bumbu cerita yang sedap. Tidak hanya dialog antar karakter yang terasa hidup, adegan demi adegan di dalam buku ini diceritakan dengan sangat lancar dan sinematik sehingga menimbulkan keasyikan membaca. Ini sudah terasa sejak halaman pertama ketika kita berkenalan dengan Raden Mandasia dan Sungu Lembu—nama yang terakhir tokoh utama sekaligus narator buku ini. 

Salah satu motif yang juga dipakai Yusi untuk menebar pesona kepada pembacanya adalah makanan. Berbagai jenis makanan dari berbagai penjuru dunia antah berantah yang diciptakannya mendapat porsi yang istimewa di buku ini. Tentang daging sapi buatan Raden Mandasia misalnya: “… daging-daging yang cukup dibakar dua sisi sebentar saja sampai setengah matang supaya keempukannya terjaga sehingga lumer saat digigit…” (hal. 20). Dan tentang masakan bibinya, Nyi Banyak: “… setiap harinya selalu enak, mulai sukun goreng, ketan serundeng, pecel kembang turi yang sambalnya pedas legit, sampai nasi kuning gurih dengan ayam bakar tulang lunak ditambah sambal goreng hati… (hal. 85). Semua ini membuat saya seperti menonton acara-acara kuliner Andrew Zimmern dan Anthony Bourdain yang berkeliling dunia sembari mencicipi makanan-makanan setempat yang unik sekaligus sedap. Semakin saya mengikuti sepak terjang Sungu Lembu dan Raden Mandasia, saya kadang merasa mereka seperti duo foodie snob dan travel junkie dari zaman Majapahit yang keluar dari saluran televisi gaya hidup. 

Gaya campursari itu diramu Yusi secara halus dan dengan teknik menulisnya yang hampir tanpa cela, saya tak heran banyak pembacanya yang mengklaim bisa melahap buku ini hanya dalam semalam atau dua. Pilihan Yusi menulis dengan gaya seperti itu juga membuat saya dengan girang menjuluki karya ini sebagai sebuah “babad milenial”. Yusi melakukan campursari antara tokoh-tokoh dari dongeng masa lalu dan dongeng masa kini dengan memukau. Bahkan Yusi mengadon pemikiran rasional dan takhayul di dalam maupun di antara karakter-karakternya, sebuah siasat yang sungguh canggih.

Tapi, ada yang mengusik saya, yaitu karakter Sungu Lembu (dan kebanyakan karakter laki-laki lainnya) yang terlampau macho dan seksis. Dalam sebuah diskusi di peluncuran buku ini—di mana saya jadi salah satu pembicaranya—Yusi mengatakan kalau Sungu Lembu memang sengaja ia bentuk menjadi karakter anak muda yang politically incorrect untuk menggulirkan cerita. Ini memang sepenuhnya hak Yusi sebagai penulis, tetapi sampai sekarang saya masih mempertanyakan sekaligus menyesali, mengapa Yusi mengambil keputusan itu—apalagi karena Yusi juga dikenal sebagai pengajar kelas penulisan kreatif yang sudah menelurkan sejumlah penulis muda. Sayang sekali kalau itulah warisan yang ingin ia turunkan kepada murid-murid dan pembaca-pembaca mudanya. 

Sudah banyak sastrawan dunia yang menulis ulang atau mencuri dongeng-dongeng yang sudah familiar di kalangan pembaca mereka untuk kemudian didaur ulang menjadi dongeng yang baru. Tetapi, mereka melakukannya dengan maksud yang jelas, misalnya untuk melawan nilai-nilai moral yang berlaku pada masa itu. Salah satu contoh yang lebih spesifik misalnya untuk melawan nilai-nilai patriarki yang menindas dan membatasi gerak-gerik perempuan, seperti yang dilakukan Angela Carter lewat kumpulan ceritanya yang berjudul The Bloody Chamber. Buku ini bahkan dianggap tidak hanya menulis ulang tetapi juga memanfaatkan motif-motif dongeng untuk lebih jauh mengeksplorasi bagaimana laki-laki dan, terutama, perempuan menemukan atau kehilangan diri mereka. 

Yang jelas, kalau dibandingkan dengan The Bloody Chamber, buku ini lebih mengeksplorasi kehidupan laki-laki yang heteronormatif, khususnya laki-laki ABG seksis seperti Sungu Lembu, karena ialah narator di cerita ini. Hasilnya, saya sebagai pembaca, suka atau tidak, harus melihat dunia di dalam buku ini lewat mata Sungu Lembu. Karakter-karakter perempuan di buku ini, mulai dari yang berperan kecil maupun besar, dilukiskan sebagai hidangan yang sama sensualnya seperti makanan-makanan yang disantap Sungu Lembu dan Raden Mandasia. Semua perempuan beragam rupa, bentuk, asal usul, profesi tak lain dan tak bukan berfungsi untuk melayani selera kedua lelaki tersebut. Atau sebaliknya, perempuan-perempuan itu begitu anggun dan suci sehingga memuaskan mata mereka dan/atau karakter laki-laki lainnya. Ya, tetap saja sebagai tontonan bahkan suguhan (seperti daging sapi!). 

Saya sangat berduka mengikuti perjalanan hidup perempuan-perempuan di dalam buku ini. Saya tidak bisa menghitung lagi berapa banyak perempuan yang berpengaruh di dalam kehidupan Sungu Lembu, tetapi kelihatannya hanya sedikit yang bertahan muncul cukup lama dan berumur panjang. Di dalam novel sepanjang 450 hal ini, perempuan-perempuan itu menghabiskan kebanyakan hidup mereka di dalam ruangan, mulai dari dapur, ruang tamu, rumah judi, dan tentu saja kamar tidur.  

Nyai Manggis adalah salah satu karakter perempuan ‘kuat’ di dalam kisah ini, tetapi kekuatannya tetap saja digambarkan bersumber dari kecantikan paras dan tubuhnya. Boleh saja memang memandang kedua hal tersebut sebagai kekuatan perempuan, tetapi apakah kekuatan perempuan hanya itu? 

Nyai Manggis mendapat banyak sekali perlindungan dari laki-laki. Ia bisa mencapai posisi yang disegani sebagai pemilik rumah dadu dan pejuang bawah tanah melawan kekuasaan rezim Watugunung—karena laki-laki. Hal ini diakui Nyai Manggis sendiri ketika ia menyadari ternyata ia mencintai Bandempo karena laki-laki itu ”menghormati dan memberinya kepercayaan” (hal. 154). Ini mungkin bisa dibaca sebagai kecerdikan dan kepanjangakalan Nyai Manggis dalam menggunakan privilesenya walaupun privilese itu datang dari laki-laki yang memiliki banyak privilese juga. Tetapi, ajalnya yang terlalu sederhana membuat saya meragukan pembacaan itu. Hanya karena sebuah teriakan gemulai, habislah peran Nyai Manggis yang menurut Yusi di dalam diskusi sukaria kami malam itu, “progresif”. Progresif? Kok, tiba-tiba saya ingin bernyanyi, “Waniii ta diii jajaaah pria sejak dulu…

Tokoh perempuan yang sebenarnya menjadi favorit saya adalah Parwati, salah satu tokoh dengan hidup terpendek di buku ini. Ia adalah seorang penari ronggeng yang tidak termakan bujuk rayu Sungu Lembu sehingga Sungu Lembu menjadi terobsesi dan mengikuti rombongan tari Parwati sampai satu setengah bulan. Mereka akhirnya bercinta, tetapi dengan cara yang tidak sesuai dengan bayangan Sungu Lembu. Begitu tidak sesuainya, Sungu Lembu malah “hanya bertahan sebentar” (hal. 116) serta merasa telah “dimanfaatkan” dan “kotor” (hal. 117). Tak lama kemudian Parwati sakit parah dan… ya benar, ia menemui ajalnya.

Setelah Parwati, Sungu Lembu mengalami lagi kejadian semacam ini. Kali ini di kamar Nyai Manggis yang ingin menghukumnya karena berani menyatakan cinta kepadanya. Nyai Manggis menutup mata dan mengikat Sungu Lembu di tempat tidurnya kemudian mengirimkan tiga perempuan penghibur untuk “menyerang”-nya (hal. 119-120). 

BDSM (Bondage, Discipline, Sadism and Masochism) adalah kegiatan seksual yang sangat berkaitan dengan permainan kuasa, orang-orang yang memutuskan untuk terlibat di dalamnya biasanya sudah mengikat kontrak dengan satu sama lain sebelum dengan sukarela menjalankan peran dominan atau submisif untuk pada akhirnya mencapai kenikmatan bersama. Tetapi, Sungu Lembu ternyata memaknai BDSM dengan terlalu sederhana. Walaupun di tengah-tengah permainan ia sempat teringat akan pengalamannya dengan Parwati dan juga “bertahan sangat sebentar” (hal. 120), setelah itu ia kembali lagi menjadi ABG bingung yang “tak akan pernah paham pemikiran perempuan” (hal. 120). 

Tentunya, saya tak ingin mendikte perasaan Sungu Lembu. Saya hanya menyayangkan bagaimana seks selalu digambarkan menyenangkan bagi banyak karakter laki-laki di buku ini, dalam bentuk maupun keadaan apapun kegiatan tersebut dipraktekkan. Seakan-akan seks hanya semacam hiburan gratis yang perlu dinikmati saja, bukan bentuk hubungan antarmanusia yang sangat mungkin dipakai sebagai alat kekerasan. Pada kenyataannya, perkosaan laki-laki, baik dilakukan oleh sesama laki-laki maupun perempuan, adalah hal yang sangat serius, sering terjadi, dan dapat mengakibatkan gangguan psikis yang sama beratnya dengan perkosaan yang korbannya perempuan. (Bagi yang tak percaya laki-laki bisa diperkosa, silahkan masukkan ‘male rape’ ke dalam mesin pencari Anda.)  

Saya sungguh menyayangkan bagaimana seks dalam dongeng ini—dan banyak hal lain—sebagai konsekuensi POV penggulir cerita Sungu Lembu yang politically incorrect dan naif itu, jadi sering digambarkan dengan simplistik, tidak mempertimbangkan dimensi lain yang lebih kompleks. Apa poin menggambarkan dunia dan peristiwa-peristiwa di dalamnya dengan simplistis di novel (se)besar ini? Apa tujuan segala kecanggihan akrobat teknik penulisan Yusi di dalam, sekali lagi, novel (se)besar ini? 

Padahal, menurut saya, jika ia ingin, Yusi mempunyai banyak kesempatan untuk mengembangkan karakter Sungu Lembu untuk menjadi lebih peka dalam melihat peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Contohnya, lewat hubungan Sungu Lembu dengan pamannya Banyak Wetan. Ia banyak membekali Sungu Lembu dengan peristiwa-peristiwa pemberontakan rakyat yang disebabkan oleh ketidakadilan yang terjadi karena perbedaan kelas. Banyak Wetan juga membekali Sungu Lembu dengan keahlian bela diri, meramu racun, dan buku-buku pengetahuan. Karena semua itu, Banyak Wetan adalah seseorang yang sangat dihormati dan disayangi Sungu Lembu.

Hm, apakah ini kuncinya?

Saya memang tidak bisa mengharapkan Yusi memanipulasi struktur dan motif babad-babad lain untuk mengomentari atau mengkritik kerakusan manusia beserta norma-norma sosial yang tidak ramah pada kaum tertentu. Sepertinya, saya perlu menerima saja kalau Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah salah satu usahanya sebagai seorang “paman” untuk memamerkan jurus-jurus andalannya demi memukau penulis-penulis muda yang diasuhnya. 

Jadi, buat apa saya menulis ulasan ini, ya? Hahaha.

Ya, sudahlah, sudah kepalang tanggung. 

Buku ini diwacanakan sebagai dongeng yang tidak ingin menggurui atau memuat pesan moral apa pun. Sesungguhnya, saya kurang percaya wacana ini, sehingga saya akan tetap bertanya: Bukankah memilih untuk menulis tanpa pesan moral juga sebuah bentuk moralitas, bahkan posisi politis? Dan apakah proyek untuk mendongeng saja dan tidak melakukan kritik sosial ini jadinya malah melanggengkan nilai-nilai maskulin/heteronormatif/seksis yang sampai saat ini merupakan masalah besar di banyak bidang kehidupan manusia?

Saya setuju kalau di dunia yang sudah penuh masalah dan hidup sehari-hari begitu berat, terkadang kita perlu santai sedikit. Toh, sejak awal manusia memang selalu saling tipu, saling bunuh. Mungkin inilah pesan Yusi lewat dongengnya. Namun, menelan bulat-bulat pandangan semacam ini bisa juga membuat kita tersedak, apalagi jika kita letakkan buku ini dalam konteks sastra, politik sastra maupun politik negeri ini yang masih sarat dengan ketidakadilan. 

Sepertinya saya perlu minum segelas tuak atau setidaknya kahwa hangat bersama Sungu Lembu, yang kemungkinan besar malah akan saya keplak karena memelototi susu saya, sambil merenungkan jurus manakah yang lebih penting ketika seseorang menulis sebuah dongeng: teknik atau isi?

top 10 pertanyaan buat 50 album musik terbaik indonesia 1955-2015

setiap kali ada usaha untuk mengkanonisasi anything, pertanyaan pertama yang harusnya dipikirkan adalah, siapa sih ini yang mau kanon2an? di kasus kali ini, buku “this album could be your life: 50 album musik terbaik indonesia 1955-2015” terbitan elevation books, penulis2nya bisa dideskripsikan sebagai gang jakartabeat, situs musik/pop culture yang udah metong di pertengahan 2010-an. tulisan2 musik di jakartabeat sering punya ambisi jadi semacam senyawa antara chuck klosterman dan jacques derrida, pengennya kitschy sekaligus—memakai istilah yang lagi heitz setelah perdebatan tentang film tilik—ndakik2. hasilnya ndakik2nya sering kerasa dipaksain ditempel2in aja sehingga senyawanya gak jadi kayak mark fisher malah jadi… nuran wibisono chuck klosterman. more kerplunk than k-punk.

elevation books dimiliki oleh taufiq rahman, yang juga cukong—memakai istilah buat label owner yang dipakai di buku ini—elevation records. terbitan elevation books yang paling menarik buat saya adalah “setelah boombox usai menyalak”, kumpulan esai ucok homicide (edisi terakhirnya memuat esai asoy tentang portishead yang mereferensi mark fisher). rilisan elevation records yang saya paling suka belum ada, tapi dua masuk di buku ini: semakbelukar dan bandempo. apakah posisi taufiq sebagai salah satu penulis di buku ini jadi bermasalah karena selain harus menjadi kritikus/kurator/juri/gatekeeper dia juga seorang cukong label aka produsen? mungkin sebenernya nggak juga, toh mendirikan sebuah label dan merilis rekaman juga sebuah usaha untuk menyusun kanon. paling nggak sekarang kita malah bisa melihat bisa nggak dia menjustifikasikan pilihannya pada semakbelukar dan bandempo (both sebagai cukong label dan sebagai kurator daftar ini)?

dari awal mendengar berita tentang buku ini sebenarnya saya udah rada zzz dengan judulnya. bukankah buku klasik azerrad mengangkat band2 indie underground yang dihapus dari sejarah rock, sementara daftar ini—yang dari komposisi penulisnya bisa dikira2 pasti akan memasukan koes plus, dara puspita, badai pasti berlalu, iwan fals, dan favorit2 oom2 boomer lain (dan emang bener)—bakal mengangkat band2/arteiz2/album2 yang udah legendaris hence mainstream semainstream2nya? judul ini false advertising atau nafsu mendakik2 ala jakartabeat tadi? “waaa keren ni bor kalau judulnya plesetan dari our band could be your life! ya nggak ya nggak,” jerit si nafsu mendakik2.

sambil menunggu buku ini nyampe ke rumah, saya mendengarkan rekaman virtual launch buku ini, yang diberi tajuk “esoteris atau laris?” selain penggunaan kata “esoteris/k” oleh taufiq yang rada aneh (“kita kan selalu memperhitungkan bahwa ini album bagus secara esoterik…”—1:35:24 di link di atas—sejak kapan esoteris jadi penanda kualitas?), satu hal lagi yang mengusik di diskusi ini adalah lho kok sepertinya penulis2nya masih bingung parameter “terbaik” di buku ini apa sih sebenernya? kok kayaknya mereka masih ragu-ragu icuk antara “terbaik” dan “paling berpengaruh”? gimana nih, kan bukunya udah rilis!

setelah itu saya juga mendengarkan interview taufiq dengan felix dass di rururadio. kebingungan kembali melanda. selama interview saya layangkan tiga pesan waslap ke felix yang baru terbaca setelah acara selesai.

ternyata setelah mulai membaca bukunya, pertanyaan2 saya makin banyak. daripada hilang ditelan pandemic amnesia, mending saya daftar di sini. inilah, 10 pertanyaan terbaik tentang 50 album musik terbaik indonesia (dikurasi oleh dewan juri manel saya sendiri):

  1. what’s with the inlanderism? intro buku ini (yang ditulis taufiq) diawali dengan generalisasi “orang indonesia memang banyak bicara”. such self-hatred. asersi yang lebih pantas masuk kanon stereotypes mochtar lubis “manusia indonesia” daripada sebuah daftar album best of. contoh lain lagi: “jauh sebelum media sosial membombardir penggunanya dengan lanskap kota-kota besar dunia, fariz sudah menulis kisah-kisah romansa dari lawatan ke barcelona, negeri sakura, dan los angeles. bayangkan imajinasi yang timbul di benak pendengar di kupang atau manado ketika mendengarkan lagu-lagu dari album yang bertajuk ‘living in the western world’.” (hlm. 185) this one basically borders on racism. minta ditimpuk cap tikus ga sih. jakarta gaze yang membayangkan orang kupang dan manado sebagai orang2 primitif tanpa imajinasi kosmopolitan (gaze yang juga berasumsi bahwa imajinasi kosmopolitan = kemajuan), wow, not ok boomer. ada juga ini: “tidak berlebihan jika mengatakan bangsa indonesia adalah salah satu yang paling khusyuk berdoa, paling dalam tenggelam di alam maya dan paling sibuk mencari surga…” (hlm. 226) hmmm no, emang berlebihan. file under: mochtar lubis, manusia indonesia, stereotyping, essentialism, native orientalist, latent inlanderism.
  2. ternyata tidak ada penjelasan perdebatan antara parameter “terbaik” vs. “paling berpengaruh” yang beberapa kali disebut di dua diskusi tadi di bukunya sendiri. atau penjelasan tentang parameter apapun. yang ada hanya klaim2 bombastis yang nggak menjelaskan atas dasar apa ke-50 album ini dipilih: “kami berdiskusi panjang dan sengit”, “pertemuan informal dengan minum kopi”, “membongkar bersama koleksi2 lama yang telah berdebu” (terbaik kok ga pernah didengerin?), “kami melakukan semuanya dengan kesadaran penuh bahwa apa yang dirilis pada tahun 2015 harus bisa diukur dengan standar yang juga akan diterapkan kepada musik dari dekade emas 1960-an dan 1970-an”—ya tapi standarnya apaaa bambang? eh taufiq, bin, idhar, samack, acum? satu2nya tanda kebingungan soal parameter ini ada di pembukaan artikel tentang igor tamerlan: “tiap era memiliki visioner-nya masing2. dekade 1970-an menghasilkan harry roesli, 1990-an punya sujiwo tejo sedangkan 2000-an memiliki zeke khaseli.” (hlm. 201) sepertinya ini satu2nya hint di buku ini bahwa para kuratornya ternyata mungkin mempertimbangkan juga faktor keberpengaruhan album/artisnya di daftar ini selain faktor terbaik/bukannya (secara estetika). but then again, if zeke was a visionary, kenapa albumnya zalacca salacca di nomor paling tidak terbaik/tidak berpengaruh, 50?
  3. di intro ada cerita (get yer violins out) “banyak ego yang terluka dan hati yang tersakiti ketika harus… menghadapi keputusan bahwa “badai pasti berlalu” tidak seharusnya ada di posisi sepuluh besar”. (hlm. 4) tapi lihat halaman 153: badai pasti berlalu ada di posisi… 5. buku ini diedit nggak ya? di intro ini juga ada klaim “daftar yang kami susun secara sadar mempertimbangkan representasi geografis dan gender yang lebih adil”. kenyataannya, hanya ada 2 (dua) album oleh artis perempuan di daftar ini, “melayang” january christy dan “jang pertama” dara puspita. doesn’t sound very adil to me. [edit: 28 agustus 2020, 22:58 WIB, as pointed out by ratri ninditya aka lolipopsuper, salah satu penulis popteori, representasi perempuan yang nyaris nihil ini tidak mengherankan karena kurator dan penulisnya semua cowok] saya menyadari titimangsa intro ini, “11 september 2019”. sementara buku ini baru terbit agustus 2020. karena ada juga ketidaksesuaian soal badai pasti berlalu, saya jadi bertanya2 apakah intro ini mungkin ditulis sebelum daftarnya selesai? tapi lagi2, jikapun itu benar, diedit gak sih buku ini?
  4. kenapa riri riza, seorang filmmaker, yang menulis sekapur sirih? and it’s not like he said anything interesting? beli kaset di jalan sabang, ikut pensi, mulai suka thrash di awal 90-an—ini ceritanya bahkan lebih klise daripada aadc!
  5. dalam entri tentang “ports of lima” sore (nomor 2) idhar resmadi memparalelkan kelahiran pop kreatif setelah pop kuacian dengan kelahiran “paloh pop” setelah pop melayu revival. in terms of timing bisa aja, tapi insinuasi bahwa sebagai genre paloh pop sebesar dan sepenting pop kreatif dalam sejarah musik indonesia? tolong dong dikasih justifikasi yang lebih kreatif (pun intended) daripada timing doang? kesimpulan2 mentah seperti ini lumayan sering dijumpai di buku ini, kadang diperparah dengan statement yang vague (atau vague karena kesimpulannya emang masih gak jelas?). misalnya: “kisah tentang perlawanan dara puspita menjadi semakin mempesona dengan persinggungan antara hiruk-pikuk masyarakat post-kolonial dan gerakan feminisme dunia ketiga dari era gerwani.” (hlm. 168) “mempesona”-nya itu gimana sih? dara puspita dimentori koes plus, so supposedly soekarno juga ga suka mereka? tapi gerwani pro-soekarno. so, were dara puspita feminists but not the gerwani kind? atau gimana? ada juga: “benny merekam ulang situasi mencekam gestapu pki dan menyimpulkannya sebagai sebuah perang jahat…. ‘in 1965’… menceritakan ulang ketakutan anti-komunis dari tahun gestapu.” (hlm. 177-178) jadi sebenernya si benny soebardja ini anti- atau pro-pki sih? selain statement yang vague, banyak juga statement2 bombastis yang segera diikuti dengan argumen yang nggak nyambung, misalnya: “keajaiban terbesar album ini tentu saja adalah olah vokal david, yang menyelam begitu dalam ke tradisi melayu lama dan bahkan bisa membuat p. ramlee dan oslan husein berbangga. ‘kok saya tidak pernah tahu siapa itu oslan husein,” david menjawab ketika ditanya seberapa jauh dia mengerti musik melayu lama.” (hlm. 223, tentang semakbelukar) *facepalm
  6. di halaman 323, samack mengeluhkan tentang “‘kecerobohan’ khas indonesia” (inlanderisme ini emang menular ya) yang termasuk “selalu saja ada typo yang tidak perlu”. di halaman yang sama dia langsung typo sendiri narsisistik jadi narsistik. perlu gak nih typonya? more ironic still, tentu banyak banget typo di buku ini (eg, puisi jadi puasa di entri tentang “orexas” remy silado). dan itu bukan masalah terbesar buku ini dalam hal ketidakakuratan. ada yang lebih gawat lagi, misalnya malapropism (eg—masih di entri tentang orexas, ditulis oleh acum, “apa yang dikatakan remy di lagu ini adalah sesuatu yang bahkan tidak sanggup dilakukan oleh musisi kita hari ini, bahkan yang paling underrated sekalipun.” (hlm. 274) sama masalahnya dengan pemakaian kata esoteris yang nggak pas/salah-makna tadi, sejak kapan “underrated” jadi sinonim “bagus”?) di artikel yang sama acum juga menulis “album ini bisa menjadi kompas dan pedoman bagi mereka yang ingin membuat lirik yang kritis tanpa tedeng aling-aling namun dengan gaya bahasa sastra mbeling yang tetap membuatnya berkelas.” walaupun ciri khas puisi mbeling ala remy sylado memang kritis dan tanpa tedeng aling-aling, tujuannya justru untuk menghancurkan puisi2 yang sok berkelas dan mahaadiluhung. mosok di sini malah dikontraskan dengan being critical and direct? habis malapropism, yang juga gawat adalah historical inaccuracies yang bertebaran di mana2, eg, idhar menulis “pemerintah orde baru lewat menteri penerangan sempat melarang musik pop kuacian berkembang”. sepertinya maksud dia sebenarnya adalah pop cengeng macam betharia sonata “hati yang luka”—yang dilarang menpen legendaris harmoko (saya masih ingat nonton laporan khususnya di tv. ok, boomer). pop cengeng adalah near-contemporary pop kreatif yang mulai muncul awal 80-an. sebagai seseorang yang di biografi di situs pribadinya mengaku sebagai penulis dan peneliti musik, howler macam ini rasanya inexcusable. (ya, some of these pertanyaan are actually pernyataan) ada juga ini: “yang paling sering terjadi adalah musik rock dan pop dipakai sebagai soundtrack bagi film-film yang kemudian menjadi warisan budaya; seperti ‘the blue danube’ yang menjadi abadi ketika menjadi latar bagi ‘2001: a space odyssey'” (hlm. 153). the blue danube memang lagu pop… di tahun 1866. di tahun 1968 pas space odyssey keluar the blue danube udah jadi abadi lebih dari 100 tahun. dan ini: “di tahun 1980-an, hanya ada dua pilihan untuk penyanyi perempuan indonesia: jarum neraka atau hati yang luka. nicky astria atau dian piesesha.” (hlm. 235) yessy robot kaliii. *roll eyes
  7. spekulasi2 lebay juga sangat mengganggu, straight from the nirwan dewanto school of criticism, “saya membayangkan…”, eg, “jika saja kemudian [benyamin] tidak terlalu sibuk di layar lebar, musik indonesia di awal 1980-an mungkin sudah memiliki album penuh seruwet ‘trout mask replica’ dari pahlawan betawi ini. mungkin.” (hlm. 151) yes, mungkin. in the absence of trout mask meleduk, can we stick to what actually happened?
  8. buku ini memasukkan banyak detil2 yang sepertinya diambil dari primary atau secondary sources (suara kereta api bocor ke studio pas rekaman “oi, kampuang” orkes gumarang, detil2 “recording boom” tahun 1920-an), tapi sering tidak disebutkan sourcesnya atau sering penyebutan sourcenya terlalu selektif. di halaman2 yang menyebutkan recording boom tadi, nama michael denning disebut, tapi cuma sebagai pendefinisi istilah “vernacularization of music”. detil2 yang sepertinya juga diambil dari bukunya “noise uprising” (juga tidak disebut) tidak diberi catatan kaki yang sebenarnya perlu. cobbling seperti ini juga inexcusable, especially buat buku yang suka menyindir2 hobi menyontek band2 seperti god bless di daftarnya sendiri.
  9. ketidaknyambungan dalam buku ini juga dijumpai dalam banyak usaha membuat oneliners yang supermaksa, eg, “woody allen pernah mengatakan bahwa ‘showing up is 80 percent of life’. untuk khasanah musik pop, adagium itu bisa dimodifikasi menjadi 80 persen mitos dan 20 persen keterampilan (skill) dalam bermain musik.” (p. 184) kayaknya non-sequitur stephen malkmus pun lebih make sense deh daripada ini. and can you get more ndakik2 than adagium? banyak juga kalimat2 berbunga2 sok puitis yang jadinya gak make sense maupun puitis, eg, “masih ada bunga jatuh ke kuping walau didengar sering. keringat perlawanannya pun, ke luar dan ke dalam, belum kering.” (hlm. 257, bin dan taufiq tentang kantata takwa) ??? ke luar? ke dalam? keluar di dalam ajaaaaa.
  10. and what’s with the hyperbolae? ini yang bikin saya jadi berpikir sebenernya entri2 di buku ini lebih pantas jadi liner notes daripada sebuah critical assessment sebuah album. “karya eksperimental yang monumental”, “ditopang semangat anti-mainstream yang paling jauh di garda depan”, “loncatan yang terlalu jauh”, “melampaui semua musik pada zamannya”, “visi avant-garde canggih yang terlalu maju pada masanya”. (hlm. 205, itu baru tentang satu album, “langkah pertama” igor tamerlan, no. 17) udah garda depan masih avant-garde lagi, kurang hiperbolik nih penulisnya!

inlanderisme penulis2 buku ini mungkin alasannya kenapa ada cukup banyak artis/album yang mereka pilih adalah artis/album yang pernah direissue oleh label2 luar negeri, seperti benny soebardja, aka, dan kelompok kampungan yang dirilis label reissue kanada strawberry rain, dara puspita dan koes bersaudara yang direissue label seattle sublime frequencies, dan shark move dan guruh gypsy yang direissue shadoks music dari jerman.

menarik bahwa di about page mereka, sublime frequencies mendeskripsikan diri sebagai “a collective of explorers dedicated to acquiring and exposing obscure sights and sounds from modern and traditional urban and rural frontiers”. saya langsung kepikiran tentang alfred russel wallace, van der tuuk, rumphius, dan eksplorer2 kulit putih lain yang menjadi tenar dari mengeruk curiosities from the east. remember rumphius’ “amboina curiosity cabinet”? atau (at the risk of sounding ndakik2 kayak penulis2 buku ini) tren mengoleksi cabinets of curiosities di antara aristokrat2 eropa abad 16-an?

tapi ini memang issue yang menarik. jadi nyambung (semoga) dengan apa yang sering saya pikirkan sedang terjadi dengan dunia film dan sastra indonesia. inlanderisme (aka, fetishism of the west) bisa menjadi alasan kenapa beberapa orang baru mau menyukai karya lokal setelah karya tersebut mendapatkan pengakuan di luar negeri, hence the wregas bhanuteja/cecep anggi noen effect di skena film indonesia dan eka kurniawan effect di skena sastra.

apakah buku ini hasil dari sebuah strawberry rain effect? atau, karena taufiq sendiri adalah seorang cukong label yang sudah mengeluarkan reissues dari dua album yang ada di daftar ini, sebenarnya ia menyimpan ambisi menjadi strawberry rain/sublime frequencies/shadoks/explorer of esoteric sounds sendiri? apakah sebenarnya buku ini memang koleksi liner notes buat rilisan2 masa depan elevation records? ha! this book could be his life!

apa yang berharga dari

menarik membandingkan interpretasi malkan junaidi tentang arti metaforik “istirahatlah” dalam puisi wiji vs. artinya setelah dijadikan judul film biopik itu.

dalam film itu, ada mixed messages soal “istirahatlah”, di satu sisi wiji digambarkan mengeluh soal nggak bisa tidur, di lain sisi dia digambarkan tidur melulu, bahkan waktu ketemu anaknya lagi (yang begitu dia rindukan menurut film ini dengan petunjuk2 audio klise seperti tangisan bayi dan kepedulian wiji pada bayi tetangga di pengasingan yang menangis tiap kali lampu mati (listrik gagal masuk desa?)) instead of main2 sama anaknya melampiaskan kekangenan dia juga malah tidur nyenyak (lagi).

memang puisi “istirahatlah kata-kata” dalam film itu termasuk yang dihidangkan (dalam voice over yang lumayan kena, pelonya gunawan maryanto keren) secara hampir penuh, kalau tidak salah sampai baris “kita bangkit nanti” kalau nggak sampai habis (lupa). jadi kalau mau generous, ada celah untuk menginterpretasi film ini sebagai waktu tidur, siesta, buat kata-kata, untuk bangkit nanti (di sequelnya, hanya ada satu kata: lawan!? 😛).

tapi kemudian kita harus mempertimbangkan dua hal lagi (paling tidak) menurut saya sebelum memutuskan kira2 sutradara ini pakek judul itu kenapa: film2 sutradaranya yang lain dan aspek2 lain dalam film yang ini selain pemanfaatan judul puisi tadi.

kalau kita lihat di film2nya yang lain dari vakansi yang janggal, lady caddy who never saw a hole in one, sampai kisah cinta yang asu, sutradaranya si cecep ini memang lihay memberi kesan seolah2 film2nya mengandung social commentary padahal konsentrasinya lebih ke kisah romancenya, yang seringnya juga difokuskan kepada ketegangan seksualitas yang direpresi (instead of perjuangan rakyat yang direpresi).

seperti saya tulis di review saya, this guy is like the gm of indon indie filmmaking. kemudian salah satu bagian lain dari film ini yang sangat merepresentasikan pov sutradaranya adalah keputusannya mengubah scene di puisi baju loak sobek pundaknya wiji jadi beberapa scene yang menampilkan rok mini merah menyala.

itu penting banget menurut saya.

seperti ditunjukkan mumu aloha di tulisan ini, salah satu senjata wiji dalam menulis puisi adalah kritik intertextualnya terhadap influencesnya yang terlalu borjuis seperti subagio dan rendra.

puisi2 wiji kalau pake bahasa afrizal di esai ini mengganti mata kedua dan ketiga penyair2 macam rendra dan subagio tentang kehidupan wong cilik dengan laporan pandangan mata pertama langsung dari dunia kemiskinannya.

dia saksi sejarah kehidupan rakyat miskin di indonesia. baju loak sobek pundaknya dalam puisi wiji adalah simbol yang sangat kuat buat penderitaan rakyat miskin yang diopresi orba waktu itu, dan lebih spesifik lagi, penderitaannya sebagai buron yang diburu penguasa karena berorganisasi.

“karena aku berorganisasi bojoku.”

(perhatikan baju itu sobek di pundaknya, tempat epaulet tanda pangkat dipasang di seragam tentara).

“baju” ini diganti menjadi rok mini merah, yang walaupun loakan juga, dengan drastis mengganti isi puisi wiji itu menjadi apa ya? hasrat bercinta yang istirahat selama pengasingan? “merah”-nya perjuangan wiji? darahnya yang tak lama setelah itu ditumpahkan kopassus?

sepertinya interpretasi pertama yang lebih mungkin, mempertimbangkan kecenderungan filmmakernya dalam film2 sebelumnya dan juga scene selanjutnya di mana si wiji meminta sipon memakai rok mini itu waktu mereka check in di hotel di solo pas dia akhirnya pulang.

(ingat juga di puisinya, wiji menunda kepulangan itu, “kalau aku pulang bojoku”.)

dalam dunia perwacanaan puisi ini, baju loak yang jadi simbol rindu wiji pada sipon (udah powerful) yang diiringi penjelasan kenapa rindu itu mungkin tak akan kesampaian (karena wiji adalah buronan penguasa, jadi makin powerful dan mengharukan), diganti dengan simbol lain yang klise (rok mini merah, kira2 simbol seksualitas nggak yaaa) dan menyempitkan puisi aslinya (kalau kita menganggap versi film ini sebagai “puisi” alternatif (more on that later).

penggantian simbol ini, dalam film yang katanya puitik, mementahkan kritik puisi2 wiji terhadap puisi2 salon pendahulunya seperti yang dijelaskan mumu tadi.

puisi wiji yang dengan jeli menyinyiri problem kelas menengah subagio (pantalon sobek etc) dengan menggelarkan problem real rakyat miskin (becak rusak, baju loak, etc) dibalikkan lagi menjadi puisi salon tentang seksualitas (bukan perjuangan berorganisasi!) yang terrepresi.

menimbang2 semua hal ini, sepertinya lebih banyak bukti tekstual dan kontekstual yang menganjurkan bahwa si sutradara film ini sebenarnya mungkin gak sedalam2 itu amat mempertimbangkan konsekuensi peminjaman judul istirahatlah kata-kata untuk judul filmnya.

mungkin kita malah perlu lebih banyak melihat pewacanaan arti film ini oleh pihak2 yang mendukungnya, yang sejauh ini selalu menekankan betapa berartinya kesunyian dalam pengasingan wiji, bahwa inilah penderitaan yang sebenarnya, bukan dimasukkan ke dalam tong hidup2 kemudian dilarung di kepulauan seribu!

untuk soal ini sepertinya masalahnya simpel aja, sutradaranya predictably masih terhegemoni oleh kanonisasi puisi indonesia oleh kaum manikebuis salaharahis, yang selalu mengagungkan kesunyian, kesepian, penantian blablabla di atas chaosnya perjuangan yang kayaknya gimana ya kayaknya kok norak bener kalau dijadiin subyek film art house! jadi con air nanti!

*foto dari antitankproject.wordpress.com

apa sih maksudnya figur perempuan anti-stereotip di drama korea?

tulisan ini akan mereview serial Extracurricular untuk merespon artikel ini.

di artikel tersebut, ada beberapa masalah. masalah ini penting untuk saya tulis karena ini berkaitan dengan gimana definisi tentang “perempuan berdaya” sering dibicarakan. kita terlalu sering mengangkat keberhasilan perempuan mengangkat dirinya sendiri di dalam lingkup industri dan korporasi sebagai ukuran pemberdayaannya. figur perempuan dingin dan “rasional” dengan killer look hak tinggi dan lipstik merah, anti pernikahan dan tinggal sendirian di sebuah apartemen mewah telah menjadi pahlawan-pahlawan para perempuan di budaya populer.

kenapa kita suka banget championing figur perempuan yang sukses di karir sebagai perempuan berdaya? mereka benar berdaya, tapi hanya sebagian saja benarnya. bukankah dia masih ditindas sama sistem kapitalisme ketika dia cuman sukses jadi CEO startup digital? keberhasilan individu tidak semerta-merta menjadi ukuran sebuah perjuangan feminisme. pandangan ini akan memerangkap kita dalam narasi postfeminisme, yang menganggap perjuangan telah usai hanya karena kini perempuan sudah “bisa cari duit sendiri”.

jika kita mengklaim bahwa sekarang drama korea sudah menampilkan tokoh perempuan yang jadi fokus utama cerita, membongkar stereotipe, dan multidimensi seperti artikel yang saya sebut di atas, itu tidak tepat. keberhasilan drama asia timur di pasar indonesia justru berporos pada karakter perempuan yang jadi fokus cerita, membongkar stereotipe, dan multidimensional. drama-drama ini menghadirkan suatu kebaruan dari tren sinetron dan drama bollywood yang populer di era 90-an. sejak awal popularitas drama taiwan-korea-jepang, karakter perempuan sudah tidak lagi dangkal dan jadi objek kasih sayang. mereka punya impian, melawan ketika ditindas ibu mertua, walaupun akhirnya mereka jadian juga sama tokoh utama laki-lakinya. tapi nggak semua juga. rika akana di tokyo love stories akhirnya pisah dengan kanji. ngomongin dangkal, minami di long vacation justru membantu sena mengurai traumanya pada piano. kita ingat san chai di meteor garden yang jago berkelahi. formula meteor garden diadaptasi dari hana yori dango, dan diduplikasi di the heirs. bahkan di full house, karakter yang dimainkan song hye kyo jadi fokus yang setara dengan rain. fokus cerita pada lelaki juga terkait pada drama ini ditujukan buat pemirsa yang mana. fokus pada cowok seringkali jadi objek seksual pemirsa perempuannya. scene perut papan penggilesan jadi wajib sampai beberapa tahun yang lalu.

artinya, figur perempuan mandiri yang sukses dalam pencapaian karirnya sudah jadi stereotipe perempuan dalam drama korea, mungkin, lebih tepatnya prototipe. tentu benar juga kata penulis, masih banyak drakor menye-menye yang perempuannya jadi hiasan. tapi kita nggak membicarakan itu karena buat saya drama-drama itu praktis jadi fosil, tidak relevan lagi untuk dibicarakan.

yang juga menjadi daya tarik adalah bahwa figur perempuan asertif ini dibingkai dalam pemenuhan mimpi-mimpi materialistis, seperti posisi di korporasi, top student di kampus, tinggal di luar negeri. di sini drama-drama itu belum bisa keluar dari kelindan struktur lain yang membelenggunya: kapitalisme dan neokolonialisme. selain itu, obsesi atas kesempurnaan tubuh dan kemapanan finansial menumpuk jadi racunnya sendiri yang menjadi klimaks beberapa tahun terakhir ini (dengan terkuaknya banyak kasus pelecehan seksual lewat gelombang #metoo korsel).

efek samping dari pesatnya pertumbuhan ekonomi korea selatan yang salah satunya disokong pasar kpop dan kdrama kemudian direspon dalam banyak film (parasite, one of the most obvious) dan drama korea. beberapa dari efek ini adalah pelecehan seksual pada perempuan, eksploitasi anak, gentrifikasi, gangguan mental masif, dan munculnya kelompok-kelompok orang terpinggirkan (yang gak kebagian “sukses”). review-review popteori sebelumnya telah banyak mengurai hal ini. salah satu respon terhadap berbagai fenomena ini ada di drama produksi netflix berjudul extracurricular.

di bawah ini adalah review awal nonton 7 episode, belum semua. tapi yang saya ingin tekankan adalah ada banyak karakter perempuan yang perlu dirayakan di luar dari yang sekadar sukses berkarir.

serial extracurricular dipenuhi tokoh-tokoh yang menjadi ekses dari “kesuksesan” korea selatan menjadi negara superpower. tokoh perempuan pertama adalah Bae Gyu Ri. ia anak seorang CEO kpop agency. menghabiskan hampir seluruh hidupnya menemukan kesalahan dari para calon bintang kpop, ibunya tidak pernah menganggapnya pantas dan baik. padahal gyu ri siswa berprestasi plus jago taekwondo. berikutnya, Seo Min Hee, seorang pekerja seks bawah umur. ia ingin dapat uang banyak supaya bisa traktir-traktir pacarnya, Kwak Ki Tae, yang juga trainee boyband kpop. Ki Tae sendiri adalah seorang bully, baik terhadap teman maupun pacarnya. Dia adalah wujud bullying sistemik yang terjadi di dunia hiburan korsel. Sementara Oh Ji Soo, cowok teladan tanpa cela, sebenarnya adalah mucikari digital berbasis aplikasi, yang menjadi perantara para pekerja seks dengan klien mereka sekaligus penyedia jasa pengamanan. Ji Soo butuh uang karena bapaknya penjudi sementara dia ingin masuk universitas unggulan. keempatnya lalu ketelingsut dalam konflik yang rumit.

yang buat saya menarik adalah bagaimana mereka ditampilkan sebagai korban dari busuknya sistem di dunia pendidikan dan hiburan. masing-masing karakter punya motif yang tidak bisa dimasukkan dalam kotak hitam ataupun putih. keremajaan mereka jadi kekuatan sekaligus kelemahan. terkadang mereka naif, terkadang mereka luar biasa cerdik. keluwesannya dengan teknologi dan bahasa inggris dikontraskan ketika Ji Soo bertemu preman gen x. tapi extracurricular menunjukkan bahwa teknologi sama sekali tidak memperbaiki busuknya situasi. racun-racun yang sama tereproduksi dengan lebih mengerikan dengan internet.

di sini ada kritik juga tentang pengeksotisan kelas pekerja. di tiap argumen, ji soo selalu menyerang gyu ri karena gyu ri sebagai partner in crimenya hanya melihat dari jauh, tanpa terkena risiko. sementara bagi ji soo dan min hee risikonya adalah kematian. gyu ri mendorong ji soo untuk mengembangkan bisnis mucikari ini. tapi menurut ji soo, semua ini hanya mainan bagi gyu ri.

min hee adalah sosok yang selalu dikerdilkan pacarnya, Ki Tae. Dia mencoba meningkatkan “daya tawar” dalam hubungannya dengan membelikan Ki Tae macam-macam. Tapi tujuan itu gak sampai. Yang perlahan ia sadari justru penilaian baru atas dirinya. kita masih harus melihat lebih jauh apakah min hee ini adalah stereotipe tokoh pekerja seks yang jadi korban sistem dan harus diselamatkan laki-laki. tapi kelihatannya justru gyu ri yang akan menyelamatkannya.

ini menurut saya multidimensional. sosok perempuan ditampilkan lengkap dengan luka, obsesi, dan anxiety dan disituasikan dalam posisi kelasnya. mereka menunjukkan bahwa ada sisi gelap di balik upaya perempuan mengejar “sukses”. di balik narasi neoliberal akan pencapaian pribadi, opresi sistemik lain bersembunyi.

foto diambil dari https://www.elle.com.sg/first-look-netflix-upcoming-kdrama-thriller-extracurricular/ dan https://mydramalist.com/photos/62BEp

Inhibisi: Screening Film Pendek Bertema Keluarga

Pada Kamis 23 April lalu, Popteori mendapat kesempatan untuk terlibat dalam screening film daring yang digagas Sinecovi; sebuah portal screening film produk dari para mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang, dengan tema Inhibisi.  Fenomena larangan yang terjadi dalam lingkup keluarga, menjadi gagasan program bertajuk INHIBISI. Di screening ini dipilih dua film yaitu Sunday Story dan A Dinner with Astronaut.

A Dinner with Astronaut – Hantu Orde Baru di keluarga Indonesia

Film ‘A Dinner with Astronaut’ yang disutradarai oleh Rein Maychaelson ini, adalah sebuah film pendek bergenre komedi yang menghibur sejak awal. Bercerita tentang satu malam natal yang biasa saja saat satu keluarga ingin merayakannya dengan makan malam. Tiba-tiba, makan malam mereka dikejutkan oleh kedatangan astronot yang roketnya nyangsang di atap rumah.

Walau terkesan menghibur dan lucu tapi sebenarnya film ini mengisyaratkan masih hadirnya hantu Orde Baru di potret keluarga Indonesia jaman now. Hantu ini memang tidak mau (mudah) pergi, bagaimana tidak? Hampir setiap hari (tanpa siaran niaga) televisi menayangkan seri-seri drama keluarga heteronormatif yang bahagia. Orang yang hidup di era Orde Baru terutama dekade 80-an dijejali dengan seri seperti Rumah Masa Depan, Si Unyil, Losmen, Jendela Rumah Kita, Keluarga Rahmat dan banyak lagi yang secara halus membuat standar mengenai keluarga ideal saat itu.

Keluarga menjadi mikrokosmos tatanan negara yang patriarki dan heteronormatif. Ayah sebagai kepala keluarga adalah negara dan patron untuk anggota keluarganya , alias rakyat. Ayah boleh malas dan pamrih, tapi ayah harus dan selalu punya kontrol akan istri dan anaknya.

Hal yang sama dapat terbaca di film ‘A Dinner with Austronot’. Secara satir tersirat bagaimana ayah sebagai negara memperlakukan anak dan istrinya, sebagai warga negara, dengan semaunya sampai datang bantuan asing berwujud astronot. Di saat ayah kehilangan kendali pada istri dan anaknya, tanpa ragu dia menyingkirkan sang astronot yang telah menjadi alat bantu keberlangsungan keluarga itu. Ini mirip dengan apa yang dilakukan Orde Baru yang seakan ingin mengesankan kemandiriannya dengan menggusur “unsur asing” bernama kapitalisme lewat larangan siaran niaga di televisi. Tapi, negara berutang di balik jargon ‘swasembada pangan’ atau ‘pembangunan’.

Sunday Story (Kisah di Hari Minggu) – kerja emosional seorang ibu yang sering luput dari perhatian

Film pendek yang disutradarai dan ditulis oleh Adi Marsono ini mengangkat pentingnya peran ibu rumah tangga di dalam keluarga, mengingatkan kita bahwa ibu rumah tangga adalah bentuk kerja (labour), yang sama pentingnya dengan kerja-kerja lain di luar rumah. Jika meminjam istilah dari feminis-sosiolog Arlie Russel Hochschild, kerja ini disebut sebagai emotional labour. Ia mengatakan, bahwa jenis kerja seperti ini sangat sering dialami oleh perempuan, baik di ranah domestik maupun profesional. Efeknya adalah burnout, yang seringkali berimbas langsung pada kesehatan jiwa. Kerja emosional tidak punya kontrak dan jam kerja, dan tidak mendapatkan imbalan langsung berupa upah.

Isu ini diekspresikan dalam alur cerita sederhana sepanjang 8 menit. Kita mengikuti keseharian seorang ibu rumah tangga (diperankan dengan sangat baik oleh Erythrina Baskorowati) menyiapkan anak perempuannya sekolah, membangunkan suami, menyuruh anak lelaki mandi. Si suami (Rizky Sasono, juga sangat natural) tidak beranjak dari tempat tidurnnya, sampai si istri menyiram seember air saking kesalnya. Anak lelakinya bukannya mandi untuk bersiap sekolah, malah pergi memancing. Di akhir cerita (dan juga dinyatakan pada judul filmnya), sang istri akhirnya sadar bahwa hari itu hari libur. Rangkaian cerita ini menggarisbawahi bahwa pekerjaan rumah tangga tidak kenal hari Minggu, tidak kenal libur.

Hal lain yang saya tangkap adalah akting yang baik dari para pemain sampai sanggup menarik skrip lebih dalam dari intensinya semula. Kedataran ekspresi suami menyiratkan bahwa lupa hari libur ini adalah suatu hal yang sering terjadi (jadi ingat iklan/film pendek Ramayana Department Store, tentang nenek yang mengidap dementia dan mengira tiap hari adalah lebaran, jadi sekeluarga mengikuti saja kemauannya, pura-pura merayakan lebaran). Ia membiarkannya saja sampai si istri sadar sendiri, mungkin terlalu malas dan lelah untuk bicara. Ketiadaan dialog antara suami-istri, merupakan cerminan nyata dari banyak sekali kehidupan perkawinan. Makna dipertukarkan lewat gerak tubuh dan ekspresi.

Sayangnya, pembagian peran gender dalam keluarga dibuat kaku dan konservatif. Anak perempuan rajin dan penurut. Anak lelaki digambarkan lebih bangor dan bebas. Kenapa nggak anak cewek yang kabur main sementara yang cowok yang diseragamin? Suami mencuci piring diposisikan sebagai sebuah ekspresi sayang suami berusaha menghibur si istri yang stress (padahal cuci piring kewajiban). Apa mungkin memang begitu Adi Marsono melihat kenyataan di sekelilingnya? Apakah dia lelaki konservatif yang sekedar berempati pada ibunya, melihat perempuan hanya sebagai korban tak berdaya, tanpa kapasitas agency sama sekali? Karena itukah ia tidak bisa melihat kemungkinan peran gender yang lebih seimbang di ranah domestik?

film dalam radar isolasi

kami mengumpulkan film-film yang cuco menemani periode isolasi teman-teman. daftar ini akan terus diperbaharui, tapi gak janji. peringatan: ini bukan film yang membuatmu merasa lebih baik. ini film-film yang membantumu menerima kenyataan pahit ini.

Caliphate

Jika melupakan agenda liberal netflix dan bagaimana Islam hampir tidak ditampilkan sebagai sesuatu yang positif sedikit pun, serial ini akan terasa spektakuler. Caliphate bercerita tentang radikalisasi dan perekrutan para perempuan di Eropa oleh ISIS. Kebanyakan dari mereka adalah diaspora Timur Tengah yang lahir dan/atau besar di Eropa. Beberapa yang akhirnya memilih ikut ke Syria merespon sikap antipati Eropa terhadap Islam. Beberapa adalah korban kekerasan domestik dan dari kelas ekonomi bawah. Di Caliphate, pihak yang paling rentan di sini adalah perempuan tanpa support system dan yang berusia paling muda. Terlepas dari seberapa tepat film ini merefleksikan kenyataan di lapangan, Caliphate berhasil membongkar beberapa hal menarik: bagaimana polisi Eropa menekan informan di Syria tanpa peduli risiko yang akan informan hadapi di sana, bagaimana kode-kode Islami bisa diputarbalikan menjadi senjata perempuan (mengingatkan saya akan Battle of Algiers). It is a different kind of shit compares to the shit we’re having right now. Tapi perasaan terisolasi, terperangkap, dan a sense of helplessness yang sangat intens dari film ini is so present.

Born in Flames

Film ini membayangkan Amerika Serikat sepuluh tahun setelah revolusi sosialis-demokratis damai dan menampilkannya dengan gaya dokumenter. Di setting yang dibayangkan, seksisme masih marak terjadi. Film yang disutradarai Lizzie Borden ini mengikuti perjuangan beragam kelompok feminis bawah tanah dan bagaimana negara mencoba menyingkapnya. Di satu titik di film, seluruh kelompok feminis bersatu karena seorang pemimpin mereka ditahan dan dibunuh. Lizzie berhasil menampilkan banyak nuansa dari pergerakan Kiri. Sosialisme tidak akan cukup selama patriarki, rasisme, dan perbedaan kelas belum dibongkar. Perubahan tidak cukup terjadi di tingkat negara. Transformasi harus berlangsung secara kultural dalam kehidupan sehari-hari, di lingkup yang paling intim sekalipun. Nonton ini menegaskan keyakinan kalau negara kita masih sangat jauh dari cita-cita kesetaraan. Pandemi corona mungkin jadi satu-satunya hal yang membongkar paksa seluruh tatanan tersebut.  

I, Daniel Blake

Ini adalah cerita tentang orang-orang paling terlupakan oleh negara. Ken Loach, sang sutradara, membuatmu berpikir bahwa negara adalah sebuah konsep yang lebih banyak mudarot daripada faedahnya. Ia menunjukkan rumit dan kakunya birokrasi Inggris dalam menyalurkan mekanisme bantuan untuk kelompok orang tidak berpenghasilan. Alih-alih mempermudah hidup, negara justru membunuh warganya pelan-pelan . Ya kayak negara kita sekarang aja dibiarkan tenggelam dalam ketidaktahuan, di tengah hiper-yang-menjadi-mis-informasi. Kata-kata terakhir Daniel Blake yang tak sempat ia baca sungguh TER-LA-LU dekat dengan kondisi kita sekarang: “I am not a client, a customer, nor a service user. I am not a shirker, a scrounger, a beggar, nor a thief. I am not a national insurance number, nor a blip on a screen. I paid my dues, never a penny short and proud to do so. I don’t tug the forelock, but look my neighbour in the eye. I don’t accept or seek charity. My name is Daniel Blake, I am a man, not a dog. As such, I demand my rights. I demand you treat me with respect. I, Daniel Blake, am a citizen, nothing more, nothing less. Thank you.”

Violent 

Menceritakan ingatan seorang perempuan tentang orang-orang yang paling menyayanginya (sayang sohib, sayang obsesif mengarah suicidal, sayang sambil lalu dan sebagainya) persis sebelum dia meninggal. Ada banyak spekulasi tentang seperti apa momen kematian itu dan banyak refleksi tentang makna hidup dalam kacamata kelas menengah Eropa Utara. Filmnya tidak bisa dibilang subversif, namun beberapa hal yang direnungkan dalam film ini cukup mengusik, seperti keinginan untuk melarikan diri dari kehampaan dan menemukan kehampaan lainnya, menangkap kebahagiaan kecil di tengah ke-nothing-an tersebut, dan kesepian yang menyeretmu ke ambang kegilaan.

We Were Here

Film dokumenter berisi kisah para penyintas epidemi AIDS di San Fransisco yang merebak sejak akhir tahun 1970 dan awal 1980-an. Suburb queer San Fransisco yang mereka tinggali adalah ground zero epidemi AIDS saat itu. Surat kabar dipenuhi obituari. Setiap korban meninggal adalah teman, kerabat, keluarga, dan kekasih. Tiap anggota komunitas otomatis menjadi perawat korban terinfeksi dan tak lama terkena infeksinya juga. Menjadi subjek eksperimen obat diharapkan jadi cara untuk bertahan hidup, tapi risikonya justru kematian. Menonton bagaimana sebuah penyakit mempengaruhi tiap lapis kehidupan pribadi dan sosial di tengah pandemi corona ini is just. something. else. Menatap mata para penyintas yang selalu berkaca-kaca ketika mereka diminta mengingat masa lalunya membuat badan saya semutan dan suami saya tidak bisa tidur semalaman.
WerewolfMenceritakan sepasang remaja miskin pengguna metadon di Kanada. Film ini menyisir lingkaran jeruji tak tampak yang memerangkap hidup mereka: adiksi, keterbatasan uang. Gambar-gambar di film ini ditampilkan sangat close up dengan warna-warna pucat, membuatmu merasa seperti dapat jamur ajaib yang buruk.  Rambut mereka berminyak, baju tidak pernah ganti, jerawatan di bagian dagu. Nonton ini buat hiburan #stayathome siang-siang biar makin kerasa terperangkap. Kita tidak tahu sampai kapan air PAM tersedia ya kan.

High Life

Optimisme manusia akan masa depan kemanusiaannya sendiri dikalahkan dengan kuasa alam. Nothing is more fitting than watching fiksi ilmiah dengan mood yang seperti ini, saat ini. Juliette Binoche adalah dokter di dalam kapal ruang angkasa yang membawa narapidana sebagai objek eksperimennya. Kapal itu sendiri punya misi mengeruk sumber energi dari lubang hitam. Tentu rencana-rencana ini kandas dan Robert Pattinson ditinggal berdua dengan bayinya di kapal yang perlahan tapi pasti tersedot dalam lubang hitam.   

Gentefied, Kisah Gentrifikasi di Jaman Woke

Latin Amerika terutama Meksiko bukan hanya tentang telenovela, Thalia dengan trinitas Marianya  (Marimar, Maria Mercedes, María la del Barrio). Di dekade 90an Indonesia diramaikan dengan budaya hip-hop, saya langsung kepincut sama musisi-musisi Amerika latin. Mulai dari Cypress Hill, A Lighter Shade of Brown, juga semua artis yang ada di soundtrack film ‘I Like It Like That’. Perpaduan budaya modern dengan budaya klasik latin Amerika menjadi hal yang unik dan menarik.

Lalu jauh ke depan sampai ketika saya mulai berlangganan Netflix saya selalu mencari seri-seri menarik tentang kehidupan latin Amerika atau setidaknya yang mengedepankan karakter latin Amerika seperti Blanca, Mother House of Avengelista di serial Pose. Blanca yang transgender, brown (latin), dan mengidap HIV adalah satu sosok yang terkena marjinalisasi berlapis-lapis. Lalu ada serial coming of age latin Amerika; On My Block yang menggambarkan bagaimana remaja latin Amerika growing up di Los Angeles yang keras, menghadapi pilihan apakah harus masuk gangster atau menjadi anak biasa-biasa saja yang menjalani cinta remaja serta pertemanan dengan kawanannya. Menurut saya film ini bisa diadu bagusnya dengan seri Sex Education.

Ketika drama korea Crash Landing On You selesai dan ada Itaewon Class, ternyata kemudian ada yang lebih real dan woke dari Itaewon Class yaitu Gentefied. Gentefied adalah sebuah serial kehidupan keluarga Morales, latin Amerika yang berusaha mempertahankan kedai Taco mereka dari perubahan jaman dan pola budaya akibat gentrifikasi. Masalahnya hampir mirip dengan Itaewon Class. Mereka sama-sama bicara mempertahankan kedai namun dengan alasan yang beda. Ketika kedai di Itaewon Class ingin menjadi hype namun Mama Fina, kedai di Gentefied, justru ingin bertahan dari serangan para hipster dan berusaha tetap menjadi autentik.

Kedai Taco Mama Fina dimiliki oleh seorang abuelo Morales yang dikelilingi cucunya. Pertama ada Erik yang punya masalah toxic masculinity dan selalu mencoba menyelesaikan masalah sendiri. Lalu ada Chris yang dianggap white-washed latino dan terakhir ada Ana seorang seniman gay feminis.  Penuh dengan narasi-narasi woke serial Gentified menceritakan bagaimana mereka akhirnya secara perlahan menyerah pada gentrifikasi yang datang dari segala arah.

Nonton lalu dengerin playlist lagunya di sini

unbucket list

seorang apparatchik akan mengcopas post ini, kemudian mengeprintnya di printer kantor, kemudian mencetaknya jadi chapbook di sebuah tempat fotocopy di benhil (naik grab dengan diskon ovo) untuk dibagikan ke pengunjung sebuah acara open mic yang sedang sibuk melawan mabora amer dengan scroll scroll scroll feed swipe swipe swipe story.

di indonesia bagian liyan, seorang pakde sedang copas “kisah rasulullah bagian 130: rasulullah melarang hidup meminta-minta” dari whatsapp group keluarga siswosardjito buat diprint dan difotocopy rangkap 50 untuk dibagikan ke anak-anak paud yang dikelola bude.

di jakarta keminggrisia bagian selatan beberapa pixel yang lalu, seorang musisi ditangkap polisi subuh-subuh karena mengorganisasi crowdfunding untuk membayari konsumsi mahasiswa yang demonstrasi dan menyewa ambulans untuk mengangkut mahasiswa yang cedera digasak polisi.

hito steyerl: “​police come knocking on your door for a download—to arrest you after “identifying” you on YouTube or CCTV” – atau kitabisa.com!

masih steyerl: “the internet persists offline as a mode of life, surveillance, production, and organization—a form of intense voyeurism coupled with maximum nontransparency.”

di subuh yang sama seorang javanese salaryman kesulitan memesan gocar karena customer ratingnya terjun bebas sejak dia dilayoff dari sebuah digital agency dan berhenti memberi tip untuk driver, apalagi top up gopay, “sori mas lagi nggak ada cash nih.”

di suburbia jakarta coret, seorang pembicara seminar berusaha mencari e-book gratis byung-chul han (ayo dong “in the swarm: digital prospects’) bukan karena dia percaya #copyleft tapi karena membayar langganan first media sudah memakan 1/20 gaji bulananannya.

swarm (ingat foursquare?): “gathering without assembly—crowd without interiority… isolated, scattered hikikomori sitting alone in front of a screen” – byung-chul han. tapi bagaimana mahasiswa2 berkoordinasi, anak2 stm sejabodetabek bersatu? bukannya lewat whatsapp swarm group?

hikikomori (wiki): people who withdraw from ​society​ and spend extreme amounts of time on their own.

bisa saja, menurut byung-chul. kadang “digital individuals come together… in smart mobs. [namun] their collective patterns of movements are like the swarms that animals form—fleeting and unstable. Their hallmark is VOLATILITY.” (my caps)

kapankah #gejayanmemanggil3 #reformasidikorupsi3? #stmmelawanselamanya?

di papua orang papua menuntut merdeka. di media luar negeri mereka dideskripsikan sebagai “pro-independence activists”. di jakarta mereka dicap sebagai separatis, dan sekarang menurut polisi dan tentara mereka ditunggangi isis.

#gejayanmemanggil, #reformasidikorupsi, #stmmelawan dilawan dengan hoaks whatsapp group anak stm bayaran, ocehan denny siregar (tentang anak stm: “Biar dilatih jd lelaki oleh TNI dan ga tumbuh jd banci”), dan #ngapainjugademo.

apakah #reformasidikorupsi adalah era yang disebut thomas elsaesser sebagai “military-industrial-entertainment complex”?

menurut byung-chul han sekarang setiap orang 4.0 adalah “sender and receiver–consumer and producer–in one”.

manungsapiens 4.0 tidak tahan untuk tidak komen di setiap post Instagram (post dan stories), YouTube, Facebook, Twitter, Tumblr, Medium; mereka paling tidak harus Share, Reshare, Retweet, Retweet with comment; lebih asoy lagi kalau bikin Twitter thread sendiri.

manungsapiens 4.0 tidak lagi hidup dalam masyarakat gotong-royong, apalagi dalam masyarakat #orangbaik, tapi dalam sebuah Leistungsgesellschaft – “achievement society” (byung-chul han).

setiap manungsapien 4.0 adalah sebuah start-up bagi dirinya sendiri.

steyerl: “​reality itself is postproduced and scripted, affect rendered as after-effect. far from being opposites across an unbridgeable chasm, image and world are in many cases just versions of each other.”

postproduction bukan cuma filter instagram, faceapp, hagiografi tinder, tapi juga hoaks yang diproduksi ph paling berkuasa di negeri ini: pemerintah.

bagaimana bisa hashtag #menolaklupa dipakai pejuang hak asasi manusia yang memperjuangkan kembalinya aktivis2 yang dihilangkan tapi pada saat yang sama juga diapropriasi oleh orang2 yang masih percaya pada film propaganda orba “penumpasan pengkhianatan #g30spki”?

tentu bisa, seperti kata leni reifenstahl, bff hitler, yang juga punya pengalaman membuat film propaganda yang dianggap terbaik sepanjang masa, triumph of the will, “when people no longer ask serious questions, they are submissive and malleable. anything can happen.”

“people” yang dimaksud reifenstahl adalah “especially the intellegentsia”.

menurutnya, propaganda dalam filmnya tergantung bukan cuma dari order dari atas(an) tapi dari apa yang dia sebut sebagai “submissive void” di masyarakat.

kaum borjuis terdidik liberal termasuk dalam “submissive void” ini, menurut reifenstahl. mereka yang sekarang dilumpuhkan oleh ​Leistungsgesellschaft!

lingkaran postproduction di atas postproduction ini disebut steyerl sebagai “circulationism”.

circulationism:“n​ otabouttheartofmakinganimage,butofpostproducing, launching, and accelerating it. it is about the public relations of images across

social networks, about advertisement and alienation, and about being as suavely vacuous as possible.”

video #jokowi dan #janethes berdebat tentang ayam (goreng) sukoharjo di tengah2 hijaunya halaman istana yang dirilis saat kebakaran hutan membara di sumatra dan kalimantan adalah contoh paripurna dari circulationism yang suavely vacuous ini.

pedro neves marques: “tech futurism is nothing but a perpetuation of a globalized modern belief in machinic and information-driven progress, which, in the end, is what led us into our current catastrophic cul-de-sac.”

pernah nggak, ngikutin garis biru di waze atau google maps, tapi malah macet? you’re not alone.

“rerouting apps are all out for themselves. They take a selfish view in which each vehicle is competing for the fastest route to its destination. This can lead to the router creating new traffic congestion in unexpected places.”

“apps are typically optimized to keep an individual driver’s travel time as short as possible; they don’t care whether the residential streets can absorb the traffic or whether motorists who show up in unexpected places may compromise safety.” – new-aesthetic.tumblr.com

AWAS JALAN UBUNTU!

menurut franco “bifo” berardi, dalam dunia 4.0 #irl apa yang ia sebut sebagai “mental sphere” telah mengemansipasi dirinya sendiri dari “dimension of perishability”. abstraksi menyelamatkan kita dari kematian.

namun: “p​aradoxically, however, the insertion of abstraction into social life and the cycles of the natural environment is leading to the extinction of concreteness, and of life itself.”

memaksimalkan kesempatan dalam kesempitan di saat hidup itu sendiri makin lama makin nggak asyik dan malah sedang ngebut menuju kepunahan bukan lagi

sesuatu yang bisa diatur atau pokoknya beres. maju kena postpro mundur kena postpro.

bahkan post pendek yang berusaha membuka borok circulationism #irl yang ditunggangi postproduction-everything ini pun juga adalah sebuah postproduction.

pic from artsy.net

hidupku terasa begitu berharga dan tidak berharga sekaligus*

Oleh: Ratri Ninditya

sebuah upaya perayaan kegagalan

Kelas menengah dikritik sesamanya karena terlalu hobi mengobjektivikasi pengalaman hidup kelas pekerja di dalam film, sastra, musik, seni rupa, meme, bahkan dalam dunia akademis. Aku ingat di awal 2010-an terminologi alay kita mainkan baik itu berupa olok-olok hingga apropriasi selera, bahasa, dan gaya hidup. Kita sempat termehek-mehek sekali dengan dangdut Pantura, film-film horor kelas B, lukisan di pantat truk. Cuplikan-cuplikan kejadian dalam kehidupan kelas pekerja juga dijadikan meme lalu disebarluaskan di berbagai WhatsApp group dan akun-akun Facebook. Kita menyebutnya “joke receh”. Cek juga deretan film-film arthouse termasyur yang sudah go internazionale itu. Daftarnya penuh dengan sutradara kelas menengah yang mengeksotiskan kehidupan kelas pekerja (consider these titles: Vakansi yang janggal, SITI, A Copy of My Mind, Kucumbu Tubuh Indahku, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak). Di musik, yang paling saya ingat adalah kolaborasi Dipha Barus dengan Arindi Putry, keyboardist jenius yang sempat menggegerkan jagad meme dengan kecepatan jarinya. Saya jadi ingat pojok dangdut featuring Bude Sumiati di Joyland. Pojok itu meremix segala lagu pop dalam irama dangdut dan segenap kawula muda sober bergoyang ikut irama. Saat itu, saya berada di tengah kerumunan, ikut berjoget sambil berpikir, apakah kami semua menikmatinya, atau hanya secara ironis menikmatinya? Tentunya kita tidak menikmati dengan cara yang sama ketika kita mendengarnya di dalam angkot bogor di malam minggu. Atau, apakah kita masih naik angkot di malam Minggu?

Kita terpikat sekali dengan hidup kelas pekerja karena hidup kita terlalu monokrom-aesthetic-steril ala majalah skandinavia dan kita terlalu bosan bosan bosan atas isu yang itu-itu saja. Tapi bagi kita kelas menengah, kelas pekerja hanya akan selalu menjadi objek yang siap dikonsumsi. Perasaan bersalah itu kemudian jadi bungkus identitas kita. Kita memandang diri sendiri dengan jijik dan malu. Perasaan kita tersaturasi, lalu lapuk dan terlupakan. Kita berkaca ke luar, tanpa melihat relasinya ke dalam. Kita pinjam perasaan-perasaan lain di dunia untuk jadi milik kita karena kita sudah lupa bagaimana caranya mengalami, merasa, menjelaskan rasa dan pengalaman tersebut. Lalu perasaan kita menjadi tidak nyata, tidak berhak dapat tempat dalam karya-karya seni dan dibicarakan dengan serius. Poin utama saya adalah, mengapa tidak kita bicarakan saja malu, jijik, dan rasa bersalah kita sebagai warga kelas menengah? Mengapa sedikit sekali yang bersedia menguliti rasa bersalah atas berbagai privelese dan akses yang didapat karena posisi kelasnya? Kenapa ketakutan atas kegagalannya dalam studi, karir, dan hidup karena seumur hidup dituntut untuk sukses (kan udah sekolah tinggi-tinggi, kan gak usah nyicil rumah sendiri, kan jago berbagai bahasa) tenggelam dalam lautan instagram selfie di luar negeri dan keluarga bahagia?

Kita punya hak untuk marah, menangis, tertawa, bahkan kita masih bisa terus menuntut. Jika jurang ke-nothing-an ini akan membunuh kita pelan-pelan, saya mau terseret with genuine pleasure dan satisfaction.

*dikutip dari buku puisi sendiri, Rusunothing