film dalam radar isolasi

kami mengumpulkan film-film yang cuco menemani periode isolasi teman-teman. daftar ini akan terus diperbaharui, tapi gak janji. peringatan: ini bukan film yang membuatmu merasa lebih baik. ini film-film yang membantumu menerima kenyataan pahit ini.

Caliphate

Jika melupakan agenda liberal netflix dan bagaimana Islam hampir tidak ditampilkan sebagai sesuatu yang positif sedikit pun, serial ini akan terasa spektakuler. Caliphate bercerita tentang radikalisasi dan perekrutan para perempuan di Eropa oleh ISIS. Kebanyakan dari mereka adalah diaspora Timur Tengah yang lahir dan/atau besar di Eropa. Beberapa yang akhirnya memilih ikut ke Syria merespon sikap antipati Eropa terhadap Islam. Beberapa adalah korban kekerasan domestik dan dari kelas ekonomi bawah. Di Caliphate, pihak yang paling rentan di sini adalah perempuan tanpa support system dan yang berusia paling muda. Terlepas dari seberapa tepat film ini merefleksikan kenyataan di lapangan, Caliphate berhasil membongkar beberapa hal menarik: bagaimana polisi Eropa menekan informan di Syria tanpa peduli risiko yang akan informan hadapi di sana, bagaimana kode-kode Islami bisa diputarbalikan menjadi senjata perempuan (mengingatkan saya akan Battle of Algiers). It is a different kind of shit compares to the shit we’re having right now. Tapi perasaan terisolasi, terperangkap, dan a sense of helplessness yang sangat intens dari film ini is so present.

Born in Flames

Film ini membayangkan Amerika Serikat sepuluh tahun setelah revolusi sosialis-demokratis damai dan menampilkannya dengan gaya dokumenter. Di setting yang dibayangkan, seksisme masih marak terjadi. Film yang disutradarai Lizzie Borden ini mengikuti perjuangan beragam kelompok feminis bawah tanah dan bagaimana negara mencoba menyingkapnya. Di satu titik di film, seluruh kelompok feminis bersatu karena seorang pemimpin mereka ditahan dan dibunuh. Lizzie berhasil menampilkan banyak nuansa dari pergerakan Kiri. Sosialisme tidak akan cukup selama patriarki, rasisme, dan perbedaan kelas belum dibongkar. Perubahan tidak cukup terjadi di tingkat negara. Transformasi harus berlangsung secara kultural dalam kehidupan sehari-hari, di lingkup yang paling intim sekalipun. Nonton ini menegaskan keyakinan kalau negara kita masih sangat jauh dari cita-cita kesetaraan. Pandemi corona mungkin jadi satu-satunya hal yang membongkar paksa seluruh tatanan tersebut.  

I, Daniel Blake

Ini adalah cerita tentang orang-orang paling terlupakan oleh negara. Ken Loach, sang sutradara, membuatmu berpikir bahwa negara adalah sebuah konsep yang lebih banyak mudarot daripada faedahnya. Ia menunjukkan rumit dan kakunya birokrasi Inggris dalam menyalurkan mekanisme bantuan untuk kelompok orang tidak berpenghasilan. Alih-alih mempermudah hidup, negara justru membunuh warganya pelan-pelan . Ya kayak negara kita sekarang aja dibiarkan tenggelam dalam ketidaktahuan, di tengah hiper-yang-menjadi-mis-informasi. Kata-kata terakhir Daniel Blake yang tak sempat ia baca sungguh TER-LA-LU dekat dengan kondisi kita sekarang: “I am not a client, a customer, nor a service user. I am not a shirker, a scrounger, a beggar, nor a thief. I am not a national insurance number, nor a blip on a screen. I paid my dues, never a penny short and proud to do so. I don’t tug the forelock, but look my neighbour in the eye. I don’t accept or seek charity. My name is Daniel Blake, I am a man, not a dog. As such, I demand my rights. I demand you treat me with respect. I, Daniel Blake, am a citizen, nothing more, nothing less. Thank you.”

Violent 

Menceritakan ingatan seorang perempuan tentang orang-orang yang paling menyayanginya (sayang sohib, sayang obsesif mengarah suicidal, sayang sambil lalu dan sebagainya) persis sebelum dia meninggal. Ada banyak spekulasi tentang seperti apa momen kematian itu dan banyak refleksi tentang makna hidup dalam kacamata kelas menengah Eropa Utara. Filmnya tidak bisa dibilang subversif, namun beberapa hal yang direnungkan dalam film ini cukup mengusik, seperti keinginan untuk melarikan diri dari kehampaan dan menemukan kehampaan lainnya, menangkap kebahagiaan kecil di tengah ke-nothing-an tersebut, dan kesepian yang menyeretmu ke ambang kegilaan.

We Were Here

Film dokumenter berisi kisah para penyintas epidemi AIDS di San Fransisco yang merebak sejak akhir tahun 1970 dan awal 1980-an. Suburb queer San Fransisco yang mereka tinggali adalah ground zero epidemi AIDS saat itu. Surat kabar dipenuhi obituari. Setiap korban meninggal adalah teman, kerabat, keluarga, dan kekasih. Tiap anggota komunitas otomatis menjadi perawat korban terinfeksi dan tak lama terkena infeksinya juga. Menjadi subjek eksperimen obat diharapkan jadi cara untuk bertahan hidup, tapi risikonya justru kematian. Menonton bagaimana sebuah penyakit mempengaruhi tiap lapis kehidupan pribadi dan sosial di tengah pandemi corona ini is just. something. else. Menatap mata para penyintas yang selalu berkaca-kaca ketika mereka diminta mengingat masa lalunya membuat badan saya semutan dan suami saya tidak bisa tidur semalaman.
WerewolfMenceritakan sepasang remaja miskin pengguna metadon di Kanada. Film ini menyisir lingkaran jeruji tak tampak yang memerangkap hidup mereka: adiksi, keterbatasan uang. Gambar-gambar di film ini ditampilkan sangat close up dengan warna-warna pucat, membuatmu merasa seperti dapat jamur ajaib yang buruk.  Rambut mereka berminyak, baju tidak pernah ganti, jerawatan di bagian dagu. Nonton ini buat hiburan #stayathome siang-siang biar makin kerasa terperangkap. Kita tidak tahu sampai kapan air PAM tersedia ya kan.

High Life

Optimisme manusia akan masa depan kemanusiaannya sendiri dikalahkan dengan kuasa alam. Nothing is more fitting than watching fiksi ilmiah dengan mood yang seperti ini, saat ini. Juliette Binoche adalah dokter di dalam kapal ruang angkasa yang membawa narapidana sebagai objek eksperimennya. Kapal itu sendiri punya misi mengeruk sumber energi dari lubang hitam. Tentu rencana-rencana ini kandas dan Robert Pattinson ditinggal berdua dengan bayinya di kapal yang perlahan tapi pasti tersedot dalam lubang hitam.   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s