Solomon’s Perjury – Coming of Age yang Kolektif

“It takes a village to raise a child”

Saking beratnya tugas ini, sampai-sampai (katanya) sebuah suku bangsa di benua Afrika sana merasa perlu orang sekampung untuk sama-sama memikul tanggung jawab menjaga proses pertumbuhan calon manusia dewasa. Bisa jadi Miyuko Miyabe juga terinspirasi pepatah ini, sampai kemudian melahirkan trilogi “Solomon no Gisho” yang terasa hampir seperti sebuah terjemahan harfiah pepatah tersebut. Setelah Solomon’s Perjury 1: Suspicion dan Solomon’s Perjury 2: Judgment, film 2 bagian produksi Jepang yang dirilis tahun 2015, di tahun 2016 Korea juga ikut mengadaptasi novel ini ke dalam drama seri televisi.

Cerita Solomon’s Perjury diawali dengan penemuan jasad Lee Seo Woo (Seo Young Joo) yang tertutup salju di halaman SMA Jeong Guk. Tanpa kehadiran petunjuk-petunjuk lain, pihak sekolah dan kepolisian memutuskan penyebab kematian Seo Woo adalah bunuh diri dengan melompat dari atap gedung sekolah. Namun, Go Seo Yeon (Kim Hyun Soo) menerima surat rahasia dari seseorang yang mengaku sebagai saksi pembunuhan Lee Seo Woo. Tidak puas dengan keputusan sepihak orang-orang dewasa yang dianggap menghiraukan kemungkinan lain yang mereka ajukan, atas inisiatif Go Seo Yeon, beberapa orang murid mengajukan usulan untuk melakukan investigasi dan mock trial mereka sendiri. Bukan untuk menghukum pelakunya kalau tertangkap, tetapi lebih untuk mengungkapkan penyebab sebenarnya di balik kematian Seo Woo.

Singkat dan efektif, Solomon’s Perjury hanya perlu 12 episode untuk mengupas tuntas semua aspek yang mungkin berkontribusi pada kematian Seo Woo, mulai dari sistem pendidikan yang korup (harfiah dan kiasan), school bullying (oleh siswa dan juga guru), hingga kesehatan mental. Miyuki Miyabe sepertinya selalu tertarik dengan hubungan antara perubahan kondisi sosioekonomi dan sosiopolitik masyarakat dan pengaruhnya terhadap pembentukan diri anggota-anggotanya. Misalnya, dalam novel “All She Was Worth” alias Kasha (火車) yang ditulisnya tahun 1992, Miyabe menggambarkan efek korosif konsumerisme di masyarakat Jepang.

Penulis naskah Kim Ho Soo cukup cermat menerjemahkan novel ini menjadi sebuah serial drama yang bersahaja tanpa intonasi bombastis dan narasi bertele-tele demi memenuhi detil triloginya maupun tuntutan rating. Dengan melakukan sedikit penyesuaian pada detil cerita, Solomon’s Perjury versi drama terasa lebih solid dan utuh, bahkan juga lebih tenang dan teratur dibandingkan versi filmnya yang frantic dan lompat-lompat. Salah satu contoh penyesuaiannya adalah jika dalam versi film Joto No. 3 merupakan sebuah SMP, di versi drama Jeong Guk adalah sebuah SMA. Dengan usia dan kematangan psikologis yang lebih dewasa, penggunaan medium mock trial pada versi drama terasa lebih masuk akal dibandingkan dengan versi filmnya.

Dalam budaya populer, bicara mengenai dunia remaja seringkali artinya bicara mengenai proses pencarian jati diri atau coming of age. Namun, coming of age versi Solomon’s Perjury jauh dari stereotip film-film dunia pertama yang seringkali bicara self melulu, seakan-akan self sungguh jumawa bisa berdiri lepas dari society. Ide proses menuju dewasa dalam Solomon’s Perjury tidak sesempit pencerahan pribadi, namun juga merupakan pencerahan kolektif yang dicapai melalui proses bersama semua anggota masyarakat. Di ujung proses ini, remaja sampai pada sebuah kesadaran bahwa mereka punya suara yang sama penting dan sama-sama merasakan kecemasan akan hal-hal yang terjadi di luar diri mereka seperti yang dialami orang-orang lebih tua dari mereka. Seperti kecemasan Seo Woo menyaksikan korosi moral yang terjadi di depan matanya. Sebuah proses menuju kedewasaan dimana para remaja ini melibatkan diri langsung dalam proses demokrasi atas dasar keadilan sosial.

Kritik Seo Woo yang terus menerus atas lingkungan sekolahnya yang carut marut tidak dimaknai sebagai negativitas (hadeuh cukup sudah positivity cult ini), namun sebagai kekecewaan dan kemarahan yang di dalamnya tetap tersimpan sedikit harapan akan dunia yang lebih baik. Paradoks sederhana yang nampaknya sulit dipahami oleh kaum kebelet bahagia yang kemudian dipuk-puk Hollywood.

vlcsnap-01417vlcsnap-01418vlcsnap-01419vlcsnap-01420vlcsnap-01421

Dalam konteks tatanan masyarakat yang hierarkis, Solomon’s Perjury adalah utopia, dimana anggota masyarakat yang lebih lemah didengarkan suaranya dan berdiri sejajar anggota yang lebih kuat. Lee Seo Woo mengguncang tatanan kaku ini dan kekuasaan tidak menyukainya. Dalam kesaksiannya, Han Kyung Mun (Jo Jae Hyun), Ketua Yayasan Jeong Guk Foundation mengatakan, “Sekolah juga merupakan masyarakat dan masyarakat hanya menyediakan tempat bagi mereka yang berusaha untuk berasimilasi. Namun masyarakat tidak memiliki tanggung jawab untuk merangkul mereka yang menyerah berusaha. Itulah Lee Seo Woo. Dia bahkan tidak berusaha untuk beradaptasi dengan masyarakat.”

Kekuasaan memang tidak mau Seo Woo beradaptasi, mereka hanya mau Seo Woo mematuhi. Sebuah potret buram kemapanan yang menua dan telah malas menerima perubahan, apalagi berjuang.

Solomon's Perjury 8

Lee Seo Woo (Seo Young Joo)

 

Solomon’s Perjury (솔로몬의 위증) tayang di JTBC (16 Desember 16, 2016 – 28 Januari, 2017). Ulasan aslinya ada di sini.

hijab, piety, beauty

Many researches have considered intersectionality on beauty studies (Elias, 2017). A lot have also put attention to how religious values are appropriated in the industry (Indarti and Peng, 2017; Bucar, 2016). However, little has investigated on how religious values are incorporated and performed within the beauty construction. In Indonesia, Islamic values are commodified into the beauty industry through the quality marker halal and portrayals of modest women, which mainly, although not necessarily, use hijab.

In this article, I focus on modest beauty advertising and celebrity endorsement in Indonesia. I critically analyse the advertising campaign of Wardah, an Indonesian halal beauty brand, in how it incorporates Islamic values into the neoliberal femininity to attract middle-class Muslims. I argue that this new form of femininity have a disciplinary power, recognised and reinforced by Wardah and its social media followers. However, the femininity also serves as a cultural capital that has exchangeable value with their fame and endorsement. These relations between Islamic norms and beauty construction suggest that hijab and piety have a more nuanced meaning for women in Indonesia than simply a symbol of oppression.

The research will be a case study of several textual analyses: Wardah television commercials and Instagram posts, comments on “inappropriate” ads, website content on Wardah celebrity ambassadors, and the Instagram page of Wardah ambassadors.

Firstly, I will define the values of Islam and neoliberal femininity which are promoted by analysing Wardah commercials. Secondly, I will analyse people’s comments on Wardah social media page in policing which looks and gestures of its celebrities in its ads are thought as appropriate or not. Thirdly, I will analyse two primary Wardah celebrity ambassadors as the embodiment of pious-femininity, the form of cultural capital, to investigate how their journey to piety has exchangeable value with their career.

Islam and neoliberalism

Islamic identity, in particular hijab, has different meanings in every cultural context (Abu Lughod, 2002; Arimbi, 2009; Mohanty, 2003). In Indonesia, wearing hijab was a struggle for women’s emancipation and anti-colonialism when the use was banned by the New Order era in the eighties (Arimbi, 2009, p. 37). However, after the authoritarian New Order period ended on 1998, Islamic identities took various form, from the political to the apolitical neoliberal Islam.

Islamic identities are more visible in Indonesia after 1998. The open market policy during the New Order allowed the upward mobility of the middle-class which Muslims are the 88.2 per cent of the population (Pew Research Centre, 2009, as cited in Rakhmani, 2016, p. 6). Rakhmani (2016) states that the growing Muslim middle-class connects Islamic values with consumption habits as a consequence of ‘neoliberal economic restructuring programs’, opening up Muslim markets by building a halal shopping experience. For a country with Muslim as a majority, the market potential for Islamic brands is enormous.

Wardah began to advertise in 2012 and utilises halal as a quality marker. The word halal means “permitted by the Islamic law” (Wilson, 2014, as cited in Ali, Ali, and Sherwani, 2017). However, halal is transcending as a global symbol synonymous with quality, safety, cleanliness, nutritious (Ali, Ali, and Sherwani, 2017; Anabi and Ibidapo-Obe, 2016). For skin care, halal is translated as alcohol-free, cruelty-free, and gentle on skin. Alcohol is an element that is not permissible in Islam. Animal slaughter is also heavily regulated in the halal industry, specifying the way of butchering the animal, cleaning it, and minimalise pain. Gentle is the more pragmatic takeout of being alcohol-free which Wardah always inserts in its ads along with its halal claim.

Wardah extends this modality by establishing a brand value related to Islamic norms and synthesises it to ‘modern’ femininity characterised by neoliberalism through the portrayal of women in its advertisements. The Islamic teaching emphasises a balance between the relationship to god and others. Human beings are khalifah, entrusted with the responsibility of looking after the Earth. It stresses the importance of almsgiving (Oxford Islamic Studies, 2018; Hassan, 2014). It also teaches to pursue knowledge beyond the Quran (ijtihad) and to fulfil the daily needs (ikhtiar).

The neoliberal aspect of femininity is characterised by active, entrepreneurial, self-optimising subjects (Elias, 2017). It carries what Gill (2007) defines as postfeminist sensibility. It emphasises individualism, empowerment, and femininity as a bodily property, self-discipline, and surveillance.

Commercial analysis: identifying the Islamic-neoliberal femininity

For the purpose of identifying the Islamic-neoliberal femininity in Wardah, I analyse three commercials: Ramadhan TVC (wardahbeauty, 2018, April 30), the day & night cream TVC (wardahbeauty, 2016, October 18), independence day TVC (wardahbeauty, 2017, August 22). I also look at fashion events Wardah posted on their YouTube account (wardahbeauty, 2017, October 18).

In all TVCs, the Islamic values appear in their use of hijab. In the independence day and Ramadhan TVC, Islamic values are shown in their care of the others (the children and the needy). The day & night cream TVC shows the woman passionately does her daily activities from day to night, which is inline with the ikhtiar. In the Ramadhan TVC, the VO says “smile wholeheartedly, from the heart, the smile that shows patient, forgiving, and the smile that brings happiness.” The whole message translates to the value of sincerity and specifically Ramadhan’s value of forgiveness. Furthermore, the Ramadhan TVC shows the women’s involvement with the mosque. The independence day TVC VO stresses the capability of women to inspire. It is in line with the wisdom of khalifah who looks after and take care of the earth, in this context, the nation.

Although the individualism was a bit downplayed with the philanthropist values, the neoliberal characteristics are nonetheless apparent. All TVCs show empowerment as an individual choice and femininity as bodily property. All individuals are shown as active with the capacity to provide to their own needs. In the day & night cream TVC, the woman chooses to have her ‘stable job’ as a boutique manager during the day and continue her ‘hobby’ as a graffiti artist during the night. She is seen as empowered to maintain both her job and her hobby. She is responsible for maintaining her beautiful face and smiling even though in reality having activity all day and night is surely exhausting. In the independence day TVC, the end VO says, “we believe everyone can give, respect, care, and give inspirations to the nation.” The idea of giving the responsibility of closing the structural inequality gap to the individuals indicates one of the postfeminist sensibilities. Moreover, all the women have relatively fair skin, are affluent middle-class, and able-bodied.

In their fashion event, Islamic values are shown through the modest clothing and the portrayals of local young women designers doing ikhtiar and ijtihad. The modernity is shown as glamour and prestige, promoting individual capacity to provide for her ambition through Wardah Fashion Award, a competition for emerging designers.

The Islamic values and neoliberal femininity are indeed not mutually exclusive but neatly combined through the portrayals of women and their activities all throughout the TVC. Wardah wraps all her campaign with its tagline, translates as “beauty from the heart”. It suggests that beauty is not only skin deep but also radiates from a person through her kind heart. The tagline encapsulates both Islamic values and the neoliberal femininity.

Through the combination of neoliberalism and modesty, a new kind of femininity emerges: the active & career-oriented women who are pious (doing ikhtiar, ijtihad, and care for others). For the purpose of this paper, I will use the term pious-femininity.

The synopticon-panopticon dyad

The pious-femininity Wardah is promoting creates a disciplinary power through the use of social media. As Foucault explains, power is exercised by taking hold of the body (Foucault, 1977). For Foucault, the body is docile, subject to be measured, evaluated, and judged. The women’s bodies portrayed through Wardah’s posts are evaluated and policed based on the values of femininity Wardah is promoting.

The disciplining goes both ways, from Wardah to the followers and vice versa. This power is recognised and consistently reinforced through a “synopticon” model (Skeggs, 2009). The “synopticon” was coined by Thomas Mathiesen (1997), drawing from Foucault’s idea of the panopticon. Mathiesen (1997) argues that the mass media disciplines the body by having a large number of audience evaluating the many people portrayed in the media. The synopticon and panopticon work together and “reciprocally feed on each other” (p. 231). Through Wardah’s Instagram account, the values of femininity are recognised by its followers, taken as the norms. The followers police and evaluate the women in Wardah ads based on those norms. The followers’ comments are acknowledged by Wardah, by taking care not to feature any women outside of those accepted norms.

There is only a particular way of wearing hijab and specific kind of face that is acceptable. On wearing hijab, the acceptable way is to have the neck covered completely (wardahbeauty, 2016, December 4):

ccokta: Yuna is pretty but her neck is uncovered, I suppose it is not allowed to wear hijab and leave the neck exposed @yunamusic

Wardah has never posted any hijab woman with the neck uncovered ever since.

Transparent fabric is also unacceptable (wardahbeauty, 2018, April 22):

_kindaaa: why people like to wear transparent hijab, is it just me who thinks it is strange [flatface emoticon]

premiermuguet: I think it’s not a hijab

Regarding the face, there are preferences on a more natural, fresh, and ‘youthful’ look (wardahbeauty, 2018, April 22; April 2):

hannagumelar: need more glow on Dewi’s face

rorohanaliesia: The makeup makes her look old, sorry [sad emoticon]

miyomijc: the make up is off. I do not know why (sorry) it looks old… especially on the eyes

However, a comment points out how Wardah only features fair-skinned models (wardahbeauty, 2017, December 15; wardahbeauty, 2018, May 20). The below comments show some agency capacity and the possibility of resistance against the conception that beauty has to be fair-skinned.

pinkwine99: I wish Wardah would feature models with darker skin tone. Just a request [love emoticon]

nataliamanurung95: I wish wardah would make more logical ads.. this is Indonesia.. the skin has darker tones from birth, there are lot of skin tones.. korean girls have fair skin from birth.. hahaha… she is pretty… but she’s the wrong model…

The followers praise the celebrity as beautiful and mention how hijab adds quality to that beauty (wardahbeauty, 2018, April 2):

bcrjunop: wearing hijab does not make her less pretty.. may allah give her guidance aamiin.

haniafifah21: praise allah raline you are so beautiful wearing hijab [multiple love and kiss emoticons]

Other comments express how beauty should not only be skin deep (wardahbeauty, 2018, May 20):

najwarsd: ayana [love emoticons] has a beautiful face and heart, if Allah wills it @xoloveayana

sloukhunu_: beauty is not only by the face but by the heart

From the comments, we see that the conception of beauty conflates with the Islamic values Wardah promotes. This constant synopticon-panopticon dyad reciprocally feeds each other, creating a very particular category of beauty where the woman’s body and self-performance are always the subject of scrutiny.

Pious-femininity as cultural capital

As the conception of beauty conflates with Islamic values, the celebrities do aesthetic labour as part of their journey to piety, which is both framed by Wardah and performed ‘voluntarily’ as part of their identity. As Elias (2017) argues, looking good also require the psychic life makeover to embrace confidence, happiness, and authenticity. The turn to Islam and piety feed to this psychic dimension of looking good. Thus, the performance of pious-femininity is itself a cultural capital that has an exchangeable value with their endorsement in Wardah. It also serves as a status marker of well-respected celebrities.

Wardah invested a lot in celebrity endorsement. Wardah organises Islamic-related events and sponsored Indonesian designers team for the New York Fashion Week where its ambassadors participate (wardahbeauty, 2017, June 19; wardahbeauty, 2015). Wardah made digital videos of mother’s day and celebrity birthdays (wardahbeauty, 2018, April 3). These evidences show how pivotal the celebrity endorsers are for Wardah and how Wardah is also important for the celebrity’s visibility in those prestigious events. Thus maintaining their image to be consistent to Wardah’s value is also crucial.

Celebrities have the power to influence the masses (Marshall, 2014). The social media and its promise of authenticity allow fans to engage directly and have a peek at the celebrity’s personal life. The personal and the public life of a celebrity are enmeshed together in the presence of the social media. The increasing importance of social media makes everyone, in particular, the celebrities, do aesthetic labour in performing their selves.

Driessens (2013) states that celebrity is a form of capital. Celebrity possesses social status that can be exchanged with many different capital (Gunter, 2014, as cited in Rübsamen, 2015, p. 131). Female celebrities, in particular, embody other forms of capital related to their gender. Drawing from Pierre Bourdieu’s cultural capital, Skeggs (1997) states that femininity is a form of cultural capital. She explains, “it is the discursive position available through gender relations that women are encouraged to inhabit and use. Its use will be informed by the network of social positions of class, gender, sexuality, region, age and race” (Skeggs, 1997, p. 9). Thus certain aspects of femininity are ascribed to a woman to signify modality such as respectable/not. Femininity for Skeggs (1997) is the process of gendering women to become specific kind of women. Becoming respectable proceeds through the experience of textually mediated femininity, in this case, the pious-femininity promoted by Wardah through the celebrity endorsement.

I compare the two primary hijab celebrities’ profiles in Wardah website and their social media: Inneke Koesherawati and Dewi Sandra. They embody pious-femininity which is consistently performed in their professional and ‘personal’ life.

Inneke and Dewi are framed by Wardah as “inspiring women” who embraced Islamic identity at the height of their career, and this was the very reason Wardah chose them as ambassadors. At the Wardah website, Inneke is described as a former model and movie star who did a subversive act, “in 2001, she made a bold move to wear hijab even though hijab was not common” (“Inneke Koesherawati”, n.d.). It is generally known by the public that Inneke used to be a sex icon during the nineties through the films she starred such as Naughty Desires and The Stained Bed (van Wichelen, 2009, p. 86). The decision to part with her past life is seen as a resistance to ‘Western’ way of life, which involves the expression of sexuality and eroticism (van Wichelen, 2009, p. 88). Dewi, on the other hand, had switched religion to Christian in her previous marriage and turned back to Islam (Nadhiroh, 2017). On Wardah website, she is a singer and actress “deciding to wear hijab and strengthen her spirituality in 2012” (“Dewi Sandra”, n.d.). Dewi is inspiring because she never stops producing works as she practices piety.

Wardah indicates how wearing veil is the start of their journey to piety and frames Inneke and Dewi as pious women who try to be closer to god every time through their daily ‘modern’ activities. Wardah aligns “inspirational” with hijab, piety, productivity and hard work, or ikhtiar. It indicates embracing Islam as ‘modern’, ‘empowering’, and even subversive.

In their personal Instagram page, the aesthetic labour that the Wardah celebrities do cannot be separated from their Islamic values as every post usually coupled with captions of prayers. Dewi (dewisandra, n.d.) and Inneke (inekekoes, n.d.) post portraits of themselves, family, and friends in various occasions, including Wardah events, their travels or pilgrimage (dewisandra, 2018, May 25), charity events. The captions of prayers vary from acknowledging the imperfect self and mortality (dewisandra, 2018, June 2) to reflections during the month of Ramadhan (inekekoes, 2018, May 13). The vulnerability of ‘imperfect’ self promises authenticity to their followers, with many regards them as wise but not self-righteous.

ichi_f.y2303: the caption warms my heart,, reminding without being self-righteous,, one of my favourite hijab celebrity #Like (dewisandra, 2018, June 2)

Furthermore, they show themselves as loving wives, mothers, and daughters by posting intimate pictures of their family members accompanied with captions of gratefulness and love.

Throughout their personal Instagram account, we see how they perform their femininity and Islamic values to mark their status as well-behaved women and well-respected celebrity, which are recognised by their fans who frequently comment their post as beautiful inside-out and inspiring.

stefytiffany: Praise Allah.. Dewi is so beautiful.. beautiful inside out. (dewisandra, 2018, May 25)

ayudia_ade: praise allah mommy @inekekoes please teach me how to have this inner beauty like you.. Very beautiful… (inekekoes, 2018, May 11)

The pious-feminine beauty becomes a cultural capital as they are embodied by the celebrities, recognised by the fans, and promoted by Wardah as an extension of their brand values. For the celebrities, it allows mobility towards more fame as their value as inspiring role models increase. The ‘modern’ hijab, along with the practices of piety, is a tool to mark their status as respectable within the industry.

Conclusion

This article has shown that the “mainstreaming” of Islam has made the conception of beauty conflates with some Islamic values. Wardah integrates these values as “beauty from the heart” and consistently promotes it in various ways, including celebrity endorsement. There are gestures of women empowerment with neoliberal characteristics. The women’s bodies are subject to discipline through the social media interactions based on the norms of pious-femininity, although some of the beauty norms are also questioned. This identity has become the cultural capital for the celebrities, performed for their personal goals of continued endorsement and a marker for respectability within the industry. It shows some agency capacity in utilising the hijab and piety to negotiate certain position within the society and indicates the complex meaning of wearing hijab and practising piety for women in Indonesia.

 

*this is originally an assignment paper

**for further details on references ask me

pengabdi setan, pengabdi meme

makin ke sini, joko anwar bisa dibilang makin jujur mengeluarkan perspektif personal-politis pada karya-karyanya, yang mencerminkan kematangannya sebagai seorang sutradara. ia punya minat khusus menggali motivasi-motivasi manusia yang berkaitan dengan reproduksi, seperti di film adaptasi novel sekar ayu asmara, pintu terlarang, yang melibatkan janin dan karya seni, dan terakhir di film pengabdi setan ini. yang paling jelas adalah perspektifnya soal simbol-simbol kemapanan peninggalan orde baru yaitu agama dan keluarga inti. inilah yang paling menarik dari pengabdi setan 2017: agama dan keluarga sudah tidak jadi obat pengusir kejahatan seperti film yang lama. adegan munculnya setan berwujud ibu saat rini (tara basro) sholat jadi adegan favorit saya, lucu sekaligus seram. solusi persatuan keluarga yang ‘direvisi’ juga jadi semacam humor pahit yang menyatakan bahwa rasa kekeluargaan khas Indonesia itu tidak akan bisa melawan struktur kejahatan yang sudah terbangun sekian generasi dan menyebar. 

sepertinya joko anwar bukan penganut perspektif bahwa horor seringkali jadi simbol represi terhadap perempuan. atau jika ia sadar dengan itu, elemen ini sepertinya tidak terangkat dengan baik. ini yang disayangkan. karena tokoh ibu tidak jadi sentral cerita. motivasi ibu hamil karena ditekan mertua tidak mendapat justifikasi. ibu hanya terkulai sakit lalu mati dan wujudnya diambil alih setan, lalu kemudian diambil alih oleh meme-meme “ibu sudah bisa” di internet. 

secara alur banyak yang cukup menimbulkan pertanyaan. seperti kenapa bondi tiba-tiba tidak kesurupan lagi. kenapa, kalaupun bondi dimasuki roh nenek, nenek tega mau bunuh ian, padahal waktu hidup nenek terlihat menikmati sekali main sama ian. lalu bapak ustadz, kenapa dia yang sedang berduka dan urung menolong keluarga setan itu di hari berikutnya kemudian beramah-tamah tanpa beban dengan bapak seolah ia sudah move on dari berdukanya. kenyataan bahwa mereka mungkin anak-anak setan dari bapak yang berbeda juga seolah dibiarkan begitu saja, masak nggak syok sih tau mereka kemungkinan anak setan? banyak karakter penting yang tidak terlalu diberi perhatian dalam perkembangannya sepanjang cerita. mungkin energi tim habis di setting dan viral marketing?

dari segi set, film ini berhasil menimbulkan ketakutan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. cermin di kamar ibu adalah cermin di kamar tidur saya. lemari itu adalah lemari di kamar tamu. rasanya saya pernah menginjakkan kaki di kamar mandi sumur semacam itu. semua tekstur rumah berhasil menimbulkan rasa ngeri yang indah, tanpa jadi benar-benar menghantui. yang sebenarnya cukup untuk saya yang cemen nonton horror ini. saya suka bagaimana saya kini mendengar sam saimun “di wajahmu kulihat bulan” tidak sama lagi, dan tatapan asmara abigail tidak mudah lepas dari ingatan. semua unsur yang sifatnya aksesoris seimbang ditampilkan di film ini. tara basro adalah figur perempuan yang harus lebih sering ditampilkan di layar Indonesia. badannya nggak kerempeng, kulit nggak putih, yah cukup ada beberapa poin yang di luar standar cantik industri hiburan di Indonesia, walaupun saya tadinya mengharap dia bisa lebih dieksplor lagi aktingnya. 

bagi penggemar film horror indonesia, film ini mungkin terlalu rapi dan polished, dan kurang bisa memberi terobosan baru dalam teknik pembuatan film horror. tapi buat saya, upaya joko anwar untuk secara jelas memasukkan perspektif personal-politisnya patut diapresiasi, sehingga saya menunggu film seperti apa lagi yang akan ia buat berikutnya.

rok mini loak merah menyala sobek entah di mana

Foto dari brilio.net

foto dari brilio.net

 

#menolaklupa, tapi apa yang kamu ingat?

kenapa baju loak sobek pundaknya kamu ganti jadi rok mini merah menyala sobek entah di mana?

apa supaya kamu nanti bisa punya scene check-in di hotel jam-jaman di solo antara wiji dan sipon?

membiarkan kami membayangkan sipon menari-nari dengan rok mini merah menyala sobek entah di mana

kemudian mereka bercinta

bukan di tikar plastik tikar pandan tapi di atas ranjang yang kata jokpin rawan kekuasaan

di bawahnya rok mini merah menyala sobek entah di mana (surprise surprise) tergeletak berantakan seperti di scene-scene ewita film hollywood (aren’t you supposed to be art house?)

disaksikan dua botol coca-cola yang saling berdekatan manja (simbol kapitalisme, terima kasih, mr obvious)

dan dua bungkus kacang rebus yang mulai berembun (simbol kaum proletar, terima kasih, mr obvious)

wiji bilang coca-colanya jangan dibawa, kacangnya saja

kenapa, apa karena buruh tidak boleh punya kawasaki ninja?

tapi dia membiarkan sipon mengambil dua butir sabun (yang juga berdampingan mesranya di tatakan kopi)

apakah unilever lebih suci daripada coca-cola amatil?

atau itu sabun artisan yang disuling dari keringat pekerja?

ini biopic wiji thukul atau vakansi yang janggal dan penyakit limaenam films?

(aku ingat furnitur-furnitur yang makin lama makin mendekat di gula-gula usia)

atau kisah cinta yang asu?

kan yang asu rezim militer harto, bukan nasib malang manusia

wiji bukan manusia borjuis penakut macam aku, dia orang berani, yang begitu ditakuti orba sehingga dia diamankan untuk selama-lamanya, dan salah satu penyair terbaik yang pernah kita punyai

btw, kenapa orang malah sering bilang “wiji bukan penyair terhebat indonesia, tapi…”

why? kalau ngobrol soal wiji sebagai penyair semua orang langsung jadi harold bloom/nirwan dewanto

zonder bukti dan argumen seperti biasa

apa relevansinya dalam mengingat memorinya?

#menolaklupa wiji thukul bukan penyair terhebat indonesia? istirahatlah kanonisasi sastra. dong

bisa kamu sebutkan satu saja lagi nama penyair protes indonesia?

susah ya, soalnya mereka semua sudah ditendang keluar dari dunia puisi indonesia yang penuh episode sunyi dan membosankan

baca dong politik sastra saut situmorang atau kekerasan budaya pasca 1965 wijaya herlambang

sori ya, auteur, tapi “hanya satu kata: lawan!” bukan kata-kata yang tercipta sambil duduk-duduk di beranda di mana angin tak kedengaran lagi sambil seka-sekaan nama dan mencemaskan sepotong lumpur

hanya satu kata: lawan adalah kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan tak mati-mati

kamu pasti tahu, kan itu ada di booklet premiere filmmu

tapi kamu tahu juga gak, wiji pernah membaca 100 halaman collected works lenin setiap hari selama berbulan-bulan?

wiji orang yang selalu gelisah dengan apa yang terjadi di republik ini, yang selalu mengacungkan tangan di setiap diskusi ndhakik-ndhakik, yang tak tergetar oleh mulut-mulut orang pintar

kenapa kamu memilih menampilkan dia tidur terus di pengasingan?

nggak bisa baca, nggak bisa menulis puisi

apa tidak mungkin dia juga akan selalu gelisah ingin tahu situasi di jakarta di palur di sukoharjo selama dalam pengasingan di pontianak?

apa tidak mungkin dia juga akan diskusi serius tentang bagaimana bertahan di bawah tanah dan bukan cuma ketakutan, kebosanan, kemudian plesir naik boat di kapuas trus minum tuak di kedai mamak?

ini biopic wiji thukul atau vakansi yang janggal dari kisah cinta yang asu?

ya ya, tentu kamu punya poetic license untuk memodifikasi isi puisi-puisinya, malah ubah aja kisah hidupnya sekalian, gapapa kok, go nutz

tapi jangan khawatir, caramu memakai poetic licensemu juga akan menunjukkan ke(tidak)pedulianmu sebenarnya pada apa

aku pernah menanyakan kepadamu apakah sofa mewah yang digotong kemana-mana di vakansi sebenarnya adalah simbol invasi kapitalisme ke sendi-sendi masyarakat indonesia

tidak, katamu, sofa itu, seperti ranjang, adalah simbol ketegangan seksualitas

o, begitu doang ternyata, kamu ternyata lebih one dimensional daripada kukira

aku terlalu lebay dong menginterpretasi vakansi?

mungkin benar juga dong aku suka onani

kalau kamu terus begini, lama-lama kamu akan seperti goenawan mohamad yang maunya melihat kenyataan dari atas ranjang saja

atau sudah?

you want to turn it on its head by staying in bed

but you’re not john lennon

oya aku punya satu lagi judul alternatif buat filmmu:

misalkan kita di pontianak, di kota itu, katamu lho ya, kata-kata telah jadi padam

Save

Save

Save

The Red Turtle: Animasi Ghibli Rasa Eropa

 

trt

Apa yang bakal anda lakukan kalau anda terdampar di sebuah pulau sendirian? Walaupun pulau itu berisi semua yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, tapi kesepian adalah sesuatu yang lebih pedih dari luka apapun di dunia ini.

Penyu yang punya umur panjang secara harfiah dan metafor sudah makan garam alias pengalaman hidup di dunia ini. Menurut beberapa penelitian spesies penyu bahkan sudah ada dari jaman dinosaurus. Beberapa mitologi menyatakan bahwa penyu menggendong dunia di cangkangnya.

Dengan pengalaman hidup seperti itu penyu adalah lambang dari kebijaksanaan, dan ketika satu penyu merah menemukan seorang laki-laki yang terdampar dan nekat ingin terus pergi dari pulau.

Walaupun film setengah Ghibli ini terkesan jauh dengan nuansa film Ghibli biasanya, tapi menariknya The Red Turtle tetap setia dengan faham Ghibli yang mengedepankan tokoh perempuan dan membuat peran perempuan sangat dominan.

Penyu merah mengorbankan sedikit dari waktu hidupnya yang panjang untuk jadi seorang istri dan ibu. Ini melambangkan bahwa peran menjadi istri dan ibu dari seorang perempuan, walaupun penting tapi bukanlah segalanya. Perempuan juga mahluk yang punya tujuan punya hidup sendiri sebagai fokusnya.

The Red Turtle atau La Tortue Rouge buatan  Michaël Dudok de Wit yang diproduksi barengan antara Wild Bunch dan Studio Ghibli adalah satu cerita animasi tanpa dialog yang membuat kepala penontonnya menyusun narasi sendiri dari adegan-adegan film itu. Karena itu pula film ini bisa begitu luas diinterpretasikan.

Walaupun penonton dibebaskan menyusun narasi di kepala, The Red Turtle seperti tetap membangun benteng yang membuat kita seutuhnya tidak pernah bebas dari norma dan logika. Sepanjang film anda akan dimanjakan oleh gambar indah tapi dikurung oleh musik latar nelangsa.

Mata karakter Studio Ghibli yang biasanya belo karena dibuat dalam semesta Eropa dibuat mengecil. Ini juga seperti melambangkan semakin kita dibebaskan berpikir, terkadang kita akan makin menyempitkan pikiran kita.

Film ini seperti film drama cinta lainnya punya premis cinta berawal dari kebencian dan berakhir ketika semuanya memang harus berakhir. Tapi walau cerita berakhir, buat penyu yang umurnya panjang, cerita ini adalah hanya sebuah penggalan kecil hidupnya, dan penyu merah kembali melanjutkan hidupnya, berenang dengan selaw melintasi samudera.

bukan sekedar nonton tv

Selamat datang di era baru nonton serial televisi. Jaman mutakhir di mana kegiatan menonton tidak terbatas menatap layar kaca, tapi mencakup: membaca review dan analisa bayangan yang keliatan di balik laci atau sosok seseorang yang ngeblur di latar belakang dalam sebuah frame di sebuah adegan, menonton ulang dua atau tiga kali lagi untuk mem-pause, men-screengrab, dan mem-pinch zoom in tiap frame untuk memastikan tidak ada petunjuk yang dilewatkan, menonton ulasan screengrab-pinch zoom in orang lain di youtube, mengkonfirmasinya di reddit, bahkan tidak menutup kemungkinan mengarang teori konspirasi alur cerita lalu kekeuh-kekeuhan di forum komik karena super yakin bahwa teori bikinan sendiri (yang lahir dari pembedahan sistematis dan terperinci lintas episode dan lintas season) lebih tokcer daripada teori orang lain, atau minimal, debat-debat di watsap group sama teman sendiri.

Melebarnya aktivitas nonton TV ini tentunya jadi menarik. Karena kita sudah tidak jadi penonton pasif lagi, tapi penonton yang selalu memproses informasi, menganalisa, dan memprediksi. Serial dengan alur yang ruwet menantang kita untuk selalu berteori.

Serial TV kini menjadi napza (hampir)halal yang semakin tahun semakin luas spektrumnya. Penonton serial TV makin jadi pecandu akut yang menjalani lingkaran adiksi tak berkesudahan, ngap-ngapan depan berbagai bentuk umpan di internet.

 

 

westworld-extra

kalo pajangan muka aja ditebakin satu-satu…

 

Saya melihat ini terjadi dengan para fans Game of Thrones dan mengalaminya sendiri saat mengikuti serial Westworld. Ada kehampaan yang ditinggalkan setelah menonton tiap episode. Kekosongan itu harus segera diisi dengan ulasan dan analisa dari berbagai sumber baik video maupun tulisan. Ada ratusan sumber yang bisa digunakan untuk mengisi waktu sebelum episode berikutnya tayang di minggu depan. ‘Tontonan’ tambahan ini meningkatkan histeria kita terhadap sebuah serial, bikin tambah nagih. Siklus adiksi ini terjadi dengan pola yang sama dengan fangirling drama korea. Bedanya, jika penonton Westworld et al memprediksi siapa dalangnya, maka penonton drama korea menduga kapan ciumannya. Teoretikus GoT memutar ulang adegan si anu dibunuh, pecinta drako memutar adegan aegyo (unyu) pasangan utama gelundungan di bawah pohon sakura yang berguguran.

 

so-is-the-maze-part-of-fords-new-narrative-or-are-the-overlapping-characters-a-coincidence

nggak menutup kemungkinan jumlah kerut mata Ed Harris diitungin

got1

di masa depan, jumlah kepala kayak gini bisa jadi CLUE!

Saya sendiri menikmati jadi serial addict amerika dan asia, dan bersyukur dunia ini jadi sedikit lebih menyenangkan dengan hadirnya mereka. Lalu apa yang akan terjadi dengan sinetron Indonesia di masa depan ya?

boy

situ kira gampang bikin misnetron??

*gambar diambil dari sini, sini, sini

black mirror season 3: segitiga setan internet, korporasi, dan pemerintah

Black Mirror adalah ketakutan terhadap adiksi manusia akan teknologi yang tepat sasaran dan mungkin lebih non-fiksi dari yang kita duga. Charlie Brooker mengambil berbagai elemen penting-penting-nggak-penting dari perilaku kita di era digital, menariknya beberapa tahun ke depan, dan memperlihatkan semua elemen itu berlipat ganda dalam intensitas dan jumlah menjadi monster-monster apokaliptik, besar tapi tak terlihat, menghancurkan seluruh peradaban dengan sistematik, perlahan, dan pasti. Menonton musim ketiga serial ini seperti mendengar vonis seorang peramal kesurupan dalam mixtape, bertubi-tubi kemalangan yang sulit dipercaya, tapi pasti kejadian semua.

Terdiri dari 6 episode dengan mood dan treatment yang berbeda-beda, season ketiga Black Mirror membuatmu terombang-ambing dalam kegundahan satu dan kegelisahan lainnya.

Nosedive adalah andai-andai dalam rona pastel dengan musik ala-ala film Her, di mana rating jadi currency baru yang sedikit lebih penting dari uang, tapi tidak mutually exclusive. Supaya bisa beli rumah bahkan kondangan, rating harus bagus, supaya rating bagus, harus punya winning formula yang terdiri dari ramah-tamah, gaya hidup sehat-organik, dan sedikit ketulusan. (Cukup familiar yah melihat persona-persona instagram sekarang!) Bryce Dallas Howard main dengan pas sebagai anti heroine, wanna-be princess yang culun dan naif, semacam anak baru lulus sekolah unggulan yang tiba-tiba harus menghadapi dunia nyata pakai buku panduan yang berjudul “Martha Stewart Living”. Ketika teknologi canggih dikaitkan dengan praktik-praktik kapitalisme, manusia akan jadi semakin kaku dan konservatif karena dalam konteks kapitalisme, semua yang abstrak harus bisa diconvert jadi materi yang terhitung dan terukur.  Nilai moral pun menjadi nilai rating. Identitas seseorang jadi sebuah rapot budaya.  Sepertinya konversi abstrak ke materi ini jadi senjata Brooker untuk membuat aneka hipotesisnya tentang masa depan.

Playtest berhasil membuat saya ketawa gelisah, mirip seperti habis menonton The Lobster. Saya suka bagaimana episode ini menertawakan stereotipe bule-bule umur 20-an yang merasa harus keliling dunia untuk cari jati diri, tapi tetap tidak bisa lepas dari cengkraman mami. Pertemuan tokoh utama cowok dengan cewek London cakep ini jadi sebuah karikatur gaya hidup kawula muda priviledged dunia pertama. Ke bar, tidur bareng, lalu ngobrol sok-sok dalem. Premis episode ini (tentang main game gak bakal mati) jadi jebakan buat saya, walaupun untuk yang lain mungkin terlalu obvious, mungkin karena perubahan mendadak mood cerita jadi gothic thriller. Tapi buat saya, yang paling menarik adalah bagaimana premis “nggak akan mati” sebenarnya menjadi aspirasi ras kulit putih untuk “keliling dan melihat dunia”. Episode ini bukan tentang main game buat saya, ini lebih tentang bagaimana warga dunia pertama dengan segala privilese nya itu ingin merasa hidupnya lebih berarti dengan mengunjungi negara-negara dunia ketiga dan hidup ala-ala kita, tapi pada akhirnya akan balik ke “kampung” halamannya dengan segala kenyamanan mereka dan bersyukur dalam hati bahwa hidup mereka baik-baik saja. Dunia di luar adalah permainan buat mereka, di mana mereka bisa seenaknya masuk, menghadapi ketakutannya, lalu keluar lagi dengan utuh. Sayangnya, dalam cerita ini, tidak semudah itu bisa keluar.

Shut Up and Dance adalah mimpi buruk buat yang doyan streaming dan donlot-donlot, yang suka malas baca syarat dan ketentuan, yang ponselnya udah integrated sama g**gle. Kisah coming-of-age-teror ini dikabarkan pernah terjadi betulan, jadi kekuatannya bukan di cerita melainkan teror yang nyata. Melalui bocah yang keliatannya baru saja akil balig, episode ini mau bilang bahwa manusia sangat rapuh apalagi kalau urusannya dengan selangkangan dan teknologi.

San Junipero adalah episode favorit saya dalam antologi ini. Bercerita tentang sebuah masa di mana surga ada alternatifnya, yaitu “cloud” berwujud kota virtual bernama San Junipero, tempat yang tua bisa jadi muda lagi, disko semalam suntuk, keliling naik jeep dan menjelajahi tahun-tahun paling dikenang dalam hidupnya. LAFF anet penerjemahan surga di langit menjadi cloud komputer. Ketika hidup setelah mati adalah ketidakpastian, bukankah lebih baik kita hidup selamanya di surga made by human? Pernikahan dua nenek, pertemuan mereka di San Junipero abadi dan alunan “heaven is a place on earth” menghantui sampai episode terakhir seri ini. Warna-warni elektrik dalam realita virtual, dengan pantulan neon di genangan air dan kostum gonjreng dipadu dengan warna muted dari masa depan yang sepi dan seperti zombieland, menunjukkan bahwa mimpi selalu lebih indah dari kenyataan. Manis dan mengerikan sekaligus.

Episode kelima, Man Against Fire, sedikit lebih mudah ditebak karena twist yang berulang di beberapa cerita zombie. Di sini, Brooker mengeksplorasi bagaimana teknologi dimanfaatkan oleh pemerintah (kekuasaan) untuk mengubah kemanusiaan yang masih tersisa dari seorang prajurit jadi monster berdarah dingin.

Hated in the Nation menyadarkan saya bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang gratis. Isu kelestarian lingkungan memang selalu jadi sebuah isu yang “basah” karena rentan ditunggangi motif-motif lain. Menurut cerita ini, akan selalu ada udang di balik batu ketika penguasa rela menginvestasikan jumlah yang besar pada sebuah proyek swasta. Motif terselubung itu biasanya tidak jauh dari melanggar privasi orang, yaitu mengumpulkan database dan memata-matai. Dan ketika rencana itu berbalik jadi bencana, kita dipertontonkan betapa pemerintah impoten mengatasinya. Ada alasan kenapa internet berkembang seperti sekarang, dan itu sangat menakutkan untuk dibayangkan, karena sedikit kemungkinan ada seorang aktivis slash anarkis cyber yang akan beraksi untuk menegakkan keadilan, apalagi jika lawannya adalah cyber bullies yang seperti kumpulan lebah lapar.

Internet dan teknologi hanyalah sekedar harapan fana buat umat manusia. Tiap inovasi akan selalu dikooptasi pemerintah atau korporasi, dan dipakai  secara masif untuk membawa umat manusia ke arah yang jauh lebih buruk. Black Mirror adalah pesimisme generasi X yang masih sempat tumbuh besar dengan analog. Tapi seluruh titik tolak dari tiap cerita menunjukkan kejelian abang Brooker menangkap gejala penyakit kronis masyarakat (bergesernya kualitas jadi kuantitas, moral jadi material, ilusi akan kebebasan dan anonimitas) meninggalkan kita dengan pertanyaan, apa kita sebetulnya sudah sampai di titik kronis, ataukah ini hanya sebuah paranoia yang ngelantur? Apakah yang lagi kita tertawakan dengan gelisah ini fiksi, atau kenyataan?

 

*gambar diambil dari sini

Relationship 3.0 ala Bride for Rip Van Winkle

Bride for Rip Van Winkle adalah petualangan tiga jam yang penuh kejutan. Walaupun bukan kejutan ala confetti warna-warni, tapi lebih seperti kejutan rasa muted colours agak fade-fade gitu. Sutradara Shunji Iwai dalam film terbarunya ini mencoba mendefinisikan ulang arti keluarga dan hubungan antar manusia dalam era sosial media di Jepang melalui sebuah narasi yang aneh dan plot penuh ketidakpastian bernuansa melodrama slash gothic.

Iwai membangun ceritanya di tengah konteks Jepang sekarang, saat angka kelahiran turun dan semua orang punya masalah dengan hubungan nyata, sehingga lebih baik menghabiskan waktu sendiri berinteraksi di media sosial dengan nickname-nickname spektakuler. Tapi apa sebenarnya arti hubungan nyata? 

Di awal cerita kita diperkenalkan dengan sosok Nanami (Haru Kuroki), seorang guru SMP paruh waktu yang pemalu dan bersuara kecil. Ia suka main Planet (sosmed semacam ask.me), bertemu dengan calon suaminya juga dari dunia online. Saat menikah, Nanami bingung karena ia tidak punya teman ataupun keluarga yang bisa diundang, kecuali ayah ibunya yang sudah bercerai. 

Nanami lalu mulai berkenalan dengan Amuro (Go Ayano), pengusaha misterius serba bisa yang menawarkannya segala service dari menyediakan teman dan keluarga bohongan untuk datang ke kawinan, memata-matai sang suami karena dicurigai berselingkuh, sampai menawarkan ia pekerjaan setelah dipecat dari sekolah.

Amuro ternyata punya agenda lain. Ia menjerumuskan (atau menyelamatkan?) Nanami ke dalam perceraian hingga ia tak punya tempat tinggal. Cara bicaranya all-business dan wajahnya nggak terlalu spesial, tapi motif aslinya tidak pernah jelas sampai film berakhir. Dia seperti embodiment agan-agan Kaskus yang sukses dalam kepala saya: dingin, faceless, dengan identitas sebatas dagangan-dagangannya.

Amuro menawarkan aneka pekerjaan ke Nanami, termasuk menjadi teman bohongan mempelai perempuan di suatu pernikahan lain. Di sanalah ia bertemu Mashiro (Cocco), seorang aktris kurang terkenal, ngakunya. Mashiro yang meledak-ledak dan karismatik adalah antitesis dari Nanami yang pasif. Bersama tiga orang yang tidak dikenal, mereka berperan jadi keluarga dalam sehari. Kehangatan yang mengharukan terjadi saat mereka after party mimik mimik cantik dan mengaku bahwa mereka semua sendiri dan tidak berkeluarga.

Seperti plot-plot cerita gothic, Amuro, menggiring Nanami untuk bekerja di sebuah mansion tua dengan pemilik misterius. Di sinilah Nanami bertemu lagi dengan Mashiro dan memasuki babak baru hidupnya. Dengan sangat organik Iwai menunjukkan perkembangan hubungan Nanami dan Mashiro yang semakin intim. Mereka gandengan, pelukan, cium pipi, tidur bareng, cium bibir, semua dalam area yang lebih intim dari friendzone, dan lebih meluap-luap dari romancezone. Mashiro mengajak Nanami belanja gaun pengantin dan melakukan upacara pernikahan bohongan, yang tentunya kelihatan lebih berarti dibanding adegan pernikahan Nanami dan mantan suaminya sebelumnya. Saat semua rahasia terbuka, Nanami menghadapinya seperti orang yang benar-benar berbeda.

Film ini adalah jawaban sang sutradara akan pesimisme terhadap hubungan antar manusia di masa depan. Ketika keluarga inti sudah tidak berfungsi lagi, manusia akan selalu menemukan cara lain untuk menjalin hubungan, karena keintiman akan selalu dirindukan. Gender bisa jadi tidak penting lagi, kelas sosial dan pekerjaan jadi tidak relevan, bahkan status-status seperti “teman”, “pacar”, “suami/istri” bisa dengan gampang ditukar-tukar. Apakah internet membuat kita semakin terkotak-kotakkan, atau sebaliknya? Apakah identitas sejati kita adalah anonimitas?

Oleh: Ratri Ninditya

gambar dari sini

Paduan Rasa Asia dan Amerika di Uncontrollably Fond

Korea Selatan mulai memasuki babak baru: makin banyak drama diproduksi sebelumnya (nggak kejar tayang). Hasil preproduced drama secara otomatis jadi lebih kece. Skripnya kuat, production value-nya tinggi, bahkan beberapa hampir menyamai film (art direction, pemain, special effect, dll), dan lebih manusiawi buat pemain dan tim produksinya, yang cukup sering terdengar sakit-sakitan atau suntik vitamin C saat sedang kejar tayang. Nggak ada lagi mengada-ada cerita supaya menambah atau mengurangi jumlah episode.

 

Preproduced drama yang dibuat di 2016 antara lain Cheese in the Trap, Descendant of the Sun, lalu disusul dengan Uncontrollably Fond, Scarlet Heart: Ryeo, dan Cinderella and Four Knights.

 

Uncontrollably Fond mengawali relapse saya terhadap drako (drama korea) setelah 6 bulan insap. Tidak seperti judulnya, ini adalah jenis drama tragedi. Konflik sepanjang cerita adalah gimana rahasia dipertahankan dan dibongkar antara tokoh-tokohnya. Sebagai drako aliran rada serius, konflik juga melibatkan pertentangan kelas dan moralitas manusia.

 

Sebagai sebuah drama seri preproduced, semua kelihatan direncanakan dengan matang, baru shooting. Ada plot twist di tiap episode, semua karakter abu-abu, semua dikasih konteks dan latar belakang yang menyebabkan mereka ambil keputusan ajaib, dan yang paling penting menurut saya, drama ini berhasil menghadirkan proporsi yang seimbang antara dua identitas yang jadi referensi mereka: over the top ala amrik dan subtlety ala Asia.

 

suzy-uncontrollably-fond-800x435

 

Bukan drama Korea kalau tidak ada adegan-adegan fuzzy yang menyelip cantik di antara semua ketegangan dan tragedi itu. Chemistrynya Kim Woo Bin dan Suzy kerasa banget, sementara si second lead Lim Ju Hwan aktingnya bikin cewek-cewek langsung sayang. Pemeran pendukung lain dicasting dengan tepat, dalam porsi yang pas.

 

Tentunya yang saya bilang Korea banget adalah gimana mereka berhasil menghadirkan rasa over the top dan subtlety itu, bukan formula-formula drako yang sering direview seperti gendong punggung dan cewek miskin vs. cowok kaya, atau ibu tiri gila harta. Semuanya tentu ada, tapi jadi tidak relevan lagi saat kita ingin melihat betapa Asia dan Amerikiyin dipadu harmonis di dalam racikan drama Korea.

 

Adegan yang bikin drama ini Korea banget salah satunya adalah adegan ulang tahun paman, di mana semua duduk di kursi makan malam-malam, mengitari sebuah kue yang besar, sambil pakai kacamata hitam, karena [[spoiler]] mereka baru tahu Joon Young (Kim Woo Bin) sakit dan udah mau metong, dan mereka nggak pengen kelihatan bengkak dan berair matanya di sebuah acara ulang tahun, di depan orang yang sudah akan dijemput maut. Ada keinginan untuk jaga suasana demi kebaikan semua, tapi dilakukan dengan cara yang norak. Contoh lain ada di sebuah adegan yang jadi klimaks atau, paling tidak, poin utama seluruh bangunan cerita ini, Noh Eul (Bae Suzy) menyerahkan USB pada bapak ex-jaksa-sekarang-politisi. USB itu berisi bukti kejahatan yang tiga belas tahun ditutupi. Jika diserahkan ke polisi akan membuat si bapak masuk penjara dan hancur karir panjang politiknya. Bukannya menyerahkan bukti skandal ke media atau polisi, Noh Eul justru membiarkan moral si bapak yang menentukan nasibnya sendiri. Di dalam perjuangannya mencari kebebasan dan keadilan, Noh Eul nrimo dengan apa pun keputusan akhir si bapak, dengan keyakinan bahwa manusia pada dasarnya baik.

 

uf19-00499

 

Sebagai sebuah drama tragedi tentu drama ini berakhir tragis. Tapi, hal itu disikapi dengan mono no aware aja oleh karakter-karakternya, rela dan pasrah seperti melihat musim yang berlalu. Buat saya, drama ini adalah what Korea is and what Korea should be, uncontrollably fond.

 

 

Oleh: Ratri Ninditya

 

 

 

*gambar diambil dari sini dan Soompi

#salahfokus: wregas bhanuteja

A nondescript primitive mask with Wregas Bhanuteja

A nondescript primitive mask with Wregas Bhanuteja*

setelah empat kali mencoba menonton film prenjak wregas bhanuteja dan selalu kehabisan tiket, akhirnya berhasil juga di suatu siang yang panas di kineforum di belakang 21 tim. menurut seorang teman yang tidak mau disebutkan namanya for fear of banci budaya reprisal, menonton prenjak yang menang discovery prize yang disponsori leica di semaine de la critique udah jadi status simbol baru buat hipster budaya (banci budaya’s new nom de guerre) jakarta, bagaikan pakai tas kånken buat menenteng koleksi moleskine yang didampingi buku glorified self-help lala bohang (dengan potongan tiket prenjak sebagai ersatz bookmark).

siang itu yang diputar selain prenjak juga empat film pendek wregas yang lain sebelum itu dalam sebuah program yang dinamai “fokus: wregas bhanuteja”, semacam retrospective keauteran dia selama ini dari senyawa (2012) sampai prenjak (2016) yang diputar secara kronologis. di antara kedua itu ada lembusura (2014), lemantun (2014), dan floating chopin (2015) yang sudah saya tonton semua sebelumnya. menonton maraton karya seorang sutradara selalu asoi, membuat semua benang merah karyanya terlihat, kecenderungan-kecenderungannya, obsesinya, kekuatannya, kelemahannya, kegenitannya, ideologinya (kalau ada), etc. begitu juga yang terjadi kali ini.

jadi?

senyawa

senyawa di sini bisa berarti satu nyawa atau alkemi antara seorang anak perempuan katolik dan bapaknya yang islam dan khotib mesjid. keduanya berkongsi mempersembahkan sebuah memento buat ulang tahun pertama kematian ibu/istri mereka (yang juga katolik), dalam sebuah kerjasama lo-fi yang melibatkan dumbphone murahan dan tapedeck kadaluwarsa untuk merekam lagu ave maria versi kesayangan nyokap di sebuah kampung di manggarai yang menjadi metafor yang agak terlalu cute dan dipaksakan buat kemeltingpotan indonesia harga nego no afgan. film diakhiri dengan bapak dan anak makan nasi kuning di atap rumah sambil memperdengarkan ave maria rekaman si anak kepada foto nyokap dalam pigura sambil memandang vista kampung melayu yang oh indahnya jika tanpa konflik sektarian/tawuran tarkam. seandainya SARA bisa beralkemi menjadi bhinneka tunggal ika samawa!

lembusura

my personal fave on second viewing. kandungan metanya cukup untuk menetralisir gojek fisik masteng jogja (“susune gedhi lo”) yang so klise dan tiring. bisa saja film ini diinterpretasi sebagai usaha wregas mendekonstruksi mitos penunggu dalam budaya jawa (lembusura si penunggu gunung kelud yang sedang meletus waktu film ini dibuat — hujan abunya jadi salah satu elemen paling mistis dan indah dalam film ini) menjadi, ya, gojekan ala masteng jawa yang kita membuatnya abadi. tapi siapa/apa kita itu? superstition — solo show grotesque lembusura sempat dipertimbangkan apa distop saja waktu adzan soljum berkumandang — kah?  alam — diwakili gunung berapi hiperaktif seperti kelud — kah? tidak begitu jelas. wregas cukup lihay bercerita dan melucu, namun sepertinya dia cenderung membiarkan pertanyaan-pertanyaan lebih filosofis yang muncul dalam filmnya tidak terjawab (ataukah dia tidak sadar pertanyaan-pertanyaan itu ada?)

lemantun

terasa sebagai film terlemah dalam retrospektif ini karena kesentimentilannya yang mereduksi sebuah dramakomedi keluarga berbagi warisan menjadi kisah tentang indahnya kesetiaan seorang anak kepada ibunya. lemari-lemari (lemantun) yang tadinya siap menjadi metafor sarat makna untuk rahasia-rahasia keluarga yang mengerikan (think festen) akhirnya terbengkalai jadi sekedar red herring dari kecenderungan sentimentalisme wregas (ada juga di senyawa, dan nanti ada lagi di prenjak).

floating chopin

dalam esai yang saya link di atas, eric sasono memandang floating chopin sebagai le petit tour wregas untuk menafsirkan kembali oposisi biner eropa vs. non-eropa dalam kerja budaya (contohnya bikin film).

maybe.

interpretasi lain bisa juga film ini ternyata sebuah extended instagram video tentang “pakansi” (meminjam istilah eric) non-janggal sepasang hipster jogja. #sky #clouds #beach #food #nature #sunset #night

ending film ini menunjukkan satu lagi kecenderungan wregas, kelihaiannya membuat kesimpulan dalam filmnya terasa suspended (in this film, literally), stuck in the middle, a work in progress.

kecenderungan ini seperti saya katakan tadi ada juga di lembusura. apakah wregas masih mencari jawaban-jawabannya, atau lagi cari aman? (enak juga membiarkan pertanyaan ini juga menggantung seperti ini.)

prenjak

tidak seperti yang diiklankan sendiri oleh wregas (“it’s all about seduction“) ternyata meki dan kenti dalam prenjak ternyata red herring juga buat sebuah kisah derita single mum dalam sebuah negara dunia ketiga yang patriarkal di mana kuasa meki ternyata menjadi musnah di hadapan hegemoni kenti-kenti yang mendominasinya.

dua key scenes dalam film ini adalah waktu si cewek di detik keduapuluhenam di bawah meja dengan korek gas menyala akhirnya memutuskan untuk membuka mata dan melihat kenti si cowo yang sedang mulai ngaceng. matanya terpaku dan dia lupa korek gas harus mati dan dia harus memalingkan muka lagi di detik ketigapuluh. sampai di sini adegan ini terasa klise sekali, bahkan misoginistis, bagaimana mungkin seorang single mum yang katanya mbuh ra ruh tentang suaminya yang awol dan hanya setuju untuk masuk ke bawah meja untuk gantian melihat kenti si cowok demi mendapatkan ekstra Rp 60 ribu buat bayar kos begitu melihatnya jadi langsung tersepona dan mungkin basah juga sehingga later that day dia mau-mau aja dianterin pulang sama cowok gatel oportunistis ini?

namun kemudian ada semacam redemption buat scene ini di akhir film waktu single mum memandikan anaknya dan menyabuni kenti kecil anaknya — juga diliatin (o begitu total dominasi kenti dalam hidupmu, single mum!), sehingga timbullah kemungkinan interpretasi bahwa single mum tadi waktu di bawah meja mungkin bukan terpana karena terangsang tapi terpana dalam sebuah epiphany bahwa, ya, hidupnya sejauh ini masih berakhir menjongkok di bawah kenti (posisi yang sama waktu dia menyabuni kenti anaknya).

problem terbesar prenjak: apakah relasi kuasa dunia ketiga sekali lagi harus diceritakan dalam kisah tentang deviant sexuality (bandingkan misalnya dengan the fox exploits the tiger’s might lucky kuswandi)? buat konsumsi domestik mungkin ini strategi yang masih bikin ngaceng, tapi dalam konteks jualan ke festival film luar negeri? makin crot! 😛 8=======D~~~

walaupun berita-berita lokal soal prenjak sering berusaha menjelaskan tentang kehiperlokalan tradisi mrenjak ini, wregas sendiri bilang, “i’m glad the story is not too local, too javanese for the foreign audience to understand.”

but is being “not too local” necessarily a good thing?

prenjak’s transgressive rhetoric and why festivals are loving it

dalam bukunya “extreme cinema: the transgressive rhetoric of today’s art film culture”, mattias frey mengeluhkan tentang filmmaker-filmmaker dari negara kecil termasuk negara dunia ketiga yang melakukan “auto-erasure” dan “auto-ethnography/self-orientalism” untuk menarik perhatian festival-festival film bergengsi di negara dunia pertama. auto-erasure terjadi saat seorang filmmaker mengurangi atau menghilangkan ciri-ciri lokal film mereka dan menekankan elemen-elemen yang lebih universal dan gampang dimengerti. sementara auto-ethnography/self-orientalism terjadi saat produk kultur sebuah negara (film misalnya) mempertahankan atau bahkan melebih-lebihkan “identitas lokal” mereka buat jualan. contoh identitas lokal itu misalnya loch ness monster, geisha, atau ya, tradisi prenjak di jogja tahun 80an.

wregas sepertinya sudah lumayan lihay memainkan dua strategi di atas, yang di atas kertas sepertinya bertentangan satu sama lain. semua filmnya di atas mengandung auto-ethnography/self-orientalism (negara kesatuan republik manggarai di senyawa, lembusura di lembusura, jawirisme di lemantun, hashtag #SEAneoralism di awal floating chopin, tradisi mrenjak di prenjak, bahasa jawa) tapi juga auto-erasure (manggarai sebagai anykampung, nkri; topeng lembusura yang seperti amalgamasi segala macam topeng primitif yang biasa dinikmati publik barat di museum-museum mereka (try lantai dasar centre pompidou); setting dan cerita prenjak yang despite bahasa jawanya bisa anytown, asean — inikah juga kenapa ada hashtag #SEAneorealism itu, bukan #gunungkidulneorealism?).

sejauh manakah kedua strategi pemasaran film-film wregas di atas mempengaruhi suara filmnya sendiri? apakah high-irony dalam lembusura (“sekalian mukul gendang aja, biar makin primitif”) bagian dari ideologinya, atau bagian dari pemasaran lagi (karena high-irony seperti itu laku di festival-festival luar negeri)? apakah prenjak akan jadi film yang lebih bagus jika menganalisa lebih dalam konteks lokal tradisi mrenjak daripada menguniversalkannya? apakah imaji sutradara naive-genius di interview wregas dengan semaine de la critique di sini — yang menghindari pembicaraan yang lebih filosofis tentang filmnya sendiri seperti dia lakukan di media lokal di sini dan lebih berfokus pada obrolan-obrolan teknis ala kru — bagian dari pemasaran atau the real wregas?

di poin inilah keinlanderan hispter budaya nusantara yang berbondong-bondong menghadiri screening prenjak setelah menang penghargaan di cannes, sebuah isu kuno, bisa menjadi berbahaya. how many of them would’ve gone seandainya prenjak menangnya di vladivostok film fest? seberapa banyak dari mereka yang datang demi novelty value ngeliat jembut (mekinya ga keliatan kok) dan kenti di layar bioskop indonesia, dan berapa banyak yang datang karena berpikir sebuah film yang menang sesuatu di cannes pasti bagus? fokus: wregas, atau #salahfokus?

 

 

 

 

*foto dari sindang