black mirror season 3: segitiga setan internet, korporasi, dan pemerintah

Black Mirror adalah ketakutan terhadap adiksi manusia akan teknologi yang tepat sasaran dan mungkin lebih non-fiksi dari yang kita duga. Charlie Brooker mengambil berbagai elemen penting-penting-nggak-penting dari perilaku kita di era digital, menariknya beberapa tahun ke depan, dan memperlihatkan semua elemen itu berlipat ganda dalam intensitas dan jumlah menjadi monster-monster apokaliptik, besar tapi tak terlihat, menghancurkan seluruh peradaban dengan sistematik, perlahan, dan pasti. Menonton musim ketiga serial ini seperti mendengar vonis seorang peramal kesurupan dalam mixtape, bertubi-tubi kemalangan yang sulit dipercaya, tapi pasti kejadian semua.

Terdiri dari 6 episode dengan mood dan treatment yang berbeda-beda, season ketiga Black Mirror membuatmu terombang-ambing dalam kegundahan satu dan kegelisahan lainnya.

Nosedive adalah andai-andai dalam rona pastel dengan musik ala-ala film Her, di mana rating jadi currency baru yang sedikit lebih penting dari uang, tapi tidak mutually exclusive. Supaya bisa beli rumah bahkan kondangan, rating harus bagus, supaya rating bagus, harus punya winning formula yang terdiri dari ramah-tamah, gaya hidup sehat-organik, dan sedikit ketulusan. (Cukup familiar yah melihat persona-persona instagram sekarang!) Bryce Dallas Howard main dengan pas sebagai anti heroine, wanna-be princess yang culun dan naif, semacam anak baru lulus sekolah unggulan yang tiba-tiba harus menghadapi dunia nyata pakai buku panduan yang berjudul “Martha Stewart Living”. Ketika teknologi canggih dikaitkan dengan praktik-praktik kapitalisme, manusia akan jadi semakin kaku dan konservatif karena dalam konteks kapitalisme, semua yang abstrak harus bisa diconvert jadi materi yang terhitung dan terukur.  Nilai moral pun menjadi nilai rating. Identitas seseorang jadi sebuah rapot budaya.  Sepertinya konversi abstrak ke materi ini jadi senjata Brooker untuk membuat aneka hipotesisnya tentang masa depan.

Playtest berhasil membuat saya ketawa gelisah, mirip seperti habis menonton The Lobster. Saya suka bagaimana episode ini menertawakan stereotipe bule-bule umur 20-an yang merasa harus keliling dunia untuk cari jati diri, tapi tetap tidak bisa lepas dari cengkraman mami. Pertemuan tokoh utama cowok dengan cewek London cakep ini jadi sebuah karikatur gaya hidup kawula muda priviledged dunia pertama. Ke bar, tidur bareng, lalu ngobrol sok-sok dalem. Premis episode ini (tentang main game gak bakal mati) jadi jebakan buat saya, walaupun untuk yang lain mungkin terlalu obvious, mungkin karena perubahan mendadak mood cerita jadi gothic thriller. Tapi buat saya, yang paling menarik adalah bagaimana premis “nggak akan mati” sebenarnya menjadi aspirasi ras kulit putih untuk “keliling dan melihat dunia”. Episode ini bukan tentang main game buat saya, ini lebih tentang bagaimana warga dunia pertama dengan segala privilese nya itu ingin merasa hidupnya lebih berarti dengan mengunjungi negara-negara dunia ketiga dan hidup ala-ala kita, tapi pada akhirnya akan balik ke “kampung” halamannya dengan segala kenyamanan mereka dan bersyukur dalam hati bahwa hidup mereka baik-baik saja. Dunia di luar adalah permainan buat mereka, di mana mereka bisa seenaknya masuk, menghadapi ketakutannya, lalu keluar lagi dengan utuh. Sayangnya, dalam cerita ini, tidak semudah itu bisa keluar.

Shut Up and Dance adalah mimpi buruk buat yang doyan streaming dan donlot-donlot, yang suka malas baca syarat dan ketentuan, yang ponselnya udah integrated sama g**gle. Kisah coming-of-age-teror ini dikabarkan pernah terjadi betulan, jadi kekuatannya bukan di cerita melainkan teror yang nyata. Melalui bocah yang keliatannya baru saja akil balig, episode ini mau bilang bahwa manusia sangat rapuh apalagi kalau urusannya dengan selangkangan dan teknologi.

San Junipero adalah episode favorit saya dalam antologi ini. Bercerita tentang sebuah masa di mana surga ada alternatifnya, yaitu “cloud” berwujud kota virtual bernama San Junipero, tempat yang tua bisa jadi muda lagi, disko semalam suntuk, keliling naik jeep dan menjelajahi tahun-tahun paling dikenang dalam hidupnya. LAFF anet penerjemahan surga di langit menjadi cloud komputer. Ketika hidup setelah mati adalah ketidakpastian, bukankah lebih baik kita hidup selamanya di surga made by human? Pernikahan dua nenek, pertemuan mereka di San Junipero abadi dan alunan “heaven is a place on earth” menghantui sampai episode terakhir seri ini. Warna-warni elektrik dalam realita virtual, dengan pantulan neon di genangan air dan kostum gonjreng dipadu dengan warna muted dari masa depan yang sepi dan seperti zombieland, menunjukkan bahwa mimpi selalu lebih indah dari kenyataan. Manis dan mengerikan sekaligus.

Episode kelima, Man Against Fire, sedikit lebih mudah ditebak karena twist yang berulang di beberapa cerita zombie. Di sini, Brooker mengeksplorasi bagaimana teknologi dimanfaatkan oleh pemerintah (kekuasaan) untuk mengubah kemanusiaan yang masih tersisa dari seorang prajurit jadi monster berdarah dingin.

Hated in the Nation menyadarkan saya bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang gratis. Isu kelestarian lingkungan memang selalu jadi sebuah isu yang “basah” karena rentan ditunggangi motif-motif lain. Menurut cerita ini, akan selalu ada udang di balik batu ketika penguasa rela menginvestasikan jumlah yang besar pada sebuah proyek swasta. Motif terselubung itu biasanya tidak jauh dari melanggar privasi orang, yaitu mengumpulkan database dan memata-matai. Dan ketika rencana itu berbalik jadi bencana, kita dipertontonkan betapa pemerintah impoten mengatasinya. Ada alasan kenapa internet berkembang seperti sekarang, dan itu sangat menakutkan untuk dibayangkan, karena sedikit kemungkinan ada seorang aktivis slash anarkis cyber yang akan beraksi untuk menegakkan keadilan, apalagi jika lawannya adalah cyber bullies yang seperti kumpulan lebah lapar.

Internet dan teknologi hanyalah sekedar harapan fana buat umat manusia. Tiap inovasi akan selalu dikooptasi pemerintah atau korporasi, dan dipakai  secara masif untuk membawa umat manusia ke arah yang jauh lebih buruk. Black Mirror adalah pesimisme generasi X yang masih sempat tumbuh besar dengan analog. Tapi seluruh titik tolak dari tiap cerita menunjukkan kejelian abang Brooker menangkap gejala penyakit kronis masyarakat (bergesernya kualitas jadi kuantitas, moral jadi material, ilusi akan kebebasan dan anonimitas) meninggalkan kita dengan pertanyaan, apa kita sebetulnya sudah sampai di titik kronis, ataukah ini hanya sebuah paranoia yang ngelantur? Apakah yang lagi kita tertawakan dengan gelisah ini fiksi, atau kenyataan?

 

*gambar diambil dari sini

Paduan Rasa Asia dan Amerika di Uncontrollably Fond

Korea Selatan mulai memasuki babak baru: makin banyak drama diproduksi sebelumnya (nggak kejar tayang). Hasil preproduced drama secara otomatis jadi lebih kece. Skripnya kuat, production value-nya tinggi, bahkan beberapa hampir menyamai film (art direction, pemain, special effect, dll), dan lebih manusiawi buat pemain dan tim produksinya, yang cukup sering terdengar sakit-sakitan atau suntik vitamin C saat sedang kejar tayang. Nggak ada lagi mengada-ada cerita supaya menambah atau mengurangi jumlah episode.

 

Preproduced drama yang dibuat di 2016 antara lain Cheese in the Trap, Descendant of the Sun, lalu disusul dengan Uncontrollably Fond, Scarlet Heart: Ryeo, dan Cinderella and Four Knights.

 

Uncontrollably Fond mengawali relapse saya terhadap drako (drama korea) setelah 6 bulan insap. Tidak seperti judulnya, ini adalah jenis drama tragedi. Konflik sepanjang cerita adalah gimana rahasia dipertahankan dan dibongkar antara tokoh-tokohnya. Sebagai drako aliran rada serius, konflik juga melibatkan pertentangan kelas dan moralitas manusia.

 

Sebagai sebuah drama seri preproduced, semua kelihatan direncanakan dengan matang, baru shooting. Ada plot twist di tiap episode, semua karakter abu-abu, semua dikasih konteks dan latar belakang yang menyebabkan mereka ambil keputusan ajaib, dan yang paling penting menurut saya, drama ini berhasil menghadirkan proporsi yang seimbang antara dua identitas yang jadi referensi mereka: over the top ala amrik dan subtlety ala Asia.

 

suzy-uncontrollably-fond-800x435

 

Bukan drama Korea kalau tidak ada adegan-adegan fuzzy yang menyelip cantik di antara semua ketegangan dan tragedi itu. Chemistrynya Kim Woo Bin dan Suzy kerasa banget, sementara si second lead Lim Ju Hwan aktingnya bikin cewek-cewek langsung sayang. Pemeran pendukung lain dicasting dengan tepat, dalam porsi yang pas.

 

Tentunya yang saya bilang Korea banget adalah gimana mereka berhasil menghadirkan rasa over the top dan subtlety itu, bukan formula-formula drako yang sering direview seperti gendong punggung dan cewek miskin vs. cowok kaya, atau ibu tiri gila harta. Semuanya tentu ada, tapi jadi tidak relevan lagi saat kita ingin melihat betapa Asia dan Amerikiyin dipadu harmonis di dalam racikan drama Korea.

 

Adegan yang bikin drama ini Korea banget salah satunya adalah adegan ulang tahun paman, di mana semua duduk di kursi makan malam-malam, mengitari sebuah kue yang besar, sambil pakai kacamata hitam, karena [[spoiler]] mereka baru tahu Joon Young (Kim Woo Bin) sakit dan udah mau metong, dan mereka nggak pengen kelihatan bengkak dan berair matanya di sebuah acara ulang tahun, di depan orang yang sudah akan dijemput maut. Ada keinginan untuk jaga suasana demi kebaikan semua, tapi dilakukan dengan cara yang norak. Contoh lain ada di sebuah adegan yang jadi klimaks atau, paling tidak, poin utama seluruh bangunan cerita ini, Noh Eul (Bae Suzy) menyerahkan USB pada bapak ex-jaksa-sekarang-politisi. USB itu berisi bukti kejahatan yang tiga belas tahun ditutupi. Jika diserahkan ke polisi akan membuat si bapak masuk penjara dan hancur karir panjang politiknya. Bukannya menyerahkan bukti skandal ke media atau polisi, Noh Eul justru membiarkan moral si bapak yang menentukan nasibnya sendiri. Di dalam perjuangannya mencari kebebasan dan keadilan, Noh Eul nrimo dengan apa pun keputusan akhir si bapak, dengan keyakinan bahwa manusia pada dasarnya baik.

 

uf19-00499

 

Sebagai sebuah drama tragedi tentu drama ini berakhir tragis. Tapi, hal itu disikapi dengan mono no aware aja oleh karakter-karakternya, rela dan pasrah seperti melihat musim yang berlalu. Buat saya, drama ini adalah what Korea is and what Korea should be, uncontrollably fond.

 

 

Oleh: Ratri Ninditya

 

 

 

*gambar diambil dari sini dan Soompi

Mungkin Sebenarnya Hidup Itu Memang Tak Bermakna: Re-encounter / Hye Hwa, Dong ( 혜화,동) (2010)

fullsizephoto146186

Hye Hwa (Yoo Da In)

“It might be possible that the world itself is without meaning.”
(Mrs. Dalloway – Virginia Woolf)

Apa yang terjadi kalau ternyata kehidupan ini pada akhirnya yah begitu saja dan tak ada maknanya? Entahlah. Mungkin banyak orang langsung tenggelam dalam depresi berkepanjangan atau histeris meratapi hidup tanpa akhir yang dicita-citakan. “Re-encounter / Hye Hwa, Dong ( 혜화,동)”, entah mengapa, meninggalkan rasa “mungkin sebenarnya hidup itu memang tak bermakna” tersebut buat saya.

“Re-encounter” dibuka dengan adegan Hye Hwa (Yoo Da In) mengendarai motor untuk menjemput seekor anjing pendatang yang tidak diinginkan oleh pemilik rumah. Hye Hwa nampaknya memiliki obsesi untuk menyelamatkan anjing-anjing terlantar atau yang tak diinginkan. Sebagai mata pencaharian, ia memiliki salon anjing kecil yang bersebelahan dengan klinik hewan, atau mungkin juga bagian dari klinik tersebut. Anak si dokter hewan klinik sebelah dekat dengan Hye Hwa, bahkan terkadang memanggilnya dengan “ibu”. Kedekatan Hye Hwa dengan sang anak dan aksi-aksi penyelamatannya terlihat seperti manifestasi penebusan entah rasa bersalah atau kehilangan atau bahkan keduanya karena di masa lalu Hye Hwa tidak dapat “menyelamatkan” bayinya sendiri yang meninggal tak lama setelah dilahirkan.

Paling tidak itulah yang tertanam di ingatannya selama 5 tahun. Sampai kemudian mantan kekasih dan ayah dari anaknya, Han Soo (Yeo Yeon Sook), yang menghilang sebelum kelahiran bayi mereka, mendadak muncul di hadapannya dan mengatakan bahwa anak mereka ternyata masih hidup.

“What if?”

The deadly question. Bagaimana jika ternyata Han Soo benar? Bagaimana jika ternyata anak mereka masih hidup dan tidak meninggal seperti yang selama ini tertanam di ingatan Hye Hwa? “Bagaimana jika” begitu menghantui Hye Hwa dan Han Soo hingga menjebak keduanya dalam delusi yang diciptakan Han Soo.

“Re-encounter” sebenarnya berpotensi untuk jadi melodrama super melankolis, tapi sutradara Min Young Keun nampaknya lebih tertarik untuk menghadirkan rasa sepi ketimbang bermain dengan air mata. Hye Hwa dewasa kini tinggal sendiri ditemani anjing-anjingnya. Ia masih memelihara kegemaran mengumpulkan potongan kukunya dalam sebuah tabung film kamera bekas, seperti ingin menyimpan bagian dirinya yang dibuang. Ibunya yang menua kini harus berpegangan pada bentangan tali rafia jika ingin ke kamar mandi. Han Soo yang kembali ke rumahnya kini berjalan setengah tertatih, mungkin akibat bekas luka tembakan atau cedera saat latihan saat dia di militer.

Semua disampaikan Min Young Keun dengan tenang, nyaris tanpa emosi eksterior. Suppressed emotions. Masuk akal mengingat kondisi kehidupan keluarga Hye Hwa. Untuk sebagian orang, mereka tidak mampu untuk jadi melankolis. Ada hidup yang harus dijalani, ada perut yang harus diisi. Mungkin bagi sebagian orang lainnya, apalagi mereka yang kehidupannya berada di tengah ke atas “Piramida Maslow”, hidup (idealnya) berisi mimpi-mimpi yang patut diperjuangkan untuk diwujudkan. Hye Hwa tidak berada di sini. Kesehariannya hanya diisi berkutat pada anjing, sama seperti banyak orang yang kesehariannya berisi rutinitas-rutinitas penyambung hidup. Kadang terlalu lelah bahkan untuk merasakan perasaannya sendiri, apalagi mencari makna.

fullsizephoto146176

Han Soo (Yoo Yeon Seok)

Perasaan-perasaan Hye Hwa dewasa yang ditekan hadir dengan subtil di tangan Yoo Da In (yang baru saya kenal melalui film ini), bertolak belakang dengan Hye Hwa remaja yang berani dan cuek. Yoo Yeon Seok, dalam peran terbaiknya (buat saya), mewujudkan Han Soo ke dalam sosok anak mama yang tak mampu menghalau patah hati sehingga menciptakan delusi untuk menyembuhkan luka, bukan hanya dirinya namun juga luka Hye Hwa.

Ketenangan, kesepian, kedataran, keheningan atau apalah perasaan yang nyaris tanpa gejolak ini entah kenapa begitu menghisap saya. Beberapa kali menyaksikan “Re-encounter”, saya tetap tidak mampu meraba dengan tepat perasaan film ini. Mungkin inilah yang membuat saya merasa mungkin pada akhirnya hidup yah begitu saja. Sekedar waktu yang berlalu, sampai nanti saatnya mati. Bahkan saat menulis ini pun rasanya begitu samar. Sama seperti tatapan Hye Hwa saat memundurkan mobilnya ke arah Han Soo. Samar.

Kenangan Berbalut Kehangatan di Ssangmundong: Reply 1988 (응답하라 1988) (2015)

reply family

Warga Ssangmundong

Hangat. Teramat sangat hangat.

Bagaikan menyaksikan kembali “A.C.I” dicampur “Rumah Masa Depan” dicampur “Jendela Rumah Kita”. Menikmati kenangan yang dibalut kehangatan, kira-kira begitu rasanya.

The Reply series have been around for almost 4 years now. Dan selama itu itu pula, walaupun sampai jatuh cinta sama duo dodol Yoo Yeon Seok-Son Ho Joon (pemain “Reply 1994”) di variety Friends/Youth Over Flowers, keberadaannya gak bikin saya menyegerakan menonton seri ini. Sampai beberapa waktu lalu mendadak iseng. Ho oh, hanya karena iseng dan mulai kekurangan asupan drako seiring dengan nyaris berakhirnya “Bubblegum”.

Namun ternyata oh ternyata, tak disangka tak dinyana saya dibuat begitu jatuh cinta dengan seri ini.

Kenangan mungkin merupakan kunci formula seri Reply. Kalau ditanya ke saya, kenangan yang mana? Kan saya bukan orang Korea. Iya betul banget. Tapi melihat ke belakang, era itu (ini khusus bicara “Reply 1988” ya (selanjutnya ditulis R88), karena saya belum nonton 2 seri pendahulunya) nyaris dikuasai oleh hanya satu gelombang budaya populer, yaitu budaya populer Amerika. Ini gak terlepas dari agenda imperialisme Amerika yang mungkin dengan bodohnya gak kita sadari waktu itu (lha iyak, wong saya masih piyik). “Catatan Si Boy” adalah salah satu produk film masa itu yang habis-habisan menghadirkan referensi budaya populer dan gaya hidup keamerika-amerikaan. Di salah satu serinya, CSB bahkan sampai mengambil setting di LA, sarang anak-anak tajir pejabat Orba masa itu. Korea Selatan, seperti halnya Indonesia, masa itu juga dilanda demam budaya populer Amerika. Political fact, Korea Selatan merupakan salah satu pendukung terbesar Amerika Serikat sampai saat ini.

Okay, I think that’s enough. Nanti malah kepanjangan ngelantur jadi telaah sejarah deh.

Kembali ke Reply, seperti 2 seri pendahulunya, R88 juga menceritakan kisah kasih sekumpulan anak muda yang pada tahun 1988 itu tinggal bertetangga di Ssangmundong, sebuah area di pinggiran Seoul. Akamsi lah judulnya. Seri Reply (katanya) selalu punya benang merah menebak siapa calon suami si tokoh utama perempuannya. Tapi untungnya ini tidak lantas membuat R88 berkutat ngurek-ngurek si Deok Seon (yang diperankan dengan sangat unyu bin gengges oleh Hyeri, yang lebih dulu dikenal sebagai personil Girl’s Day) bakal kawin sama siapa doang. Bahkan porsi tebak-tebak buah manggis calon suami dan drama dunia pergebetan Deok Seon mungkin gak sampai 40% dari keseluruhan cerita R88.

reply1988 - 2

Akamsi Ssangmundong

Seperti halnya “Rumah Masa Depan”, dan tentunya drama yang jadi inspirasinya “Three Families Under One Roof” (“Hanjiboong Segajok”) (maaf, buat yang ini saya gak punya pengetahuan apapun kecuali referensi dari forum Soompi http://forums.soompi.com/en/topic/346174-drama-2015-answer-me-1988-%EC%9D%91%EB%8B%B5%ED%95%98%EB%9D%BC-1988/?page=2), R88 komplit menghadirkan hubungan di antara mak-bapak-anak, kakak-adik, tetangga, teman, de el el de el el. Hubungan manusia sehari-hari, pre-gadget era. Masa ketika dimana saat kita mau main, tinggal keluar rumah, berdiri di depan pagar tetangga, terus teriak-teriak panggil namanya tanpa perlu janjian playdate. Atau di kalau di kasusnya akamsi Ssangmundong ini, main gerebek kamarnya Taek (si super manis Park Bo Gum). Kakak adik gantian nongkrongin telfon rumah dengan saling ancam, “Jangan lama-lama lu, gua lagi nungguin telfon!” Tetangga dari saling kirim makanan, pinjam bahan masakan, sampai pinjam uang buat tambal sulam kondisi finansial yang kembang kempis. Manis, tapi gak kemanisan. Menyentuh, tapi gak cengeng. Pas. Seperti menikmati pisang goreng dan teh manis hangat di teras rumah sore hari.

R88 juga sepertinya tidak merasa perlu untuk menghadirkan ide-ide besar, justru kekuatannya terletak pada kesederhanaan. Anak bete karena ortu (seperti) pilih kasih, abege curi-curi nonton bokep, pensiun dini, sampai menopause segala dibahas di R88. Penggarapan detail semua aspek yang nyaris tanpa cela menempatkan R88, bersama dengan Heard It Through The Grapevine, sebagai salah satu drama Korea terbaik di daftar drako kesukaan saya.

Oke lanjut. Bicara tentang “membangkitkan kenangan” tentu gak aci (cuma anak lama yang ngerti istilah ini) kalau kita gak membicarakan tentang budaya populer yang tadi sempat disinggung secuil sebelumnya. Jika film “Architecture 101” menghidupkan kembali tren 90an di kebudayaan populer Korea Selatan, R88 sepertinya justru terinspirasi atau mungkin memanfaatkan gelombang tren 80an yang tahun lalu melanda dunia K-Pop (check out SHINee’s “Married To The Music”, my personal favourite album of 2015 and Wonder Girls’ “I Feel You”, which MV looks like today’s copy of Robert Palmer’s “Addicted To Love”). Soundtrack R88 bahkan merajai tangga-tangga lagu Korea Selatan selama beberapa minggu

SHINee – Married To The Music

Wonder Girls – I Feel You

Generasi X dan secuil generasi Y mungkin masih inget celana baggy, kemeja gombrong, nintendo, keriting papan, poni trap (poni traaaaap!!!), LA Gear & Nike Air Jordan? Semua hadir di R88. Salah satu episodenya bahkan memperlihatkan bagaimana Deok Seon membentuk poni trap-nya. That one really hits home, LOL. Gimana Deok Seon ngakalin celananya yang lurus jadi baggy juga manis sekali. Karena keluarganya bukan keluarga berada dan selalu kekurangan secara finansial, Deok Seon (kayaknya) gak punya banyak baju, sepatu pun harus nunggu giliran ada uang untuk diganti. Untuk mengakali supaya tetap trendy (bahaha, aku gak percaya pake kata ini lagi), Deok Seon melipat sisi luar celana jeansnya lalu melipat bagian bawah ke atas.Voilà! Jadi deh celana baggy. Sangat inspirasional!

Mirip-mirip malam keluarga kita dulu menonton “Gita Remaja” atau “Berpacu Dalam Melodi”, setiap tahun semua keluarga di Ssangmundong ini gak absen nongkrongin kompetisi MBC College Musicians Festival, yang tahun 1988 itu dimenangkan oleh Infinite Track (무한궤도) dari Seoul National, Yonsei dan Sogang University

Infinite Track (무한궤도) – To You (그대에게)

Infinite Track waktu itu sepertinya membawa angin segar ke dunia musik Korea Selatan dengan aliran rock proggresive-nya, sedikit berbeda dari tren umum yang masih didominasi pop melankolis. Cukup menarik membaca bahwa ini pun dipengaruhi faktor politik masa itu. Rasa synth kuat dalam musik Infinite Track (yang merupakan cikal bakal N.E.X.T) ini juga kita temukan di band-band jazz fusion Indonesia circa 80an, seperti EmeraldKarimata dan Krakatau (mohon dikoreksi kalau salah, maklum ingatan semi-berkarat).

Emerald Band – Ronggeng

Referensi barat di film ini mungkin lebih akrab buat penonton Indonesia, seperti grup NKOTB, film “Dirty Dancing”, lagu tema “MacGyver” dan “Knight Rider” serta tidak ketinggalan lagu “Nothing’s Gonna Change My Love For You”-nya George Benson/Glenn Medeiros.

        “Nothing’s Gonna Change My Love For You”. Lagu wajib darmawisata

R88 juga tidak melewatkan peristiwa-peristiwa penting bersejarah dalam kehidupan sosial ekonomi politik Korea Selatan pada masa itu, seperti Olimpiade Seoul dan restrukturisasi Bank Hanil, walaupun beberapa detail sepertinya rada keteteran. Misalnya pada kasus Bo Ra (Ryu Hye Young), kakak Deok Seon yang adalah aktivis mahasiswa. Dari blog Following Kpop;

“But the show creators turned her into an important activist who goes out of her way to participate in the occupation of the Minjeong Party headquarters in Episode 5. According to an Ize article, this event was expected to be violent and the participants went in knowing that they would all be arrested. It would have been very unlikely for a female college sophomore to have gone in and come out in one piece. In addition, the event was organized by a group to which Bo-ra’s school Seoul National University did not belong at the time due to an ideological rift. She must have felt very strongly about the event to have joined it on her own and wouldn’t have come back home to hide under a blanket.”

Dengan topik yang beragam dan materi yang kuat, R88 tidak takut akan durasi tiap episodenya yang tergolong panjang. Jika hampir semua drama Korea berdurasi kurang lebih 1 jam per episode, R88 berdurasi rata-rata 1,5 jam per episodenya, bahkan hampir mencapai 2 jam di episode-episode terakhir. Durasi yang panjang ternyata toh tetap membuat penonton manteng di depan TV. Ini dibuktikan dengan pencapaian rating yang memecahkan rekor rating tertinggi sepanjang masa untuk TV kabel, yaitu 18,8% untuk episode finalnya. Rating rata-rata TV kabel biasanya tidak mencapai 2 digit, tidak seperti TV umum. 

Walaupun R88 ini kocaknya ampun-ampunan, rasanya belum pernah selama ngikutin drama Korea di tiap episode pasti saya punya sesi mewek.  Seduapuluh-puluhnya!

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di sini.

Menguliti Pretensi Basi Kaum Borjuasi: Heard It Through The Grapevine (풍문으로 들었소) (2015)

Sebenarnya Go Ah Sung adalah alasan utama saya mengikuti Heard It Through The Grapevine (HITTG) alias Poongmooneuro Deoreotso. Hanya karena saya begitu terkesan dengan filmnya sebelum drama ini, Elegant Lies (Wooahan Geojitmal). Namun ternyata kemudian semua elemen HITTG mengajak saya menikmati roller-coaster emosi sepanjang 30 episode.

“Semakin urban/modern/borjuis (saya lupa pastinya apa) suatu kaum, justru semakin puritan mereka.” Saya lupa pernah dengar pendapat ini di mana, mungkin dari Dave Lumenta saat peluncuran perdana Jurnal Selatan. Mungkin juga gak tepat seperti itu, tapi kira-kiranya begitulah.

HITTG menunjukkan kepuritanan kaum borjuis dengan cara yang paling mereka sukai, elegan. Sepanjang 30 episode, penulis Jung Sung Joo dan sutradara Ahn Pan Seok pol-polan muntah kritik dan orgasme pemikiran mengolok-olok kaum borjuis dan #negaragagal Korea Selatan.

vlcsnap-00070

Sesuai dengan judulnya, HITTG yang juga dikenal dengan judul “I Heard It As A Rumour” dengan cerdas mengadaptasi hobi “bisik-bisik tetangga” ini sebagai benang merah bercerita untuk mengupas #bebanborjuasi si kelas 1% masyarakat. Di Indonesia sendiri beberapa tahun lalu sempet heboh di media sosial tentang mailing list yang berisi gosip-gosip sosialita Jakarta.

HITTG menghadirkan drama komedi gelap dan satir yang menguliti pretensi-pretensi basi borjuasi dan perjuangan kelas yang tak pernah henti. Kisah percintaan abege Han In Sang (Lee Joon) dan Seo Bom (Go Ah Sung) yang tadinya saya pikir akan menjadi fokus HITTG sekaligus memainkan peranan drama romantis tradisional di drama ini, ternyata “hanya” digunakan sebagai epilog dari pertunjukan sesungguhnya, yaitu pertarungan pemikiran dan kegelisahan manusia-manusia dalam sebaran tatanan kelas sosial masyarakat yang berjenjang. Mungkin ini juga sebabnya HITTG nyaris diberi judul War Of Brilliant Minds”.

vlcsnap-00018

Manusia-manusia dalam kepala Jung Sung Joo sepertinya adalah manusia-manusia yang selalu berpikir dan dalam kegelisahannya mempertanyakan ketidakadilan yang dihasilkan oleh tatanan masyarakat yang kacau balau dan negara yang gagal hadir bagi warganya serta menolak pasif dengan menerima kondisi sosial sebagai sesuatu yang sudah sebagaimana mestinya.

Dengan kalimat-kalimat sederhana, Jung Sung Joo menembakkan berbagai kritik tajam yang seringkali disempilkan sekilas lalu dalam sebuah percakapan, padahal sentilan-sentilan seiprit tersebut mewakili kekhawatiran yang jauh lebih besar. Jung Sung Joo menghadirkan berbagai problematika sosial politik akibat dari ketidaksetaraaan masyarakat Korea Selatan dengan kecermatan detil yang, well as much as I hate to use this term, tapi, luar biasa.

Isu kesetaraan gender dimunculkan bukan melalui retorika, jargon dan gugatan, namun digambarkan dengan suatu kondisi yang memang sudah seharusnya seperti itu. Sebuah kondisi yang (sepertinya) sangat jauh dari kenyataan. Korea Selatan, seperti juga halnya dengan Jepang, memiliki budaya patriarki yang begitu kuat, bahkan cenderung misoginis. Kesetaraan gender sepertinya masih merupakan mimpi yang belum akan terwujud dalam jangka waktu dekat.

Dua drama Jung Sung Joo yang pernah saya tonton, HITTG dan “Secret Love Affair” nyaris tidak pernah, atau bahkan tidak sama sekali, menghadirkan dialog dan situasi yang seksis, yang kalaupun ada lebih pada menampilkan kenyataan daripada melestarikan diskriminasi itu sendiri.

HITTG juga menyindir ketakutan masyarakat Korea Selatan, terutama kaum borjuisnya yang dalam drama ini diwakili oleh sosok Han Jeong Ho, akan ide-ide sosialisme seperti yang dicetuskan Seo Bom melalui kritiknya terhadap ide dasar ekonomi pasar dan kapitalisme. Korea Selatan, seperti halnya Indonesia, merupakan negara boneka Amerika Serikat untuk mencapai ambisinya menjadi imperialis baru. Segala hal yang “berbau” kesetaraan dan “kiri” sukses dipropangandakan Amerika Serikat sebagai komunisme, yang artinya adalah kejahatan yang harus diperangi. Selama puluhan tahun, rakyat Indonesia juga ditanamkan propaganda ini oleh monster bernama Soeharto dan Orde Baru. Jika banyak negara boneka mulai menyadari keganasan Amerika Serikat, Korea Selatan sepertinya masih merupakan salah satu pendukung terbesarnya secara politik, ekonomi, bahkan budaya populer.

Carut marutnya sistem pendidikan pun tak lepas dari sorotan HITTG. Merupakan pengetahuan umum kalau dunia pendidikan Korea Selatan terobsesi dengan segala yang berbau “ter”. Tingkat dan peringkat pendidikan merupakan tiket untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi dan kesuksesan material. Seo Bom memiliki mimpi akan datang suatu masa dimana semua orang bisa mendapatkan pendidikan yang setara dan setinggi mereka mau tanpa harus menjadi anak cucu chaebol (konglomerat) yang bisa membayar biaya pendidikan privat maupun swasta serta menggaji tinggi guru-guru pribadi.

Di mata kaum borjuasi yang keribetan dengan pretensi-pretensi basinya, kita juga tidak perlu mengagung-agungkan pendidikan luar negeri. Kalau pun sekolah di luar negeri, kita ambil yang baik-baiknya saja dan tetap memegang nilai-nilai luhur warisan bangsa. Berbanggalah dengan apa yang kita miliki. Preeet! Terdengar akrab sekali gak sih di kuping? Kaum borjuasi Indonesia juga nampaknya keribetan dengan dilema dualisme inlanderisme dan chauvinisme kepriyayian mereka ini, hahak! (Saya lupa ini ada di episode berapa. I’ll be back with the screenshot when I find it)

Alih-alih menampilkan keluarga chaebol, Jung Sung Soo menampilkan keluarga kaya pemilik firma hukum yang memegang teguh “Bibit, Bebet, Bobot”. Dengan strategi ini, HITTG sekaligus menyasar hukum yang mandul dan keadilan yang sayangnya berpihak pada uang dan koneksi. Di permukaan semuanya terlihat manis, adil dan menjunjung tinggi HAM, padahal di dalamnya disesaki praktek licin, kotor dan menjijikkan.

Komedi gelap sepertinya merupakan pendekatan paling pas untuk menyampaikan materi dan naskah Jung Sung Joo yang sarat kritik. Dengan banyaknya pesan yang ingin disampaikan, Ahn Pan Seok ketat menjaga alur dan emosi sehingga nyaris tidak ada adegan yang sia-sia. Ditambah dengan editing yang jeli, 30 episode HITTG terasa bagaikan menonton “Homeland” versi drama. Tegang bok!

Tegang, menggelikan dan menyentuh. HITTG juga menghadirkan kehangatan hubungan antar manusia yang tulus dan seringkali terdapat dalam hal-hal kecil yang sederhana atau bahkan dalam keputusasaan. Walaupun seringkali didera kebimbangan, manusia-manusia di dalam HITTG mungkin merupakan simbolisme harapan akan manusia dengan hati nurani yang sehat. Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya bersih dan melepaskan diri dari lingkaran setan sistem yang busuk, tapi penting untuk selalu menyadari apa yang salah dari masyarakat dan sistem tersebut.

vlcsnap-00071 vlcsnap-00073

Secara sinematografis, HITTG lebih banyak menggunakan gambar dengan variasi teknik medium shots, dibandingkan dengan kebanyakan drama Korea yang gemar menggunakan close up shots. Mungkin, ini hanya sekedar analisa dangkal sih, HITTG ingin mengajak penontonnya untuk melihat gambaran dunia yang lebih luas, dimana keberadaan kita selalu terkait dengan sistem yang lebih besar. Kebalikan dari umumnya penggunaan close up shots di dalam dunia drama yang jika sekarang disandingkan dengan HITTG terasa lebih “egois” atau self-centered. Mungkin lho…

Seimbang dengan naskah; set, kostum bahkan musik pun dihadirkan dengan kecermatan detil yang nyaris sempurna. HITTG menghindari menggunakan lagu pop (OST adalah bagian penting dari drama Korea) sebagai latar belakang adegan, tapi menggunakan musik yang memang digubah khusus untuk drama ini. Mungkin ini trademark-nya Ahn Pan Seok ya, di “Secret Love Affair” dia juga tidak menggunakan lagu-lagu populer, tapi mungkin juga karena “Secret Love Affair” berlatar belakang dunia musik klasik.

Dan yang paling utama tentunya kecermatan detil ini sangat terlihat dalam penulisan karakter-karakternya. Dengan Han Jeong Ho (bapak Han In Sang) di satu kutub dan Kim Jin Ae (ibu Seo Bom) di kutub lainnya, Jung Sung Joo menampilkan karakter-karakter utuh lainnya dalam spektrum tersebut. Han Jeong Ho (yang diperankan super ciamik oleh Yu Jun Sang) adalah perwujudan “Monster Menyedihkan” (pendapat Seo Bom tentang ayah mertuanya) sedangkan Kim Jin Ae (Yoon Bok In) adalah perwujudan harapan akan manusia ideal yang “baik dan sehat”. Sedangkan semua karakter lainnya terombang-ambing di dalam spektrum kebimbangan tersebut.

vlcsnap-00065 vlcsnap-00049

Menggunakan istilah yang sangat borjuis, HITTG terasa seperti sebuah Mahakarya. Mungkin juga merupakan salah satu pencapaian terbaik sinema Korea Selatan, melampaui batasan formatnya. Bagi saya, tidak lagi menjadi penting apakah karya ini dihadirkan melalui layar kaca atau layar lebar.

Di luar Han Jeong Ho dan kaum borjuis lainnya, semua manusia ini berjuang untuk menemukan diri mereka kembali. Han In Sang (Lee Joon, noona padamu!) bagaikan mimpi revolusi munculnya pemberontak dari dalam lingkaran kaum borjuis itu sendiri yang menusuk tepat di jantungnya.

HITTG mungkin tidak akan sekonyong-konyong menimbulkan kesadaran kolektif akan rusaknya sistem sosial masyarakat, namun mengutip ucapan Yoon Je Hoon (Kim Kwon), “Aku cuma berharap dapat membuat lubang kecil.”

Yang lemah mungkin akan menyerah karena lelah dan kekuasaan bisa saja selamanya bercokol di atas. Namun HITTG sepertinya ingin memberikan harapan akan semangat perjuangan yang tak pernah henti, sekecil apapun itu.

vlcsnap-00074vlcsnap-00075

 

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di sini.

Eskapisme Ke Realitas : Emergency Couple

EC 1

 

Perpisahan, kadang meninggalkan urusan-urusan dan perasaan-perasaan yang tak selesai. Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lamanya. Unfinished business inilah yang dieksplorasi sutradara Kim Cheol-Kyu dalam drama seri komedi romantis Emergency Couple (EC).

Oh Chang-Min (Choi Jin-Hyuk) dan Oh Jin-Hee (Song Ji-Hyo), bercerai 6 tahun lalu dalam keadaan gontok-gontokan, tiba-tiba bertemu kembali saat menjadi mahasiswa kedokteran magang di bagian gawat darurat. What are the odds of that happening? Ya nggak odd-odd amat, secara setengah dari kata-kata yang membentuk istilah komedi romantis adalah komedi. Tapi ini tidak lantas menjebak EC dalam ketidaknyataan maupun absurditas demi mengejar efek romantis bombastis semata.

 

EC 2

Oh Chang-Min & Oh Jin-Hee melintasi kerumunan orang di Myeongdong saat kawin lari.

 

Awal mengikuti EC saya hanya ingin menikmati drama seri komedi romantis yang menyenangkan dimana saya bisa lari dari kemuakan hidup di Jakarta. Memang tidak salah bagian menyenangkannya, tapi setelah beberapa episode saya tenggelam dalam rangkaian cerita sebuah hiburan sederhana yang memberikan lebih dari sekedar kesenangan yang juga sederhana (di luar kenyataan bahwa OCD membuat saya mengulang-ngulang seri ini sampai lebih dari 7 kali kurang dalam sebulan).

Romantic Comedy (romcom), sepertinya lebih umum dikenal sebagai genre yang ringan, gak perlu logis-logis amat yang penting menghibur, manis dan jleb di dada. Tapi untuk EC, rasanya saya akan membuat pengecualian. Ketika saya pikir saya sedang kabur dari dunia nyata menuju dunia fantasi, saya justru masuk ke dalam dunia paralel yang rasanya sangat sehari-hari.

Entah apakah ini pengamatan yang rasis atau hanya sekedar kebetulan kedekatan budaya (as if such thing does exist) saya juga tidak tahu. Walaupun Chang-Min dan Jin-Hee sudah “tua” tapi tidak berarti mereka otomatis jadi orang dewasa dimana semua keputusan hidup dapat dibuat sendiri tanpa campur tangan atau pengaruh orang tua. Di mata orang tua ya mereka tetap anak-anak yang harus nurut apa kata orang tua. Familiar ya kedengarannya?

Makin familiar lagi rasanya karena banyak karakternya dalam tindakan sehari-hari digambarkan sering lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang walaupun tidak selalu nyaman bagi mereka tapi dilakukan untuk “kebaikan” bersama. Kebahagian juga tidak melulu bersifat individual tapi jika memungkinkan bersifat komunal. Ini juga sepertinya alasan kenapa Hallyu lebih banyak diterima di negara-negara non-Barat. Bahkan salah satu buku menyatakan bahwa “Drama televisi Korea memperkuat nilai-nilai tradisional Konfusianisme yang dipandang orang Iran sejalan dengan budaya Islam, menyiratkan kedekatan budaya turut berperan dalam gelombang Korea di negara-negara Islam”. Walaupun gak semulia ataupun seaagamis itu, rasanya saya (atau mungkin kita) juga pernah, kalau tidak sering, membuat keputusan seperti ini dalam kehidupan sehari-hari.

“Ya udah, gue sebenernya gak suka nih, tapi gue kerjain juga. Bukan karena gue family oriented banget atau percaya nilai-nilai kalian juga, tapi ya gimana?” Atau “Ya udah lah, selama kalian bahagia liat apa yang kalian mau liat aja.” Kira-kira gitu deh gambarannya. Jauh rasanya dari nilai-nilai kekeluargaan ala Hollywood atau dunia media sosial modern yang penuh dengan puja puji bombastis penuh cinta berbunga-bunga padahal ketemu mak bapak atau saudara kandungnya belum tentu juga setahun sekali. Kehadiran dan perbuatan nampaknya dihargai lebih dalam EC dibandingkan kalimat manis penuh janji.

Menarik juga buat saya melihat konflik nilai yang dihadirkan oleh EC. Mungkinkah ini juga gambaran dari dilema nilai yang sedang dialami masyarakatnya? Misalnya, di satu adegan mereka menampilkan pasangan suami-istri magang yang bersitegang karena si istri mencurigai dirinya hamil dan merasa dia harusnya tidak perlu menunda mimpinya karena dia pihak perempuan, sedang di adegan lainnya diperlihatkan Chang-Min dan Jin-Hee memberikan nasihat kepada Oh Jin-Ae, adik Jin-Hee, dan pasangannya tentang bagaimana menghadapi pasangan masing-masing untuk mencapai hubungan atau rumah tangga yang langgeng dan harmonis berdasarkan nilai-nilai yang sangat gender-stereotyped.

Namun di banyak kesempatan si penulisnya terlihat berusaha sekali meninggalkan stereotip-stereotip tersebut, in a very natural way possible I feel, sehingga membuat dialog-dialognya tidak terasa seperti seperti ceramah tapi memang keluar dari pikiran-pikiran manusia yang sedang dilema. Saya rasanya kepingin meluk Choi Yun-Jung deh, si penulisnya, untuk menuliskan dialog-dialog yang makjleb, yang tidak bombastis dan berbunga-bunga, tapi rasanya sangat mungkin terucap dalam kehidupan nyata.

Misalnya nih ya, pada saat Jin-Hee madesu sambil digendong Chang-Min, dia curhat, “Tapi…aku tidak bisa melakukan apapun selain menantimu. Aku tidak juga mendapatkan pekerjaan… sehingga semangatku untuk bekerja pun padam. Aku merasa terus menyusut dan keberadaanku di dunia ini terasa sia-sia.” Jleb.

Atau pada saat ayah Chang-Min sedang kritis pasca operasi dan menanyakan kabar hubungan Chang-Min dengan Jin-Hee. Dia bilang, “…Tetap saja, aku tidak percaya hal-hal seperti itu. Melepaskan seseorang ketika kita mencintainya. Hal-hal seperti itu lah. Cintailah seseorang sebesar apa yang kita rasakan.” Eh terus dia “disikat” Chang-Min, “Terus kenapa Bapak hidup seperti itu?” Jengjengjet.

Adegan ini, pada khususnya, seperti menyarikan pernyataan Ninin bahwa mereka (orang-orang Korea yang digambarkan dalam K-Dramas) sepertinya mampu merangkul nilai-nilai tradisional mereka dan nilai-nilai yang datangnya dari luar, terutama barat, terutama lagi Amerika, dan menerapkannya dengan mulus serta pertanyaan saya apakah justru mereka malah mengalami ketegangan nilai akibat perbedaan tersebut.

Kerelaan Chang-Min untuk melepaskan Jin-Hee dan ketidaksetujuan ayah Chang-Min pada keyakinan anaknya tepat mengkonfrontasikan perbedaan tersebut di dalam satu dialog, mirip seperti analisa Bae Keun-Min mengenai film Siworae dan The Lake House dalam makalahnya Lost in cinematic translation?: The Lake House, Siworae and the Hollywoodization of Korean culture”.

“What Sung-hyun does in these scenes reflects his embedded Confucian values, namely salshinseongin. Salshinseongin is a Korean pronunciation of Chinese characters 殺身成仁, a Confucian virtue in which individuals are strongly recommended to sacrifice oneself (literally meaning killing oneself) to achieve ultimate humanity and justice. However, this Confucian virtue was removed for the Hollywood version as Alex dies in a car accident on his way to meet with her as part of his effort to build more of a relationship with her, which reflects and constructs individualism and self-interested motivations.”

Pernyataan Ninin dan pertanyaan saya tadi pun juga ditanyakan oleh Bae Keun-Min dalam makalah yang sama.

“This, then, raises a series of questions: How is Western (American) culture portrayed in Korean media? Have the connotations of these portrayals changed over time? Are Western values portrayed as something internalized or something imported or cool? Is there a possible relationship between the media portrayals and the acceptance of the foreign culture?”

 

Yang juga membuat EC terasa lengkap buat saya adalah hampir semua karakter utama dan pendamping tergarap dengan baik. Semua punya alasan, semua punya masa lalu dan latar belakang. Bukan hanya perasaan dan pikiran Chang-Min dan Jin-Hee yang digali, tapi juga orang-orang yang berhubungan dan ada di dekat mereka. Mereka ada bukan sebagai tempelan atau obyek penderita tapi benar-benar sebagai karakter-karakter utuh yang membuat lingkaran jadi penuh. Does that make any sense?

Seperti ibu Chang-Min yang digambarkan mengidap “fairy tale syndrome” dan “princess syndrome”. Males belajar (satu-satunya dari keluarga yang semuanya menjadi dokter), sewaktu muda sibuk bersolek untuk mencari suami (sesuatu yang akhirnya jadi bahan celaan kakak adiknya sepanjang masa nampaknya), berpikir dia telah mendedikasikan seluruh kehidupannya untuk suami dan anaknya sehingga gamang ketika mendapati bahwa manusia lain, seberapapun dekat hidupnya dengan kita, juga punya kehidupan masing-masing. Bahwa anaknya adalah bukan hidupnya. Trés Gibranesque.

Lalu ada Chief Gook yang patah hati dengan perpisahan orang tuanya sehingga “mendisiplinkan” hidup dan hatinya sebagai antisipasi agar dia tidak mengulangi siklus yang sama dan tidak melakukan hal yang tidak dia sukai (dalam hal ini bercerai dan meninggalkan anak) pada orang lain (dalam hal ini anak). Prinsipnya ini sempat mendapat “celaan” dari Prof. Shim, mantan pacar yang setia menanti tanpa memaksa, bagaimana mungkin orang sebertanggungjawab Chief Gook akan mampu mengabaikan anaknya? Touché! Chief Gook pun digambarkan terjebak dalam berbagai unfinished businesses.

Dengan format K-Drama yang hanya terdiri dari beberapa episode (rata-rata 16 sampai 20 episode), si sutradara dan penulis cerita pas mengeksplorasi pasang surut kisah cinta Chang-Min dan Jin-Hee, tidak kekurangan tidak berlebihan. Tidak ada “restrain and release” alias tarik ulur yang gak karu-karuan panjangnya. Tidak ada plin-plan kurang penting karena kehadiran orang ke-3, ke-4, ke-5 dan seterusnya. Jika akhir perjalanan mereka dibuat seperti itu (berusaha supaya gak spoiler), akhir tersebut merupakan hasil dari sebuah proses yang wajar melalui penyadaran-penyadaran kecil di sepanjang jalan dan bukan karena “glorious wake up calls and all the grand love gestures”. Ada refleksi dan instropeksi dari cinta yang belum selesai, bukan sekedar CLBK dan romantisme masa lalu.

Eksplorasi ini pas disampaikan melalui chemistry yang juga pas di antara pemain-pemainnya, terutama Choi Jin-Hyuk, Song Ji-Hyo, Lee Pil-Mo dan Choi Yeo-Jin. Di luar akting, cerita serta chemistry, formula standar saya buat romcom tentu karakter utamanya mukanya matching! Kalo gak matching gak enak buat ditonton :p Entah chemistry bikin muka jadi matching atau kebalikannya, tau deh. Nah ini dia aspek gak logis dari formula romcom sukses preferensi saya.

Saya juga suka dengan pengembangan karakter dan ceritanya. Mereka gak terjebak di situ-situ aja. Seiring berkembangnya cerita, karakter mereka pun berkembang jadi lebih multi-dimensional dan emosi yang keluar jadi lebih campur aduk. Episode-episode awal yang tadinya lebih didominasi aspek komedi berkembang ke arah drama yang tidak didramatisir. Ditambah dialog-dialog sederhana tapi sering makjleb rasanya, lupa sudah kekagetan awal saat melihat ragam kadar ketidakaslian muka hampir semua pemainnya terhapus pesona kewajaran akting mereka. Apalagi yang jadi emaknya Chang-Min (Park Jun-Keum) dan Prof. Shim Ji-Hye (Choi Yeo-Jin).

Sedikit keluar jalur, saya sangat terkesan dengan adegan awal dan akhir dimana Jin-Hee berhenti berlari dan terdiam sejenak merenungi hidupnya dalam gerak pelan keriuhan ruang gawat darurat. Rasanya seperti sebuah kehidupan yang mencapai full circle.

Kebetulan gara-gara EC saya juga mendadak demam Hallyu kembali (gelombang ke-dua artinya buat saya). Jadilah terserap maraton beberapa drama Korea lainnya dan menyaksikan akting beberapa dari pemain EC. Choi Jin-Hyuk di The Heirs & I Need Romance, Choi Yeo-Jin di I Need Romance, Park Jun-Keum di The Heirs dan Jeon Soo-Jin di The Heirs. Akting mereka semua (kecuali Jeon Soo-Jin, pemeran Oh Jin-Ae, adik Oh Jin-Hee, di EC) tidak ada yang sekuat dan sewajar saat mereka berakting di EC. Dari segi cerita pun serial-serial ini tidak ada yang selengkap dan sekuat EC. The Heirs, K-Drama terheboh sepanjang 2013, cuma terjebak dalam cerita gaya-gayaan dan keren-kerenan, juvenile, seksis, feodal dan patriarkis serta dangkal. Menang star-studded line ups kayaknya. I Need Romance juga cuma centil-centilan sok emansipasi perempuan cemen ala Sex And The City.

Lucunya di periode yang bersamaan, stasiun TV lain (di Korea Selatan) menayangkan serial Cunning Single Lady, yang punya premis, plot, bahkan adegan-adegan yang sangat mirip dengan EC. Bedanya eksekusinya bubar jalan. Agak aneh juga rasanya bahwa dari beberapa serial yang saya sebutkan tadi, justru EC yang punya rating rata-rata paling rendah. Dianggap kurang “heboh” kali ya.

Dari beberapa K-Dramas yang saya sebutkan tadi, rasanya ada yang agak aneh karena semua sepertinya menunjukkan “kekaguman” mereka pada Amerika. Entah kenapa mereka sering sekali merujuk ke Amerika sebagai simbol kesuksesan. Inlander banget. Mungkin gejala ini menarik untuk dibahas di kesempatan yang berbeda karena rasanya omongan saya sudah kepanjangan kali ini.

 

 Oh Chang-Min memohon cinta Oh Jin-Hee kembali

PS: Emergency Couple saat ini masih tayang di M Channel (TV Kabel) setiap Senin dan Selasa pukul 21.00 WIB dan jam-jam ulangan lainnya. Atau kalau repot, di lapak-lapak DVD bajakan langganan sudah tersedia lengkap kok. Lebih OK lagi kalo sedot dari Torrents karena subtitles-nya lebih dapat diandalkan.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di sini.

How I Made Your Mother A Back Up Plan Until I Have The Chance To Pursue The (What I Delusionally Think) Love Of My Life

Image

by: Festi Noverini

 

As a fan of ‘How I Met Your Mother’, of course I was one of those who are enraged by how the creators ended the series. If I haven’t seen all, I would say that it’s probably one of the worst season’s finales in the history of sitcoms, even series.

Having said that, I think there’s still one good thing that came out of it. Alyson Hannigan. As the series developed, she became the most well-rounded character in it’s final episodes. Every Lily’s heartbreak, be it the realisation that she’s just not “artsy” enough to pursue a career as an artist or many things eventually changed with the gang, felt more sincere than many emotions delivered by almost any character in sitcoms I’ve ever watched. Just like what Alyssa Rosenberg said in Washington Post’s blog, “Lily’s heartbreak is rooted in the same ideas about adult relationships…”

This is one of the strengths of televison format compared to movie, I think. It gives time for the creators to develop the characters and the actors to, in a way, BE the characters.

Sitcoms are mostly, if not all, are clichés. Friends, maybe one of the most celebrated sitcoms, is definitely built on piles of clichés. It is then, or probably still, considered very successful. Though after re-watching some of it’s early episodes, I found myself just couldn’t laugh at it or connected to it like I used to. Maybe I just don’t relate to it anymore (I didn’t really relate to it the first time it aired because I was not on the same life’s phase) or maybe now I see it just as neatly knitted clichés, right to very end.

Now back to HIMYM. I guess I still can’t digest why the creators decided to cramp everything in the last 2 episodes and they’re not even well-cramped! Of course HIMYM is also one of those sitcoms that’s built on piles of clichés but somewhere along the way they managed to develop the characters and made those who follow the series feel connected to it. Which I kinda like, no real black or real white.

But then they just threw away years and years of characters’ development into two disastrous episodes. Well, season 9 wasn’t exactly an exciting and great season anyway; it is stretched way too long, but still. It nullifies the entire “adult life lessons” that they’ve been saying to their audience for the past 5 seasons (starting from when Barney and Robin began to have feelings for each other but tried to hide it because of the Bro Code) that “you don’t always get what you want in life” and trash it into Disney black hole where “the boy finally gets the girl of his dream and they lived happily ever after”.

It’s so sloppy, messy and wrecked I begin to think that it was intentional. Now here’s my theory. Maybe, just maybe, somewhere along the way the creators thought that they want to create one of the most unforgettable unexpected season finales in the history of TV series. So they decided to ruin it, big time. After lots of twists and turns, they finally made one last huge twist, a huge disappointment one to most fans. And if that’s the case, well then I salute them. Because that, would make a brilliant plot to make fun of the whole series and it’s devoted fans and life, really. But if not, then I supposed it’s just a very very very bad decision.

I guess life DOESN’T always turn out to be just the way people want it to be. So once a jerk will always be a jerk, no matter how much you’ve learnt that it’s the emptiness inside that drove all of your inhuman behaviours, you just can’t help it. You’re born with the DNA. You don’t have the capabilities to think or to feel, because your fate has been predetermined.

And I guess in real life, just like the Disney life, the guy (or the girl) always gets the girl (or the guy) of his dream, eventually. Just as long as you keep the dream (or the illusion) alive, date some people along the way and even marry someone that you love enough to have a family with, then once she’s off the hook, and you, who always secretly wish to be with her, are also off the hook, you can always try to rekindle the romance, right? The once short-lived relationship with the girl who think of you as a back up plan that you romanticised in your head for years. And the ambitious girl who were willing to give up her marriage for her career and pathetically seemed quite happy when her back up plan, the “ideal” guy, suddenly showed up in front of her apartment with the blue French horn after oh I don’t know how many years and suddenly just forgot that she was never really in love with him but as ambitious as she is now and as determine as she always has been, it is only reasonable to settle for the guy that seems to check all the right boxes in traditionalists how-to-find-the-one-that-will-last-forever manual’s checklist. Yup! That’s THE dream. After all, first love never dies, right?

Almost sounds like Diana-Charles-Camilla’s love triangle there, minus the complications of class value sets and royal family rules. Oh and plus he was never (I guess) a pathetic back up plan for her.

 

“Last Forever” what now? They never really got to make those last episodes, right?

 

*This review was first posted on festinoverini.wordpress.com on April 2, 2014*