Kenangan Berbalut Kehangatan di Ssangmundong: Reply 1988 (응답하라 1988) (2015)

reply family

Warga Ssangmundong

 

Hangat. Teramat sangat hangat.

 

Bagaikan menyaksikan kembali “A.C.I” dicampur “Rumah Masa Depan” dicampur “Jendela Rumah Kita”. Menikmati kenangan yang dibalut kehangatan, kira-kira begitu rasanya.

The Reply series have been around for almost 4 years now. Dan selama itu itu pula, walaupun sampai jatuh cinta sama duo dodol Yoo Yeon Seok-Son Ho Joon (pemain “Reply 1994”) di variety Friends/Youth Over Flowers, keberadaannya gak bikin saya menyegerakan menonton seri ini. Sampai beberapa waktu lalu mendadak iseng. Ho oh, hanya karena iseng dan mulai kekurangan asupan drako seiring dengan nyaris berakhirnya “Bubblegum”.

Namun ternyata oh ternyata, tak disangka tak dinyana saya dibuat begitu jatuh cinta dengan seri ini.

Kenangan mungkin merupakan kunci formula seri Reply. Kalau ditanya ke saya, kenangan yang mana? Kan saya bukan orang Korea. Iya betul banget. Tapi melihat ke belakang, era itu (ini khusus bicara “Reply 1988” ya (selanjutnya ditulis R88), karena saya belum nonton 2 seri pendahulunya) nyaris dikuasai oleh hanya satu gelombang budaya populer, yaitu budaya populer Amerika. Ini gak terlepas dari agenda imperialisme Amerika yang mungkin dengan bodohnya gak kita sadari waktu itu (lha iyak, wong saya masih piyik). “Catatan Si Boy” adalah salah satu produk film masa itu yang habis-habisan menghadirkan referensi budaya populer dan gaya hidup keamerika-amerikaan. Di salah satu serinya, CSB bahkan sampai mengambil setting di LA, sarang anak-anak tajir pejabat Orba masa itu. Korea Selatan, seperti halnya Indonesia, masa itu juga dilanda demam budaya populer Amerika. Political fact, Korea Selatan merupakan salah satu pendukung terbesar Amerika Serikat sampai saat ini.

Okay, I think that’s enough. Nanti malah kepanjangan ngelantur jadi telaah sejarah deh.

Kembali ke Reply, seperti 2 seri pendahulunya, R88 juga menceritakan kisah kasih sekumpulan anak muda yang pada tahun 1988 itu tinggal bertetangga di Ssangmundong, sebuah area di pinggiran Seoul. Akamsi lah judulnya. Seri Reply (katanya) selalu punya benang merah menebak siapa calon suami si tokoh utama perempuannya. Tapi untungnya ini tidak lantas membuat R88 berkutat ngurek-ngurek si Deok Seon (yang diperankan dengan sangat unyu bin gengges oleh Hyeri, yang lebih dulu dikenal sebagai personil Girl’s Day) bakal kawin sama siapa doang. Bahkan porsi tebak-tebak buah manggis calon suami dan drama dunia pergebetan Deok Seon mungkin gak sampai 40% dari keseluruhan cerita R88.

 

reply1988 - 2

Akamsi Ssangmundong

 

Seperti halnya “Rumah Masa Depan”, dan tentunya drama yang jadi inspirasinya “Three Families Under One Roof” (“Hanjiboong Segajok”) (maaf, buat yang ini saya gak punya pengetahuan apapun kecuali referensi dari forum Soompi http://forums.soompi.com/en/topic/346174-drama-2015-answer-me-1988-%EC%9D%91%EB%8B%B5%ED%95%98%EB%9D%BC-1988/?page=2), R88 komplit menghadirkan hubungan di antara mak-bapak-anak, kakak-adik, tetangga, teman, de el el de el el. Hubungan manusia sehari-hari, pre-gadget era. Masa ketika dimana saat kita mau main, tinggal keluar rumah, berdiri di depan pagar tetangga, terus teriak-teriak panggil namanya tanpa perlu janjian playdate. Atau di kalau di kasusnya akamsi Ssangmundong ini, main gerebek kamarnya Taek (si super manis Park Bo Gum). Kakak adik gantian nongkrongin telfon rumah dengan saling ancam, “Jangan lama-lama lu, gua lagi nungguin telfon!” Tetangga dari saling kirim makanan, pinjam bahan masakan, sampai pinjam uang buat tambal sulam kondisi finansial yang kembang kempis. Manis, tapi gak kemanisan. Menyentuh, tapi gak cengeng. Pas. Seperti menikmati pisang goreng dan teh manis hangat di teras rumah sore hari.

R88 juga sepertinya tidak merasa perlu untuk menghadirkan ide-ide besar, justru kekuatannya terletak pada kesederhanaan. Anak bete karena ortu (seperti) pilih kasih, abege curi-curi nonton bokep, pensiun dini, sampai menopause segala dibahas di R88. Penggarapan detail semua aspek yang nyaris tanpa cela menempatkan R88, bersama dengan Heard It Through The Grapevine, sebagai salah satu drama Korea terbaik di daftar drako kesukaan saya.

Oke lanjut. Bicara tentang “membangkitkan kenangan” tentu gak aci (cuma anak lama yang ngerti istilah ini) kalau kita gak membicarakan tentang budaya populer yang tadi sempat disinggung secuil sebelumnya. Jika film “Architecture 101” menghidupkan kembali tren 90an di kebudayaan populer Korea Selatan, R88 sepertinya justru terinspirasi atau mungkin memanfaatkan gelombang tren 80an yang tahun lalu melanda dunia K-Pop (check out SHINee’s “Married To The Music”, my personal favourite album of 2015 and Wonder Girls’ “I Feel You”, with  MV which looks like a today’s copy of Robert Palmer’s “Addicted To Love”). Soundtrack R88 bahkan merajai tangga-tangga lagu Korea Selatan selama beberapa minggu

 

SHINee – Love Sick

Wonder Girls – I Feel You

 

Generasi X dan secuil generasi Y mungkin masih inget celana baggy, kemeja gombrong, nintendo, keriting papan, poni trap (poni traaaaap!!!), LA Gear & Nike Air Jordan? Semua hadir di R88. Salah satu episodenya bahkan memperlihatkan bagaimana Deok Seon membentuk poni trap-nya. That one really hits home, LOL. Gimana Deok Seon ngakalin celananya yang lurus jadi baggy juga manis sekali. Karena keluarganya bukan keluarga berada dan selalu kekurangan secara finansial, Deok Seon (kayaknya) gak punya banyak baju, sepatu pun harus nunggu giliran ada uang untuk diganti. Untuk mengakali supaya tetap trendy (bahaha, aku gak percaya pake kata ini lagi), Deok Seon melipat sisi luar celana jeansnya lalu melipat bagian bawah ke atas.Voilà! Jadi deh celana baggy. Sangat inspirasional!

Mirip-mirip malam keluarga kita dulu menonton “Gita Remaja” atau “Berpacu Dalam Melodi”, setiap tahun semua keluarga di Ssangmundong ini gak absen nongkrongin kompetisi MBC College Musicians Festival, yang tahun 1988 itu dimenangkan oleh Infinite Track (무한궤도) dari Seoul National, Yonsei dan Sogang University

Infinite Track (무한궤도) – To You (그대에게)

Infinite Track waktu itu sepertinya membawa angin segar ke dunia musik Korea Selatan dengan aliran rock proggresive-nya, sedikit berbeda dari tren umum yang masih didominasi pop melankolis. Cukup menarik membaca bahwa ini pun dipengaruhi faktor politik masa itu. Rasa synth kuat dalam musik Infinite Track (yang merupakan cikal bakal N.E.X.T) ini juga kita temukan di band-band jazz fusion Indonesia circa 80an, seperti EmeraldKarimata dan Krakatau (mohon dikoreksi kalau salah, maklum ingatan semi-berkarat).

Emerald Band – Ronggeng

 

Referensi barat di film ini mungkin lebih akrab buat penonton Indonesia, seperti grup NKOTB, film “Dirty Dancing”, lagu tema “MacGyver” dan “Knight Rider” serta tidak ketinggalan lagu “Nothing’s Gonna Change My Love For You”-nya George Benson/Glenn Medeiros.

        “Nothing’s Gonna Change My Love For You”. Lagu wajib darmawisata

 

R88 juga tidak melewatkan peristiwa-peristiwa penting bersejarah dalam kehidupan sosial ekonomi politik Korea Selatan pada masa itu, seperti Olimpiade Seoul dan restrukturisasi Bank Hanil, walaupun beberapa detail sepertinya rada keteteran. Misalnya pada kasus Bo Ra (Ryu Hye Young), kakak Deok Seon yang adalah aktivis mahasiswa. Dari blog Following Kpop;

“But the show creators turned her into an important activist who goes out of her way to participate in the occupation of the Minjeong Party headquarters in Episode 5. According to an Ize article, this event was expected to be violent and the participants went in knowing that they would all be arrested. It would have been very unlikely for a female college sophomore to have gone in and come out in one piece. In addition, the event was organized by a group to which Bo-ra’s school Seoul National University did not belong at the time due to an ideological rift. She must have felt very strongly about the event to have joined it on her own and wouldn’t have come back home to hide under a blanket.”

Dengan topik yang beragam dan materi yang kuat, R88 tidak takut akan durasi tiap episodenya yang tergolong panjang. Jika hampir semua drama Korea berdurasi kurang lebih 1 jam per episode, R88 berdurasi rata-rata 1,5 jam per episodenya, bahkan hampir mencapai 2 jam di episode-episode terakhir. Durasi yang panjang ternyata toh tetap membuat penonton manteng di depan TV. Ini dibuktikan dengan pencapaian rating yang memecahkan rekor rating tertinggi sepanjang masa untuk TV kabel, yaitu 18,8% untuk episode finalnya. Rating rata-rata TV kabel biasanya tidak mencapai 2 digit, tidak seperti TV umum. 

Walaupun R88 ini kocaknya ampun-ampunan, rasanya belum pernah selama ngikutin drama Korea di tiap episode pasti saya punya sesi mewek.  Seduapuluh-puluhnya!

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di sini.

Menguliti Pretensi Basi Kaum Borjuasi: Heard It Through The Grapevine (풍문으로 들었소) (2015)

Sebenarnya Go Ah Sung adalah alasan utama saya mengikuti Heard It Through The Grapevine (HITTG) alias Poongmooneuro Deoreotso. Hanya karena saya begitu terkesan dengan filmnya sebelum drama ini, Elegant Lies (Wooahan Geojitmal). Namun ternyata kemudian semua elemen HITTG mengajak saya menikmati roller-coaster emosi sepanjang 30 episode.

“Semakin urban/modern/borjuis (saya lupa pastinya apa) suatu kaum, justru semakin puritan mereka.” Saya lupa pernah dengar pendapat ini di mana, mungkin dari Dave Lumenta saat peluncuran perdana Jurnal Selatan. Mungkin juga gak tepat seperti itu, tapi kira-kiranya begitulah.

HITTG menunjukkan kepuritanan kaum borjuis dengan cara yang paling mereka sukai, elegan. Sepanjang 30 episode, penulis Jung Sung Joo dan sutradara Ahn Pan Seok pol-polan muntah kritik dan orgasme pemikiran mengolok-olok kaum borjuis dan #negaragagal Korea Selatan.

vlcsnap-00070

Sesuai dengan judulnya, HITTG yang juga dikenal dengan judul “I Heard It As A Rumour” dengan cerdas mengadaptasi hobi “bisik-bisik tetangga” ini sebagai benang merah bercerita untuk mengupas #bebanborjuasi si kelas 1% masyarakat. Di Indonesia sendiri beberapa tahun lalu sempet heboh di media sosial tentang mailing list yang berisi gosip-gosip sosialita Jakarta.

HITTG menghadirkan drama komedi gelap dan satir yang menguliti pretensi-pretensi basi borjuasi dan perjuangan kelas yang tak pernah henti. Kisah percintaan abege Han In Sang (Lee Joon) dan Seo Bom (Go Ah Sung) yang tadinya saya pikir akan menjadi fokus HITTG sekaligus memainkan peranan drama romantis tradisional di drama ini, ternyata “hanya” digunakan sebagai epilog dari pertunjukan sesungguhnya, yaitu pertarungan pemikiran dan kegelisahan manusia-manusia dalam sebaran tatanan kelas sosial masyarakat yang berjenjang. Mungkin ini juga sebabnya HITTG nyaris diberi judul War Of Brilliant Minds”.

vlcsnap-00018

Manusia-manusia dalam kepala Jung Sung Joo sepertinya adalah manusia-manusia yang selalu berpikir dan dalam kegelisahannya mempertanyakan ketidakadilan yang dihasilkan oleh tatanan masyarakat yang kacau balau dan negara yang gagal hadir bagi warganya serta menolak pasif dengan menerima kondisi sosial sebagai sesuatu yang sudah sebagaimana mestinya.

Dengan kalimat-kalimat sederhana, Jung Sung Joo menembakkan berbagai kritik tajam yang seringkali disempilkan sekilas lalu dalam sebuah percakapan, padahal sentilan-sentilan seiprit tersebut mewakili kekhawatiran yang jauh lebih besar. Jung Sung Joo menghadirkan berbagai problematika sosial politik akibat dari ketidaksetaraaan masyarakat Korea Selatan dengan kecermatan detil yang, well as much as I hate to use this term, tapi, luar biasa.

Isu kesetaraan gender dimunculkan bukan melalui retorika, jargon dan gugatan, namun digambarkan dengan suatu kondisi yang memang sudah seharusnya seperti itu. Sebuah kondisi yang (sepertinya) sangat jauh dari kenyataan. Korea Selatan, seperti juga halnya dengan Jepang, memiliki budaya patriarki yang begitu kuat, bahkan cenderung misoginis. Kesetaraan gender sepertinya masih merupakan mimpi yang belum akan terwujud dalam jangka waktu dekat.

Dua drama Jung Sung Joo yang pernah saya tonton, HITTG dan “Secret Love Affair” nyaris tidak pernah, atau bahkan tidak sama sekali, menghadirkan dialog dan situasi yang seksis, yang kalaupun ada lebih pada menampilkan kenyataan daripada melestarikan diskriminasi itu sendiri.

HITTG juga menyindir ketakutan masyarakat Korea Selatan, terutama kaum borjuisnya yang dalam drama ini diwakili oleh sosok Han Jeong Ho, akan ide-ide sosialisme seperti yang dicetuskan Seo Bom melalui kritiknya terhadap ide dasar ekonomi pasar dan kapitalisme. Korea Selatan, seperti halnya Indonesia, merupakan negara boneka Amerika Serikat untuk mencapai ambisinya menjadi imperialis baru. Segala hal yang “berbau” kesetaraan dan “kiri” sukses dipropangandakan Amerika Serikat sebagai komunisme, yang artinya adalah kejahatan yang harus diperangi. Selama puluhan tahun, rakyat Indonesia juga ditanamkan propaganda ini oleh monster bernama Soeharto dan Orde Baru. Jika banyak negara boneka mulai menyadari keganasan Amerika Serikat, Korea Selatan sepertinya masih merupakan salah satu pendukung terbesarnya secara politik, ekonomi, bahkan budaya populer.

Carut marutnya sistem pendidikan pun tak lepas dari sorotan HITTG. Merupakan pengetahuan umum kalau dunia pendidikan Korea Selatan terobsesi dengan segala yang berbau “ter”. Tingkat dan peringkat pendidikan merupakan tiket untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi dan kesuksesan material. Seo Bom memiliki mimpi akan datang suatu masa dimana semua orang bisa mendapatkan pendidikan yang setara dan setinggi mereka mau tanpa harus menjadi anak cucu chaebol (konglomerat) yang bisa membayar biaya pendidikan privat maupun swasta serta menggaji tinggi guru-guru pribadi.

Di mata kaum borjuasi yang keribetan dengan pretensi-pretensi basinya, kita juga tidak perlu mengagung-agungkan pendidikan luar negeri. Kalau pun sekolah di luar negeri, kita ambil yang baik-baiknya saja dan tetap memegang nilai-nilai luhur warisan bangsa. Berbanggalah dengan apa yang kita miliki. Preeet! Terdengar akrab sekali gak sih di kuping? Kaum borjuasi Indonesia juga nampaknya keribetan dengan dilema dualisme inlanderisme dan chauvinisme kepriyayian mereka ini, hahak! (Saya lupa ini ada di episode berapa. I’ll be back with the screenshot when I find it)

Alih-alih menampilkan keluarga chaebol, Jung Sung Soo menampilkan keluarga kaya pemilik firma hukum yang memegang teguh “Bibit, Bebet, Bobot”. Dengan strategi ini, HITTG sekaligus menyasar hukum yang mandul dan keadilan yang sayangnya berpihak pada uang dan koneksi. Di permukaan semuanya terlihat manis, adil dan menjunjung tinggi HAM, padahal di dalamnya disesaki praktek licin, kotor dan menjijikkan.

Komedi gelap sepertinya merupakan pendekatan paling pas untuk menyampaikan materi dan naskah Jung Sung Joo yang sarat kritik. Dengan banyaknya pesan yang ingin disampaikan, Ahn Pan Seok ketat menjaga alur dan emosi sehingga nyaris tidak ada adegan yang sia-sia. Ditambah dengan editing yang jeli, 30 episode HITTG terasa bagaikan menonton “Homeland” versi drama. Tegang bok!

Tegang, menggelikan dan menyentuh. HITTG juga menghadirkan kehangatan hubungan antar manusia yang tulus dan seringkali terdapat dalam hal-hal kecil yang sederhana atau bahkan dalam keputusasaan. Walaupun seringkali didera kebimbangan, manusia-manusia di dalam HITTG mungkin merupakan simbolisme harapan akan manusia dengan hati nurani yang sehat. Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya bersih dan melepaskan diri dari lingkaran setan sistem yang busuk, tapi penting untuk selalu menyadari apa yang salah dari masyarakat dan sistem tersebut.

vlcsnap-00071 vlcsnap-00073

Secara sinematografis, HITTG lebih banyak menggunakan gambar dengan variasi teknik medium shots, dibandingkan dengan kebanyakan drama Korea yang gemar menggunakan close up shots. Mungkin, ini hanya sekedar analisa dangkal sih, HITTG ingin mengajak penontonnya untuk melihat gambaran dunia yang lebih luas, dimana keberadaan kita selalu terkait dengan sistem yang lebih besar. Kebalikan dari umumnya penggunaan close up shots di dalam dunia drama yang jika sekarang disandingkan dengan HITTG terasa lebih “egois” atau self-centered. Mungkin lho…

Seimbang dengan naskah; set, kostum bahkan musik pun dihadirkan dengan kecermatan detil yang nyaris sempurna. HITTG menghindari menggunakan lagu pop (OST adalah bagian penting dari drama Korea) sebagai latar belakang adegan, tapi menggunakan musik yang memang digubah khusus untuk drama ini. Mungkin ini trademark-nya Ahn Pan Seok ya, di “Secret Love Affair” dia juga tidak menggunakan lagu-lagu populer, tapi mungkin juga karena “Secret Love Affair” berlatar belakang dunia musik klasik.

Dan yang paling utama tentunya kecermatan detil ini sangat terlihat dalam penulisan karakter-karakternya. Dengan Han Jeong Ho (bapak Han In Sang) di satu kutub dan Kim Jin Ae (ibu Seo Bom) di kutub lainnya, Jung Sung Joo menampilkan karakter-karakter utuh lainnya dalam spektrum tersebut. Han Jeong Ho (yang diperankan super ciamik oleh Yu Jun Sang) adalah perwujudan “Monster Menyedihkan” (pendapat Seo Bom tentang ayah mertuanya) sedangkan Kim Jin Ae (Yoon Bok In) adalah perwujudan harapan akan manusia ideal yang “baik dan sehat”. Sedangkan semua karakter lainnya terombang-ambing di dalam spektrum kebimbangan tersebut.

vlcsnap-00065 vlcsnap-00049

Menggunakan istilah yang sangat borjuis, HITTG terasa seperti sebuah Mahakarya. Mungkin juga merupakan salah satu pencapaian terbaik sinema Korea Selatan, melampaui batasan formatnya. Bagi saya, tidak lagi menjadi penting apakah karya ini dihadirkan melalui layar kaca atau layar lebar.

Di luar Han Jeong Ho dan kaum borjuis lainnya, semua manusia ini berjuang untuk menemukan diri mereka kembali. Han In Sang (Lee Joon, noona padamu!) bagaikan mimpi revolusi munculnya pemberontak dari dalam lingkaran kaum borjuis itu sendiri yang menusuk tepat di jantungnya.

HITTG mungkin tidak akan sekonyong-konyong menimbulkan kesadaran kolektif akan rusaknya sistem sosial masyarakat, namun mengutip ucapan Yoon Je Hoon (Kim Kwon), “Aku cuma berharap dapat membuat lubang kecil.”

Yang lemah mungkin akan menyerah karena lelah dan kekuasaan bisa saja selamanya bercokol di atas. Namun HITTG sepertinya ingin memberikan harapan akan semangat perjuangan yang tak pernah henti, sekecil apapun itu.

vlcsnap-00074vlcsnap-00075

 

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di sini.

IKEA Craze & Inlanderisme*

Ikea Craze & Inlanderisme

 

Oleh popteori

 

Setelah membaca kritik penulis kami jadi tergelitik untuk bertanya, apa sih yang ada di kepala penulis ketika dia mengaitkan kebiasaan setelah makan atau buang sampah sembarangan dengan Revolusi Mental? Menurut dia Revolusi itu apa? Semacam mukjizat yang datang dari langit gitu ya?

Mungkin penulis perlu mengintip pendapat Wijaya Herlambang dalam koranopini.com. Mengutip jawaban wawancaranya, ”Pertama, istilah Revolusi Mental ala Jokowi tidak ada hubungannya dengan arti revolusi itu sendiri. Kenapa? Karena setiap revolusi adalah sebuah perubahan drastis dari satu sistem ke sistem lain. Artinya, revolusi selalu dan melulu berhubungan langsung dengan reformasi kondisi sosial dalam waktu yang singkat.”

Berangkat dari konsep bahwa revolusi adalah perubahan drastis dari satu sistem ke sistem lain, jika penulis punya landasan pemahaman ini, tentunya dia akan dengan lebih mudah memahami bahwa selama sistem-sistem yang berjalan di masyarakat masih sama dengan kondisi sebelum pencanangan misi ambisius Revolusi Mental, ya jangan ngarep mentalnya juga otomatis berubah, malih!

Dengan tulisannya yang holier-than-thou, penulis menggebu-gebu sekali mengajukan argumen-argumen menggelikannya.  Salah satunya misalnya penulis menyatakan bahwa IKEA mengusung “semangat global.” Bah, apa pula itu semangat global? Sepahaman kami, global memiliki makna berlaku umum (di seluruh dunia kalau mengacu pada konteks tulisan penulis). Apa yang penulis definisikan dalam “semangat global”-nya tentu tidak terjadi di seluruh dunia melainkan sebuah gambaran akan kebiasaan negara-negara yang umumnya tingkat pendapatan masyarakat tidak jauh berbeda antara satu jenis pekerjaan dengan pekerjaan jenis lainnya sehingga masyarakat dipaksa untuk “self-reliant” karena mereka tidak akan sanggup membayar untuk bantuan, misalnya bantuan rumah tangga. Sekali lagi, sistemnya yang memaksa mereka untuk “self-reliant”, bukan mentalnya yang memaksa.

Alih-alih terdengar global dan modern (apa pula maknanya sifat-sifat tersebut?) seperti keinginannya mengidentifikasikan diri dengan IKEA, si penulis malah terlihat super-Inlander!

Inlander atau Pribumi-Nusantara (“anak dari tanah/bumi Nusantara“) atau Pribumi-Indonesia adalah istilah yang mengacu pada kelompok penduduk di Indonesia yang berbagi warisan sosial budaya yang sama dan dianggap sebagai penduduk asli Indonesia.

Istilah “Pribumi” sendiri muncul di era kolonial Hindia Belanda setelah diterjemahkan dari Inlander (bahasa Belanda untuk “Pribumi”), istilah ini pertama kali dicetuskan dalam undang-undang kolonial Belanda tahun 1854 oleh pemerintahan kolonial Belanda untuk menyamakan beragam kelompok penduduk asli di Nusantara kala itu, terutama untuk tujuan diskriminasi sosial. Selama masa kolonial, Belanda menanamkan sebuah rezim segregasi (pemisahan) rasial tiga tingkat; ras kelas pertama adalah “Europeanen” (“Eropa” kulit putih); ras kelas kedua adalah “Vreemde Oosterlingen” (“Timur Asing”) yang meliputi orang Tionghoa, Arab, India maupun non-Eropa lain; dan ras kelas ketiga adalah “Inlander“, yang kemudian diterjemahkan menjadi “Pribumi”. Sistem ini sangat mirip dengan sistem politik di Afrika Selatan di bawah apartheid, yang melarang lingkungan antar-ras (“wet van wijkenstelsel“) dan interaksi antar-ras yang dibatasi oleh hukum “passenstelsel“. Pada akhir abad ke-19 Pribumi-Nusantara seringkali disebut dengan istilah Indonesiërs (“Orang Indonesia”). [1]

Di masa kolonial, Inlander adalah ejekan orang Belanda buat penduduk asli di Indonesia. Secara etimologis, “Inlander” adalah kata Belanda untuk “Islanders” atau bahasa Indonesianya, “Pribumi”. Sekarang, ejekan “Inlander” ini sudah mengalami perluasan arti, bukan cuma digunakan untuk menjelek-jelekkan orang pribumi oleh overlord kolonialnya, tapi juga oleh sesama orang pribumi sendiri untuk mencela orang-orang katro yang mem-fetish-kan (memuja-muja tanpa alasan) segala macam hal yang berbau “Barat”.

Mungkin tulisan Eko Armunanto, Indonesia dalam Fenomena Jokowi-Ahok: Egaliter VS Inlander, dapat menjelaskan kepada si penulis sedikit banyak aspek poleksosbudhankam mentalitas Inlander-nya.

Mari kita baca lagi artikel di atas: judulnya saja sudah super-Inlander! “Mereknya Sih IKEA, Tapi Kelakuan Kita Masih Indonesia”—kenapa “Indonesia” diantitesiskan dengan “IKEA”, seakan-akan IKEA mewakili peradaban yang lebih maju dan Indonesia mewakili segerombolan monyet cari kutu di hutan rimba? Apa yang salah dengan “Indonesia”?

Penggunaan kata “tapi” dan “masih” dalam paragraf ini jelas menunjukkan si penulis merasa subyek pertama (IKEA) melambangkan sesuatu yang sifatnya lebih baik, lebih superior, sedangkan subyek kedua (Indonesia) adalah representasi dari sesuatu yang sifatnya lebih katro, lebih inferior.

Dengan kompleks inferioritasnya (inlanderismenya!), penulis membandingkan budaya IKEA yang (klaimya) serba teratur, mandiri dan disiplin dengan budaya orang Indonesia yang di tulisannya digambarkan jorok, seenak udelnya dan manja ala-ala pejabat dan putra keraton.

“Namun mungkin memang dasarnya kita bangsa Indonesia, terlalu sering dilayani oleh orang lain.” Sejak kapan kita, bangsa Indonesia (kalau mau menggunakan penyamarataan sifat yang dipakai penulis) terlalu sering dilayani oleh orang lain?

Kalau penulis melek sejarah, mungkin penulis bisa memahami bahwa “pelayanan” (dari yang dianggap subordinat kepada superiornya) adalah salah satu hasil dari praktek politik feodalisme dimana masyarakat dipecah-pecah menjadi kelas-kelas sosial yang kemudian melahirkan pembagian kerja dan derajat (buatan) berdasarkan kelas-kelas tersebut.

Apakah kemudian masyarakat yang dilanggengkan kelas-kelas sosialnya sampai sekarang ini semuanya “terlalu sering dilayani orang lain”? Bagaimana dengan mereka yang karena kelas sosialnya justru selalu menjadi subordinat dan melayani?

Katakanlah memang benar bangsa Indonesia jadi manja karena terlalu sering dilayani orang lain, bagaimana kalau kita bereskan saja mental cemen yang katanya suka keenakan dilayani orang lain ini? Dari hal sederhana aja, hapuskan jenis pekerjaan ART. Secara sistematis dan konstitusional. Toh ART sendiri juga merupakan suatu bentuk feodalisme kan? Kalau bisa, nah itu baru namanya revolusioner.

Di argumen ini, dengan stereotip dangkalnya, si penulis sudah gagal memahami kompleksitas masyarakat yang dia sendiri pun adalah bagian di dalamnya.

Penulis mungkin lupa bahwa kita hidup dalam sebuah ekosistem yang sangat tidak sehat dimana rakyat dikondisikan untuk “manja”. Negara tidak pernah hadir untuk rakyat. Jangankan bicara kenyamanan, kebutuhan dasar aja tidak dipenuhi karena dalam negara yang ultra-kapitalistik ini, pemenuhan kebutuhan dasar tanpa mencekik kantong rakyat gak bawa untung buat negara dan mengancam keberlangsungan hidup negara. Bagaimana kita merasa aman menyandarkan diri (senderan doang lho, belum sampai gantungan) pada negara saat negara tidak dapat menjalankan fungsi idealnya sebagai orang tua. Ingat gak dulu saat kita sekolah kita dicekoki dengan jampi-jampi untuk mencintai Ibu Pertiwi? Yah mungkin buat orang-orang macam si penulis ini gak penting untuk memahami makna dan konsekuensi dari istilah Ibu Pertiwi, yang penting “I’m Proud To Be Indonesian” aja, cyin!

Selain kelakuan pengunjung yang dianggap jorok dan seenak udelnya itu, juga banyak reaksi atas tulisan ini yang kemudian menunjuk pengunjung-pengunjung yang ogah antri. Apa bedanya dengan kondisi berkendara (dan urusan antri-antri lainnya) di Indonesia? Sama aja. Tentu saja kelakuan main serobot, main selak, gak mau tau peraturan dsb dsb selalu bikin panas. Tapi apakah yang memaki-maki juga mau melihat bahwa kondisi tersebut adalah gambaran gunung es carut marutnya negara ini?

Peraturan basa-basi, hukum dari yang karet sampai yang mandul, penegak hukum yang gak ada gunanya. Apakah keteraturan bisa terwujud hanya dari usaha sepihak tanpa memaksa pihak lain untuk turut berpartisipasi? Jalanan, terutama jalanan Jakarta, acakadut dan terasa seperti neraka juga tercipta terutama karena sumbangan polisi dan hukum lalu lintas yang gak pernah adil dan mencla-mencle. Kusut!

Melihat jalanan di kota-kota besar di Indonesia, atau minimal Jakarta deh, bak melihat kondisi kelas sosial di Indonesia. Kelas-kelas sosial di Indonesia merupakan produk dari ratusan tahun ketidakadilan. Mereka yang ada di atas rata-rata mendapatkan posisinya dengan berada dekat dengan kekuasaan. Oportunis lah. Bukan hal aneh bukan lihat pengendara kendaraan mahal, manusia-manusia bertas mahal bergadget terkini main serobot, main selak?

Mereka yang ada di kelas yang dianggap kelas bawah pun juga awur-awuran. Tentu bukan atas dasar alasan yang sama dengan si kaya. Ketika hidup dalam kesempitan, yang bisa dilakukan ya “survival of the fittest aja”. Udah begitu aja masih aja sering dianggap tidak bersyukur. Ck ck ck. Buruh masukin klausul meminta jatah susu merk tertentu dan biaya nonton bioskop per bulan banyak yang ngetawain. Bahkan ada yang komentar “beberapa orang emang ada yang gak tau bersyukur yah”. Karena (ternyata) kesenangan itu hanya boleh dimiliki oleh orang-orang yang punya uang. Karena mimpi akan hal-hal yang lebih baik hanya inspiratif selama tidak mengganggu kenyamanan batas kelas sosial. #bahagiaitukatanyasederhana.

Yang kejepit di tengah ya ada aja yang jadi kayak si penulis ini. Walaupun sama-sama keder tapi ya udah, belagak holier-than-thou aja.

Jadi kalau di kehidupan sehari-hari yang berlaku hukum rimba, bagaimana mungkin si penulis mengharapkan keajaiban hanya dalam hitungan selangkah kaki saja?

Begitu juga dengan IKEA. Bagaimana mau mengharapkan orang-orang tertib dan disiplin kalau stafnya sendiri pun masih blang bentong menjalankan kedisplinan tersebut. Kami mengalami juga diselak pengunjung lain di customer station. Tapi staf tidak menghiraukan hal tersebut sampai kami ajukan keberatan dan berkelit dengan alasa tidak melihat keberadaan kami. Bagi penulis yang pastinya sudah pernah mengunjungi IKEA tentu menyadari bahwa customer station di area gudang itu lowongnya kayak apaan tau. How can you miss a person standing in front of you?

 

wpid-imag2216.jpg

 

Demi terciptanya sebuah lingkungan yang super ideal teratur nyaman seperti sedang menikmati kemakmuran negeri-negeri Skandinavia sana, staf juga bertanggungjawab mengatur antrian. Staf juga bertanggungjawab menjawab pertanyaan pelanggan sesuai urutan kedatangan, bukan berdasarkan panjang pendeknya pertanyaan atau lama atau sepintas lalu pertanyaan itu diajukan. Tanggung jawab itu sifatnya 2 arah. Kalau staf alpa melakukan ini, apakah ini artinya manajemen juga ternyata alpa ? Well, in that case they are as uncivilised as the people they or the writer accused to be.

Penulis menganggap seakan-akan IKEA adalah sebuah realitas yang terpisah dari realitas lainnya di luar sana. Sebuah utopia di mana setiap manusia pribumi yang menginjakkan kakinya di sana diharapkan merevolusi mental primitif mereka dan meng-upgrade-nya dengan trolley kuning-biru, meteran kertas, dan sopan santun ala Skandinavia.

Sejujurnya kami pun lupa bahwa di utopia bernama IKEA ini kami diharapkan mengembalikan peralatan makan kotor di tempat yang telah disediakan, kebiasaan yang jauh lebih inggil daripada kebiasaan di luar sana. Ini kemudian kembali memunculkan pertanyaan, apakah si penulis dengan naif berpikir bahwa semua orang yang melangkahkan kaki ke dalam IKEA Indonesia pasti sudah pernah ke IKEA di luar Indonesia sebelumnya dan pasti paham dengan keberadaban IKEA? Bukankah ini berarti si penulis sama ignorant-nya, jika tidak lebih buruk, dari orang-orang yang dia kritik tersebut?

Betapa arogannya. IKEA bukan sebuah agen perubahan sosial budaya. It’s just another mega company trying to gain more profit in another country. Kalau si penulis menganggapnya sebagai another Thomas Stanford Raffles yang menyunggi white man’s burden untuk menularkan modernitas kepada kacung-kacung pribumi, maka justru ialah yang jelas perlu segera merevolusi mental inlandernya!

IKEA hadir di Indonesia? Santai aja. Sekali lagi, IKEA kan bukan sebuah agen perubahan sosial budaya.

Eh, ngomong-ngomong penulis sudah baca belum gimana cara IKEA ngadalin negara (dalam kasus ini Australia) supaya bisa meminimalisir pembayaran pajak? Katanya sih… ini merk global yang bersih dan beretika.

 

 

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi-Nusantara#cite_note-Pribumi-1

 

 

  *artikel ini adalah hasil bahasan bersama Edo Wallad, Festi Noverini, Gratiagusti Chananya Rompas, Mikael Johani dan Ratri Ninditya

INDONESIA MENGKRITIK SENYAP*

the-look-of-silence

senyap adalah film yang ramai metafora: adi sang optometris sebagai tiresias the seer yang membuka mata free man-free man yang dikelabui propaganda orba selama ini, adi sang yogi tercerahkan yang piawai headstand (bandingkan dengan free man-free man berkupluk dan bertasbih yang buta sejarah), papa adi yang buta ngesot sia-sia mencari sajadah dan akhirnya teriak-teriak ketakutan digebuk wong karena merasa dirinya tersesat ke dalam “kelambu” (kelambu sejarah? :p) orang lain.

 

metafora-metafora yang dikerahkan bersama alur cerita dan editing melodramatis ala sinetron serta door-stop interview eksploitatif ala syurnalisme tabloid untuk menunjukkan bahwa kita, bangsa indonnesia, adalah bangsa yang buta sejarah dan harus dibuka paksa matanya.

 

meneruskan argumen jagal, senyap juga mereduksi tragedi kemanusiaan dan politik 65 jadi sekedar tragedi antar manusia baik dan manusia jahat saja. apa perlunya ngomong tentang konteks perang dingin, dekolonisasi, anti-nonblokisasi, jika lebih seru bercerita tentang kombo kekejaman dan ketololon monster-monster dunia ketiga yang dijamin mengundang tawa sekaligus air mata (dan semoga nominasi oscar)?

 

senyap tidak beranjak jauh dari dikotomi caliban-caliban subhuman (herman koto dan groupie-groupie anwar congo yang lain) vs caliban setelah direedukasi pengalaman membuat “film” arsan & aminah (anwar congo sendiri) dalam jagal. walaupun adi sang optometris keliling dan tokoh utama senyap kali ini adalah keluarga korban dan bukan tukang jagal seperti anwar congo, dalam semesta kedua film ini mereka berdua memainkan peran yang sama: budak dan talking head prospero cinéma vérité yang menyandang white man’s burden untuk mencerahkan seluruh rakyat indonesia tentang apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1965–si masbro joshua oppenheimer sendiri.

 

prospero punya set-up/con ala cinéma vérité yang menarik dan efektif dalam jagal (mengundang anwar congo untuk membuat film “arsan & aminah” yang kemudian difilmkan dalam “jagal” karya joshua oppenheimer)–sebuah psychoanalytic con yang berhasil membuka isi kepala anwar congo dan membuat kita hampir mengerti pergulatan id, ego, dan superego di balik topi koboinya. dalam senyap, tidak ada con canggih seperti ini. yang kita dapat hanya door-stop interview ala michael moore yang menghasilkan lebih banyak momen krik krik daripada kesenyapan yang penuh arti.

 

coba pikir, mungkinkah free man-free man yang matanya tertutup selama berpuluh tahun oleh propaganda orba tiba-tiba mengaku salah hanya karena sekali diinterogasi oleh seorang keluarga korbannya? seperti pungguk merindukan deus ex machina…

 

jadi bisa dimengerti jika ada yang pernah bilang jagal lebih mirip mockumentary daripada documentary.

 

beberapa scene dalam senyap jadi sangat problematis buat sebuah film dokumenter. scene truk-truk tua melaju dalam gelap di awal film yang diulang di beberapa momen lagi itu misalnya. apakah ada fungsi lain scene ini selain menyetir imajinasi penonton untuk membayangkan kira-kira bagaimana abang adi dulu di-“amankan” pakai truk dalam gelap untuk dibantai? tapi kan katanya senyap bukan sebuah fictionalized biopic? masak ada scene reka-ulang TKP ala buser?

 

kemudian jukstaposisi antara adi si optometris suka yoga dengan free man-free man berkupluk dan bertasbih suka do’a tadi (beberapa dari mereka ditunjukkan ingin menghindar dari interogasi adi dengan alasan sudah waktunya sholat). apakah modernitas selalu berbanding terbalik dengan nilai-nilai agama? apakah islam selalu identik dengan keprimitifan, sementara yoga dan optometri dengan aufklärung? apakah ada islamofobia terselubung dalam senyap?

 

kemudian lagi scene bapak adi ngesot tersesat mencari sajadah di tempat jemuran tadi. apakah ini metafora bahwa jawaban untuk persoalan pelik macam tragedi 1965 di indonesia tidak akan pernah bisa dicari dalam ibadah, dalam agama, tapi hanya tersedia dalam orakel-orakel modern macam film documenter karya joshua oppenheimer? islamofobia lagikah ini? atau blind faith kepada modernitas yang always already sekuler?

 

tanpa memberikan konteks sejarah dan politik yang kuat, maupun menjelaskan betapa totalnya propaganda orde baru mencuci otak orang indonesia, potret “indonesia” dalam senyap terlihat begitu simplistis, bagaikan heart of darkness yang hanya dihuni dua macam makhluk yang selalu berperang: monyet-monyet sadistis, beasts from the east seperti inong (salah satu penjagal yang, surprise surprise, ditunjukkan punya monyet peliharaan) dan/atau malaikat-malaikat tercerahkan yang selamanya hidup dalam ketakutan macam adi.

 

senyap seperti menafikan kemungkinan bahwa kedua kubu bisa juga dilihat sebagai pelanduk yang kehilangan free will mereka di tengah-tengah keriaan gajah-gajah imperialis kapitalis neolib berbagi-bagi kue dekolonisasi setelah perang dunia 2!

 

nanti tanggal 10 desember waktu “indonesia menonton senyap”, jangan terkejut jika bakal banyak cermin dibelah, karena penonton kecewa kok the look of silence ternyata begitu black and white!

 

*artikel ini adalah hasil bahasan bersama Mikael Johani, Anya Rompas, Edo Wallad, Ratri Ninditya, Festi Noverini, dan Doni Agustan.

2001: A Space Odyssey

– Ferry Andoni Agustan

 

https://i1.wp.com/www.kinomania.ru/images/posters/156973.jpg

 

Nolan’s Interstellar sudah premier di LA sana tgl 26 kemarin. Belasan review udah gue baca dari web/blog film Amerika selama dua hari ini. Sebuah review yang gue baca di Indiewire nulis “Dapat dipastikan film favoritnya Nolan adalah 2001: A Space Odyssey”

Interstellar tampaknya adalah this year’s Gravity. Tahun lalu Gravity disanding-sandingkan dengan film terbaiknya Kubrick ini. Padahal jauuuhh sih kalo kata gue. Untuk Interstellar gue tarok ekspektasi gue pada “Ini film pretensius” persis seperti yang gue lakuin untuk Inception dan memang setelah menonton, Inception super pretensius.

So sebelum Interstellar rilis Indo 6 November ntar, perlu tampaknya gue refresh otak melihat ulang apa yang dulu bikin gue terkagum-kagum sama sci-fi buatan tahun 1968 ini.

Mari menonton.

2001: A Space Odyssey produksi 1968. Tapi futuristik Production Designnya luar biasa dengan ide-ide cemerlang teknologi yang kemudian muncul saat ini, otentik, detail dan bahkan mengungguli set-set film sci-fi buatan era kita (baca 90s-2000an).

Teknologi era sekarang yang muncul di 2001: A Space Odyssey; video call, iPad, voice command.

Kubrick visioner sejati!!

Rasanya ingin jadi generasi late 60s, jadi bisa menikmati film ini di bioskop. Terutama 30 menit menjelang endingnya. Entahlah apa yang ingin disampaikan Kubrick melalui rentetan semburat display puluhan gelombang warna-warni indah menuju akhir filmnya. Begitu juga dengan nyaris 30 menit pada opening filmnya yang tanpa dialog, menampilkan adegan-adegan ala dokumenter dunia binatang.

Terlepas dari filosofi kehidupan yang terasa berat yang disematkan Kubrick dalam filmnya ini, bahwa 2001: A Space Odyssey adalah sebuah pencapaian sinematik terbaik yang pernah dibuat. Bahkan tahun film ini dirilis manusia belum menyentuhkan kakinya ke bulan.

Kenapa terbaik?

Pertama, tahun 1968, Kubrick mampu merefleksikan apa yang akan terjadi 33 tahun berikutnya dari sudut pandang teknologi. Bahkan tahun 2001 yang sebenarnya tidaklah semaju apa yang ditampilkan Kubrick dalam film ini.

Kedua, buat sinefil yang peduli pada history of film making, pencapaian luar biasa Kubrick dalam mengeksekusi ide-ide cemerlang tentang perkembangan teknologi, dan merefleksikannya pada karya film dengan segala keterbatasan dari teknologi itu sendiri, mengingat tahun 1968, hampir semua yang ditampilkan Kubrick dalam karyanya belumlah ada.

2001 juga mengisi ruang ceritanya dengan sisi psikologis manusia di dalamnya. Ini yang tidak dimiliki oleh Gravity, entah bagaimana dengan Interstellar (kita tunggu 6 November). Melihat 2001 seperti dibawa pada wahana rollercoaster + spaceship dimana kita bisa menikmati pemandangan indah luar angkasa plus disuguhkan filosofi-filosofi hidup yang butuh waktu lama untuk bisa kita pahami.

Jika Terrence Malick untuk The Tree of Life, butuh waktu ke dunia masa lampau dan mikroskopis untuk menjelaskan pemahamannya tentang kehidupan, maka Stanley Kubrick membawa kita ke angkasa. Ya menurut gue The Tree of Life sangat similar dengan 2001: A Space Odyssey. Sebuah pencapaian poetic pada history of film makings.

 

Mengapa Wiji Thukul Menolak Disebut Penyair Protes?

*oleh guest blogger Mumu Aloha
 
wiji thukul
 

Setahun lalu, ketika pulang ke Solo, saya menyempatkan diri jalan-jalan ke kios buku/majalah bekas di alun-alun. Ada pemandangan yang bagi saya menarik. Di antara buku-buku bekas yang dijual, terdapat setumpukan buku fotokopian. Umumnya adalah buku-buku lama Serat Wirid Hidayat Jati, Darmogandul dan Gatoloco dan sejumlah novel berbahasa Jawa. Tapi, ada juga buku sejarah seputar komunisme, seperti ‘ Aidit Menggugat Peristiwa Madiun’. Walaupun menarik, tapi semua itu tak cukup mengejutkan bagi saya. Yang mengejutkan adalah ketika saya menemukan puisi Wiji Tukul!

Saya sedikit terhenyak; fenomena apa ini? Dengan terheran-heran saya timang-timang dan buka-buka buku Wiji Tukul itu. Itu adalah kumpulan puisi pertamanya, Mencari Tanah Lapang, dengan pengantar dari sosiolog Arief Budiman. Mengapa buku ini sampai ada fotokopiannya?  Sejak kapan buku kumpulan puisi menjadi ‘primadona’ lapak buku bekas, sampai harus difotokopi segala? Apa hanya karena sang penyair yang hilang dalam huru-hara reformasi 98 itu orang Solo? Atau, apakah memang ada permintaan yang begitu tinggi?

Apapun kemungkinannya, fotokopian kumpulan puisi Wiji Thukul itu membuat saya berpikir, bahwa dalam dunia benda, dunia komoditas, puisi Wiji Thukul setara dengan kitab-kitab Jawa kuno dan buku-buku kiri yang kini tengah menjadi buruan para kolektor.

Membicarakan Wiji Thukul memang terlalu banyak dimensi. Godaan untuk menimbang aktivitas politiknya (dengan akhir yang dramatis: hilang) begitu sulit diabaikan sehingga menenggelamkan diskusi tentang estetika puisi-puisinya. Faktanya, hingga kini belum pernah ada kritikus sastra yang membahas puisi Wiji Thukul dengan serius. Salah satu penghalangnya adalah mitos yang telanjur jadi label (yang barangkali juga melekat pada Rendra) bahwa Thukul adalah penyair aktivis, sehingga puisi-puisinya (otomatis) dianggap sebagai puisi perlawanan, puisi protes, puisi pamlet.

Pelabelan semacam itu menjadi penyakit dalam kebudayaan kita, sebab sekali seorang seniman ditempeli dengan label tertentu (Rendra si Burung Merak, Rendra si penyair pamlet), maka hal itu mereduksi setiap upaya untuk memahami karya-karyanya.

Ketika Majalah Tempo menerbitkan edisi khusus Tragedi Mei 2008-2013 dengan cerita sampul Teka-teki Wiji Thukul, Goenawan Mohamad (GM) mendedikasikan halaman Catatan Pinggir-nya yang keramat dan konon selalu ditunggu-tunggu itu untuk membahas Wiji Thukul. Menurut GM, Wiji Thukul adalah sebuah catatan kaki. Dalam kitab besar sejarah Indonesia, politik dan sastra, ia bukan sebuah judul atau tokoh di tengah halaman. Ia ada di bawah lembar halaman, atau bahkan mungkin di akhir bab. Tidak ada penjelasan yang memadai tentang pernyataan itu. Namun, dari pernyataan itu bisa disimpulkan, bahwa puisi-puisi Wiji Thukul dianggap bukan “karya utama” dalam sastra Indonesia. Ia hanya pelengkap; dipandang sebelah mata.

Seandainya Wiji Thukul membaca esei itu, pasti ia tak akan peduli sedikit pun. Dalam menulis puisi, Wiji Thukul memang cenderung tak peduli apapun. Dalam segi bentuk, puisinya menabrak “aturan” tentang susunan bait, rima, metafora, pemilihan kosa kata dan sebagainya. Dalam segi “aliran”, ia tak peduli apakah puisinya “surealis atau naturalis”.

Ketika banyak pembaca puisi-puisinya menjuluki Wiji Thukul sebagai penyair kerakyatan, dengan polos ia justru “meluruskan” bahwa dirinya menulis puisi sama sekali bukan untuk membela rakyat. Ia menulis puisi karena percaya bahwa puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan orang kecil. Dan, orang kecil itu bukanlah siapa-siapa melainkan dirinya sendiri, atau dalam bahasa Wiji Thukul sendiri, “Orang tertindas semacam saya.” Dengan demikian, lewat puisi-puisi yang ditulisnya, Wiji Thukul bicara tentang dirinya sendiri; seorang buruh pelitur, yang beristri tukang jahit, bapaknya tukang becak, mertuanya pedagang barang rongsokan, dan lingkungannya orang-orang melarat. Mereka semua masuk dalam “dunia” puisi Wiji Thukul, sehingga dengan membela diri sendiri ternyata puisi-puisinya juga menyuarakan hak-hak orang lain.

Itulah sebabnya, Wiji Thukul menolak disebut penyair protes. Wiji Thukul adalah penyair yang menyadari proses. Bagi Wiji Thukul, menulis puisi persoalannya adalah selalu kembali ke persoalan diri sendiri. Tapi, yang disebut sebagai “persoalan diri sendiri” itu pada kenyataannya tidak pernah bisa lepas dari lingkungan. Maka, seiring dengan perkembangan biografi dan kesadaran jiwa Wiji Thukul, puisi-puisinya pun terus berkembang. Dari isu-isu kehidupan orang kampung ke masalah-masalah urban perkotaan, dari urusan ‘domestik’ keluarga ke persoalan-persoalan politik dan bangsa.

Namun, apapun yang hendak disampaikan Wiji Thukul lewat puisinya, pada dasarnya potret yang dihadirkan adalah kemiskinan, kekalahan dan ketertindasan, dan pada titik tertentu kadang muncul keputusasaan, yang disebabkan oleh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penguasa (dalam hal ini Orde Baru). Puisi ‘Apa yang Berharga dari Puisiku’ dengan gamblang menggambarkan seluruh sumber kegelisahan Wiji Thukul.

apa yang berharga dari puisiku
kalau adikku tak berangkat sekolah
karena belum membayar uang spp

apa yang berharga dari puisiku
kalau becak bapakku tiba-tiba
rusak jika nasi harus dibeli dengan uang
jika kami harus makan
dan jika yang dimakan tidak ada?

apa yang berharga dari puisiku
kalau bapak bertengkar dengan ibu
ibu menyalahkan bapak
padahal becak-becak terdesak oleh bis kota
kalau bis kota lebih murah siapa yang salah

apa yang berharga dari puisiku
kalau ibu dijeret utang
kalau tetangga dijiret uang?

apa yang berharga dari puisiku
kalau kami terdesak mendirikan rumah
di tanah pinggir-pinggir selokan
sementara harga tanah semakin mahal
kami tak mampu membeli
salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah

apa yang berharga dari puisiku
kalau orang sakit mati di rumah
karena rumah sakit yang mahal?

Puisi ini menjadi contoh yang terang tentang bagaimana sebuah perspektif atau bahkan mungkin ideologi, menjadi jiwa sebuah puisi. Untuk memperjelas perspektif dan ideologi dalam puisi-puisi Wiji Thukul, mari kita bandingkan puisi tadi dengan karya Subagio Sastrowardoyo berjudul ‘Sajak’:

Apakah arti sajak ini
kalau anak semalam batuk-batuk
bau vicks dan kayuputih
melekat di kelambu
kalau istri terus mengeluh
tentang kurang tidur, tentang
gajiku yang tekor buat
bayar dokter, bujang dan makan sehari
kalau terbayang pantalon
sudah sebulan sobek tak terjahit
apakah arti sajak ini
kalau saban malam aku lama terbangun
hidup ini makin mengikat dan mengurung

apakah arti sajak ini:
piaraan anggrek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke akhir hari?

‘Sajak’ karya Subagio Sastrowardoyo tersebut tampaknya memang merupakan sumber inspirasi Wiji Thukul ketika menulis ‘Apa yang Berharga dari Puisiku’. Namun, kita bisa lihat, bagaimana problem “kelas menengah” yang menjadi “keluhan” Subagio (gaji tekor untuk bayar dokter dan bujang, pantalon sobek, anggrek tricolor), di tangan Wiji Thukul berubah menjadi uang SPP adik yang tak terbayar, becak bapak yang rusak, ibu dan tetangga yang dijiret utang, dan problem-problem kemiskinan lainnya.

Dan, kalau kita sambung dengan menyimak puisi ‘Aku Menuntut Perubahan’, maka puisi tadi seolah menjadi puncak gambaran yang mewakili kekalahan dan keputusasaan orang-orang miskin, yang telah sampai pada kebosanan tanpa harapan.

Seratus lobang kakus
Lebih berarti bagiku
Ketimbang mulut besarmu
Tak penting
Siapa yang menang nanti
Sudah bosen kami
Dengan model urip kayak gini
Ngising bingung, hujan bocor
Kami tidak butuh mantra
Jampi-jampi
Atau janji
Atau sekarung beras
Dari gudang makanan kaum majikan
Tak bisa menghapus kemlaratan
Belas kasihan dan derma baju bekas
Tak bisa menolong kami
Kami tak percaya lagi pada itu
Partai politik
Omongan kerja mereka
Tak bisa bikin perut kenyang
Mengawang jauh dari kami
Punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal
Kami ingin tidur pulas
Utang lunas
Betul-betul merdeka
Tidak tertekan
Kami sudah bosan
Dengan model urip kayak gini
Tegasnya=
Aku menuntut perubahan

Begitulah, potret-potret kekalahan orang kecil terus membayangi puisi-puisi Wiji Thukul, bahkan ketika ia sedang bercerita tentang, mungkin semacam, liburan keluarga, seperti tampak pada puisi ‘Pasar Malam Sriwedari’. Beli karcis di loket/ pengemis tua muda anak-anak/ mengulurkan tangan/ masuk arena corong-corong berteriak/ udara terang benderang tapi sesak/ di stand perusahaan rokok besar/ perempuan montok menawarkan dagangannya/ di stand jamu tradisionil/ kere-kere di depan video berjongkok/ nonton silat mandarin.

Kembali ke soal perspektif dan ideologi tadi, maka kiranya akan semakin jelas membaca “dunia” dan “isi kepala” Wiji Thukul dengan membandingkan puisi tadi dengan puisi berobjek sama karya Rendra (dari kumpulan ‘Sajak-sajak Sepatu Tua’, 1972)

Pasa Malam Sriwedari Solo

Di tengah lampu aneka warna
balon mainan bundar-bundar
rok-rok pesta warna
dan wajah-wajah tanpa jiwa
kita jagal sendiri hati kita
setelah telinga jadi pekak
dan mulut terlalu banyak tertawa
dalam dusta yang murah
dan bujukan yang hampa

Mencubiti pantat wanita
tidak membuat kita tambah dewasa
dilindingi banyangan tenda-tenda
kita menutup malu kita
dengan kenakalan tanpa guna
tempat ini sangat bising dan bising sekali
gong, gendang, gitar dan biola
terkacau dalam sebuah luka
ayolah
anda sedang menertawakan dunia
ataukan dunia sedang menertawakan anda?

Pada Rendra, ‘Sriwedari’ menjadi ajang kontemplasi tentang gaya hidup “hedon” perkotaan, sedangkan pada Wiji Tukul, lagi-lagi yang muncul adalan bayangan kemiskinan dan orang-orang yang kalah (pengemis, SPG dan kere).

Saya akan membandingkan karya Wiji Thukul dengan satu puisi lagi, kali ini dari sesama penyair Solo yang menulis puisi-puisinya pada tahun-tahun yang sama dengan masa awal kepenyairan Wiji Thukul, yakni puisi Kriapur:

Solo

gerimis menyeret bulan
menghamburkan cahaya
dekat pohon-pohon bengawan
tengah malam dingin
gairah kehidupan tak undur
manusia seperti patung-patung
kantuk di kedalaman bunyi gamelan

Solo yang mistis dan eksotis tidak muncul dalam puisi-puisi Wiji Thukul. Pada Thukul, Solo adalah “pedagang kaki lima berderet-deret” (Monumen Bambu Runcing), atau “kampung…riuh dan berjubel/ seperti kutu kere kumal” di belakang “toko-toko baru dan macam-macam bangunan” (Gumam Sehari-hari), “kampung orang-orang kecil” (Sajak kepada Bung Dadi). Dan, dengan lantang Wiji Thukul bertanya, atau lebih tepatnya menggugat:

kota macam apa yang kita bangun/siapa yang merencanakan (Sajak Kota).

Itu baru satu dimensi dari puisi-puisi Wiji Thukul yang kaya. Kembali ke pertanyaan awal, mengapa Wiji Thukul menolak disebut penyair protes, karena memang ia berangkat dari keyakinan bahwa puisi itu alat perlawanan.

Dengan ekstrem, Wiji Thukul bahkan menyebut puisinya “bukan puisi”: tapi kata-kata gelap/ yang berkeringat dan berdesakan/ mencari jalan/ ia tak mati-mati/meski bola mataku diganti/ meski bercerai dengan rumah

Ada keyakinan, ada kekuatan dalam puisi-puisi Wiji Thukul. Keputusasaan yang muncul di karya-karya awal kepenyairannya –“sudah bosen kami dengan model urip kayak begini” (Aku Menuntut Perubahan)– menemukan titik baliknya pada puisi berjudul ‘Puisi untuk Adik’:

apakah nasib kita terus akan seperti/ sepeda rongsokan karatan itu?/ o, tidak, dik!/ kita akan terus melawan.

Seperti Subagio Sastrowardoyo yang percaya bahwa “sajak ini melupakan aku pada pisau dan tali/ sajak ini melupakan kepada bunuh diri“, dengan nada yang mungkin tak terlalu heroik, Wiji Thukul akhirnya kembali pada keyakinan yang sama. Jika tadi di awal sudah disebutkan bahwa Wiji Thukul berpuisi dengan kesadaran pada proses, maka di ‘Puisi untuk Adik’ dia menegaskan kesadaran itu:

kita harus membaca lagi/ agar bisa menuliskan isi kepala/ dan memahami dunia.

Dengan puisi, Wiji Thukul menghancurkan kebisuannya sendiri “sehingga…engkau mendengarkan“.

ABC of Saut Situmorang

—Mikael Johani

Saut

Aneh bahwa belum pernah ada review yang benar-benar membahas tentang buku kumpulan puisi Saut Situmorang yang diterbitkan tahun 2007, “otobiografi: kumpulan puisi 1987-2007” (o-nya memang sengaja kecil), selain review almarhum Asep Sambodja yang juga pernah dibawakan dalam diskusi tentang buku ini di acara Meja Budaya asuhan Martin Aleida di PDS H.B. Jassin di TIM pada tahun 2009. Padahal biasanya dalam dunia sastra Indonesia, figur yang seterkenal Saut akan menarik banyak groupies sastra untuk menulis review tentang buku-bukunya. Lihat saja ledakan review tentang buku-buku Ayu Utami (pemenang pertama lomba esai DKJ yang terakhir pun masih membahas buku dia!–walaupun dengan nada mengkritik), Nirwan Dewanto, dan Nukila Amal (di tahun yang lain lagi, lomba esai DKJ yang sama dipenuhi begitu banyak tulisan lebay-pretentious tentang novelnya yang dianggap super rumit sehingga pasti nggak mungkin nggak adiluhung itu, Cala Ibi). Pendek kata, hype dan kultus individu dalam sastra Indonesia biasanya menghasilkan tulisan yang cukup banyak tentang individu tersebut (nggak usah ngomong dulu tentang kualitasnya), tapi kenapa setelah tujuh tahun belum ada lagi juga esai selain esai Asep yang membahas secara serius puisi-puisi Saut dalam kumpulan seminalnya ini?

 

Jawaban singkatnya, karena Saut Situmorang tidak cuma terlahir dari sejarah sastra Indonesia, tapi juga dari sejarah sastra, puisi, dan seni di luar Indonesia, dari puisi Modernis ala Eliot, Surrealis ala Rimbaud (kumpulan puisi Saut yang baru berjudul Perahu Mabuk = Le Bateau ivre-nya Rimbaud), puisi-puisi kalligram ala Apollinaire, Négritude ala Aimé Césaire, puisi protes ala Neruda, puisi Beat ala Ginsberg, haiku ala Basho (via Pound?), gerakan meng long shi (Misty Poetry) Tiongkok, dan itu baru pengaruh-pengaruhnya dari dunia puisi di luar Indonesia! Saut juga banyak memamerkan pengaruh-pengaruhnya dari dari dunia film (Tarkovsky, misalnya), dunia seni (Magritte dan Duchamp, misalnya), dan pop culture (Speedy Gonzales, misalnya–walaupun ini bisa juga permainan intertekstualitas dengan Ashbery!). Dan masalahnya, sori-sori aja, kebanyakan kritikus sastra Indonesia tidak tahu sama sekali tentang sejarah apalagi teori puisi di luar Indonesia. Sehingga sederhananya, mereka nggak ngerti puisi-puisi Saut! Mereka nggak menangkap alusi-alusinya, nggak bisa melacak kepadatan intertekstualitas (bukan cuma name-dropping ala Nirwan Dewanto) dalam puisi-puisinya, nggak tahu permainan dan perang apa yang dilancarkan Saut bukan cuma dalam puisi-puisinya tapi juga dengan caranya menyusun puisi-puisi itu dalam kumpulan ini.

 

Padahal, dalam kumpulan ini, Saut selain berpuisi juga sedang melancarkan protes dan revisinya terhadap puisi Indonesia dan juga puisi Barat berbahasa Inggris yang sepertinya masih berusaha melepaskan diri dari bayang-bayang Puisi Modernis dan tanpa sadar sudah lebih dari setengah abad muter-muter di situ aja. Saut (menulis dalam bahasa Indonesia kecuali di bagian terakhir yang diberi subjudul “Rantau” dan berisi puisi-puisi bahasa Inggrisnya) mencari jalan keluar dari anxiety of influence yang ditinggalkan penyair-penyair Modernis (favorit Saut sendiri sepertinya Eliot) dengan mengadopsi, mengapropriasi, me-mashup pengaruh tersebut dengan tradisi-tradisi kepenyairan di luar gerakan Modernis tersebut–dari surealisme Prancis, writing back ala Négritude, blues ballad ala Rendra (via Lorca?), sampai sajak terang sadar politik penyair-penyair Indonesia tahun 1990an (misalnya puisi protes Wiji Thukul). Yang dihasilkan oleh kumpulan puisi otobiografi ini adalah sesuatu yang revolusioner: sebuah dialog (atau mungkin struggle?) dengan (anxiety of) influences Saut sendiri, sebuah usaha untuk menaklukkan mereka dengan pendekatan yang postmodern: multi-tradisi, multi-intertekstual, bahkan multi-bahasa!

 

A. Tradisi versus bakat individu

otobiografi diawali dengan sebuah esai dari Saut yang berjudul Tradisi dan Bakat Individu. Judul esai ini adalah terjemahan langsung dari esai terkenal T.S. Eliot, Tradition and the Individual Talent. Esai ini bertindak sebagai manifesto kesenian Saut. Seperti Eliot, ia berpendapat tidak mungkin seorang penyair atau sastrawan, seberbakat apapun, berkarya tanpa dipengaruhi tradisi-tradisi yang mendahuluinya. Justru cara si sastrawan bergulat dengan tradisi-tradisi yang mempengaruhinya itulah yang menarik! Saut dengan eksplisit menyatakan tidak setuju dengan pernyataan-pernyataan lebay-asersif kritikus-kritikus Indonesia dari sejak H.B. Jassin sampai Nirwan Dewanto yang sering tanpa bukti jelas mengklaim bahwa seorang pengarang yang berbeda sedikit saja dari teman-teman seangkatannya pasti tidak terlahir dari sejarah sastra Indonesia(nya) sendiri. Dari Chairil yang terlalu sering diklaim sebagai binatang jalang yang dari kumpulan masteng sastra 45-nya terbuang, sampai Ayu Utami dan Saman yang diklaim oleh temannya Nirwan Dewanto tidak terlahir dari sejarah sastra Indonesia–sampai-sampai blurbs buku itu pun dengan enteng sengaja salah mengutip komentar Pramoedya Ananta Toer, seakan-akan ia terlalu kuno dan nggak ngerti Saman! Soal Chairil, Saut menunjukkan bahwa pada tahun 1992, peneliti sastra Indonesia Sylvia Tiwon sudah pernah menganalisa relasi intertekstual antara puisi Chairil dan pendahulu Pujangga Barunya, Amir Hamzah. By the way, Nirwan Dewanto mengklaim hal yang sama dalam esainya tentang Chairil Anwar, “Situasi Chairil Anwar“, yang kemudian dimuat menjadi kata pengantar di kumpulan puisi Chairil Anwar terbaru terbitan Gramedia tahun lalu. Selain esai ini Nirwan ini telat, madingnya udah terbit, ia juga tidak sekalipun menyebutkan bahwa poin yang dibuatnya sudah pernah dibuat pula oleh Sylvia Tiwon (apalagi Saut Situmorang!), mungkin karena ia memang nggak tahu tentang esai terkenal Sylvia Tiwon itu, atau dia pengen orang-orang menganggap dia sendiri yang muncul dengan pikiran itu. Seakan-akan dia sendiri tidak terlahir dari sejarah kritik sastra Indonesia! Hahahahaha!

 

Patut diperhatikan pula bahwa esai Tradisi dan Bakat Individu ini juga diterbitkan dalam kumpulan esai Saut Situmorang, Politik Sastra, yang terbit dua tahun kemudian, 2009. Kumpulan kritik sastra ini, selain sebuah j’accuse! terhadap kebusukan politik sastra Indonesia, juga bisa dibaca sebagai manifesto kepuisian Saut versi extended. Jika kamu ingin lebih mengerti puisi-puisi Saut, bacalah Politik Sastra, di situ ia layaknya sebuah buku panduan membaca simbolisme lukisan Old Masters, menyebar clues tentang pengaruh-pengaruh dalam puisinya dan bagaimana ia mengolah pengaruh-pengaruh tersebut. Misalnya, jika ingin clues tentang bagian pertama otobiografi, “Cinta”, bacalah esai “Dikutuk-sumpahi Eros” dalam Politik Sastra. Jika ingin lebih mengerti bagian terakhir otobiografi, “Rantau”, baca “Sastra Eksil, Sastra Rantau” dalam Politik Sastra. Menarik pula untuk diingat bahwa eksistensi Saut sebagai poet-critic/shit-stirrer dalam dunia kang ouw sastra Indonesia bisa juga dianggap sebagai usaha mewarisi tradisi penyair-penyair Modernis yang sering juga punya identitas ganda sebagai kritikus pengguncang status quo. Dalam hal ini (bagian critic dari poet-critic), mungkin Saut sebenarnya lebih mirip dengan Ezra Pound daripada Eliot, lebih shit-stirring dan lebih subversif. Jika kamu, seperti Goenawan Mohamad, menganggap jurnal boemipoetra yang ia terbitkan hanya sekedar “coret-coret di kakus“, coba deh download kopian zine Blast yang dieditori Ezra Pound di awal abad 20. boemipoetra itu, seperti hampir semua yang dilakukan Saut Situmorang, bukan sekedar coret-coret di kakus, tapi coret-coret di kakus yang hiperintelektual dan hiperintertekstual! Sampai GM aja nggak ngerti! Kakus boemipoetra itu dilengkapi urinal ready made Duchamp, lho! Hahahahaha!

 

Setelah esai Tradisi dan Bakat Individu, menyusul bagian pertama otobiografi, “Cinta”. Di sinilah Saut bergulat dengan sumber anxiety of influencenya yang pertama dan mungkin paling utama: Chairil Anwar. Bukan sok-sokan jika bagian ini dimulai dengan kutipan terkenal dari puisi “Tak Sepadan” Chairil: “Dikutuk-sumpahi Eros, aku merangkaki dinding buta, tak satu juga pintu terbuka.” Jika Chairil berusaha mencari pintu keluar dari kutuk-sumpah Eros, Saut berusaha di bagian ini untuk mencari pintu terbuka yang menawarkan jalan keluar dari pengaruh Chairil!

 

Bagaimana cara Saut melakukan itu? Dengan mengerahkan semua arsenal pengaruh-pengaruhnya yang lain! Dari kalligram ala Apollinaire (bandingkan bentuk puisi “dongeng enggang matahari”


photo 1 (1)

dengan “Coeur Courrone et Mirror” Apollinaire, atau bentuk “sajak hujan”


photo 2 (1)

dengan “Il Pleut” (by the way, baris “hujan… tergelincir kakinya di atap atap rumah” dalam “sajak hujan” juga diapropriasi kemudian direkontekstualisasi dari baris “la pluie qui met ses pieds dans le plat sur les toits” dalam puisi Aimé Cesaire “Le Cristal automatique”), puisi imagis ala William Carlos Williams dengan variable foot dan barisnya yang pendek-pendek (bandingkan puisi “elegi claudie” dengan “The Red Wheelbarrow”), haiku modernis ala Pound via Sitor (bandingkan “lonceng gereja, tembok kota tertawa padanya” dengan “In a Station of the Metro, the apparition of these faces in the crowd, petals on a wet, black bough” dengan “Malam Lebaran, bulan di atas kuburan”), mash-up puisi Zen-Beat ala Ginsberg dengan plesetan kutipan dari Eliot (puisi “kata dalam telinga”, baris “Jumat adalah hari yang paling kejam dalam seminggu” yang memelesetkan baris terkenal dari “The Waste Land”, “April is the cruellest month, breeding lilacs out of the dead land”), sampai Sapardi Djoko Damono! (lihat puisi “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu”.)

 

Dan masih banyak lagi. Poin semua ini adalah, satu, seperti argumen Bloom di buku terkenalnya “The Anxiety of Influence: A Theory of Poetry” yang juga dikutip oleh Saut dalam esai Tradisi dan Bakat Individu di awal otobiografi ini, mendistorsi karya-karya/gaya-gaya penyair-penyair/tradisi-tradisi kepenyairan yang mendahului dan mempengaruhinya tadi menjadi karya/gaya/tradisi-nya sendiri, dan dua, seperti seorang guru yang menerapkan mantra “show, don’t tell” Hemingway, menunjukkan hutang penyair-penyair Indonesia yang dianggap pendobrak tradisi seperti Chairil, Sitor, dan Sutardji terhadap tradisi-tradisi puisi Barat yang dengan sengaja mereka apropriasi (puisi Modernis buat Chairil dan Sitor, kalligram ala Apollinaire dan Puisi Konkrit buat Sutardji).

 

Tentu, Saut secara sengaja juga menunjukkan betapa berhutangnya dia kepada tradisi dan sejarah puisi yang mendahuluinya. Puisi-puisi ini adalah pembuktian manifesto Bakat dan Tradisi Individunya tadi, caranya (memelesetkan kalimat terakhir di esai itu) menunjukkan bagaimana dia menjadi bagian dari tradisi/sejarah sastra Indonesia, sekaligus menunjukkan relasi intertekstual puisi-puisinya dengan puisi-puisi sebelumnya.

 

Bagian kedua otobiografi dijuduli “Politik”. Di sinilah Saut menunjukkan bahwa salah satu bagian dari identitas kepenyairannya adalah keanggotaan tidak resminya dalam “angkatan” penyair Indonesia 1990an. Seperti dikatakannya di esai Bakat dan Tradisi Individu: “Sebuah motif dominan lain pada puisi para penyair 1990an adalah politik. Para penyair 1990an tidak lagi tabu atau malu-malu untuk mempuisikan politik, mempolitikkan puisi, malah justru pada periode inilah puisi politik mencapai puncak ekspresi artistiknya yang melampaui apa yang sebelumnya dikenal sebagai sajak-protes dan pamflet-penyair seperti pada puisi Wiji Thukul.”

 

Strategi puitis yang dipakai Saut di bagian “Politik” ini sama dengan yang dipakainya di bagian “Cinta”: lebih banyak lagi distorsi dan revisi atas pengaruh-pengaruh tradisi yang mendahuluinya. Puisi pertama dalam bagian ini saja berjudul “potret sang anak muda sebagai penyair protes”, judul alusif yang sekaligus memelesetkan frase terkenal dari pentolan (prosa) besar Modernis Joyce dan pentolan Komunitas Utan Kayu/Salihara Goenawan Mohamad yang lebih dulu memelesetkan frase itu (“A Portrait of the Artist as a Young Man” → “Potrét Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang”).

 

Salah satu puisi yang paling menarik dalam bagian “Politik” ini adalah puisi “demikianlah”. Dalam puisi ini, Saut menggabungkan berbicara tanpa malu-malu tentang politik (“langit yang biru lebam dihajar popor m-16 anjing anjing kapitalis pascakolonial) dengan irama-irama puisi Beat ala Ginsberg dan obsesinya dengan budaya pop dan obscenity (“demi dr strangelove yang berkhayal nikmatnya sebuah rudal yang pecah di lobang duburnya”) dan semacam katalog influences atas kepenyairannya (Harry Roesli, Alfred Hitchcock, Rendra, Wiji Thukul, Karl Marx, Guernica Picasso, Made Wianta, lagu anak-anak Pelangi, Tampax, SMS, Borobudur, Bukek Siansu, National Geographic, dan masih banyak lagi).

 

Bagian “Politik” ini juga jadi cara efektif buat menghapus stigma hangover Orba bahwa sajak yang bertema politik seperti puisi pamflet Rendra atau sajak protes Wiji Thukul pasti kurang “puitis” atau malah kurang “adiluhung”. Saut membuktikan dengan sajak-sajaknya di bagian ini bahwa “sajak politik” tidaklah serta-merta (hanya karena subject matternya) sederhana, naif, dan primitif seperti yang sering dituduhkan oleh penyair-kritikus salon Salihara, tapi juga bisa canggih, intertekstual, dan postmodern. Stigma bahwa sajak politik pasti jelek hanyalah hangover (anxiety of influence!) Orba, bagian dari propagandanya untuk men-depolitisasi seni di Indonesia.

 

B. Writing back to the canon

Bagian ketiga otobiografi berjudul “Rantau”, berisi puisi-puisi bahasa Inggris Saut. Di sinilah Saut takes the game to his influences head on! Di bagian inilah usaha Saut untuk keluar dari bayang-bayang Puisi Modernis paling kelihatan. Yang ia lakukan dalam bagian ini adalah semacam tour de force melewati berbagai macam genre dan subgenre puisi Barat dan Indonesia yang menawarkan obat penawar untuk hangover Puisi Modernis, yang dalam dunia puisi Barat berbahasa Inggris pun sepertinya belum ditemukan. Kebanyakan penyair berbahasa Inggris masih terjebak dalam curhatan borjuis confessional poetry ala Lowell, Plath, dkk, atau permainan borjuis-esoterik flarf, dan keduanya tidak relevan dengan kondisi pascakolonial (penyair) Indonesia (atau penyair yang lahir dari sejarah sastra Indonesia seperti Saut). “Rantau” menunjukkan salah satu episode paling penting dari otobiografi kepenyairan Saut, saat dia menulis puisi sebagai usaha “writing back” kepada otoritas kanon Puisi Barat yang mempengaruhinya. Tidak heran apabila bagian ini dimulai dengan kutipan favorit para pascakolonialis dari drama Shakespeare, The Tempest: “You taught me language, and my profit on’t is I knew how to curse.” Kutipan ini salah satu baris yang diucapkan oleh Caliban, antagonis utama dalam The Tempest, tapi justru protagonis dan poster boy pemikir pascakolonial, termasuk salah satu idola Saut, Aimé Cesaire, yang mengangkat Caliban sebagai seorang black slave-hero yang melawan white masternya Prospero dalam adaptasinya atas The Tempeste, Une Tempête. Patut diingat bahwa dalam salah satu baris yang mengikuti baris yang dikutip Saut di atas, Caliban mengutuk Prospero dan Miranda yang mengajarinya bahasa Inggris, semoga “the red plague rid you for teaching me your language!” Namun, yang dilakukan Caliban-Saut dalam bagian “Rantau” ini, seperti juga yang sebenarnya dilakukannya di balik sumpah-serapah j’accuse!-nya di Twitter dan Facebook tapi tidak banyak disadari orang, bukan cuma cursing tapi sebuah proses writing back terhadap kanon puisi Inggris!

 

Dalam puisi “Looking for Charles Bukowski in K Rd” misalnya, Saut mendistorsi waste land urban Eropa pra- dan pasca-Perang Dunia I yang digambarkan Eliot dalam dua puisi yang dianggap memelopori Puisi Modernis, “The Love Song of J. Alfred Prufrock” (“half-deserted streets, … restless nights in one-night cheap hotels”) dan “The Waste Land”, menjadi waste land “retro paradise” “red-light-cum-nightclub-district” K Rd di Auckland, metropolis terbesar di New Zealand. Dalam puisi ini, Saut kembali memelesetkan “April is the cruellest month” Eliot dari “The Waste Land” menjadi “Friday is the holiest night of the week” (ironically, of course), me-mashup-nya (lagi) dengan irama Beat dan obscenity ala Ginsberg (“shit & death”, “prophets of semen redemption”, “perfumed communion of alcohol & semen”), dengan referensi budaya pop dalam bentuk kutipan lagu The Beatles (“obladi oblada life goes on, yeah…”), kemudian mengakhirinya dengan memelesetkan tiga baris pembuka “The Love Song of J. Alfred Prufrock” yang sangat terkenal (yang judulnya juga dia pelesetkan jadi judul satu lagi puisinya, yang rasanya bukan kebetulan ditaruh pas setelah puisi “Looking for Charles Bukowski in K Rd” ini, “Love Song of Saut Speedy Gonzales”): “Let us go then, you and I, when the evening is spread out against the sky, like a patient etherised upon a table”, menjadi “let us go to K Rd then, you & I, while the evening is still spread out against the Sky Tower, like a Holy Virgin intoxicated upon a bar table”. Yang paling mencengangkan sekaligus mengacengkan di sini adalah distorsi simile Eliot yang dingin dan mencekam, “like a patient etherised upon a table” menjadi simile yang hot dan mencekam, dan sacrilegous (!), “like a Holy Virgin intoxicated upon a bar table.” Sungguh sebuah distorsi yang sangat pas untuk mengubah baris-baris Eliot yang menggambarkan urban Eropa yang sepi dan membusuk (ingat “half-deserted streets”) menjadi baris-baris Saut yang menggambarkan waste land K Rd yang ramai dan busuk!

 

Sementara itu, puisi selanjutnya, “Love Song of Saut Speedy Gonzales”, sudah intertekstual sejak judulnya. Judul ini bisa dibaca sebagai mash-up antara “The Love Song of J. Alfred Prufrock” dengan nama karakter kartun Looney Tunes Speedy Gonzales, tikus tercepat di Meksiko, atau dengan nama karakter kartun ini setelah digunakan oleh John Ashbery dalam puisinya “Daffy Duck in Hollywood”. Bentuk puisinya sendiri adalah sebuah contoh “definition poem” yang Oulipoesque, usaha Saut Speedy Gonzalez untuk mendefinisikan “love” seperti entry sebuah dictionary. Love di sini didefinisikan dan redefinisikan berkali-kali dengan berbagai macam metafora, referensi, dan alusi. Salah satu yang khas Saut, surreal, liris, pop, sekaligus obscene, adalah “love is the tampon that you mistook for a Chinese herbal tea-bag”.

 

Dalam bagian “Rantau” ini, Saut memakai bahasa Inggris yang ia serap selama masa perantauannya sebagai senjata (the pen is mightier than the sword!), bukan untuk melenyapkan anxiety of influencenya yang berasal dari kanon puisi dunia, tapi untuk berdamai dengan influence(s) tersebut. Selain nama-nama yang sudah disebut di atas, influences itu juga termasuk Baudelaire (dalam “after Baudelaire”), Rendra (“After Rendra 3”), Li Po (“homage to Li Po”), Andrei Tarkovsky (“to Andrei Tarkovsky”), René Magritte (“totem–to René Magritte”), Jimi Hendrix (“1966–for Jimi Hendrix”), dan masih banyak lagi.

 

Dengan referensinya ke penyair non-Inggris (Baudelaire, Li Po, Rendra) dan non-penyair (Tarkovsky, Magritte, Hendrix), Saut seperti ingin menunjukkan kepada puisi bahasa Inggris bahwa jalan keluar dari Puisi Modernis bisa saja berasal dari puisi yang tidak berbahasa Inggris atau bahkan bukan dari dunia puisi!

 

Namun usul Saut ini pun mungkin tidak sepenuhnya orisinil, karena Ezra Pound, malaikat penolong/Ibu Theresa penyair-penyair Modernis itu, juga pernah mengusulkan hal yang sama dalam kanto-kantonya: menca/uri jalan ke depan setelah Puisi Modern dari Confucius, Dante, Homer, Gaudier-Brzeska, ilmu ekonomi, dan masih banyak lagi. Yang berbeda dari Saut adalah identitas, otobiografi kepenyairannya. Ia menyerang kanon puisi berbahasa Inggris sebagai Caliban, writing back dari dunia ketiga ke pusat empire, sementara Pound, yang sering tidak benar-benar bisa membaca sumber-sumber non-Inggrisnya, menyerang sebagai Prospero, sebagai white master dari pusat empire itu sendiri.

 

Kesadaran Saut akan posisinya yang khas subyek pascakolonial itu menjadikannya unik di dalam dunia kang ouw sastra Indonesia. Karena alih-alih sadar akan posisi diri mereka yang lahir dari sejarah sastra Indonesia yang always already pascakolonial dan karena itu perlu untuk mempertanyakan, mengkritik, kemudian merevisi pengaruh-pengaruh mereka yang berasal dari kanon sastra Barat, mereka justru mem-fetish-kan pengaruh-pengaruh Barat itu dan menjadi sekelompok penyair inlander yang tidak pernah bisa berdamai dengan, apalagi melampaui!, anxiety of influencenya.

 

C. Intertekstualitas versus name-dropping

Kalau kritikus sastra Indonesia bicara tentang intertekstualitas saat ini, mereka biasanya akan menyebut nama Nirwan Dewanto sebagai contoh seorang penyair Indonesia kontemporer yang “intertekstual”. Biasanya ini disebabkan karena klaim Nirwan sendiri, atau fakta bahwa ia sering mendedikasikan puisi-puisinya buat penyair/seniman/musisi asing yang jarang terdengar namanya sehingga rasanya o so hipster sekali, atau kalau tidak begitu menyitir baris-baris puisi mereka dalam puisinya sendiri. Tapi bagaimana dan untuk apa Nirwan menyebutkan nama mereka dan menyitir puisi-puisi mereka? Apakah sekedar menyebutkan nama dan atau mengutip baris puisi orang lain cukup untuk menghasilkan puisi yang intertekstual?

 

Mari kita bahas salah satu puisi Nirwan yang melakukan keduanya, sebuah puisi berjudul “Burung Merak” dari “himpunan” (o so pretentious!) puisinya, “Jantung Lebah Ratu”. Puisi “Burung Merak” ini didedikasikan “untuk Juan José Arreola dan Wallace Stevens”. Wallace Stevens, satu lagi punggawa Puisi Modernis, pernah menulis sebuah puisi berjudul “Anecdote of the Prince of Peacocks”, yang (sepertinya, you’re never sure with Stevens) bercerita secara imagis tentang dunia penyair (“Prince of Peacocks”) yang menakutkan (“I met Berserk”). Puisi Nirwan “Burung Merak” (hampir pasti, karena hampir semua puisi Nirwan selalu tentang betapa menyiksanya menjadi seorang penyair) juga tentang dunia penyair yang menakutkan. Dalam “Burung Merak”, penyair diumpamakan sebagai “pemburu”: “Ia sering mengaku tahu rahasia semua jalan yang dilalui para pemburu. Sebenarnya mereka adalah kaum penyair…”. Paragraf (puisi ini berbentuk puisi prosa, seperti layaknya sebuah puisi Nirwan Dewanto) yang mengutip Stevens langsung berbunyi begini: “Tetap saja ia merasa lebih tinggi ketimbang segala pohon dan lebih luas ketimbang hutan sebab ia mampu menjangkau matahari dengan matanya dan laut dengan telinganya. (Aku berhutang ungkapan ini kepada seorang penyair dari negeri putih, pegandrung burunghitam, yang hampir saja menjebaknya di pinggir hutan. Sejak itu aku tahu bahwa pena lebih tajam ketimbang pedang. Ah, sungguh harfiah, bukan?)” Sekarang bandingkan dengan “ungkapan” aslinya: (stanza ketiga dari satu lagi puisi Stevens, “Six Significant Landscapes”) “I measure myself against a tall tree. I find that I am much taller, for I reach right up to the sun, with my eye; and I reach to the shore of the sea with my ear.” Selain itu, “burunghitam” juga berasal dari puisi Stevens, yang paling terkenal, “Thirteen Ways of Looking at a Blackbird” (perhatikan cara penulisan “burunghitam” yang disambung dan tak wajar dan berhutang banyak pastinya kepada cara Stevens mengeja “Blackbird”), yang mise-en-scènenya “Among twenty snowy mountains” di (sepertinya, you’re never sure with Stevens) Haddam, Connecticut, 26,8 mil dari ibukota Connecticut, Hartford, tempat Stevens menghabiskan kebanyakan masa hidupnya menulis puisi dan bekerja di perusahaan asuransi. Dibandingkan dengan Hartford, Haddam di tahun 1917 (tahun penerbitan “Thirteen Ways of Looking at a Blackbird”) pasti memang terkesan seperti “pinggir hutan”! Sementara itu, “pena lebih tajam ketimbang pedang” adalah terjemahan verbatim dari pemeo Inggris “The pen is mightier than the sword”, yang pertama kali muncul in print di naskah drama penulis Inggris Edward Bulwer-Lytton, “Richelieu; Or the Conspiracy”.

 

Sekarang bandingkan cara “berhutang” Nirwan Dewanto kepada Stevens dengan cara berhutang Saut kepada Eliot seperti dideskripsikan sebelumnya. Betapa “sungguh harfiah”-nya memang cara Nirwan menyitir Stevens! Bahkan sampai ke subject matter puisinya sendiri! Mana distorsinya, mana revisinya, seperti yang dilakukan Saut? Intertekstualitas, menurut Julia Kristeva yang meng-coin istilah ini, selalu mengandung sebuah transformasi. Mana transformasi teks Stevens dalam (kon)teks puisi Nirwan? Tidak ada!

 

Yang ada hanya pseudo-mashup elemen dari tiga puisi Stevens yang setelah dimashup hasilnya tidak menghasilkan transformasi secuil pun, baik bagi tiap elemen itu maupun bagi kesatuan mashup (yang seharusnya) baru tadi! Bukannya jadi contoh intertekstualitas, “Burung Merak” ini malah jadi contoh azek betapa tepatnya pemeo Eliot tentang perbedaan penyair ABG vs. penyair matang: “immature poets imitate; mature poets steal; bad poets deface what they take, and good poets make it into something better, or at least something different.”

 

Mungkin menunjukkan bahwa “intertekstualitas” Nirwan Dewanto adalah satu lagi kasus “The Emperor’s New Clothes” dari pujangga-pujangga adiluhung kantong budaya Salihara bukan raison d’être utama Saut menulis puisi-puisinya, karena intertekstualitas itu sendiri adalah salah satu kondisi utama Modernisme, dan Saut sebagai penyair yang sangat dipengaruhi oleh Modernisme dan terus-menerus bergulat dengan pengaruh itu mungkin secara alami dan secara sadar (menggunakan bakat alam dan intelektualismenya!) menggunakannya sebagai salah satu modus operandi kepenyairannya. Namun, mengingat bahwa menunjukkan kenyataan kalau the Salihara emperors have actually got no clothes on adalah salah satu raison d’être politik sastra Saut selama ini, jangan didiskon dulu kemungkinan bahwa Saut memang sengaja mengkurasi puisi-puisi yang menonjolkan intertekstualitas yang sebenarnya dalam kumpulan otobiografi ini–untuk mengekspos dusta hagiografi penyair-penyair sok intertekstual dari KUK/Salihara!

 

“The only real emotion is anxiety”  

Begitu kata satu lagi pentolan Modernisme, Freud. Kumpulan puisi otobiografi ini pada akhirnya memang sebuah otobiografi kepenyairan Saut Situmorang, kisahnya berjuang dengan anxiety of influence(s)nya, yang membawanya merantau dari Puisi Modernis-Imagis ala Eliot kemudian migrasi ke puisi Beat ala Ginsberg, puisi Négritude ala Cesaire, time travel ke puisi-puisi surrealis Rimbaud, memulung found poetry, membetot balada-balada blues ala Rendra, mengutuk-sumpahi Eros seperti Chairil, mengutuk-sumpahi Orba seperti Wiji Thukul–dan along the way writing back dengan penuh gusto (and not a little cursing!) dari prakondisi pascakolonialnya, dengan jitu mengidentifikasi bahwa semua pengaruh-pengaruh itu harus didistorsi, dikritisi, dan direvisi, kalau ia memang ingin otobiografi kepenyairannya punya identitas sendiri.

 

 

 

 

*foto Saut diambil dari directory.indonesiakreatif.net

Eskapisme Ke Realitas : Emergency Couple

EC 1

 

Perpisahan, kadang meninggalkan urusan-urusan dan perasaan-perasaan yang tak selesai. Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lamanya. Unfinished business inilah yang dieksplorasi sutradara Kim Cheol-Kyu dalam drama seri komedi romantis Emergency Couple (EC).

Oh Chang-Min (Choi Jin-Hyuk) dan Oh Jin-Hee (Song Ji-Hyo), bercerai 6 tahun lalu dalam keadaan gontok-gontokan, tiba-tiba bertemu kembali saat menjadi mahasiswa kedokteran magang di bagian gawat darurat. What are the odds of that happening? Ya nggak odd-odd amat, secara setengah dari kata-kata yang membentuk istilah komedi romantis adalah komedi. Tapi ini tidak lantas menjebak EC dalam ketidaknyataan maupun absurditas demi mengejar efek romantis bombastis semata.

 

EC 2

Oh Chang-Min & Oh Jin-Hee melintasi kerumunan orang di Myeongdong saat kawin lari.

 

Awal mengikuti EC saya hanya ingin menikmati drama seri komedi romantis yang menyenangkan dimana saya bisa lari dari kemuakan hidup di Jakarta. Memang tidak salah bagian menyenangkannya, tapi setelah beberapa episode saya tenggelam dalam rangkaian cerita sebuah hiburan sederhana yang memberikan lebih dari sekedar kesenangan yang juga sederhana (di luar kenyataan bahwa OCD membuat saya mengulang-ngulang seri ini sampai lebih dari 7 kali kurang dalam sebulan).

Romantic Comedy (romcom), sepertinya lebih umum dikenal sebagai genre yang ringan, gak perlu logis-logis amat yang penting menghibur, manis dan jleb di dada. Tapi untuk EC, rasanya saya akan membuat pengecualian. Ketika saya pikir saya sedang kabur dari dunia nyata menuju dunia fantasi, saya justru masuk ke dalam dunia paralel yang rasanya sangat sehari-hari.

Entah apakah ini pengamatan yang rasis atau hanya sekedar kebetulan kedekatan budaya (as if such thing does exist) saya juga tidak tahu. Walaupun Chang-Min dan Jin-Hee sudah “tua” tapi tidak berarti mereka otomatis jadi orang dewasa dimana semua keputusan hidup dapat dibuat sendiri tanpa campur tangan atau pengaruh orang tua. Di mata orang tua ya mereka tetap anak-anak yang harus nurut apa kata orang tua. Familiar ya kedengarannya?

Makin familiar lagi rasanya karena banyak karakternya dalam tindakan sehari-hari digambarkan sering lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang walaupun tidak selalu nyaman bagi mereka tapi dilakukan untuk “kebaikan” bersama. Kebahagian juga tidak melulu bersifat individual tapi jika memungkinkan bersifat komunal. Ini juga sepertinya alasan kenapa Hallyu lebih banyak diterima di negara-negara non-Barat. Bahkan salah satu buku menyatakan bahwa “Drama televisi Korea memperkuat nilai-nilai tradisional Konfusianisme yang dipandang orang Iran sejalan dengan budaya Islam, menyiratkan kedekatan budaya turut berperan dalam gelombang Korea di negara-negara Islam”. Walaupun gak semulia ataupun seaagamis itu, rasanya saya (atau mungkin kita) juga pernah, kalau tidak sering, membuat keputusan seperti ini dalam kehidupan sehari-hari.

“Ya udah, gue sebenernya gak suka nih, tapi gue kerjain juga. Bukan karena gue family oriented banget atau percaya nilai-nilai kalian juga, tapi ya gimana?” Atau “Ya udah lah, selama kalian bahagia liat apa yang kalian mau liat aja.” Kira-kira gitu deh gambarannya. Jauh rasanya dari nilai-nilai kekeluargaan ala Hollywood atau dunia media sosial modern yang penuh dengan puja puji bombastis penuh cinta berbunga-bunga padahal ketemu mak bapak atau saudara kandungnya belum tentu juga setahun sekali. Kehadiran dan perbuatan nampaknya dihargai lebih dalam EC dibandingkan kalimat manis penuh janji.

Menarik juga buat saya melihat konflik nilai yang dihadirkan oleh EC. Mungkinkah ini juga gambaran dari dilema nilai yang sedang dialami masyarakatnya? Misalnya, di satu adegan mereka menampilkan pasangan suami-istri magang yang bersitegang karena si istri mencurigai dirinya hamil dan merasa dia harusnya tidak perlu menunda mimpinya karena dia pihak perempuan, sedang di adegan lainnya diperlihatkan Chang-Min dan Jin-Hee memberikan nasihat kepada Oh Jin-Ae, adik Jin-Hee, dan pasangannya tentang bagaimana menghadapi pasangan masing-masing untuk mencapai hubungan atau rumah tangga yang langgeng dan harmonis berdasarkan nilai-nilai yang sangat gender-stereotyped.

Namun di banyak kesempatan si penulisnya terlihat berusaha sekali meninggalkan stereotip-stereotip tersebut, in a very natural way possible I feel, sehingga membuat dialog-dialognya tidak terasa seperti seperti ceramah tapi memang keluar dari pikiran-pikiran manusia yang sedang dilema. Saya rasanya kepingin meluk Choi Yun-Jung deh, si penulisnya, untuk menuliskan dialog-dialog yang makjleb, yang tidak bombastis dan berbunga-bunga, tapi rasanya sangat mungkin terucap dalam kehidupan nyata.

Misalnya nih ya, pada saat Jin-Hee madesu sambil digendong Chang-Min, dia curhat, “Tapi…aku tidak bisa melakukan apapun selain menantimu. Aku tidak juga mendapatkan pekerjaan… sehingga semangatku untuk bekerja pun padam. Aku merasa terus menyusut dan keberadaanku di dunia ini terasa sia-sia.” Jleb.

Atau pada saat ayah Chang-Min sedang kritis pasca operasi dan menanyakan kabar hubungan Chang-Min dengan Jin-Hee. Dia bilang, “…Tetap saja, aku tidak percaya hal-hal seperti itu. Melepaskan seseorang ketika kita mencintainya. Hal-hal seperti itu lah. Cintailah seseorang sebesar apa yang kita rasakan.” Eh terus dia “disikat” Chang-Min, “Terus kenapa Bapak hidup seperti itu?” Jengjengjet.

Adegan ini, pada khususnya, seperti menyarikan pernyataan Ninin bahwa mereka (orang-orang Korea yang digambarkan dalam K-Dramas) sepertinya mampu merangkul nilai-nilai tradisional mereka dan nilai-nilai yang datangnya dari luar, terutama barat, terutama lagi Amerika, dan menerapkannya dengan mulus serta pertanyaan saya apakah justru mereka malah mengalami ketegangan nilai akibat perbedaan tersebut.

Kerelaan Chang-Min untuk melepaskan Jin-Hee dan ketidaksetujuan ayah Chang-Min pada keyakinan anaknya tepat mengkonfrontasikan perbedaan tersebut di dalam satu dialog, mirip seperti analisa Bae Keun-Min mengenai film Siworae dan The Lake House dalam makalahnya Lost in cinematic translation?: The Lake House, Siworae and the Hollywoodization of Korean culture”.

“What Sung-hyun does in these scenes reflects his embedded Confucian values, namely salshinseongin. Salshinseongin is a Korean pronunciation of Chinese characters 殺身成仁, a Confucian virtue in which individuals are strongly recommended to sacrifice oneself (literally meaning killing oneself) to achieve ultimate humanity and justice. However, this Confucian virtue was removed for the Hollywood version as Alex dies in a car accident on his way to meet with her as part of his effort to build more of a relationship with her, which reflects and constructs individualism and self-interested motivations.”

Pernyataan Ninin dan pertanyaan saya tadi pun juga ditanyakan oleh Bae Keun-Min dalam makalah yang sama.

“This, then, raises a series of questions: How is Western (American) culture portrayed in Korean media? Have the connotations of these portrayals changed over time? Are Western values portrayed as something internalized or something imported or cool? Is there a possible relationship between the media portrayals and the acceptance of the foreign culture?”

 

Yang juga membuat EC terasa lengkap buat saya adalah hampir semua karakter utama dan pendamping tergarap dengan baik. Semua punya alasan, semua punya masa lalu dan latar belakang. Bukan hanya perasaan dan pikiran Chang-Min dan Jin-Hee yang digali, tapi juga orang-orang yang berhubungan dan ada di dekat mereka. Mereka ada bukan sebagai tempelan atau obyek penderita tapi benar-benar sebagai karakter-karakter utuh yang membuat lingkaran jadi penuh. Does that make any sense?

Seperti ibu Chang-Min yang digambarkan mengidap “fairy tale syndrome” dan “princess syndrome”. Males belajar (satu-satunya dari keluarga yang semuanya menjadi dokter), sewaktu muda sibuk bersolek untuk mencari suami (sesuatu yang akhirnya jadi bahan celaan kakak adiknya sepanjang masa nampaknya), berpikir dia telah mendedikasikan seluruh kehidupannya untuk suami dan anaknya sehingga gamang ketika mendapati bahwa manusia lain, seberapapun dekat hidupnya dengan kita, juga punya kehidupan masing-masing. Bahwa anaknya adalah bukan hidupnya. Trés Gibranesque.

Lalu ada Chief Gook yang patah hati dengan perpisahan orang tuanya sehingga “mendisiplinkan” hidup dan hatinya sebagai antisipasi agar dia tidak mengulangi siklus yang sama dan tidak melakukan hal yang tidak dia sukai (dalam hal ini bercerai dan meninggalkan anak) pada orang lain (dalam hal ini anak). Prinsipnya ini sempat mendapat “celaan” dari Prof. Shim, mantan pacar yang setia menanti tanpa memaksa, bagaimana mungkin orang sebertanggungjawab Chief Gook akan mampu mengabaikan anaknya? Touché! Chief Gook pun digambarkan terjebak dalam berbagai unfinished businesses.

Dengan format K-Drama yang hanya terdiri dari beberapa episode (rata-rata 16 sampai 20 episode), si sutradara dan penulis cerita pas mengeksplorasi pasang surut kisah cinta Chang-Min dan Jin-Hee, tidak kekurangan tidak berlebihan. Tidak ada “restrain and release” alias tarik ulur yang gak karu-karuan panjangnya. Tidak ada plin-plan kurang penting karena kehadiran orang ke-3, ke-4, ke-5 dan seterusnya. Jika akhir perjalanan mereka dibuat seperti itu (berusaha supaya gak spoiler), akhir tersebut merupakan hasil dari sebuah proses yang wajar melalui penyadaran-penyadaran kecil di sepanjang jalan dan bukan karena “glorious wake up calls and all the grand love gestures”. Ada refleksi dan instropeksi dari cinta yang belum selesai, bukan sekedar CLBK dan romantisme masa lalu.

Eksplorasi ini pas disampaikan melalui chemistry yang juga pas di antara pemain-pemainnya, terutama Choi Jin-Hyuk, Song Ji-Hyo, Lee Pil-Mo dan Choi Yeo-Jin. Di luar akting, cerita serta chemistry, formula standar saya buat romcom tentu karakter utamanya mukanya matching! Kalo gak matching gak enak buat ditonton :p Entah chemistry bikin muka jadi matching atau kebalikannya, tau deh. Nah ini dia aspek gak logis dari formula romcom sukses preferensi saya.

Saya juga suka dengan pengembangan karakter dan ceritanya. Mereka gak terjebak di situ-situ aja. Seiring berkembangnya cerita, karakter mereka pun berkembang jadi lebih multi-dimensional dan emosi yang keluar jadi lebih campur aduk. Episode-episode awal yang tadinya lebih didominasi aspek komedi berkembang ke arah drama yang tidak didramatisir. Ditambah dialog-dialog sederhana tapi sering makjleb rasanya, lupa sudah kekagetan awal saat melihat ragam kadar ketidakaslian muka hampir semua pemainnya terhapus pesona kewajaran akting mereka. Apalagi yang jadi emaknya Chang-Min (Park Jun-Keum) dan Prof. Shim Ji-Hye (Choi Yeo-Jin).

Sedikit keluar jalur, saya sangat terkesan dengan adegan awal dan akhir dimana Jin-Hee berhenti berlari dan terdiam sejenak merenungi hidupnya dalam gerak pelan keriuhan ruang gawat darurat. Rasanya seperti sebuah kehidupan yang mencapai full circle.

Kebetulan gara-gara EC saya juga mendadak demam Hallyu kembali (gelombang ke-dua artinya buat saya). Jadilah terserap maraton beberapa drama Korea lainnya dan menyaksikan akting beberapa dari pemain EC. Choi Jin-Hyuk di The Heirs & I Need Romance, Choi Yeo-Jin di I Need Romance, Park Jun-Keum di The Heirs dan Jeon Soo-Jin di The Heirs. Akting mereka semua (kecuali Jeon Soo-Jin, pemeran Oh Jin-Ae, adik Oh Jin-Hee, di EC) tidak ada yang sekuat dan sewajar saat mereka berakting di EC. Dari segi cerita pun serial-serial ini tidak ada yang selengkap dan sekuat EC. The Heirs, K-Drama terheboh sepanjang 2013, cuma terjebak dalam cerita gaya-gayaan dan keren-kerenan, juvenile, seksis, feodal dan patriarkis serta dangkal. Menang star-studded line ups kayaknya. I Need Romance juga cuma centil-centilan sok emansipasi perempuan cemen ala Sex And The City.

Lucunya di periode yang bersamaan, stasiun TV lain (di Korea Selatan) menayangkan serial Cunning Single Lady, yang punya premis, plot, bahkan adegan-adegan yang sangat mirip dengan EC. Bedanya eksekusinya bubar jalan. Agak aneh juga rasanya bahwa dari beberapa serial yang saya sebutkan tadi, justru EC yang punya rating rata-rata paling rendah. Dianggap kurang “heboh” kali ya.

Dari beberapa K-Dramas yang saya sebutkan tadi, rasanya ada yang agak aneh karena semua sepertinya menunjukkan “kekaguman” mereka pada Amerika. Entah kenapa mereka sering sekali merujuk ke Amerika sebagai simbol kesuksesan. Inlander banget. Mungkin gejala ini menarik untuk dibahas di kesempatan yang berbeda karena rasanya omongan saya sudah kepanjangan kali ini.

 

 Oh Chang-Min memohon cinta Oh Jin-Hee kembali

PS: Emergency Couple saat ini masih tayang di M Channel (TV Kabel) setiap Senin dan Selasa pukul 21.00 WIB dan jam-jam ulangan lainnya. Atau kalau repot, di lapak-lapak DVD bajakan langganan sudah tersedia lengkap kok. Lebih OK lagi kalo sedot dari Torrents karena subtitles-nya lebih dapat diandalkan.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di sini.

ideologi yang bersembunyi di balik ironi (review jalanan)

jalanan

 

 

jalanan karya daniel ziv adalah produk khas generasi x yang menuntut segalanya harus ironis, termasuk cara menikmatinya. film ini menyajikan kolase kegetiran yang memaksa kita untuk tertawa miris tanpa merasa perlu menjelaskan kegetiran itu disebabkan oleh apa. film ini menggantungkan diri sekali kepada dramatic irony, bahwa ho tidak sadar keinginannya membangun keluarga sakinah mawaddah wassalam bertolak belakang dengan perilaku masteng seksisnya, bahwa titi tidak sadar impian modernitasnya untuk mendapatkan ijazah tidak akan membantu dia juga pada akhirnya jika ijazah itu datang dari sistem pendidikan indonesia yang tidak mengajarkan apa-apa selain mis-/disinformasi, bahwa boni tidak sadar penggusurannya dari arcadia (eh, hyatt) di bawah jembatan yang susah-susah dia bangun tidak akan berakhir di tempat yang lebih baik seperti janji-janji surganya kepada pacarnya–tapi penonton sadar tentang itu, dan diharapkan tertawa. miris. tapi tertawa. (dan memang banyak yang ketawa pas saya nonton di blok m square.)

 

tapi terus apa kerennya dramatic irony seperti ini? apa bedanya menertawakan, walaupun dengan miris, nasib ho, titi, dan boni, dengan menertawakan laporan pandangan mata pernikahan ruben onsu di bali yang dikasih soundtrack “what’s love got to do with it?”? buat film yang mempromosikan dirinya sendiri sebagai sebuah karya tentang–

Indonesia, musik jalanan, asmara, penjara, politik, seks, korupsi, hamparan sawah, globalisasi, dan patah hati!

–adakah hal yang lebih dalam daripada sinisme yang ditawarkannya tentang politik, korupsi, dan globalisasi (nggak usah ngomong tentang (((hamparan sawah))) dulu deh) yang telah menjerumuskan ketiga talking heads kita di atas ke dalam kemiskinan struktural?

 

dengan narasi yang tersengal-sengal seperti metro mini bobrok, dan camera work yang superklise (sob stories incoming… extreme close up!), jalanan hanya menawarkan argumen klise tentang a fucked-up third-world city: bahwa rakyat kecilnya yang oh-so-naive bakal selamanya digangbang oleh triumvirat korupsi, birokrasi, dan horang kayah. tidak ada analisa yang lebih dalam tentang itu–apakah ia sedang berkomentar tentang globalisasi saat menyajikan adegan ho menikah dengan mengenakan t-shirt “save darfur”? atau biar lucu aja? apa lucunya?

 

jalanan seperti tidak sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan ketiga karakter ini: bahwa ketiga-tiganya berusaha membangun arcadia (hyatt dalam kasus boni) di tengah-tengah neraka jalanan urban megalopolutan jakarta. ini sebenarnya tema yang menarik buat film dokumenter yang punya ambisi ingin jadi lebih dari (quote dari press release-nya) “film dokumenter biasa (yang umumnya berat dan cenderung membosankan).” (sepertinya daniel ziv belum pernah nonton the act of killing, leviathan, up the yangtze, last train home, negeri di bawah kabut, spellbound, chronique d’un été, banyak deh!) namun tema itu tersingkirkan oleh ambisi ingin memancing cheap laughs dari para audiencenya (though at rp75,000 a pop at plaza senayan xxi, not so cheap!).

 

selain itu, ada satu hal yang sangat mengganggu saya tentang jalanan (dan bukan adegan faux-pastoral titi membentangkan tangan menghirup udara segar (((hamparan sawah))) di kampungnya–only #kelasmenengahngehek zakarta sok slumming it yang akan melakukan ini (or a documentary subject under instruction?)): bahwa di balik tirani ironinya, film ini dengan sangat hati-hati menyembunyikan ideologi yang, jika bukan fanatik pro-modernitas ala barat, maka paling tidak menghiraukan dengan paripurna aspek keposkolonialan hidup di indonesia saat ini.

 

dalam satu adegan, titi sedang belajar tentang sistem politik di kosan temannya. mereka mencoba menjawab soal-soal dangkal pilihan ganda tentang sistem politik apa yang berlaku di inggris dan china, kemudian mereka ngomong ngalor-ngidul tentang HAM, komunisme, dan kemakmuran. dari percakapan mereka, terlihat sekali pengaruh kuat mis-/disinformasi pendidikan orde baru terhadap kedua karakter ini. bahwa komunisme kejam karena tidak mempedulikan HAM, bahwa liberalisme identik dengan kebebasan, dan bahwa, menurut titi, ada sebuah arcadia di dunia barat sana di mana tidak ada dikotomi kaya-miskin (dramatic fade-out…).

 

pov kamera dalam adegan ini pun tiba-tiba bermetamorfosis menjadi fly-on-the-wall, padahal sepanjang film karakter-karakternya lebih sering sadar kamera (literally) dan seringkali memperlakukan kamera sebagai teman curhat. seakan-akan dalam adegan ini, yang sebenarnya berpotensi paling tidak mengorek sedikit luka warisan kolonialisme dan imperialisme barat di indonesia (betapa ironis jika kedua karakter ini menganggap liberalisme barat akan menyelamatkan hidup mereka, padahal kita sebagai penonton tahu justru kebajinganan (neo)liberalisme itulah sekarang yang sedang menghancurkannya–tapi film ini malah bertingkah seolah-olah tidak sadar (atau memang tidak sadar) dengan ironi yang satu ini), film ini justru cuci tangan dan pura-pura tidak tahu tentang konteks historis dan politis percakapan titi dan temannya.

 

film ini seperti ingin bilang bahwa ketiga karakter ini dibikin patah hati oleh jalan(an) kehidupan mereka. namun apa yang bikin mereka patah hati? sekedar korupsi dan politrik, atau roda sejarah yang hanya mengubah lagu kebangsaan dan tidak pernah mengubah nasib (dalam digresi narasi tentang sejarah hidup ayah titi), atau kapitalisme, atau imperialisme baru dunia barat (via korporasi multinasional), atau apa? nggak jelas. seakan-akan film ini menyerah berargumen dan cuma mengangkat bahu, “ya gitu deh, nasib wong cilik.”

 

seakan-akan. karena saya curiga jalanan mencoba menghindari untuk berbicara tentang kenyataan bahwa kemiskinan struktural ho, titi, dan boni adalah salah satu warisan kolonialisme dan imperialisme barat, salah satu ciri khas sebuah negara poskolonial. waktu boni mengecat arcadia bawah jembatan tosarinya dengan logo hotel hyatt, apakah film ini sedang menertawai ilusi boni, tertawa bersama boni yang sense of humournya oke punya cing, atau mereduksi sebuah simbol semakin mengguritanya kuasa kapital barat di indonesia (sampai kolong jembatan!) menjadi sekedar simbol kuasa brand dalam imajinasi wong cilik atau lebih buruk lagi, menjadi sekedar pemancing yet more cheap laughs dari audience yang dimabuk ironi? nggak jelas.

 

jalanan adalah film yang maunya main aman aja, nggak mau terlalu dalam ngomong tentang problem-problem riil di negara ini dan cukup hepi bersembunyi di balik ironi dan cheap laughs. mungkin maksud sebenarnya daniel ziv pengen bikin film dokumenter yang nggak “berat” dan “membosankan” adalah dia pengen bikin yang ringan dan eskapis. and i don’t mean that ironically.

 

*gambar dari sini

Push Your Limit. See The Bigger Picture

oleh: Festi Noverini

 

Sedih dan patah hati. Itu yang saya rasakan belakangan ini. Dari mengikuti kasus pemerkosaan, pemisahan gerbong perempuan di kereta api sampai kemarin yang paling baru, meninggalnya pekerja iklan karena lembur 3 hari. Tweet terakhirnya berisi, “30 hours of working and still going strooong.”

Kasusnya mungkin beda-beda, tapi ada benang merah yang saya tarik dari komentar, pendapat serta reaksi orang-orang di media sosial dari tiga kasus tersebut, yaitu korbanlah yang harusnya berhati-hati, bukan sistem dan hukumnya yang dibenahi. Di kasus perkosaan banyak yang berkomentar, “Kenapa mau disuruh datang ke kos? Kenapa baru setelah hamil 7 bulan melapor ke polisi? Kenapa bisa terjadi berkali-kali?” Logika macam apa itu?

Di pemisahan gerbong perempuan banyak yang berpendapat itu sebagai sebuah tindakan perlindungan. Perlindungan terhadap apa? Terhadap nilai-nilai patriarki? Kalau perlindungan terhadap kejahatan seksual maupun kejahatan lainnya, bukan semestinya pelakunya yang dihukum? Kenapa justru melanggengkan diskriminasi dan melebarkan jurang kecurigaan atas nama perlindungan?

Mengubah pola pikir emang gak bisa ditempuh dalam jangka waktu pendek. Butuh waktu yang panjang, amat panjang bahkan, yang belum tentu dapat kita lihat atau rasakan hasilnya saat kita masih hidup. Tapi selalu terjebak dalam kebijakan-kebijakan darurat ya juga bukan solusi dan makin memperparah masa depan karena kita justru mencederai pemikiran, logika dan hati nurani.

Masing-masing kasus memang gak mungkin dibahas secara sempit dan disamaratakan. Perlu penelaahan, penjabaran, pemahaman bahkan penelitian yang lebih luas dan dalam lagi. Itu juga salah satu alasan tulisan saya ini.

Kejadian yang paling baru adalah meninggalnya seorang pekerja iklan karena lembur 3 hari ditambah mengkonsumsi terlalu banyak minuman penambah energi. Gak lama sesudah berita tersebut keluar lalu bermunculanlah di berbagai media sosial postingan menanggapi hal ini. Sebagian besar yang saya baca intinya bilang, “Perusahaan tuh memang serakah. Mereka cuma mau memeras pekerjanya. Makanya kita sebagai orkerja harus “Know Our Limit””. Duh kok kayaknya sederhana amat ya solusinya?

Apa iya semua orang di awal masa bekerjanya udah tau bahwa korporat-korporat besar itu jahatnya amit-amit? Saya rasa hampir semua orang juga belum tentu tahu hal tersebut saat mereka baru mulai masuk dunia pekerjaan. Yang mereka tau mungkin hanya abis sekolah/kuliah lalu kerja, entah untuk alasan eksistensi diri, cari makan atau bahkan hanya sekedar mengikuti standar tahap kehidupan manusia.

Yang bisa bilang “Know Your Limit” saya asumsikan sudah pernah melalui kegilaan tersebut atau cukup nyaman dengan hidupnya saat ini makanya bisa bilang cabut aja kalau rasanya udah gak nyaman. Tapi apakah semua orang punya privilege kenyamanan itu? Kalau nggak suka, cabut aja. Sama seperti saya sering banget dikomentarin, dari pada “marah-marah” melulu, mending pindah aja dari Indonesia. Ampun deh, kelas menengah Indonesia.

Belum lagi di dalam masyarakat selalu ada banyak hubungan kekuasaan, dari yang sehat sampai yang super sakit, seperti kasus perkosaan yang saya singgung sebelumnya. Ini disadari gak sih? Apakah solusinya hanya sesederhana “mawas diri”?

Apa iya ketika sudah tidak nyaman dengan sistem kerja perusahan, hanya dengan mengungkapkan keberatan pada atasan akan membawa perubahan? Kalau iya mungkin budaya sistem kerja, dalam hal ini dunia periklanan, sudah membaik dari kapan tau. Tapi nampaknya gak sesederhana itu. Dalam budaya kerja yang sangat kapitalistik manusia nampaknya hanya dilihat sebagai alat produksi, replaceable. Lo gak suka, silahkan cabut atau gue gantiin. Mengerikan bukan? Dan ini terjadi di banyak sektor pekerjaan lainnya.

Lalu bagaimana mungkin orang-orang yang tercekoki atau mencekoki orang lain dengan jargon-jargon macam “Push Your Boundaries” sekarang bicara “Know Your Limit”? Apalagi kalau ada yang merasa “been there done that”. Justru kalau sudah pernah melalui harusnya sadar bukan bahwa ada sistem lebih besar yang menggerakkan kehidupan kita sehari-hari? Atau selama ini gak pernah sadar? Ini kan menyedihkan.

“Push Your Boundaries” untuk apa? Untuk memenuhi pundi-pundi korporasi yang tamak? Untuk jadi yang “terbaik”? Untuk pencapaian prestasi yang abstrak? Sebuah ilusi yang dibentuk oleh propaganda korporasi kapitalis melalui ayat-ayat motivasinya.

Kita tentu saja tidak pernah seutuhnya independent karena kita selamanya interdependent, apalagi kalau kita hidup dalam sebuah sistem masyarakat dan negara. Bukankah kasus terakhir juga  terjadi dalam institusi yang mengagungkan team work? Lalu apa pertanggungjawaban mereka ketika ada kejadian ini? Saling mengingatkan untuk jaga diri sendiri karena resiko akhirnya ditanggung masing-masing?

Sayangnya, bukan hanya dalam hal kasus ini tapi juga dalam kasus-kasus lainnya, banyak orang cuma mau melihat yang ada di depannya aja. Overworked, salahkan perusahaan yang jahat dan diri yang gak tau batasan. Pelecehan seksual, pisahkan manusia berdasarkan gendernya. Perkosaan, baik-baik jaga diri. Padahal jauh sebelum hal-hal tersebut terjadi sudah ada proses panjang dan kompleks yang mendahului dan menjadi penyebabnya. Bahkan seringkali menciptakan lingkaran setan.

Entahlah. Mungkin banyak orang yang masih berpikir bahwa hal-hal ini terjadi akibat pilihan sendiri, maka berhati-hatilah karena akibatnya juga akan ditanggung sendiri. Terjadi di luar kekuasaan korporasi yang buas, negara yang lalai, hukum yang tiarap, gempuran nilai-nilai “positif” (kerja tim, prestasi, passion, dll dll) yang dimanipulasi perusahaan-perusahan besar dan raksasa untuk menggerakkan alat produksinya demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, dll.

Mawas diri ya tentunya penting, tapi mawas diri bukan cuma sekedar “Know Your Limit”, lebih dari itu juga menyadari bahwa kita adalah bagian dari sebuah sistem yang lebih besar. Ada hal-hal yang bisa kita
kendalikan dari dalam diri kita sendiri, tapi lebih banyak lagi hal-hal yang butuh kekuatan besar untuk dapat mencapai sebuah perubahan. Butuh “penyadaran” kolektif.

Banyak hal yang mungkin akan terlalu sulit diubah, bahkan mungkin selamanya kita bisa terjebak dalam lingkaran setan tersebut. Tapi selalu penting untuk memiliki kesadaran akan hal-hal lain di luar diri kita
sendiri dan dunia kecil kita.

 

*Catatan ini merupakan sedikit rangkuman dari diskusi dengan teman-teman lainnya (Anya, Mike, Ninin, Edo, Iskandar, Eko, Yoshi, Acha, Fanny, Ney). Setengah lebihnya meminjam istilah dan pemikiran mereka. Pertama kali dimuat di festinoverini.wordpress.com pada tanggal 16 Desember 2013*