rok mini loak merah menyala sobek entah di mana

Foto dari brilio.net

foto dari brilio.net

 

#menolaklupa, tapi apa yang kamu ingat?

kenapa baju loak sobek pundaknya kamu ganti jadi rok mini merah menyala sobek entah di mana?

apa supaya kamu nanti bisa punya scene check-in di hotel jam-jaman di solo antara wiji dan sipon?

membiarkan kami membayangkan sipon menari-nari dengan rok mini merah menyala sobek entah di mana

kemudian mereka bercinta

bukan di tikar plastik tikar pandan tapi di atas ranjang yang kata jokpin rawan kekuasaan

di bawahnya rok mini merah menyala sobek entah di mana (surprise surprise) tergeletak berantakan seperti di scene-scene ewita film hollywood (aren’t you supposed to be art house?)

disaksikan dua botol coca-cola yang saling berdekatan manja (simbol kapitalisme, terima kasih, mr obvious)

dan dua bungkus kacang rebus yang mulai berembun (simbol kaum proletar, terima kasih, mr obvious)

wiji bilang coca-colanya jangan dibawa, kacangnya saja

kenapa, apa karena buruh tidak boleh punya kawasaki ninja?

tapi dia membiarkan sipon mengambil dua butir sabun (yang juga berdampingan mesranya di tatakan kopi)

apakah unilever lebih suci daripada coca-cola amatil?

atau itu sabun artisan yang disuling dari keringat pekerja?

ini biopic wiji thukul atau vakansi yang janggal dan penyakit limaenam films?

(aku ingat furnitur-furnitur yang makin lama makin mendekat di gula-gula usia)

atau kisah cinta yang asu?

kan yang asu rezim militer harto, bukan nasib malang manusia

wiji bukan manusia borjuis penakut macam aku, dia orang berani, yang begitu ditakuti orba sehingga dia diamankan untuk selama-lamanya, dan salah satu penyair terbaik yang pernah kita punyai

btw, kenapa orang malah sering bilang “wiji bukan penyair terhebat indonesia, tapi…”

why? kalau ngobrol soal wiji sebagai penyair semua orang langsung jadi harold bloom/nirwan dewanto

zonder bukti dan argumen seperti biasa

apa relevansinya dalam mengingat memorinya?

#menolaklupa wiji thukul bukan penyair terhebat indonesia? istirahatlah kanonisasi sastra. dong

bisa kamu sebutkan satu saja lagi nama penyair protes indonesia?

susah ya, soalnya mereka semua sudah ditendang keluar dari dunia puisi indonesia yang penuh episode sunyi dan membosankan

baca dong politik sastra saut situmorang atau kekerasan budaya pasca 1965 wijaya herlambang

sori ya, auteur, tapi “hanya satu kata: lawan!” bukan kata-kata yang tercipta sambil duduk-duduk di beranda di mana angin tak kedengaran lagi sambil seka-sekaan nama dan mencemaskan sepotong lumpur

hanya satu kata: lawan adalah kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan tak mati-mati

kamu pasti tahu, kan itu ada di booklet premiere filmmu

tapi kamu tahu juga gak, wiji pernah membaca 100 halaman collected works lenin setiap hari selama berbulan-bulan?

wiji orang yang selalu gelisah dengan apa yang terjadi di republik ini, yang selalu mengacungkan tangan di setiap diskusi ndhakik-ndhakik, yang tak tergetar oleh mulut-mulut orang pintar

kenapa kamu memilih menampilkan dia tidur terus di pengasingan?

nggak bisa baca, nggak bisa menulis puisi

apa tidak mungkin dia juga akan selalu gelisah ingin tahu situasi di jakarta di palur di sukoharjo selama dalam pengasingan di pontianak?

apa tidak mungkin dia juga akan diskusi serius tentang bagaimana bertahan di bawah tanah dan bukan cuma ketakutan, kebosanan, kemudian plesir naik boat di kapuas trus minum tuak di kedai mamak?

ini biopic wiji thukul atau vakansi yang janggal dari kisah cinta yang asu?

ya ya, tentu kamu punya poetic license untuk memodifikasi isi puisi-puisinya, malah ubah aja kisah hidupnya sekalian, gapapa kok, go nutz

tapi jangan khawatir, caramu memakai poetic licensemu juga akan menunjukkan ke(tidak)pedulianmu sebenarnya pada apa

aku pernah menanyakan kepadamu apakah sofa mewah yang digotong kemana-mana di vakansi sebenarnya adalah simbol invasi kapitalisme ke sendi-sendi masyarakat indonesia

tidak, katamu, sofa itu, seperti ranjang, adalah simbol ketegangan seksualitas

o, begitu doang ternyata, kamu ternyata lebih one dimensional daripada kukira

aku terlalu lebay dong menginterpretasi vakansi?

mungkin benar juga dong aku suka onani

kalau kamu terus begini, lama-lama kamu akan seperti goenawan mohamad yang maunya melihat kenyataan dari atas ranjang saja

atau sudah?

you want to turn it on its head by staying in bed

but you’re not john lennon

oya aku punya satu lagi judul alternatif buat filmmu:

misalkan kita di pontianak, di kota itu, katamu lho ya, kata-kata telah jadi padam

Save

Save

Save

Relationship 3.0 ala Bride for Rip Van Winkle

Bride for Rip Van Winkle adalah petualangan tiga jam yang penuh kejutan. Walaupun bukan kejutan ala confetti warna-warni, tapi lebih seperti kejutan rasa muted colours agak fade-fade gitu. Sutradara Shunji Iwai dalam film terbarunya ini mencoba mendefinisikan ulang arti keluarga dan hubungan antar manusia dalam era sosial media di Jepang melalui sebuah narasi yang aneh dan plot penuh ketidakpastian bernuansa melodrama slash gothic.

Iwai membangun ceritanya di tengah konteks Jepang sekarang, saat angka kelahiran turun dan semua orang punya masalah dengan hubungan nyata, sehingga lebih baik menghabiskan waktu sendiri berinteraksi di media sosial dengan nickname-nickname spektakuler. Tapi apa sebenarnya arti hubungan nyata? 

Di awal cerita kita diperkenalkan dengan sosok Nanami (Haru Kuroki), seorang guru SMP paruh waktu yang pemalu dan bersuara kecil. Ia suka main Planet (sosmed semacam ask.me), bertemu dengan calon suaminya juga dari dunia online. Saat menikah, Nanami bingung karena ia tidak punya teman ataupun keluarga yang bisa diundang, kecuali ayah ibunya yang sudah bercerai. 

Nanami lalu mulai berkenalan dengan Amuro (Go Ayano), pengusaha misterius serba bisa yang menawarkannya segala service dari menyediakan teman dan keluarga bohongan untuk datang ke kawinan, memata-matai sang suami karena dicurigai berselingkuh, sampai menawarkan ia pekerjaan setelah dipecat dari sekolah.

Amuro ternyata punya agenda lain. Ia menjerumuskan (atau menyelamatkan?) Nanami ke dalam perceraian hingga ia tak punya tempat tinggal. Cara bicaranya all-business dan wajahnya nggak terlalu spesial, tapi motif aslinya tidak pernah jelas sampai film berakhir. Dia seperti embodiment agan-agan Kaskus yang sukses dalam kepala saya: dingin, faceless, dengan identitas sebatas dagangan-dagangannya.

Amuro menawarkan aneka pekerjaan ke Nanami, termasuk menjadi teman bohongan mempelai perempuan di suatu pernikahan lain. Di sanalah ia bertemu Mashiro (Cocco), seorang aktris kurang terkenal, ngakunya. Mashiro yang meledak-ledak dan karismatik adalah antitesis dari Nanami yang pasif. Bersama tiga orang yang tidak dikenal, mereka berperan jadi keluarga dalam sehari. Kehangatan yang mengharukan terjadi saat mereka after party mimik mimik cantik dan mengaku bahwa mereka semua sendiri dan tidak berkeluarga.

Seperti plot-plot cerita gothic, Amuro, menggiring Nanami untuk bekerja di sebuah mansion tua dengan pemilik misterius. Di sinilah Nanami bertemu lagi dengan Mashiro dan memasuki babak baru hidupnya. Dengan sangat organik Iwai menunjukkan perkembangan hubungan Nanami dan Mashiro yang semakin intim. Mereka gandengan, pelukan, cium pipi, tidur bareng, cium bibir, semua dalam area yang lebih intim dari friendzone, dan lebih meluap-luap dari romancezone. Mashiro mengajak Nanami belanja gaun pengantin dan melakukan upacara pernikahan bohongan, yang tentunya kelihatan lebih berarti dibanding adegan pernikahan Nanami dan mantan suaminya sebelumnya. Saat semua rahasia terbuka, Nanami menghadapinya seperti orang yang benar-benar berbeda.

Film ini adalah jawaban sang sutradara akan pesimisme terhadap hubungan antar manusia di masa depan. Ketika keluarga inti sudah tidak berfungsi lagi, manusia akan selalu menemukan cara lain untuk menjalin hubungan, karena keintiman akan selalu dirindukan. Gender bisa jadi tidak penting lagi, kelas sosial dan pekerjaan jadi tidak relevan, bahkan status-status seperti “teman”, “pacar”, “suami/istri” bisa dengan gampang ditukar-tukar. Apakah internet membuat kita semakin terkotak-kotakkan, atau sebaliknya? Apakah identitas sejati kita adalah anonimitas?

Oleh: Ratri Ninditya

gambar dari sini

#salahfokus: wregas bhanuteja

A nondescript primitive mask with Wregas Bhanuteja

A nondescript primitive mask with Wregas Bhanuteja*

setelah empat kali mencoba menonton film prenjak wregas bhanuteja dan selalu kehabisan tiket, akhirnya berhasil juga di suatu siang yang panas di kineforum di belakang 21 tim. menurut seorang teman yang tidak mau disebutkan namanya for fear of banci budaya reprisal, menonton prenjak yang menang discovery prize yang disponsori leica di semaine de la critique udah jadi status simbol baru buat hipster budaya (banci budaya’s new nom de guerre) jakarta, bagaikan pakai tas kånken buat menenteng koleksi moleskine yang didampingi buku glorified self-help lala bohang (dengan potongan tiket prenjak sebagai ersatz bookmark).

siang itu yang diputar selain prenjak juga empat film pendek wregas yang lain sebelum itu dalam sebuah program yang dinamai “fokus: wregas bhanuteja”, semacam retrospective keauteran dia selama ini dari senyawa (2012) sampai prenjak (2016) yang diputar secara kronologis. di antara kedua itu ada lembusura (2014), lemantun (2014), dan floating chopin (2015) yang sudah saya tonton semua sebelumnya. menonton maraton karya seorang sutradara selalu asoi, membuat semua benang merah karyanya terlihat, kecenderungan-kecenderungannya, obsesinya, kekuatannya, kelemahannya, kegenitannya, ideologinya (kalau ada), etc. begitu juga yang terjadi kali ini.

jadi?

senyawa

senyawa di sini bisa berarti satu nyawa atau alkemi antara seorang anak perempuan katolik dan bapaknya yang islam dan khotib mesjid. keduanya berkongsi mempersembahkan sebuah memento buat ulang tahun pertama kematian ibu/istri mereka (yang juga katolik), dalam sebuah kerjasama lo-fi yang melibatkan dumbphone murahan dan tapedeck kadaluwarsa untuk merekam lagu ave maria versi kesayangan nyokap di sebuah kampung di manggarai yang menjadi metafor yang agak terlalu cute dan dipaksakan buat kemeltingpotan indonesia harga nego no afgan. film diakhiri dengan bapak dan anak makan nasi kuning di atap rumah sambil memperdengarkan ave maria rekaman si anak kepada foto nyokap dalam pigura sambil memandang vista kampung melayu yang oh indahnya jika tanpa konflik sektarian/tawuran tarkam. seandainya SARA bisa beralkemi menjadi bhinneka tunggal ika samawa!

lembusura

my personal fave on second viewing. kandungan metanya cukup untuk menetralisir gojek fisik masteng jogja (“susune gedhi lo”) yang so klise dan tiring. bisa saja film ini diinterpretasi sebagai usaha wregas mendekonstruksi mitos penunggu dalam budaya jawa (lembusura si penunggu gunung kelud yang sedang meletus waktu film ini dibuat — hujan abunya jadi salah satu elemen paling mistis dan indah dalam film ini) menjadi, ya, gojekan ala masteng jawa yang kita membuatnya abadi. tapi siapa/apa kita itu? superstition — solo show grotesque lembusura sempat dipertimbangkan apa distop saja waktu adzan soljum berkumandang — kah?  alam — diwakili gunung berapi hiperaktif seperti kelud — kah? tidak begitu jelas. wregas cukup lihay bercerita dan melucu, namun sepertinya dia cenderung membiarkan pertanyaan-pertanyaan lebih filosofis yang muncul dalam filmnya tidak terjawab (ataukah dia tidak sadar pertanyaan-pertanyaan itu ada?)

lemantun

terasa sebagai film terlemah dalam retrospektif ini karena kesentimentilannya yang mereduksi sebuah dramakomedi keluarga berbagi warisan menjadi kisah tentang indahnya kesetiaan seorang anak kepada ibunya. lemari-lemari (lemantun) yang tadinya siap menjadi metafor sarat makna untuk rahasia-rahasia keluarga yang mengerikan (think festen) akhirnya terbengkalai jadi sekedar red herring dari kecenderungan sentimentalisme wregas (ada juga di senyawa, dan nanti ada lagi di prenjak).

floating chopin

dalam esai yang saya link di atas, eric sasono memandang floating chopin sebagai le petit tour wregas untuk menafsirkan kembali oposisi biner eropa vs. non-eropa dalam kerja budaya (contohnya bikin film).

maybe.

interpretasi lain bisa juga film ini ternyata sebuah extended instagram video tentang “pakansi” (meminjam istilah eric) non-janggal sepasang hipster jogja. #sky #clouds #beach #food #nature #sunset #night

ending film ini menunjukkan satu lagi kecenderungan wregas, kelihaiannya membuat kesimpulan dalam filmnya terasa suspended (in this film, literally), stuck in the middle, a work in progress.

kecenderungan ini seperti saya katakan tadi ada juga di lembusura. apakah wregas masih mencari jawaban-jawabannya, atau lagi cari aman? (enak juga membiarkan pertanyaan ini juga menggantung seperti ini.)

prenjak

tidak seperti yang diiklankan sendiri oleh wregas (“it’s all about seduction“) ternyata meki dan kenti dalam prenjak ternyata red herring juga buat sebuah kisah derita single mum dalam sebuah negara dunia ketiga yang patriarkal di mana kuasa meki ternyata menjadi musnah di hadapan hegemoni kenti-kenti yang mendominasinya.

dua key scenes dalam film ini adalah waktu si cewek di detik keduapuluhenam di bawah meja dengan korek gas menyala akhirnya memutuskan untuk membuka mata dan melihat kenti si cowo yang sedang mulai ngaceng. matanya terpaku dan dia lupa korek gas harus mati dan dia harus memalingkan muka lagi di detik ketigapuluh. sampai di sini adegan ini terasa klise sekali, bahkan misoginistis, bagaimana mungkin seorang single mum yang katanya mbuh ra ruh tentang suaminya yang awol dan hanya setuju untuk masuk ke bawah meja untuk gantian melihat kenti si cowok demi mendapatkan ekstra Rp 60 ribu buat bayar kos begitu melihatnya jadi langsung tersepona dan mungkin basah juga sehingga later that day dia mau-mau aja dianterin pulang sama cowok gatel oportunistis ini?

namun kemudian ada semacam redemption buat scene ini di akhir film waktu single mum memandikan anaknya dan menyabuni kenti kecil anaknya — juga diliatin (o begitu total dominasi kenti dalam hidupmu, single mum!), sehingga timbullah kemungkinan interpretasi bahwa single mum tadi waktu di bawah meja mungkin bukan terpana karena terangsang tapi terpana dalam sebuah epiphany bahwa, ya, hidupnya sejauh ini masih berakhir menjongkok di bawah kenti (posisi yang sama waktu dia menyabuni kenti anaknya).

problem terbesar prenjak: apakah relasi kuasa dunia ketiga sekali lagi harus diceritakan dalam kisah tentang deviant sexuality (bandingkan misalnya dengan the fox exploits the tiger’s might lucky kuswandi)? buat konsumsi domestik mungkin ini strategi yang masih bikin ngaceng, tapi dalam konteks jualan ke festival film luar negeri? makin crot! 😛 8=======D~~~

walaupun berita-berita lokal soal prenjak sering berusaha menjelaskan tentang kehiperlokalan tradisi mrenjak ini, wregas sendiri bilang, “i’m glad the story is not too local, too javanese for the foreign audience to understand.”

but is being “not too local” necessarily a good thing?

prenjak’s transgressive rhetoric and why festivals are loving it

dalam bukunya “extreme cinema: the transgressive rhetoric of today’s art film culture”, mattias frey mengeluhkan tentang filmmaker-filmmaker dari negara kecil termasuk negara dunia ketiga yang melakukan “auto-erasure” dan “auto-ethnography/self-orientalism” untuk menarik perhatian festival-festival film bergengsi di negara dunia pertama. auto-erasure terjadi saat seorang filmmaker mengurangi atau menghilangkan ciri-ciri lokal film mereka dan menekankan elemen-elemen yang lebih universal dan gampang dimengerti. sementara auto-ethnography/self-orientalism terjadi saat produk kultur sebuah negara (film misalnya) mempertahankan atau bahkan melebih-lebihkan “identitas lokal” mereka buat jualan. contoh identitas lokal itu misalnya loch ness monster, geisha, atau ya, tradisi prenjak di jogja tahun 80an.

wregas sepertinya sudah lumayan lihay memainkan dua strategi di atas, yang di atas kertas sepertinya bertentangan satu sama lain. semua filmnya di atas mengandung auto-ethnography/self-orientalism (negara kesatuan republik manggarai di senyawa, lembusura di lembusura, jawirisme di lemantun, hashtag #SEAneoralism di awal floating chopin, tradisi mrenjak di prenjak, bahasa jawa) tapi juga auto-erasure (manggarai sebagai anykampung, nkri; topeng lembusura yang seperti amalgamasi segala macam topeng primitif yang biasa dinikmati publik barat di museum-museum mereka (try lantai dasar centre pompidou); setting dan cerita prenjak yang despite bahasa jawanya bisa anytown, asean — inikah juga kenapa ada hashtag #SEAneorealism itu, bukan #gunungkidulneorealism?).

sejauh manakah kedua strategi pemasaran film-film wregas di atas mempengaruhi suara filmnya sendiri? apakah high-irony dalam lembusura (“sekalian mukul gendang aja, biar makin primitif”) bagian dari ideologinya, atau bagian dari pemasaran lagi (karena high-irony seperti itu laku di festival-festival luar negeri)? apakah prenjak akan jadi film yang lebih bagus jika menganalisa lebih dalam konteks lokal tradisi mrenjak daripada menguniversalkannya? apakah imaji sutradara naive-genius di interview wregas dengan semaine de la critique di sini — yang menghindari pembicaraan yang lebih filosofis tentang filmnya sendiri seperti dia lakukan di media lokal di sini dan lebih berfokus pada obrolan-obrolan teknis ala kru — bagian dari pemasaran atau the real wregas?

di poin inilah keinlanderan hispter budaya nusantara yang berbondong-bondong menghadiri screening prenjak setelah menang penghargaan di cannes, sebuah isu kuno, bisa menjadi berbahaya. how many of them would’ve gone seandainya prenjak menangnya di vladivostok film fest? seberapa banyak dari mereka yang datang demi novelty value ngeliat jembut (mekinya ga keliatan kok) dan kenti di layar bioskop indonesia, dan berapa banyak yang datang karena berpikir sebuah film yang menang sesuatu di cannes pasti bagus? fokus: wregas, atau #salahfokus?

 

 

 

 

*foto dari sindang

 

 

Malam Jumat bersama para Laki Kebelet Macho

Poster-film-Sabtu-Bersama-Bapak-1

Di satu malam Jumat yang ceria, beberapa penulis Pop Teori nonton Sabtu bersama Bapak. Karena banyak kesamaan pendapat, kami kumpulkan dalam satu postingan ini, dengan 3 angle dari 3 orang yang beda.

rinduayah sekedar tagar (Edo Wallad) 

Bapak saya meninggal di bulan Ramadhan. Ada banyak penyesalan yang saya simpan pada beliau sampai-sampai ketika beliau koma saya tidak mau pergi dari rumah sakit dan akhirnya bisa menemani dia di saat terakhir. Meski begitu penyesalan masih tersimpan karena ada banyak yang belum saya sampaikan pada dia. Saat itu saya harus berusaha mengikhlaskan hati saya supaya beliau bisa pergi dengan tenang ketimbang harus menanggung sakit yang luar biasa. Tapi bertahun kemudian, jika saya bisa mengulang waktu, saya merasa satu hari lagi bersamanya adalah hari yang berarti. Saya tidak punya privilege untuk punya rekaman video bapak yang bisa saya putar di tiap hari sabtu makanya saya berharap film ‘Sabtu Bersama Bapak’ akan jadi film pengobat #rinduayah. Apalagi film ini adalah film yang dapat panggung di waktu lebaran.

Monty Tiwa sebelumnya pernah menjadi sutradara ‘Test Pack’ yang adalah satu film sangat bagus menurut kami dan sangat bisa relate ke orang-orang yang #rindujadiayah namun lagi-lagi tidak punya privilege, untuk jadi ayah. Berbeda dengan Satya dan Cakra. Mereka berdua punya privilege untuk menunggu hari sabtu agar bisa menonton rekaman video almarhum si bapak dan khusus untuk Satya dia punya privilege lain, jadi orang yang punya segudang prestasi dan akhirnya tinggal di Paris bersama istri dan dua orang anak laki-lakinya. Sayang sekali #rinduayah yang digadang-gadang menurut saya cuma jadi sekadar tagar dan judul ‘Sabtu Bersama Bapak’ jadi sekadar judul janji palsu.

Premis meninggalkan pesan untuk dibaca/ditonton setelah orang tersebut mati bukan hal yang baru dalam sastra dan film populer. P.S. I Love You melakukannya dalam bentuk surat. Il Mare dan adaptasi Hollywoodnya, The Lake House, adalah variasi lebih advance dari komunikasi lintas jaman karena dua pihak bisa bales-balesan walaupun dari dua timeline yang beda. Anjali di ‘Kuch Kuch Hota Hai’ menunggu setiap hari ulang tahunnya agar dia bisa baca surat dari almarhum ibunya yang membawa dia akhirnya menjodohkan sang ayah dengan cinta lamanya. Ibu Anjali tidak hanya sekadar memberi nasehat template yang bisa didapat dari guru bela diri (sang bapak di film sabtu bersama bapak seorang taekwondoin) tapi ibu dari Anjali bisa bercerita panjang lebar tentang persahabatan ayahnya dengan seorang istimewa yang jadi inspirasi nama Anjali. Pesan yang disampaikan ibu tidak normatif dan harfiah tapi bisa membuat Anjali nekad untuk mencarikan bapaknya jodoh. Tekad yang ditanamkan secara subtle itu tidak bisa dilakukan di pesan-pesan moralis dan normatif Mario Teguh bertampang Abimana. Pengulangan premis nggak pernah masalah, tapi apa Sabtu bersama Bapak bisa membuat ini lebih menyentuh? Padahal menurut saya ada banyak hal yang bisa menyentuh dari kenangan anak laki-laki pada almarhum bapaknya yang bisa jadi tearjerker. Seperti saya yang selalu minta tidur dengan baju ayah ketika ayah sedang tugas keluar kota.

Ketika media yang menjadi alat pesan itu adalah sebuah video, seharusnya dia bisa lebih lincah bukan sekadar rekaman bapak duduk seperti seorang ketua parpol mengucapkan selamat idul fitri di stasiun TV. Bro… kenapa si bapak gak merekam tips-tips hidup yang lebih praktis dan dalam angle yang tidak statis seperti cara memaku dengan palu yang benar, cara mengikat dasi, cara menulis surat untuk cewek  gebetan atau bahkan mengajarkan sang anak bagaimana mengganti ban mobil yang kempes. Mungkin pesan yang disampaikan jadi sangat maskulin namun kesannya subtle dan tidak formal. Bahkan adegan sang ayah mengajarkan taekwondo pada Satya ada baiknya ada di rekaman video, bukan rekaman ingatan. Tapi akan lebih bagus lagi pesan yang disampaikan ayah bukanlah pesan yang melulu maskulin. Seperti bagaimana mengganti popok bayi, mencari kutu di rambut anak, menanam bunga di taman atau teknik memasak cepat dan mudah -ini dibutuhkan Satya ketika ditinggal istri di luar negri-.
krisis maskulinitas (Ratri Ninditya)

Nampaknya Adhitya Mulya punya krisis maskulinitas dan Monty Tiwa mengamini konsep-konsep kelakilakian dia. Sabtu bersama Bapak jadi film yang dijejali dengan prinsip “lelaki sejati” ala iklan rokok dan minuman energi, ceramah-ceramah nggak jejek, dan karakter yang nggak bikin simpatik, karena mungkin penulisnya terlalu malas untuk memahami karakter yang ia tulis sendiri.

Sebelum diluncurkan film ini terlihat sangat menjagokan premisnya. Sehingga kami otomatis menonton karena ingin mencari pesan apa sih yang bapak itu sampein? Pasti ada sesuatu yang sangat spesial. Ternyata, pesan bapak adalah kalimat-kalimat klise yang berulang kali bisa kita baca di buku pelajaran agama Islam dan buku-buku self-help yang semarak menghiasi toko buku Gramedia.

Sabtu bersama Bapak hanya mengulang prinsip prinsip kuno yang menganggap suami itu adalah imam, adalah breadwinner keluarga, adalah satu-satunya orang yang menentukan keluarga ini mau dibawa ke mana. Laki-laki harus selalu berprestasi (adegan sejembreng piala di rumah lengkap dengan ijazah-ijazah universitas terkemuka di Bandung itu seperti sebuah deskripsi malas yang dilakukan banyak sinetron untuk menunjukkan pencapaian). Laki-laki harus kuat, harus ada banget tuh adegan latihan taekwondo. Bapak punya dua anak lelaki. Anaknya si Satya punya dua anak lelaki juga. Kenapa nggak cewek? Yang paling penting, laki-laki harus bisa melengkapi dirinya sendiri. Pesan terakhir itu dikemas dalam film ini seperti sebuah filosofi kehidupan pamungkas yang dinyatakan sambil ada background vokal seriosa dan angin sepoi-sepoi pantai ancol. Tapi buat kami, gitu aja nih?

Hal ini menguatkan keyakinan kita, bahwa penulis dan sutradara punya krisis maskulinitas akut yang mereka tidak sadari. Kenapa? Kalo sadar, ya bikin dong karakternya lebih nelongso, lebih gagal, lebih penuh beban pada pundak brototnya. Sayangnya, semua karakter cowok di sini serba flat (apalagi karakter ceweknya). Mana penderitaannya? Mana strugglenya? Nampaknya jomblo 30 tahun dan ditinggal kabur beberapa hari oleh istri udah jadi ultimate cobaannya mereka. What’s the big deal?

Krisis maskulinitas akut juga sangat literal keluar dalam dialog-dialog di film ini: “istri adalah perhiasan”, “kamu telah gagal jadi istri”, “saya mau kamu jadi pacar saya” (bukannya nanya, mau gak kita pacaran), “benerin dulu masakan kamu”, “saya udah kasih rumah buat kamu itu sia-sia?”. Nggak ada kalimat/aksi balasan di cerita ini yang setara buat nimpalin makian seksis itu. Bahkan, Satya nyadar dosanya maki-maki istrinya saat liat istrinya nanya resep sama ibunya sambil sit up. Tuhan, tolonglah hambaMu, sampai kapan endonesa mau nganggep kalo istri yang baik adalah yang masaknya nyamain masakan ibu si suami, yang di rumah ngurus anak, jaga bodi tetep singset, dan nurut rencana yang disusun suami?

Lalu, yang lebih parah lagi, film ini tidak memberi ruang buat kami untuk mengenal sosok sang bapak. Siapa dia selain tukang ceramah dalam televisi yang mukanya kebetulan ganteng? Film ini, yang niatnya mau memuliakan figur bapak justru menempatkan dia sebagai orang yang control freak, diktator dengan segudang ego yang berkedok sayang istri anak, mirip para lelaki Corleone di film The Godfather, yang (kami yakin ini bukan kebetulan) dijadikan pajangan di kantor Cakra. Kode lain sepertinya lebih tidak sengaja muncul di saat Satya tangannya patah ketiban “pipa” yang jatuh dan dia nggak mau kasih tau istrinya (phallus yang jatuh, kelaki-lakian yang gagal), saat yang bikin Cakra jatuh cinta adalah sepatu hak tinggi seorang perempuan (simbol seksual berkedok religi yang super obvious. lagian bukannya kalo di kantor mau sholat lo ganti sendal jepit yeh).

Dari segi casting, dua hal yang sangat mengganggu. Kenapa Ira Wibowo harus jadi versi muda si ibu juga? Kedua, semua talent anak kaku dan ngeselin. Ada lagi, semua bakat potensial aktor dan aktrisnya sama sekali nggak digali, atau lebih tepatnya, nggak tergali karena karakterisasi cetek kurang riset. Mustinya kita bikin tagar baru lah, #rinduriset #rindubacabuku #rindunonton biar penulis ama sutradaranya bisa lebih menghargai profesi mereka sendiri.

sabtu bersama bapak = tuesdays with morrie? (Festi Noverini)

Pertama kali denger judul film ini tentunya kami nggak bisa melepaskan kecurigaan bahwa bukunya si Adhitya Mulya amat sangat ‘terinspirasi’ oleh “Tuesdays With Morrie”-nya Mitch Albom. Antara ya dan tidak. Saya sampai harus membaca ulang buku tersebut, which turned out to be a waste of my precious time (we’ll get to there in another review).

Adhitya mengikuti pola yang sama dengan Albom. Anak muda cemen yang berpikir bahwa prestasi adalah segala-galanya kemudian tercerahkan setelah belajar dari yang lebih tua, lebih bijaksana. Satya dan Albom sama-sama terjebak materialisme karena ketakutan kehilangan waktu yang berharga. Dua-duanya in demand, dua-duanya hotshot, dua-duanya clueless dan kurang wawasan. Adhitya dan Albom justru semakin meneguhkan stereotip bahwa mereka yang hidupnya penuh prestasi ya pada akhirnya akan jadi cetek aja karena #kurangbelajar #kurangpikir #kurangwawasan. Yang mereka tau ya cuma itu-itu aja. Walaupun gak se-patriarkal Adhitya, Albom juga sama konservatifnya (“This is okay with you, isn’t it? Men crying?”) Klisenya sih sama. In the end “Love wins. Love always wins.” Pret. Semacam chick lit versi laki-laki. Can we please come up with a term for this? Biar seksisnya adil.

Setelah hampir 20 tahun lalu berlalu, gak ada perubahan yang berarti dari buku-buku genre ini. ‘Tuesdays’ diterbitkan tahun 1997, ‘Sabtu’ tahun 2014. Dua-duanya sama-sama berbagi kisah inspiratif dari self-absorbed privileged people. Nyaris nggak ada tuh hubungan mereka dengan atau bagaimana mereka melihat dunia luar (kalaupun ada di ‘Tuesdays’, ya rasanya cuma sebagai alasan nggak esensial), yang ada cuma “self, self, self”. Hasilnya ya dua anak yang clueless bin teoritis karena yang dipelajarin cuma kuliah satu arah dari video si Bapak.

Lucu bahwa kami melihat Bapak sebagai seorang control freak karena Albom pun juga seorang control freak.
“Instead I buried myself in accomplishments, because with accomplishments I could control things, I could squeeze in every last piece of happiness before I got sick and died, like my uncle before me, which I figured was my natural fate.”

Dimana ‘Tuesdays’ (dan ‘PS I Love You’, ‘Il Mare’, ‘The Lake House’, Kuch Kuch Hota Hai’ dll) menghadirkan pengulangan kehadiran si orang lain sebagai tokoh utama lainnya, di Sabtu si Bapak cuma jadi perhiasan aja, sama seperti gimana dua anak si Bapak memandang perempuan-perempuan di kehidupan mereka seperti perhiasan. Menyedihkan. Si Bapak nggak pernah benar-benar ‘hadir’ dalam hidup mereka. Cuma jadi legenda, mitos dan silabus yang ditunggu setiap Sabtu tapi muncul cuma secuil di film ini. Satu-satunya adegan yang sedikit membuat saya tersentuh ya cuma saat Satya bermimpi ketemu Bapaknya dan melapiaskan kemarahan ke Bapaknya karena pesan-pesannya “misleading” (lha lu aja yang gableg mikir kok literal amat). Ada sedikit ketulusan walau itupun juga diragukan apakah karena bagian itu ditulis lebih baik atau memang karena Abimana aktor yang ok aja (karena Arifin, yang emang punya tendensi lebay, agak lebay di sini).

Satya, Saka dan ibunya lebih terlihat sebagai 3 manusia yang hidup sendiri-sendiri yang dihubungkan oleh ilusi “the Great Bapak”. Entah apakah novelnya juga sepatah-patah ini atau memang penyutradaraan filmnya saja yang patah-patah. Dari Satya, loncat ke Saka, loncat ke Ibu, semua dengan isunya masing. Sure, setiap orang punya isunya masing-masing dan idealnya memang setiap tokoh dihadirkan utuh tanpa ada yang jadi lebih utama dan selebihnya jadi figuran. Tapi ini cemplang banget lho, kayak mata lo tiba-tiba disenterin di ruang gelap pekat, gak ada transisinya. KZL kan? Ditambah akting semua pemain di luar Abimana yang kayak shooting FTV kejar setoran, kayak si dua anak buah gengges yang jadi bikin kami mikir, ini kantor atau playgroup? Lengkap sudah garingnya.

Self Discovering Dory

japan-dory-social-570x297

Tiga belas tahun setelah Finding Nemo dan puluhan sindiran Ellen Degeneres terhadap sekuel yang nggak pernah ada, akhirnya Finding Dory dirilis juga. Di film ini, seperti judulnya, giliran Dory si ikan pelupa yang dicari. Tapi ini bukan tentang Marlin dan Nemo gantian mencari Dory yang hilang, melainkan Dory yang mencari dirinya sendiri dan dalam prosesnya selalu kehilangan dirinya, lagi dan lagi.

Adegan-adegan Finding Dory nggak terlalu banyak terjadi di laut, yang artinya, dia tidak se-eye candy film pendahulunya, terutama buat yang suka Finding Nemo karena suka sama laut, kayak gue.

Kalau ini bukan Disney, pasti semuanya akan lebih greng. Sayangnya, film ini masih masuk dalam zona aman ala Disney: tema tentang keluarga ideal, trauma free, nothing too extreme. sedih banget nggak, lucu banget nggak. Ada sedikit keimutan, walaupun bukan imut-melodramatis-sedetik-cute-detik-berikutnya-nangis. Penggambaran selama cerita nggak cukup untuk bikin bener-bener simpati. Gimana rasanya di tengah lautan lepas sendirian tanpa inget apa-apa dan punya siapa-siapa? Gimana rasanya punya masalah yang nggak ada obatnya? Saya berharap rasa Dory ini seperti rasa Up, pedih samar-samar yang bertahan sampai akhir cerita, walau semua tujuan akhirnya dicapai. Tapi saya nggak dapat itu.

Tapi kekuatan film ini justru ada di ketidakgrandeannya. Ellen Degeneres berhasil ngombinasiin nonchallant sama gak pedenya Dory. Dia talent VO idaman gue kayaknya. Karakter-karakter lain juga cukup charming dengan motif-motif yang sederhana, misalnya orang tua Dory yang bertahun-tahun tinggal di tepi laut yang keruh isinya cuma rumput laut demi nunggu anaknya, atau seekor gurita yang antisosial karena things would get ugly if he felt threatened, ia benci mekanisme bertahan dirinya sendiri (familiar yah?). Ada humor-humor yang nggak berusaha terlalu keras, kayak Destiny yang separuh buta (takdir itu buta?) dan fakta-fakta ilmiah yang diterjemahin dengan seru, kayak ecolocation ala sensor hantu dan California current yang kayak jalan tol (dari Nemo pertama udah ada si). Gimana lagu What a Wonderful Life ditempatkan seger banget, juga pilihan Unforgettable buat nutup film. Cuman saya ngelewatin post credit scene, emang apa sih scene-nya?

Dory rupanya punya atribut kelas menengah ngehek, gabungan positif thinking Mario Teguh dan sedikit superstitious sama pertanda. Mungkin ini yang bikin kurang simpati. Mungkin ini salah Disney.

 

Oleh: Ratri Ninditya

*gambar diambil dari sini

war of heroes

x-men-apocalypse-trailer-egypt

film superhero bikin kita makin impoten. dunia ini semrawut penuh teror dan dalam keputusasaannya membutuhkan figur penyelamat sehingga kita berbondong-bondong ke bioskop menyaksikan sebuah dunia paralel yang sama hancurnya diselamatkan aneka ria pahlawan super selama dua setengah jam. pahlawan supernya makin lama makin banyak, makin seksi, makin keker, musuh makin kuat tak terkalahkan (bahkan kalo bisa temen sendiri), ego makin gede, dialog-dialog makin preachy, teatrikal, nggak manusiawi, dan alur cerita, yah, pas-pasin aja yang penting sound dan special effects spektakuler 9 speker depan-belakang-samping-atas-bawah.

saya nggak menyalahkan napsu bawah sadar kita untuk saling membunuh dan menghancurkan yang harus segera dilampiaskan dengan menonton film exxxsyen supaya kita tetap jadi orang yang normal di tengah masyarakat. saya juga nggak menyalahkan studio komik/film raksasa yang kejar setoran memastikan sekuel hari ini lebih laku dari yang tahun lalu dan yang tahun depan lebih heits dari yang hari ini. saya cuman.. capek aja cyin.

sepertinya film kayak gini makin bikin kita kebas. mata kita terlalu dimanja sama visual jadi nggak menyisakan ruang di otak untuk berimajinasi, atau minimal, berpikir. mau secanggih apa efeknya, akan selalu ada yang lebih canggih taun depan. background music kini udah jadi foreground music. bentar lagi kita udah lupa kalo film itu isinya bukan gambar sama suara doang tapi cerita juga.

dari 3 film superhero borongan terakhir (batman vs. superman, captain america civil war, dan x-men apocalypse), cuma ada satu hal yang menarik, yakni di film x-men apocalypse, saat Mystique bantah Xavier di mansionnya itu. Xavier bilang dengan bangga dan naifnya, bahwa mutan bisa hidup damai aman tentram bahkan tidak menutup kemungkinan di masa depan bisa berdampingan dengan manusia. Mystique mentahin dengan bilang (kira-kira), plis deh Xavier, kalo di belahan dunia lain, mutan masih jadi budak tanpa punya mansion untuk berlindung, boro-boro rumah. Di situ, Xavier jadi embodiment warga kulit putih priviledged mayoritas negara dunia pertama yang penuh dengan ilusi grandeurnya untuk mengubah dunia, tapi nggak pernah tau situasi sebetulnya di dunia nyata, karena nganggep di mana aja itu sama kayak yang dia tinggalin. Aneh, sebetulnya, mengingat Xavier ini serba tau seluk beluk terdalam palung hati semua manusia di muka bumi. Ternyata priviledge bisa membutakan orang semelek dia. Dan adegan ini yang bikin Xavier jadi yang paling manusiawi di antara semua superheroes/mutan itu.

di tengah semua keriwehan ini, saya cuman bisa ngarep film-film superhero berikutnya bisa lebih deadpool.

 

*gambar diambil dari sini

my stupid boss: kebegokan yang emang gitu ajah

unnamed

Film terbaru Upi yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis chaos@work adalah satu dari banyak film yang potensial menghibur tapi nggak jadi menghibur karena karakter yang nggak logis dan nggak jelas perkembangannya sepanjang cerita.

Reza Rahadian kali ini bermain sebagai bos perusahaan spareparts mobil tua (nampaknya, karena itu gak terlalu jelas). Bodinya gendut sumpelan dan kepala agak botak. Istrinya anak konglomerat yang hobi belanja furniture mewah 2x sebulan dan masak masakan rusia. Bossman ini pelit medit setengah mati sering gak bayar gaji anak buahnya, malas beli ac baru, dan nunggak bayar internet dan sewa tanah sampe disatronin mafia malaysia. Lalu ujug-ujug pak bos ini berubah jadi filantropis di akhir cerita gara-gara ketemu anak yatim piatu berkaki O yang membimbing temannya yang tuna netra kembali ke panti asuhan. Tapi, jangan sedih, dia tetep merki kalo sama perusahaan dan anak buahnya.

BCL jadi pemeran utama sekaligus narator cerita bernama Diana yang nggak betah jadi istri nganggur di negeri Jiran sementara suaminya susah diajak ngobrol karena manteng muluk depan laptop, semacam pekerja lepas yang nggak perlu ngantor. Jadilah Diana ikrip sama tetangga rumpi yang doyan banget ngejelekin orang. Tapi bukan itu juga yang mendasari dia cari kerja, karena dia tampak menikmati rumpian sama mereka. Sementara suaminya ngaku gak mau denger curhatan soal kerjaan, karena Bossman adalah sahabat lamanya waktu sekolah di amrik (kenapa harus amrik macam drama2 korea? apakah ini masih aspirasional?)

Karakter pendukung lain juga secara permukaan cukup menarik. Pekerja kantor, karyawan bengkel, semua punya keunikan, walaupun klise. Yang Melayu Islam sibuk zikir sambil baca buku fiqih wanita, yang Cina kompeten tapi underused jadi ngantuk terus, yang arab sibuk sisiran memikat Melayu Islam satunya yang tampak cukup beres kerja, tapi gak jelas juga kerjanya apa, lalu ada teknisi india dan bangladesh yang matter-of-factly banget.

“Dia emang gitu orangnya,” Alex Abbad yang makin cungkring bergigi coak berulang kali menjelaskan kenapa bos kantor baru istrinya (BCL) ini begitu nyebelin. Mungkin “emang gitu orangnya” inilah yang ada di kepala Upi saat membangun karakter-karakternya.

Ada banyak banget potensi konflik yang menarik di sini. Mungkin masculinity issue Reza Rahadian? Mungkin ketidakbahagiaan BCL sama perkawinannya karena sulit konek sama Alex Abbad yang pasif? Pelecehan seksual di kantor? Eksploitasi pekerja? Tapi sayangnya, semua dialognya gak menuju ke mana-mana. BCL cuma sibuk jadi tukang protes yang tiba-tiba bernafsu pengen balas dendam lempar bom sama bosnya, tapi begitu rencana dijalanin yang paling pol cuman gunting kabel speaker dan ngambek gak masuk kantor. Bahkan kompetensi kerja dia yang katanya hebat itu gak keliatan. Reza Rahadian hanya jadi seorang bos yang udah keras kepala bloon lagi. Tapi semua masalah yang dia timbulkan reda sendiri. Alex Abbad ya jadi penengah.

Bahkan ada satu adegan yang harusnya bisa jadi sebuah scene memorable yang penting dalam sejarah sinema Indonesia, simbol kemenangan kelas pekerja terhadap pemilik modalnya: saat semua karyawan dari semua ras nari rame-rame pake lagu Melayu. Sayangnya, menang atas apa nggak jelas (gara-gara nelpon bos tengah malem?). Jadilah adegan itu sekedar sempalan absurd yang menuhin checklist bahwa film ini harus memenuhi semua stereotipe kita sama Malaysia. Padahal, saya berharap Upi nggak sekedar menghasilkan film yang “emang gitu aja.”

Oleh: Ratri Ninditya

 

*gambar diambil dari sini

Mungkin Sebenarnya Hidup Itu Memang Tak Bermakna: Re-encounter / Hye Hwa, Dong ( 혜화,동) (2010)

fullsizephoto146186

Hye Hwa (Yoo Da In)

“It might be possible that the world itself is without meaning.”
(Mrs. Dalloway – Virginia Woolf)

Apa yang terjadi kalau ternyata kehidupan ini pada akhirnya yah begitu saja dan tak ada maknanya? Entahlah. Mungkin banyak orang langsung tenggelam dalam depresi berkepanjangan atau histeris meratapi hidup tanpa akhir yang dicita-citakan. “Re-encounter / Hye Hwa, Dong ( 혜화,동)”, entah mengapa, meninggalkan rasa “mungkin sebenarnya hidup itu memang tak bermakna” tersebut buat saya.

“Re-encounter” dibuka dengan adegan Hye Hwa (Yoo Da In) mengendarai motor untuk menjemput seekor anjing pendatang yang tidak diinginkan oleh pemilik rumah. Hye Hwa nampaknya memiliki obsesi untuk menyelamatkan anjing-anjing terlantar atau yang tak diinginkan. Sebagai mata pencaharian, ia memiliki salon anjing kecil yang bersebelahan dengan klinik hewan, atau mungkin juga bagian dari klinik tersebut. Anak si dokter hewan klinik sebelah dekat dengan Hye Hwa, bahkan terkadang memanggilnya dengan “ibu”. Kedekatan Hye Hwa dengan sang anak dan aksi-aksi penyelamatannya terlihat seperti manifestasi penebusan entah rasa bersalah atau kehilangan atau bahkan keduanya karena di masa lalu Hye Hwa tidak dapat “menyelamatkan” bayinya sendiri yang meninggal tak lama setelah dilahirkan.

Paling tidak itulah yang tertanam di ingatannya selama 5 tahun. Sampai kemudian mantan kekasih dan ayah dari anaknya, Han Soo (Yeo Yeon Sook), yang menghilang sebelum kelahiran bayi mereka, mendadak muncul di hadapannya dan mengatakan bahwa anak mereka ternyata masih hidup.

“What if?”

The deadly question. Bagaimana jika ternyata Han Soo benar? Bagaimana jika ternyata anak mereka masih hidup dan tidak meninggal seperti yang selama ini tertanam di ingatan Hye Hwa? “Bagaimana jika” begitu menghantui Hye Hwa dan Han Soo hingga menjebak keduanya dalam delusi yang diciptakan Han Soo.

“Re-encounter” sebenarnya berpotensi untuk jadi melodrama super melankolis, tapi sutradara Min Young Keun nampaknya lebih tertarik untuk menghadirkan rasa sepi ketimbang bermain dengan air mata. Hye Hwa dewasa kini tinggal sendiri ditemani anjing-anjingnya. Ia masih memelihara kegemaran mengumpulkan potongan kukunya dalam sebuah tabung film kamera bekas, seperti ingin menyimpan bagian dirinya yang dibuang. Ibunya yang menua kini harus berpegangan pada bentangan tali rafia jika ingin ke kamar mandi. Han Soo yang kembali ke rumahnya kini berjalan setengah tertatih, mungkin akibat bekas luka tembakan atau cedera saat latihan saat dia di militer.

Semua disampaikan Min Young Keun dengan tenang, nyaris tanpa emosi eksterior. Suppressed emotions. Masuk akal mengingat kondisi kehidupan keluarga Hye Hwa. Untuk sebagian orang, mereka tidak mampu untuk jadi melankolis. Ada hidup yang harus dijalani, ada perut yang harus diisi. Mungkin bagi sebagian orang lainnya, apalagi mereka yang kehidupannya berada di tengah ke atas “Piramida Maslow”, hidup (idealnya) berisi mimpi-mimpi yang patut diperjuangkan untuk diwujudkan. Hye Hwa tidak berada di sini. Kesehariannya hanya diisi berkutat pada anjing, sama seperti banyak orang yang kesehariannya berisi rutinitas-rutinitas penyambung hidup. Kadang terlalu lelah bahkan untuk merasakan perasaannya sendiri, apalagi mencari makna.

fullsizephoto146176

Han Soo (Yoo Yeon Seok)

Perasaan-perasaan Hye Hwa dewasa yang ditekan hadir dengan subtil di tangan Yoo Da In (yang baru saya kenal melalui film ini), bertolak belakang dengan Hye Hwa remaja yang berani dan cuek. Yoo Yeon Seok, dalam peran terbaiknya (buat saya), mewujudkan Han Soo ke dalam sosok anak mama yang tak mampu menghalau patah hati sehingga menciptakan delusi untuk menyembuhkan luka, bukan hanya dirinya namun juga luka Hye Hwa.

Ketenangan, kesepian, kedataran, keheningan atau apalah perasaan yang nyaris tanpa gejolak ini entah kenapa begitu menghisap saya. Beberapa kali menyaksikan “Re-encounter”, saya tetap tidak mampu meraba dengan tepat perasaan film ini. Mungkin inilah yang membuat saya merasa mungkin pada akhirnya hidup yah begitu saja. Sekedar waktu yang berlalu, sampai nanti saatnya mati. Bahkan saat menulis ini pun rasanya begitu samar. Sama seperti tatapan Hye Hwa saat memundurkan mobilnya ke arah Han Soo. Samar.

Bachtiar Siagian’s Violetta: A Lekra Romcom

photo from bunga siagian's collection

photo from bunga siagian’s collection*

went to see bachtiar siagian’s violetta last nite at kinosaurus, a new tiny bioskoop at the back of kemang ak.sa.ra. out of all (three) minikinos in jakarta at the moment, this one looks most moneyed. it’s got all the requisite artisanal hipster mod cons–to the deserted vinyl shop monka magic, the piles of murakami at the bookshop (they haven’t turned this ak.sa.ra into a stationery store) and the hypebeast-wear distro 707 at the front add a neat coffee shop with a stormtrooper something machine and baristas in nicely faded flat heads and a pop up/pop art gallery. so on the surface isn’t it ironic doncha think that a screening of a rarely seen 1962 film by bachtiar siagian, a leftist filmmaker and a member of lekra, the defunct PKI cultural onderbouw, was taking place here–at jakarta’s hipster/bourgeois/immigrant (i refuse to call them expats) ground zero? well maybe not as much as would satisfy my craving for outrageous reversal of fortune. there were only seven people in attendance for violetta. the previous screening, for pasir berbisik, had nineteen. okay that movie had the young dian sastro in it and was shown at the more friendly sunday 7:30 slot (violetta was shown at 9:30), but according to meiske taurisia, head honcho for kinosaurus it seems (forgot to ask what she actually does there), it’s been a bit of a chore trying to attract audience for classic indo movies. perhaps what khrisna sen said in this article still stands, after 35 years kawan bachtiar still has not acquired “a following among students and young intellectuals who had come to adulthood since 1965 and were trying to make sense of their cultural heritage.”

okeh, on to violetta. in that same article, sen also mentioned that “neither contemporaneous reviews nor later attacks on siagian have seriously argued that his films contained communist propaganda” and wondered “whether or not there was artistic merit in his films”. let’s find out how these two arguments/reflections stand against an actual viewing of a siagian film.

violetta turned out to be a bittersweet romcom with a tragic twist. the style is more classic(ist) hollywood than neorealist (a label sometimes heaped on indo films from this era and earlier) or russian anything (as the sen article might suggest). violetta (rima melati, babe) is the young, only daughter of a strict headmistress of a catholic girls school (“direktris”–fading beauty fifi young, not so young anymore) who–made clear early the movie–was also a single mother. violetta is obsessed with the absent father figure, often staring at a painting of a perfect balinese nuclear family (avec dad) in her room and endlessly pesters her mum with questions about her dad (did he love you? did he have a moustache?–a motif that recurs later in the movie) domineering mum gets angry at such interrogations, lily-livered violetta gets upsets and goes on fainting spells. to recuperate from her condition mum and violetta rent a bungalow at the foot of a mountain and plan to stay there for a month. at the bungalow they are accompanied by an old male servant (kasman) and his mute son (cemeng) who provide comic relief in the increasingly depressing story. then comes the bemoustached knight in drab, regulation-issue army uniform riding a decrepit raleigh!: kopral herman (bambang hermanto), local tni masuk desa manunggal bersama rakyat man who often comes to the bungalow to seek kasman and cemeng’s companion bearing gifts of fresh produce (corn cobs, pineapples, a live chicken). according to kasman, kopral herman is kind to the villagers, keeps the village safe (safer since his arrival) and the villagers reciprocate by offering him bits of their harvest/livestock. there is a scene of kopral herman on his bike throwing candies to kids so he must be a nice guy. violetta is frightened by the gruff virile manliness of kopral herman (or is it his mo?) but so obviously turned on too. the slow courtship gathered pace after violetta beat kopral herman in a game of chess and the next day he brought her a gelatik bird in a cage as a prize for her win. our violetta is ready to bloom, spread her wings and fly. but no one tells the gilded cage of mum’s overbearing overprotectiveness! she expressly forbade kopral herman from seeing violetta again (is it because he’s a kopral, mama? no, it’s because he’s a man!) and though he acquiesced to the elderly woman’s quiet bourgeois power, violetta had another fit of tantrum and took off in flight into the night. in a cruel twist of the plot ex machina, patrolling kopral herman accidentally shot mad violetta thinking she was a thief in the night. cue regret and despair all around. film ends with a gelatik on top of a makeshift massive wooden cross on violetta’s grave (does it remind you of golgotha?) after mum made the confession: “it’s not your fault, kopral. i killed my own daughter.”

kawan bachtiar deftly manipulated classic(ist) hollywood style so beloved of his more bourgeois compatriot usmar ismail to deliver a subtle, almost light-hearted critique of the conservative tendencies of early 60s indo bourgeoisie. violetta comes from a well-to-do family of batak catholics who won’t even allow guys to attend violetta’s sweet seventeenth birthday. mum even expelled a girl from her school for the petty crime of talking to a guy in the school yard (“tapi bu, kami tidak bicara roman”). but then again, there’s also a psychological aspect to mum’s overprotectiveness: her hatred of men (never explained why). considering that kawan bachtiar also made the first indo movie to champion the rights of prostitutes (see sen’s essay again), perhaps we could see this hatred as a protest, a dissent against the moustachioed braggadacio of, perhaps, pemudas in post zaman bergerak indonesia.

note also the ambivalent portrayal of kopral herman. at once a loser (in the eyes of mum) and a bully of wong cilik (he relentlessly threatens, half-jokingly, to beat up kasman and his mute boy), he’s also funny and big-hearted enough to admit he took a right beating from violetta at chess. the symbolic/visual jokes in violetta are always subtle and delivered with impeccable comic timing. once violetta tried to hop on into kopral herman’s dodge truck when he suddenly stopped her. he reached into her seat and fished out a long rifle, “awas, ada bedil!” then for the rest of the bumpy ride (premonition for their bumpy relationship!) the rifle conveniently sticks out like herman’s raging erection behind his seat. not for kawan bachtiar it seems the more straightforward doom and gloom/pseudoexistentialist portrayal of military men preferred by usmar ismail.

so, does violetta contain any communist propaganda? propaganda obviously not, kawan bachtiar, at least on this one evidence, seems to be too much of a subtle artisan to allow for the crude sloganeerings that propaganda demands. what about communist idea(l)s then? there is a bit of class conflict in violetta definitely, one can read the film as an exposition of different classes’ desires and interests. the lumpen proletarians kasman and cemeng seem happy enough to let others (especially kopral herman) keep them in their place, the bourgeois mum seems happy enough to issue orders around like a baroness. perhaps here, if one is to read violetta as a marxist critique of society, kopral herman’s ambivalent place/status/class in the world becomes pivotal. as a military man he’s supposed to be a member of the ruling class, but since he’s only a kopral, he’s not doing much ruling at all (except for his bullying of kasman and cemeng). he’s totally subservient to the wishes and whims of the überbourgeois mum. is bachtiar saying that the fate of the world depends upon not the resolution of the class conflict but upon negotiations between members of the same ruling class, albeit those from different hirarchies of power within it? does kawan bachtiar think radical social change is not inevitable, but impossible? well he’d be hardly a marxist then! tongue emoticon

but then again, perhaps the aesthetic merit of violetta lies not in its social(ist) critique–he’s no ken loach, or mike leigh–but in its skillful manipulation of classic(ist) hollywood tragiromcom form to deliver, nevertheless, a heartfelt condemnation of conservative bourgeois values in 1960s indo. lenyapkan adat dan faham tua!

 

*taken from cinema poetica

Kegagalan generasi menurut Noah Baumbach

Oleh: Ratri Ninditya

Saya menonton While We’re Young dan merasa sangat bersimpati pada kegatalan Noah Baumbach untuk mengkritik generasi Millenials yang acakadut: memuja gaya hidup organik (bukan cuma sayur, tapi semua yang analog dan DIY), nggak takut nikah muda menghambat karir, tapi di sisi lain haus popularitas dan merasa semua bisa dicapai dengan instan. Walaupun ini adalah cerita orang-orang kulit putih dan sangat priveleged di New York, tapi aspirasi dan kegelisahannya kejadian juga sama orang-orang yang sering saya dengar dan temui di Jakarta, yang biasa diberi judul kelas menengah ngehek. Ketakutan Ben Stiller (sebagai Josh) saat melihat Adam Driver (sebagai Jamie) dengan mudah mencuri panggungnya sebagai seorang pembuat film “dokumenter” dengan idenya yang pop, straighforward, dan gampang dicerna, adalah ketakutan kita sama anak-anak baru lulus kuliah luar negeri yang cerdas dan bergelimang piala. Ada sesuatu yang begitu nyata dan menyakitkan dalam ambisi bang Adam untuk mendapatkan titel seniman sukses yang terhormat. Sangat menyedihkan melihat om Ben memandang Adam dan berpikir ia akhirnya jadi panutan juga, jadi orang dewasa terpandang juga, dan di bagian akhir film ketauan ternyata tujuan dedek Adam nggak lebih karena duit istrinya (Naomi Watts, sebagai Cornelia) aja. Yang menarik juga adalah bagaimana pasangan hipster muda ini tau bagaimana harus menampilkan diri di hadapan pasangan uzur dari generasi X (no google, i dont have facebook, we built the table ourselves, he’s always on the move). Seolah mereka tahu apa harapan generasi tuwir waktu mudanya dulu yang nggak pernah kesampaian. Seolah, seperti yang sudah banyak dibahas di artikel-artikel hipsterdom, menjadi hipster adalah tau mana yang keren dan menyelimuti diri dengan aneka atribut kekerenan itu. Menjadi hipster adalah soal menjaga citra dan siapa lo sebenarnya jadi nggak terlalu penting. Dan sebagai sebuah generasi yang muncul dengan menolak nilai dan moralitas generasi sebelumnya, mas Noah merasa generasi hipster-millenials gagal mencapai itu karena semua hanya aksesori tambal sulam. Kita gak jadi masyarakat madani (uhuk) yang lebih baik, kita malah jadi makin buruk.

Tapiiii… masnya kan dateng dari generasi tua. Di sepertiga terakhir film argumennya kerasa seperti keluhan khas orang uzur saat ia menyimpulkan, “Ah dia kan nggak jahat, cuman muda aja.” Lah dia kata anak muda semua oportunis? Wacananya soal parenthood juga ajaib. Menunjukkan orang tua baru yang narsis terasa agak basi dan lebay, karena lo nggak akan punya temen yang nyuruh lo tetep punya anak walaupun tahu lo udah berkali-kali coba dan keguguran, abis itu masih ditemenin pula. Lalu kenapa semua masalah selesai saat pasangan ini memutuskan untuk adopsi anak? Apa kita balik lagi ke anggapan klise kalau kehadiran seorang anak jadi obat krisis rumah tangga? Atau apakah, adegan itu justru sebuah ledekan Baumbach terhadap generasinya sendiri, bahwa pada akhirnya mereka akan kembali ke konformitas: berkeluarga sakinah mawadah warohmah, beranak, dan nikmatin privelege kelasnya sendiri? Buat saya, om Baumbach lebih nyaman mengamini aspirasi populis itu.

 

*Gambar diambil dari sini