How I Made Your Mother A Back Up Plan Until I Have The Chance To Pursue The (What I Delusionally Think) Love Of My Life

Image

by: Festi Noverini

 

As a fan of ‘How I Met Your Mother’, of course I was one of those who are enraged by how the creators ended the series. If I haven’t seen all, I would say that it’s probably one of the worst season’s finales in the history of sitcoms, even series.

Having said that, I think there’s still one good thing that came out of it. Alyson Hannigan. As the series developed, she became the most well-rounded character in it’s final episodes. Every Lily’s heartbreak, be it the realisation that she’s just not “artsy” enough to pursue a career as an artist or many things eventually changed with the gang, felt more sincere than many emotions delivered by almost any character in sitcoms I’ve ever watched. Just like what Alyssa Rosenberg said in Washington Post’s blog, “Lily’s heartbreak is rooted in the same ideas about adult relationships…”

This is one of the strengths of televison format compared to movie, I think. It gives time for the creators to develop the characters and the actors to, in a way, BE the characters.

Sitcoms are mostly, if not all, are clichés. Friends, maybe one of the most celebrated sitcoms, is definitely built on piles of clichés. It is then, or probably still, considered very successful. Though after re-watching some of it’s early episodes, I found myself just couldn’t laugh at it or connected to it like I used to. Maybe I just don’t relate to it anymore (I didn’t really relate to it the first time it aired because I was not on the same life’s phase) or maybe now I see it just as neatly knitted clichés, right to very end.

Now back to HIMYM. I guess I still can’t digest why the creators decided to cramp everything in the last 2 episodes and they’re not even well-cramped! Of course HIMYM is also one of those sitcoms that’s built on piles of clichés but somewhere along the way they managed to develop the characters and made those who follow the series feel connected to it. Which I kinda like, no real black or real white.

But then they just threw away years and years of characters’ development into two disastrous episodes. Well, season 9 wasn’t exactly an exciting and great season anyway; it is stretched way too long, but still. It nullifies the entire “adult life lessons” that they’ve been saying to their audience for the past 5 seasons (starting from when Barney and Robin began to have feelings for each other but tried to hide it because of the Bro Code) that “you don’t always get what you want in life” and trash it into Disney black hole where “the boy finally gets the girl of his dream and they lived happily ever after”.

It’s so sloppy, messy and wrecked I begin to think that it was intentional. Now here’s my theory. Maybe, just maybe, somewhere along the way the creators thought that they want to create one of the most unforgettable unexpected season finales in the history of TV series. So they decided to ruin it, big time. After lots of twists and turns, they finally made one last huge twist, a huge disappointment one to most fans. And if that’s the case, well then I salute them. Because that, would make a brilliant plot to make fun of the whole series and it’s devoted fans and life, really. But if not, then I supposed it’s just a very very very bad decision.

I guess life DOESN’T always turn out to be just the way people want it to be. So once a jerk will always be a jerk, no matter how much you’ve learnt that it’s the emptiness inside that drove all of your inhuman behaviours, you just can’t help it. You’re born with the DNA. You don’t have the capabilities to think or to feel, because your fate has been predetermined.

And I guess in real life, just like the Disney life, the guy (or the girl) always gets the girl (or the guy) of his dream, eventually. Just as long as you keep the dream (or the illusion) alive, date some people along the way and even marry someone that you love enough to have a family with, then once she’s off the hook, and you, who always secretly wish to be with her, are also off the hook, you can always try to rekindle the romance, right? The once short-lived relationship with the girl who think of you as a back up plan that you romanticised in your head for years. And the ambitious girl who were willing to give up her marriage for her career and pathetically seemed quite happy when her back up plan, the “ideal” guy, suddenly showed up in front of her apartment with the blue French horn after oh I don’t know how many years and suddenly just forgot that she was never really in love with him but as ambitious as she is now and as determine as she always has been, it is only reasonable to settle for the guy that seems to check all the right boxes in traditionalists how-to-find-the-one-that-will-last-forever manual’s checklist. Yup! That’s THE dream. After all, first love never dies, right?

Almost sounds like Diana-Charles-Camilla’s love triangle there, minus the complications of class value sets and royal family rules. Oh and plus he was never (I guess) a pathetic back up plan for her.

 

“Last Forever” what now? They never really got to make those last episodes, right?

 

*This review was first posted on festinoverini.wordpress.com on April 2, 2014*

Push Your Limit. See The Bigger Picture

oleh: Festi Noverini

 

Sedih dan patah hati. Itu yang saya rasakan belakangan ini. Dari mengikuti kasus pemerkosaan, pemisahan gerbong perempuan di kereta api sampai kemarin yang paling baru, meninggalnya pekerja iklan karena lembur 3 hari. Tweet terakhirnya berisi, “30 hours of working and still going strooong.”

Kasusnya mungkin beda-beda, tapi ada benang merah yang saya tarik dari komentar, pendapat serta reaksi orang-orang di media sosial dari tiga kasus tersebut, yaitu korbanlah yang harusnya berhati-hati, bukan sistem dan hukumnya yang dibenahi. Di kasus perkosaan banyak yang berkomentar, “Kenapa mau disuruh datang ke kos? Kenapa baru setelah hamil 7 bulan melapor ke polisi? Kenapa bisa terjadi berkali-kali?” Logika macam apa itu?

Di pemisahan gerbong perempuan banyak yang berpendapat itu sebagai sebuah tindakan perlindungan. Perlindungan terhadap apa? Terhadap nilai-nilai patriarki? Kalau perlindungan terhadap kejahatan seksual maupun kejahatan lainnya, bukan semestinya pelakunya yang dihukum? Kenapa justru melanggengkan diskriminasi dan melebarkan jurang kecurigaan atas nama perlindungan?

Mengubah pola pikir emang gak bisa ditempuh dalam jangka waktu pendek. Butuh waktu yang panjang, amat panjang bahkan, yang belum tentu dapat kita lihat atau rasakan hasilnya saat kita masih hidup. Tapi selalu terjebak dalam kebijakan-kebijakan darurat ya juga bukan solusi dan makin memperparah masa depan karena kita justru mencederai pemikiran, logika dan hati nurani.

Masing-masing kasus memang gak mungkin dibahas secara sempit dan disamaratakan. Perlu penelaahan, penjabaran, pemahaman bahkan penelitian yang lebih luas dan dalam lagi. Itu juga salah satu alasan tulisan saya ini.

Kejadian yang paling baru adalah meninggalnya seorang pekerja iklan karena lembur 3 hari ditambah mengkonsumsi terlalu banyak minuman penambah energi. Gak lama sesudah berita tersebut keluar lalu bermunculanlah di berbagai media sosial postingan menanggapi hal ini. Sebagian besar yang saya baca intinya bilang, “Perusahaan tuh memang serakah. Mereka cuma mau memeras pekerjanya. Makanya kita sebagai orkerja harus “Know Our Limit””. Duh kok kayaknya sederhana amat ya solusinya?

Apa iya semua orang di awal masa bekerjanya udah tau bahwa korporat-korporat besar itu jahatnya amit-amit? Saya rasa hampir semua orang juga belum tentu tahu hal tersebut saat mereka baru mulai masuk dunia pekerjaan. Yang mereka tau mungkin hanya abis sekolah/kuliah lalu kerja, entah untuk alasan eksistensi diri, cari makan atau bahkan hanya sekedar mengikuti standar tahap kehidupan manusia.

Yang bisa bilang “Know Your Limit” saya asumsikan sudah pernah melalui kegilaan tersebut atau cukup nyaman dengan hidupnya saat ini makanya bisa bilang cabut aja kalau rasanya udah gak nyaman. Tapi apakah semua orang punya privilege kenyamanan itu? Kalau nggak suka, cabut aja. Sama seperti saya sering banget dikomentarin, dari pada “marah-marah” melulu, mending pindah aja dari Indonesia. Ampun deh, kelas menengah Indonesia.

Belum lagi di dalam masyarakat selalu ada banyak hubungan kekuasaan, dari yang sehat sampai yang super sakit, seperti kasus perkosaan yang saya singgung sebelumnya. Ini disadari gak sih? Apakah solusinya hanya sesederhana “mawas diri”?

Apa iya ketika sudah tidak nyaman dengan sistem kerja perusahan, hanya dengan mengungkapkan keberatan pada atasan akan membawa perubahan? Kalau iya mungkin budaya sistem kerja, dalam hal ini dunia periklanan, sudah membaik dari kapan tau. Tapi nampaknya gak sesederhana itu. Dalam budaya kerja yang sangat kapitalistik manusia nampaknya hanya dilihat sebagai alat produksi, replaceable. Lo gak suka, silahkan cabut atau gue gantiin. Mengerikan bukan? Dan ini terjadi di banyak sektor pekerjaan lainnya.

Lalu bagaimana mungkin orang-orang yang tercekoki atau mencekoki orang lain dengan jargon-jargon macam “Push Your Boundaries” sekarang bicara “Know Your Limit”? Apalagi kalau ada yang merasa “been there done that”. Justru kalau sudah pernah melalui harusnya sadar bukan bahwa ada sistem lebih besar yang menggerakkan kehidupan kita sehari-hari? Atau selama ini gak pernah sadar? Ini kan menyedihkan.

“Push Your Boundaries” untuk apa? Untuk memenuhi pundi-pundi korporasi yang tamak? Untuk jadi yang “terbaik”? Untuk pencapaian prestasi yang abstrak? Sebuah ilusi yang dibentuk oleh propaganda korporasi kapitalis melalui ayat-ayat motivasinya.

Kita tentu saja tidak pernah seutuhnya independent karena kita selamanya interdependent, apalagi kalau kita hidup dalam sebuah sistem masyarakat dan negara. Bukankah kasus terakhir juga  terjadi dalam institusi yang mengagungkan team work? Lalu apa pertanggungjawaban mereka ketika ada kejadian ini? Saling mengingatkan untuk jaga diri sendiri karena resiko akhirnya ditanggung masing-masing?

Sayangnya, bukan hanya dalam hal kasus ini tapi juga dalam kasus-kasus lainnya, banyak orang cuma mau melihat yang ada di depannya aja. Overworked, salahkan perusahaan yang jahat dan diri yang gak tau batasan. Pelecehan seksual, pisahkan manusia berdasarkan gendernya. Perkosaan, baik-baik jaga diri. Padahal jauh sebelum hal-hal tersebut terjadi sudah ada proses panjang dan kompleks yang mendahului dan menjadi penyebabnya. Bahkan seringkali menciptakan lingkaran setan.

Entahlah. Mungkin banyak orang yang masih berpikir bahwa hal-hal ini terjadi akibat pilihan sendiri, maka berhati-hatilah karena akibatnya juga akan ditanggung sendiri. Terjadi di luar kekuasaan korporasi yang buas, negara yang lalai, hukum yang tiarap, gempuran nilai-nilai “positif” (kerja tim, prestasi, passion, dll dll) yang dimanipulasi perusahaan-perusahan besar dan raksasa untuk menggerakkan alat produksinya demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, dll.

Mawas diri ya tentunya penting, tapi mawas diri bukan cuma sekedar “Know Your Limit”, lebih dari itu juga menyadari bahwa kita adalah bagian dari sebuah sistem yang lebih besar. Ada hal-hal yang bisa kita
kendalikan dari dalam diri kita sendiri, tapi lebih banyak lagi hal-hal yang butuh kekuatan besar untuk dapat mencapai sebuah perubahan. Butuh “penyadaran” kolektif.

Banyak hal yang mungkin akan terlalu sulit diubah, bahkan mungkin selamanya kita bisa terjebak dalam lingkaran setan tersebut. Tapi selalu penting untuk memiliki kesadaran akan hal-hal lain di luar diri kita
sendiri dan dunia kecil kita.

 

*Catatan ini merupakan sedikit rangkuman dari diskusi dengan teman-teman lainnya (Anya, Mike, Ninin, Edo, Iskandar, Eko, Yoshi, Acha, Fanny, Ney). Setengah lebihnya meminjam istilah dan pemikiran mereka. Pertama kali dimuat di festinoverini.wordpress.com pada tanggal 16 Desember 2013*

 

Les Misérables: Kita Yang Miskin, Kita Yang Merana

 

les_miserables_ver11
oleh: Festi Noverini

 

So long as there shall exist, by virtue of law and custom, decrees of damnation pronounced by society, artificially creating hells amid the civilization of earth, and adding the element of human fate to divine destiny; so long as the three great problems of the century—the degradation of man through pauperism, the corruption of woman through hunger, the crippling of children through lack of light—are unsolved; so long as social asphyxia is possible in any part of the world;—in other words, and with a still wider significance, so long as ignorance and poverty exist on earth, books of the nature of Les Misérables cannot fail to be of use.
HAUTEVILLE HOUSE, 1862.

Bahkan setelah layar kembali hitam, setelah kembali ke rumah, setelah kembali bertemu dengan mall dan kedai-kedai kopi (ke)mahal(an), saya tidak mampu menyingkirkan hantu kepedihan manusia-manusia merana dalam Les Misérables.

Kenikmatan menonton Les Misérables 2012 (ini untuk membedakan dari Les Misérables 1998) tentunya akan lebih paripurna jika pernah menonton pertunjukan musikal dan membaca bukunya. Namun tentunya tidak murah untuk pergi dan melihat pertunjukan ini di West End maupun di Broadway dan juga tidak mudah untuk membaca novel setebal 1200 halaman lebih karya Victor Hugo tersebut. Reading is one thing, comprehending is a whole other thing.

Les-Miserables-Victor-Hugo-Project-Gutenberg-220x347

Tetapi sebenarnya begitu mudah untuk ‘merasakan’ Les Misérables. Toh ini memang realitas kita sehari-hari. Kita lepas dari mulut harimau, jatuh ke mulut buaya. Seperti nyanyian Gavroche cilik:

There was a time we killed the King;
We tried to change the world too fast.
Now we have got another King;
He is no better than the last.

 
This is the land that fought for liberty
Now when we fight we fight for bread!

Here is the thing about equality
Everyone’s equal when they’re dead.

Ya. Kita memang baru akan setara ketika mati nanti. Walaupun saat ini kita (mungkin) sudah mati. Mati seperti Fantine yang habis dihajar kehidupan.

I had a dream my life would be
So different from this hell I’m living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed.

Atau seperti Éponine yang mati menyedihkan setelah menjalani kehidupan yang merana.

Paling tidak mungkin itu yang dirasakan petani-petani di Genikan dalam dokumenter Negeri Di Bawah Kabut (The Land Beneath The Fog) karya Shalahuddin Siregar ketika mereka mentertawakan dengan miris kehidupan mereka. Daripada hidup sulit mending mati saja. Tapi mati juga susah, mau datang dari mana uang untuk penguburannya? Dan hidup adalah lingkaran serta sejarah yang berulang.

Sebagai film, Les Misérables tidak mungkin dilepaskan dari karya adaptasi musikalnya, apalagi dari novelnya sendiri. Maka akan jadi terlalu sederhana menyaksikan Les Misérables sebagai ‘hanya’ sebuah produksi film dengan kehebatan gambarnya dan kekurangmampuan aktor-aktornya bernyanyi dengan ‘layak’, yang dalam hal ini Russell Crowe bahkan mungkin dianggap cacat nada serta adalah ‘kecelakaan’ dalam pemilihan pemain.

Les Misérables adalah kita. Kita yang miskin, kita yang merana, kita yang terhempit, kita yang terjebak dalam lingkaran setan, tapi terlalu takut untuk melawan setan-setan di ‘atas’ sana. Seperti penduduk yang menutup pintu bagi para pemuda –  anak-anak yang dulunya ditimang orang tuanya – saat mereka meminta pertolongan lalu mati dihabisi ‘rekan-rekan sebangsa dan setanah air’ dalam adu senjata antara The Friends of the ABC (Les Amis de l’ABC ) dan National Guard (la Garde Nationale).

Then the gloomy love of life awoke once more in some of them. Many, finding themselves under the muzzles of this forest of guns, did not wish to die. This is a moment when the instinct of self-preservation emits howls, when the beast re-appears in men. They were hemmed in by the lofty, six-story house which formed the background of their redoubt. This house might prove their salvation. The building was barricaded, and walled, as it were, from top to bottom. Before the troops of the line had reached the interior of the redoubt, there was time for a door to open and shut, the space of a flash of lightning was sufficient for that, and the door of that house, suddenly opened a crack and closed again instantly, was life for these despairing men. Behind this house, there were streets, possible flight, space. They set to knocking at that door with the butts of their guns, and with kicks, shouting, calling, entreating, wringing their hands. No one opened. From the little window on the third floor, the head of the dead man gazed down upon them.

Lalu apakah dengan menjadi takut atau diam kita salah? Apakah mereka yang berbuat ‘sesuatu’ lebih benar atau lebih baik daripada mereka yang tidak berbuat ‘sesuatu’? Well, we mostly (probably) did not wish to die. The dead are in the right and the living are not in the wrong. (Volume V – Jean Valjean; Book First; Chapter XX)

Kita adalah Gavroche, anak bangsa yang ditelantarkan ‘orang tua’-nya sendiri. Anak-anak yang terlalu buta, atau mungkin memang tidak pernah tahu ada ‘orang tua’ di luar sana yang benar-benar melindungi dan mengasihi anak-anaknya.

The pavements were less hard to him than his mother’s heart.

This child lived, in this absence of affection, like the pale plants which spring up in cellars. It did not cause him suffering, and he blamed no one. He did not know exactly how a father and mother should be.

Tapi kita kadang ingat, kita masih punya rasa cinta untuk ibu pertiwi.

Nevertheless, abandoned as this child was, it sometimes happened, every two or three months, that he said, “Come, I’ll go and see mamma!”

Naif seperti anak-anak, seperti Gavroche. Seperti anak bayi yang belajar berjalan. Keinginan menggebu-gebu tapi tidak punya sokongan tubuh yang kuat. Kita mungkin memiliki semangat yang berapi-api, tapi tidak punya pengetahuan politik dan wawasan lainnya yang cukup untuk mengimbangi semangat yang (ke)tinggi(an). Ujung-ujung mati konyol (if not patriotic).

Mungkin kita adalah Enjolras, yang keluar dari kenyamanan kelas dan memilih untuk berjuang demi apa yang dianggap benar. Walau mungkin juga ragu untuk apa.

It is time for us all
To decide who we are
Do we fight for the right
To a night at the opera now?
Have you asked of yourselves
What’s the price you might pay?
Is it simply a game
For rich young boys to play?

Dan sebagian dari kita adalah Javert, manusia-manusia robot yang kosong. Dibentuk untuk taat kepada penguasa yang berkuasa. Terlalu taat bahkan hidup tanpa pikir, hidup tanpa jiwa.

Namun seburuk-buruknya penampilan (dan suara) Russell Crowe, memang hanya kosong yang kita temukan di wajahnya, kecuali saat ia dihadapkan pada dilema untuk terus mengabdikan diri mengejar Jean Valjean, ‘penjahat’ kelas teri yang memilih untuk tidak membalaskan penderitaannya pada Javert saat Valjean punya kesempatan atau menghilang saja dari muka bumi ini karena tak sanggup menanggung konsekuensi dari keyakinan butanya yang terkoyak.

The world I have known is lost in shadow.
Is he from heaven or from hell?
And does he know
That granting me my life today
This man has killed me even so?

And many of us are definitely Cosette, pretty Cosette, sheltered Cosette. Oh, sheltered Cosette. Oh and this is why I think Amanda Seyfried is perfect for the role. She just is Cosette.

Dan tentunya ratusan bahkan mungkin ribuan Jean Valjean tersebar di negeri tercinta ini. ‘Anak-anak’ kelaparan yang dihukum ‘orang tua’-nya sendiri karena mencuri untuk mengganjal rasa lapar. Sungguh Les Misérables adalah saat ini. Tempat ini.

Dimana mereka yang berjanji tak pernah lupa untuk mengingkari.

“Can any one understand,” exclaimed Feuilly bitterly, “those men,—[and he cited names, well-known names, even celebrated names, some belonging to the old army]—who had promised to join us, and taken an oath to aid us, and who had pledged their honor to it, and who are our generals, and who abandon us!”

Menikmati Les Misérables dalam bentuk film tentu akan selalu menggiring penonton (yang tahu) untuk membandingkan dengan versi musikalnya. Maka kemudian lahirlah tuntutan bahwa semua pemainnya harus bersuara bagus, minimal mendekati kemampuan pemain musikalnya. Here’s the thing, ‘kecacatan’ kemampuan bernyanyi mereka justru menjadikan film ini lebih nyata dari ‘sekedar’ pertunjukan musikal. Bahkan Tom Hooper sepertinya berusaha untuk lebih mendekatkan film ini ke novelnya daripada berpegang teguh pada pakem pertunjukan musikalnya.

Bukan hanya itu, close up shots para pemain anehnya memberikan perasaan seolah kita berada di dalam sebuah ruangan pertunjukan tapi sekaligus mencapai apa yang ruangan pertunjukan tidak dapat berikan, yaitu kedekatan secara jarak.

Akan sangat mudah bagi penonton untuk jatuh cinta pada permainan Anne Hathaway, dengan adegan menyanyinya yang ‘besar’ dan fenomenal sambil menangis, meratap dan berdarah-darah, tapi mata saya hanya tertuju pada Samantha Barks yang berperan sebagai Éponine. Barks brings subtleties that Hathaway can never deliver, well at least not so far.

Dan tentunya saya juga jatuh hati pada Daniel Huttlestone, si anak jalanan Gavroche. Kebetulan juga Barks dan Huttlestone pernah berperan sebagai Éponine dan Gavroche di versi musikal Londonnya.

Samantha Barks (Éponine) & Daniel Huttlestone (Gavroche)

Akhirnya, menyaksikan Les Misérables tentunya juga akan menjadi suatu pengalaman yang paripurna jika kita juga menyaksikan Negeri Di Bawah Kabut karya Shalahuddin Siregar dan The Act Of Killing karya Joshua Oppenheimer.

And so my friends, I’ll leave our dying souls with this:

He sleeps. Although his fate was very strange, he lived. He died when he had no longer his angel. The thing came to pass simply, of itself, as the night comes when day is gone

 

Catatan:

  1. This review is subject to change or revision depending on latest interpretation J
  2. Semua kutipan berasal dari lirik lagu serta dari buku Les Misérables karya Victor Hugo versi terjemahan bahasa Inggris di laman ini: http://www.gutenberg.org/files/135/135-h/135-h.htm#linknote-70
  3. Sepertinya terjemahan bahasa Inggris dari Norman Denny lebih puitis. Tapi saya tidak bisa menemukan halaman bebasnya di internet.

Selamat meresapi Les Misérables dengan paripurna.

*Pertama kali dimuat di festinoverini.wordpress.com pada tanggal 1 Februari 2013*