battlefield

oleh: ratri ninditya

 

we’re in a battlefield, my friends.

setiap hari kita bertempur. pertempuran itu dimulai dari pagi. sampai malam buat sebagian orang. sampai pagi buat sebagian lagi. karena ini perang, ada yang selamat karena memang jago/lihai/gesit, karena dia memang beruntung, atau karena dia banyak bersembunyi dan pintar pura-pura mati. sementara sepanjang perang yang berguguran gak terhitung betapa banyak. kisah-kisah kepahlawanan satu persatu prajurit tentu mengharukan, didengar sebagai pembelajaran untuk generasi depan, atau jadi legenda yang digadang-gadang untuk membesarkan sebuah bangsa.

tapi perang tidak punya pemenang.

sebagai prajurit yang berjuang mati-matian di dalamnya wajar untuk larut di dalam kisah berani mati dan gugur sebagai seorang pejuang sejati, atau selamat dan bertahan hidup sebagai veteran cinta tanah air. tapi kita lalu lupa apa tujuan perang, buat siapa, siapa yang diuntungkan dari perang. Ada potongan besar kapital untuk sebagian kecil orang dan kita prajurit-prajurit pemberani cukup senang dihibur dengan medali. itu namanya kekalahan buat kemanusiaan.

ok nin stop already with the metaphors.

dalam hidup yang serba kapitalistik, kita berebut jumlah kapital yang terbatas. makan dan punya rumah sudah cukup susah didapat, belum ditambah gengsi. harus punya kendaraan pribadi dan nongkrong di TWG plasa senayan. ada banyak banget beban yang ditanggung seseorang. beban ekonomi, beban sosial, beban kebanggaan orang tua, harus begini, harus begitu. kita memilih pekerjaan dengan banyak alasan. Karena tidak ada pilihan, karena passion, karena menantang, karena dekat dari rumah, karena tidak menantang, dan sebagainya. beberapa bisa meninggalkannya dengan mudah tapi banyak yang gak punya pilihan. bersyukur aja kalau jadi bagian yang bisa memilih. gak banyak yang kayak kita di dunia ini.

saya pernah lihat orang yang lembur gilak karena cinta sama kerjaannya, tapi banyak juga gue lihat orang yang lembur gilak karena takut dianggap gak ‘perform’, takut gak menuhin deadline sehingga dianggap gak ‘kompeten’ oleh atasan/account/klien. banyak yang merasa harus cinta sama pekerjaan supaya bisa bertahan. kita semua ingin dapat penghargaan seperti gaji lebih besar dan posisi lebih tinggi di masa depan nanti atas semua jerih payah yang kita lakukan. semua pushing our limitsini akan terasa wajar sampai lo benar-benar lewat.

semua yang terjadi di dunia ini tidak pernah karena kesalahan satu orang. kita hidup di dalam sebuah sistem yang senantiasa mempengaruhi berbagai keputusan dalam hidup. sistem ini mengakar dan diturunkan dari generasi ke generasi sehingga hidup di alam bawah sadar kita dan mempengaruhi juga segala tindakan yang kita lakukan tanpa sadar. dan sistem ini sudah karatan. busuk. rusak.

sudah saatnya kita berhenti larut dan melihat semua in a big picture. sudah saatnya kita lebih sadar dalam semua pilihan dan tindakan, why we do what we do, why we like (or not like) what we’ve chosen.

kalau ada yang bilang gue bisanya ngomong doang, paling tidak gue gak diam. kalau ada yang bilang jangan salahkan sistem, coba bayangin tinggal sendirian di tengah hutan. akankah lo membuat keputusan yang sama?

mita diran

*pertama dipublikasi di sini

**gambar diambil dari akun twitter mita diran di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s